Gempa lagi…
Ada yang bilang azab dan murka Tuhan.
Ada yang bilang akibat ulah manusia juga.
Ada yang bilang jeweran Tuhan

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya[1], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisâ’ [4]: 34)
Dalam lingkar sufisme, gunung melambangkan perluasan langit yang tak terhingga. Meskipun ia hanyalah sebuah titik dalam Ketakberhinggaan Ilahi, ia adalah titik tertinggi di jagat semesta. Ia dilambangkan sebagai sumber keseluruhan kosmos.
Semakin tinggi seseorang mendaki, semakin kecil benda-benda yang tampak di bawahnya. Semakin jauh jangkauan pandangannya, semakin banyak objek penglihatan yang diperolehnya. Pada saat yang sama, sang pendaki mampu melihat puncak-puncak lainnya. Di tengah keangkuhan Sang Gunung, segera ia akan merasakan kekerdilan dirinya.
Sejenak Bersama Bayazid (Dialog Imajiner)
Published September 23, 2009 Mysticism , Renungan Leave a Comment“Salam. Bagaimana kabar Anda malam ini Tuan?”
“Aku tak punya malam. Pagi, sore, dan malam hanya untuk orang yang dibatasi atribut, dan aku tak punya atribut.”
“Baiklah, aku ingin bertemu Tuan Bayazid al-Busthami, Andakah orangnya?”
Continue reading ‘Sejenak Bersama Bayazid (Dialog Imajiner)’
Pelaku teror atas nama agama biasanya datang dari masyarakat yang tingkat ekonominya cukup memprihatinkan. Sesaknya dada akibat himpitan kebutuhan hidup turut memuluskan jalan untuk memilih pandangan hidup yang lebih transendental. Ketika tak ada lagi yang bisa diharapkan dari kehidupan duniawi ini, ketika derita semakin mengakrabi keseharian, dan ketika segala gairah materialisme di muka bumi hanya menjadi tontonan belaka tanpa pernah ada kesempatan untuk mencicipinya barang sedetik pun, maka kehidupan akhir yang abadi nan menjanjikan menjadi prioritas utama untuk segera diraih. Pertikaian picik tentang uang dan segala kesementaraan di dunia ini segera bernilai nista di mata mereka.
Ketika Saint Agustinus ditanya tentang apa yang dilakukan Tuhan sebelum alam semesta tercipta, jawabnya enteng: Tuhan sibuk bikin neraka untuk orang-orang yang bertanya seperti itu.
Saint Agustinus tidak sedang bercanda. Sebab bagi kebanyakan orang beragama, kata “iman” seringkali dijadikan tameng untuk menangkal pertanyaan-pertanyaan usil macam itu. Persis seperti ketika Wiro Sableng mengeluarkan kapak maut naga geni 212-nya. Secanggih apapun ilmu lawan-lawannya, akan segera terkapar dalam hitungan waktu kurang dari sepeminuman teh.
Syahdan, dua orang pemburu beruang belum apa-apa sudah berdebat tentang hendak dipakai apa uang hasil penjualan beruang buruan mereka nantinya. Padahal, perburuan belum juga dimulai. Tetapi yang satu sudah berangan-angan ingin begini, yang satu lagi ingin begitu. Demikian seterusnya hingga mulut mereka tak pernah bisa berhenti bicara. Continue reading ‘Tafsir Beruang’
Hingga saat ini, para pengkaji dan peneliti sejarah Islam di bidang kalam atau teologi, seringkali merujuk kepada sebuah kitab yang berjudul Al-Milal wa Al-Nihal, karya Muhammad ibn ‘Abd al-Karim Ahmad al-Syahrastânî, seorang mutakallim yang hidup di Persia di paruh pertama abad 6 H/ 12 M.
Kitab klasik ini secara khusus membahas tentang aliran-aliran teologi dalam Islam, cukup detil hingga membahas sub golongannya masing-masing. Sampai-sampai ‘Abd al-Wahhab ibn ‘Alî al-Subkî, penulis Thabaqât al-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, memujinya sebagai kitab terbaik dalam bidang sejarah aliran-aliran teologi dalam Islam.
Pujian bukan hanya datang dari ulama atau sejarawan generasi dulu, tetapi juga dari pengkaji dan peneliti masa kini. Maka wajar jika buku ini seringkali dijadikan rujukan utama para pengkaji teologi Islam di tanah air.
Benarkah sedemikian hebatnya Al-Milal?
Ibrahim as, sang jawara tauhid, dilahirkan di lingkar peradaban besar Babilonia. Ia datang untuk berjuang melawan penyembahan berhala.
Setelah tiga belas tahun menjalani kehidupan di dalam gua, Ibrahim yang telah dibekali tauhid yang kokoh itu menyaksikan sebagian masyarakat yang memperlakukan bintang, bulan, dan matahari dengan begitu bodoh. Sebagian lagi membuat berhala dengan tangan sendiri, kemudian menyembahnya. Yang terparah adalah bahwa seorang anak manusia bernama Namrud, dengan mengambil keuntungan dari kejahilan rakyat, mengaku sebagai tuhan mereka dan menyatakan diri sebagai pemberi hidup dan penentu takdir semua makhluk.
Dalam Matsnawi, Rumi berkisah tentang burung beo yang dicukur gundul oleh majikannya gara-gara gagal menjalankan tugas menjaga kedai sang bos yang akan pergi sebentar untuk shalat. Karena merasa bebas bermain-main, tanpa sengaja ia menumpahkan sebotol minyak goreng hingga pecah. Sebagai hukumannya, kepala burung itu dicukur habis hingga gundul. Setelah beberapa hari murung, tiba-tiba ia melihat seorang darwis berkepala botak melintas di depan kedai. Si beo girang bukan main karena melihat ada orang yang dipikirnya senasib dengannya.
“Hei kawan….kau menumpahkan minyak juga ya sepertiku?” Teriaknya.
****
Saya hentikan dulu cerita Rumi sejenak. Sebab sore itu, di TV, Ryan si jagal dari Jombang lebih menarik perhatian. Dengan senyumannya yang khas, tampak ia mengenakan baju koko berwarna putih bersih, lengkap dengan peci putih pula. Persis seperti foto saya di facebook. Sama persis!
Penyair Lebanon Kahlil Gibran (Khalil Jibran di lidah Arab), suatu ketika menulis sebuah syair yang berjudul Bangsa Kasihan:
Semula paradigma kesehatan berpusat pada asal-usul penyakit. Banyak penelitian menemukan pengaruh stress, rasa cemas, marah, atau takut berdampak buruk pada kesehatan, mulai flu, maag, hingga kanker. Belakangan paradigma mulai bergeser. Penelitian mulai memfokuskan pada seberapa jauh pengaruh kebahagiaan pada kesehatan fisik dan mental seseorang. Salah satu di antara banyak peneliti yang mengembangkan paradigma tersebut adalah Martin Seligman, seorang penggagas psikologi positif dari University of Pennsylvania. Ia menemukan keterkaitan antara sikap hidup optimis (yang melahirkan rasa bahagia) dengan kesehatan fisik dan jiwa seseorang.
Sepulang dari kantor, secara tidak sengaja saya melihat majalah wanita tergeletak di atas meja. Iseng-iseng saya buka halaman demi halaman, sampai mata tertumpu pada sebuah judul: Jangan Mau Jadi Hardworker. Isinya mengenai tips-tips untuk menjadi pekerja yang cerdas, bukan pekerja keras. Topik tentang ini sebetulnya sudah usang, tidak ada sesuatu yang menggugah. Awalnya saya enggan membacanya kalau saja siang itu di kantor -secara tidak sengaja pula- terbaca judul yang sama di sebuah website.
Ada apa ini, judul tulisan yang sama sampai dua kali menyapa hari itu. Saya pikir bukan suatu kebetulan sebuah tips mampir di depan mata ketika otak sedang berputar mencari solusi bagaimana me-manage waktu agar lebih efektif lagi. Sepertinya hal yang nampak remeh-temeh ini adalah sebuah ‘ayat’ yang patut dicermati. Saya memang tergolong jenis manusia yang bermasalah dengan manajemen waktu. Dan Tuhan selalu saja sekali lagi dan sekali lagi mengingatkan.
Jalaluddin Rakhmat
Sepuluh Muharam, dalam bahasa Arab, disebut ‘Asyura. Orang Jawa menyebutnya Suro. Di beberapa daerah di Jawa Barat, hari itu biasanya dirayakan dengan membuat bubur merah-putih; bubur sura. Kini sukar menemukan orang tua yang dapat menjelaskan asal-usul upacara itu. Para ulama yang ditanya, hanya menjelaskan tentang disunatkannya puasa pada hari itu. Mengapa? Karena hari itu adalah hari pertolongan Allah kepada para nabi dalam menghadapi orang-orang zalim. Pada hari Asyura, Ibrahim lepas dari api Namrudz, Yunus keluar dari perut ikan, Musa bebas dari kejaran Fir’aun, dan Muhammad Saw selamat dari racun orang Yahudi. Konon, masih kata para ulama, ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, ia menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari itu untuk mengenang kemenangan Musa. “Aku lebih berhak untuk berpuasa daripada kalian,” kata Nabi kepada orang-orang Yahudi.
”Jika kaum Muslim bersatu dan masing-masing dari mereka mengguyurkan seember air pada Israel, maka Israel akan tersapu, namun masih saja mereka tak berdaya di hadapannya.“
(Imam Khomeini)
Masya Allah….Di penghujung 2008 ini, tanah Gaza masih terus dibasahi darah. Dan akan terus berlumuran darah selama bermacam-macam kelompok dari kaum muslimin di segenap penjuru dunia mensikapi Gaza hanya sebagai ajang untuk adu wacana, pandangan politik, tema kajian, materi pembahasan, bahan berita atau sekadar tontonan di ruang berhembuskan AC sejuk sambil ditemani seruputan kopi panas. Lebih celaka lagi, tak sedikit (yang mengaku) muslim tidak mau tahu bahwa di muka bumi ini ada tempat yang bernama Gaza. Ada bangsa yang bernama Palestina.

Jika tipu muslihat liberalime politik dan ekonomi Amerika mudah dicium aromanya, maka liberalisme moral begitu membius sehingga lebih sukar ditelusuri jejaknya. Dunia menyaksikan betapa kentaranya liberalisme politik AS yang memaksakan pemilu ala demokrasi liberalnya itu di berbagai negara. Melalui kedok organisasi non politik berupa LSM, dihembuskanlah hasutan untuk menggalang dukungan bagi partai yang pro-AS. Begitu pula dengan jurus liberalisme ekonominya. Perlahan tapi pasti kapitalisme mulai membocorkan sendiri berbagai trik tipuannya. Sebuah neo-imperialisme yang dilengkapi dengan ancaman: Anda di pihak mana? Sejalan berarti kawan, tak sejalan jadi lawan.
Tahun tujuh puluhan, duet Ahmad Bakr-Saddam Hussein mengambil kebijakan penting bagi rakyat Irak, namun dirasa pahit bagi pengelola Iraqi Petroleum Company (IPC), sebuah konsorsium yang terdiri dari lima oil company terbesar di dunia, yakni British Petroleum, Shell, Eso, Mobil, dan Française des Pétroles. Mereka harus menghadapi kenyataan diberlakukannya nasionalisasi perusahaan minyak di Irak. Dampaknya terasa langsung. Masyarakat Irak segera bisa menikmati keuntungan dari cadangan minyak yang melimpah itu. Kesejahteraan pun meningkat pesat di berbagai sektor, termasuk di bidang pendidikan yang akhirnya mengantarkan Saddam meraih penghargaan dari UNESCO. Bukti nyata untuk sebuah kredo yang pernah meluncur dari mulut sang tiran ini, yakni: minyak Arab untuk Arab.
“Apiiih… kamana atuh isuk-isuk kieu geus rék indit?” Ceuk indungnya barudak nyalukan ti dapur.
“Éta Mih, rék ka imahna Pa Haji Udung, béjana bakal aya raraméan poé ieu. Pa Haji ngayakeun lomba nyandung tingkat désa. Ieu téh nu perdana, cenah mah dibéré judul: Nyandung Award. Hadiahna domba sajodo, meri salosin, jeung bulan madu ka Situ Boléd Gandola tujuh poé tujuh peuting.”
Sekali-kali boleh dong Gan Oded nongkrong di mall sepulang kerja? Kalau sekadar traktir teman makan bakso malang di food court, sampai merangkak kekenyangan pun insya Allah masih mampu. Tetapi sohibnya yang bernama Sule ini, setelah menghabiskan semangkuk bakso yang isinya cuma lima buah (kecil-kecil pula), menolak untuk menambah. Padahal tawaran Gan Oded bukan basa-basi, sebab lima butir bakso malang mana cukup untuk mengganjal perut yang belum diisi lagi sejak tadi siang.
(Di kesunyian Jakarta, 2008)
Recent Comments