
Dari hamparan sahara tak bertepi, persinggahan tak ia dambakan
Dari gulungan ombak lautan, daratan tak ia impikan
Dari gemuruh sang topan, langkahnya tak ia surutkan
Apa guna terpaku dalam renjana
Tatkala setangkup asa membuai jiwa
Sang lelaki damba sejuta makna
Pengembaraan transkosmik sungguh suatu cita
Bantulah lepaskan belenggu rantai ini kawan
Patahkan kerangkeng dengan cakar kokohmu
Ajak aku terbang menembus awan
Dengarlah itu….
bisikan sekawanan burung mengajak kita merobek batas langit
Paduka Raja menanti kita
Waktu merambat menembus kedalaman ufuk jiwa
Duhai… apa gerangan yang terjadi
Lelaki kurun masa berlalu terbangun dari mimpi indah
Kini kantung matanya gambarkan derita
Cahayanya tak lagi berpendar
Helai demi helai mahkotanya lepas
Sekawanan burung seperti meninggalkannya
Di sini yang ia jumpai para pesuluk kota,
melebur dalam aneka watak gairah pop
Tertipu kicauan burung-burung palsu
yang menjual pesona keanggunan Sang Simurgh
Terpagut sepi
Semakin terkoyak asa, semakin jiwanya merindu
Di manakah burung-burung itu
(Kalibata Utara, 21 Juni 2007)
errrrrrrr (merenung)