Tentang “Al-Milal”

Hingga saat ini, para pengkaji dan peneliti sejarah Islam di bidang kalam atau teologi, seringkali merujuk kepada sebuah kitab yang berjudul Al-Milal wa Al-Nihal, karya Muhammad ibn ‘Abd al-Karim Ahmad al-Syahrastânî, seorang mutakallim yang hidup di Persia di paruh pertama abad 6 H/ 12 M.

Kitab klasik ini secara khusus membahas tentang aliran-aliran teologi dalam Islam, cukup detil hingga membahas sub golongannya masing-masing. Sampai-sampai ‘Abd al-Wahhab ibn ‘Alî al-Subkî, penulis Thabaqât al-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, memujinya sebagai kitab terbaik dalam bidang sejarah aliran-aliran teologi dalam Islam.

Pujian bukan hanya datang dari ulama atau sejarawan generasi dulu, tetapi juga dari pengkaji dan peneliti masa kini. Maka wajar jika buku ini seringkali dijadikan rujukan utama para pengkaji teologi Islam di tanah air.

Benarkah sedemikian hebatnya Al-Milal?

Continue reading ‘Tentang “Al-Milal”’

Ihwal Pakaian, Pemilu dan Secangkir Kopi

Dalam Matsnawi, Rumi berkisah tentang burung beo yang dicukur gundul oleh majikannya gara-gara gagal menjalankan tugas menjaga kedai sang bos yang akan pergi sebentar untuk shalat. Karena merasa bebas bermain-main, tanpa sengaja ia menumpahkan sebotol minyak goreng hingga pecah. Sebagai hukumannya, kepala burung itu dicukur habis hingga gundul. Setelah beberapa hari murung, tiba-tiba ia melihat seorang darwis berkepala botak melintas di depan kedai. Si beo girang bukan main karena melihat ada orang yang dipikirnya senasib dengannya.

“Hei kawan….kau menumpahkan minyak juga ya sepertiku?” Teriaknya.

****

Saya hentikan dulu cerita Rumi sejenak. Sebab sore itu, di TV, Ryan si jagal dari Jombang lebih menarik perhatian. Dengan senyumannya yang khas, tampak ia mengenakan baju koko berwarna putih bersih, lengkap dengan peci putih pula. Persis seperti foto saya di facebook. Sama persis!

Continue reading ‘Ihwal Pakaian, Pemilu dan Secangkir Kopi’

Bukan Bangsa Kasihan

Penyair Lebanon Kahlil Gibran (Khalil Jibran di lidah Arab), suatu ketika menulis sebuah syair yang berjudul Bangsa Kasihan:

Continue reading ‘Bukan Bangsa Kasihan’

Ketika Sakit

Semula paradigma kesehatan berpusat pada asal-usul penyakit. Banyak penelitian menemukan pengaruh stress, rasa cemas, marah, atau takut berdampak buruk pada kesehatan, mulai flu, maag, hingga kanker. Belakangan paradigma mulai bergeser. Penelitian mulai memfokuskan pada seberapa jauh pengaruh kebahagiaan pada kesehatan fisik dan mental seseorang. Salah satu di antara banyak peneliti yang mengembangkan paradigma tersebut adalah Martin Seligman, seorang penggagas psikologi positif dari University of Pennsylvania. Ia menemukan keterkaitan antara sikap hidup optimis (yang melahirkan rasa bahagia) dengan kesehatan fisik dan jiwa seseorang.

Continue reading ‘Ketika Sakit’

Gaza Lagi, Darah Lagi

 ”Jika kaum Muslim bersatu dan masing-masing dari mereka mengguyurkan seember air pada Israel, maka Israel akan tersapu, namun masih saja mereka tak berdaya di hadapannya.
(Imam Khomeini)

Masya Allah….Di penghujung 2008 ini, tanah Gaza masih terus dibasahi darah. Dan akan terus berlumuran darah selama bermacam-macam kelompok dari kaum muslimin di segenap penjuru dunia mensikapi Gaza hanya sebagai ajang untuk adu wacana, pandangan politik, tema kajian, materi pembahasan, bahan berita atau sekadar tontonan di ruang berhembuskan AC sejuk sambil ditemani seruputan kopi panas. Lebih celaka lagi, tak sedikit (yang mengaku) muslim tidak mau tahu bahwa di muka bumi ini ada tempat yang bernama Gaza. Ada bangsa yang bernama Palestina.

Continue reading ‘Gaza Lagi, Darah Lagi’

Perut Kenyang, Otak Tumpul

Sekali-kali boleh dong Gan Oded nongkrong di mall sepulang kerja? Kalau sekadar traktir teman makan bakso malang di food court, sampai merangkak kekenyangan pun insya Allah masih mampu. Tetapi sohibnya yang bernama Sule ini, setelah menghabiskan semangkuk bakso yang isinya cuma lima buah (kecil-kecil pula), menolak untuk menambah. Padahal tawaran Gan Oded bukan basa-basi, sebab lima butir bakso malang mana cukup untuk mengganjal perut yang belum diisi lagi sejak tadi siang.

Continue reading ‘Perut Kenyang, Otak Tumpul’

Tuhan Kata Dirimu

(Di kesunyian Jakarta, 2008)

Continue reading ‘Tuhan Kata Dirimu’

Ksatria yang Terlupakan

Suatu hari dalam deretan tanggal Kresnapaksa, bulan Badra, tahun 1279 Caka. Dari lingkar kenangan Sunda-Galuh, menyusur ke arah timur meninggalkan batas Ci Pamali dan Ci Serayu, aku berada diantara iring-iringan yang mengantar seorang putri cantik yang hendak dipinang seorang raja.

Bulatan sang surya belumlah tepat di atas kepala. Namun fragmen kisah silam ini berlangsung begitu cepat, hingga kusadari bahwa rombongan ini -setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan- terjerat dalam jebakan skenario sang mahapatih yang intuisi politiknya tajam namun lemah dalam cita rasa cinta. Selanjutnya harus terjadi pertempuran dengan kekuatan tak berimbang demi mempertahankan harga diri dalam perspektifnya masing-masing. Padahal, jika nasab dari masing-masing raja sedikit saja ditarik ke atas, masih ada hubungan kekerabatan. Keduanya sama-sama keturunan Prabu Darmasiksa dari jalur isteri yang berbeda, terpaut tiga generasi. Dan sejatinya, pernikahan tersebut diniatkan untuk mengencangkan kembali tali silaturahmi yang dirasa sudah melonggar.

Continue reading ‘Ksatria yang Terlupakan’

Maaf

Tidak seperti puasa tahun lalu yang diiringi musim penghujan, Ramadhan 1429 H ini betul-betul terasa terik menyengat. Di Jakarta, terhitung hanya sesekali saja turun hujan, itupun hanya gerimis. Sepertinya pas betul dengan asal kata bulan mulia ini, yakni al-ramdhu, yang artinya membakar sesuatu.

Continue reading ‘Maaf’

Bukan Mengkultuskan

Seorang kawan mengkritik saya yang terlalu sering mengutip ucapan Imam Ali dalam (hampir) setiap kesempatan diskusi di salah satu komunitas tempat saya bergaul. Baginya, mendengar sederet keutamaan-keutamaan seorang manusia agung bernama Ali bin Abi Thalib as sama dengan mengkultuskan. Menurutnya, yang mengkultuskan hanyalah orang-orang Syi’ah.

Continue reading ‘Bukan Mengkultuskan’

Bukan Salah Haji Syaichon

Dengan modal 30 ribu perak, kita bisa makan-minum di warteg sebanyak 3-4 kali. Di sebuah food court di mall, mungkin bisa sekali. Di restoran cepat saji, dengan menu standar masih bisa sekali. Tapi untuk makan steak di sebuah restoran mewah, kalau tidak diusir keluar, paling beruntung dapat tusuk giginya saja.

Dan di Pasuruan sana, uang sejumlah 30 ribu diburu sekian banyak dhuafa, sebab cukup untuk modal makan sekian hari. Bukan untuk satu perut saja, tapi untuk perut-perut sebuah keluarga yang tak pernah mengenal yang namanya food court, fast food, apalagi rib eye steak. Bisa kita bayangkan, menu seperti apa yang biasa mereka santap sehari-hari. Tak perlu memikirkan kandungan gizi, manusia-manusia akrab derita ini bahkan tak mempermasalahkan hari-hari manakala tak ada menu apapun yang tersaji.

Continue reading ‘Bukan Salah Haji Syaichon’

DR. Soroush yang Sensasional

Irfan Permana

Beberapa tahun yang lalu, saya berkenalan dengan DR. Abdulkarim Soroush melalui bukunya, Reason, Freedom and Democracy in Islam: Essensial Writings, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan dengan judul: Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama (2002).

Continue reading ‘DR. Soroush yang Sensasional’

Fatima is Fatima

Ada dua tangan yang dicium Rasulullah Saw. Pertama, tangan seorang yang melepuh akibat kepayahan dalam mencari nafkah halal. Kedua, tangan puterinya sendiri, Fathimah.

Siapakah gerangan Fathimah, sehingga tangannya dicium oleh Rasulullah? Begitu kontras di tengah kultur Arab tatkala derajat kaum wanita begitu termarginalkan saat itu.

Continue reading ‘Fatima is Fatima’

Kita Pentung Saja Rame-rame

Tahun 9 H, empat belas pendeta nasrani utusan dari Najran mendatangi Rasulullah Saw yang saat itu sedang berada di masjid Nabawi. Mereka disambut dengan hangat dan penuh hormat, bahkan diijinkan untuk melakukan ibadah di dalam masjid, meskipun secara tegas Nabi Saw menghendaki mereka untuk menanggalkan segala atribut kemewahan sebelum memasuki masjid, serta meminta mereka untuk menghadap ke timur dalam melakukan ibadahnya.

Setelah menyampaikan kekeliruan pandangan mereka tentang Yesus, Nabi pun memungkasinya dengan tantangan terhadap bantahan mereka yang menganggap Nabi berdusta.

Continue reading ‘Kita Pentung Saja Rame-rame’

Berita Langit

Kawan saya ini orang paling jujur sedunia. Saking jujurnya nyaris tak bisa berbasa-basi. Kalau bagus bilang bagus, jelek ya jelek. Tak peduli lawan bicaranya itu pria atau wanita, sudah kenal lama atau baru kemarin sore. Uniknya, di balik bicaranya yang ceplas-ceplos dan sering kali tanpa tedeng aling-aling itu, siapapun bisa cepat akrab dengannya.

Ia baik. Bahkan terlalu baik untuk ukuran manusia modern yang hidup di belantara metropolitan. Siapapun yang membutuhkan pertolongannya, pasti ia bantu. Tentu saja saya termasuk salah seorang yang pernah dibantunya.

Continue reading ‘Berita Langit’

Curhat Ujang Kemod (2)

Nyaris tak ada yang bisa dibanggakan dari diri Mang Supi. Dompet, cekak. Hobi nyanyi, suara pas-pasan. Hobi gitar, modalnya 2-3 jurus. Wajah yang dia klaim di atas pas-pasan pun kini perlahan memudar seiring rambutnya yang kian hari kian erosi. Maka luluh lantaklah cita-citanya menjadi pemain band terkenal.

Tapi satu hal ia bertekad, mencoba menepati segala janji yang pernah diikrarkannya. Termasuk berjanji kepada Anda untuk menceritakan Ujang Kemod yang ngebet ingin bisa main gitar. Namun tidak seperti pada cerita pertama di mana Anda bisa menyimak kisahnya Ujang. Kali ini Mang Supi tidak memberi sedikitpun kesempatan pada Ujang untuk berceloteh.

Continue reading ‘Curhat Ujang Kemod (2)’

Ideologi Minder

Sore itu nampaknya sayalah satu-satunya yang mempunyai pendapat berbeda, yang mungkin membuat kuping hadirin -yang tidak siap menerima perbedaan pendapat- merasa panas. Dengan segala kerendahan hati, tanpa bermaksud meremehkan siapapun, saya merasa sedang berada di tengah kumpulan orang yang belum terbiasa “mendobrak” kemapanan pandangan mainstream, merasa sudah cukup, aman dan nyaman dengan keyakinan yang terbangun secara taken for granted.

Continue reading ‘Ideologi Minder’

Islam Indonesiaku Islamnya Preman

Lihatlah…. Alih-alih tersentuh dengan wajah-wajah ketakutan para perempuan tua yang saling berangkulan satu sama lain, serta ditingkahi jeritan tangis anak-anak, wajah-wajah garang nampak semakin kalap. Semestinya tak ada nurani yang tak tergetar menyaksikan pemandangan menggiris hati itu. Ini kusaksikan di televisi dan beberapa foto di majalah. Sementara itu di tempat dan waktu yang lain:

“Bunuh, bunuh, bunuh, BUNUH! PERANGI AHMADIYAH, BUNUH AHMADIYAH, BERSIHKAN AHMADIYAH DARI INDONESIA! Ahmadiyah halal darahnya! Persetan HAM! Tai kucing HAM! Allahu Akbar” (1)

Entah kerasukan setan apa Sobri Lubis ini….

“Hukuman bagi nabi palsu sederhana: Kalau ditemukan, tangkap, potong leher!” (2)

Abu Bakar Baasyir tak mau kalah. (Hayoo..siapa ingin hidup di negara Islam ala Pak Tua ini?)

“Bila pengikut Ahmadiyah tidak mau bertobat, hukumannya mati!” (3)

Hebat betul M. Khattath ini mengambil alih peran Tuhan, atau mau jadi Tuhan Bung? Biar Baasyir jadi nabinya.

Continue reading ‘Islam Indonesiaku Islamnya Preman’

Sajak Orang Sesat

Shalat sambil bersiul atau berbahasa Indonesia itu bukanlah sebuah bentuk kejahatan. Ia baru akan tidak sopan ketika siulan itu dilakukan tepat di depan hidung atau telingamu.

Ibadah yang dilakukan dalam bentuk nyanyian sambil menyulam juga bukan kejahatan. Ia jadi kurang ajar ketika yang disulam itu mulutmu yang kebanyakan bacot.

Menyembah secangkir kopi ngebul, silakan. Menyembah sop kambing, monggo. Menyembah tongseng ayam, terserah. Bahkan mau menyembah sepatu butut milik Gan Oded sekalipun tidaklah jahat, kecuali setelahnya dipakai untuk menimpuk kepalamu.

Continue reading ‘Sajak Orang Sesat’

Moralitas Vladimir Putin

Gan Oded pria normal. Tak pernah dipungkirinya bahwa ia menyukai setiap jengkal keindahan dari makhluk yang bernama wanita. Wanita cantik tentunya.

Tetapi mendengar Dewi Persik nyerocos angkuh menantang sang walikota, perutnya mual juga. Mual akibat reaksi asam lambung yang bekerja keras menahan guyuran secangkir kopi yang viskositasnya terlalu tinggi. Memang kebiasaan Gan Oded setiap Sabtu-Minggu pagi adalah menyeruput kopi panas nan legit sambil membaca buku. Sementara istrinya, sejak fatwa haram nonton infotainment dicabut sang suami, pagi ini menyimak aneka gegap-gempita berita selebritis teranyar.

Continue reading ‘Moralitas Vladimir Putin’

Next Page »




irfan.permana[at]gmail[dot]com
irfanpp[at]yahoo[dot]com
Facebook: Irfan Permana

Categories

Blog Stats

  • 19,686 hits