Tidak seperti puasa tahun lalu yang diiringi musim penghujan, Ramadhan 1429 H ini betul-betul terasa terik menyengat. Di Jakarta, terhitung hanya sesekali saja turun hujan, itupun hanya gerimis. Sepertinya pas betul dengan asal kata bulan mulia ini, yakni al-ramdhu, yang artinya membakar sesuatu.
Konon, penamaan bulan-bulan awalnya dilakukan oleh bangsa Babilonia yang memang dengan peradabannya yang tinggi lebih dulu mengenal perhitungan peredaran bulan. Kemudian orang Arab memindahkan nama-nama bulan tersebut ke dalam bahasanya. Penamaan dilakukan diantaranya berdasarkan sifat-sifat alam yang terjadi saat itu. Dan Ramadhan, diberi nama demikian, karena saat itu musim dalam keadaan panas terik membakar. Tetapi karena perhitungannya berdasarkan peredaran bulan, bukan matahari, maka Ramadhan pada putaran berikutnya tidak selalu jatuh pada musim yang sama.
Bagi kita, tidak penting apakah Ramadhan jatuh pada musim penghujan ataukah kemarau. Satu hal yang patut kita renungkan. Sudahkah sekian hari puasa yang kita jalani telah mampu membakar dosa-dosa yang kita perbuat setahun sebelumnya? Bisakah kita membakar lilin jiwa sehingga nurani yang semula redup kembali bercahaya menerangi segenap ufuk jiwa?
Semoga Allah berkenan tidak menjadikan puasa ini sebagai puasa terakhir dalam hidup kita. Namun jika Ia berkehendak sebaliknya, semoga puasa yang baru kita lalui ini mampu menaikkan maqam spiritual kita.
Rekan-rekan, bantulah saya agar mampu membakar dosa-dosa akibat kesalahan ucap dan laku, semoga Allah-pun mengampunimu. Selamat hari raya idul fitri 1429 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal aidin wal faizin. Hapunten samudaya kalepatan. []
Dihapunteun pisan ucuuu