Gempa lagi…
Ada yang bilang azab dan murka Tuhan.
Ada yang bilang akibat ulah manusia juga.
Ada yang bilang jeweran Tuhan
Ahli bumi bilang akibat tumbukan/ penunjaman lempeng.
Teolog dan filsuf bilang sebagai bagian dari rangkaian kausalitas dengan berbagai parameternya. Tuhan sediakan aneka jalan, kita yang memilih jalan.
Kaum sufi bilang sebagai manifestasi aspek jalaliyah-Nya, dan setiap detik adalah penciptaan baru sebab Tuhan tak pernah berhenti berkreasi.
Dewi Persik bilang pemerintah harus introspeksi diri …. (hah?)
Terserah dari teropong mana saja memahaminya, yang penting ada peningkatan kualitas kesadaran.
Selamat menikmati kain batik, jangan lupa dengan mereka yang tengah meratapi anggota keluarganya yang sudah berbungkus kain kafan.
(*Duka mendalam atas rangkaian musibah yang menimpa negeri ini, sambil tetap menghargai orang-orang yang (katanya) punya kepedulian terhadap budaya bangsa, yang ditandai dengan beramai-ramainya mengenakan kain batik)
“Tidak ada qabdh (kesempitan) dan basth (kelonggaran) kecuali di situ ada kehendak, ketentuan dan cobaan Allah” (Hadits Imam Ja’far ash-Shadiq as). Kata ‘musibah’ (dari ashaaba, yushiibu, mushiibatan) adalah sesuatu yg menimpa baik berupa kesenangan maupun kemalangan. Konotasinya tidak selalu negatif, meski dalam pemakaian umum musibah biasa diidentikkan dengan sesuatu yg melahirkan perasaan tidak mengenakkan hati. Jadi, jangan kira Jakarta tidak sedang kena musibah. Jakarta sedang dibiarkan.
Sebagai peristiwa alam gempa selalu akan datang. Mungkin dibilang musibah dalah pengertian negatif kalau menimpa manusia. Kalau tidak maka dianggap sebagai peristiwa alam biasa.
Sebagai peristiwa alam tentu saja akan menimpa siapa saja. Terlebih daerah Sumatra dikatakan para ahli sebagai ‘Ring of Fire’. Jadi mau banyak dosa atau tidak orang yang ada di wilayah itu suatu ketika akan terkena ‘giliran’. Seraaam deh.
Jadi sebenarnya, kalaupun ada hubungan dengan dosa manusia maka dosa terbesar manusia adalah ketika sudah melalaikan ayat-ayat Allah berupa fakta alam tadi. Misalnya sudah jelas rawan gempa eh malah membuat bangunan yang tidak ramah gempa.
______________________
IP:
Nuhun Kang catatan tambahannya.
Akibat pandangan dunia materi, jangan heran kalau kita dengar seseorang berkata: “Wah, si fulan sukses ya? Berkah hidupnya. Kaya, sehat…pasti banyak do’anya. Tapi kasihan tuh si Polan, hidupnya susah melulu, mungkin kurang do’a ya…”. Atau di infotaintment kita dengar seorang artis berkata: “Alhamdulillah, Tuhan sayang sama saya. Rezeki saya semakin lancar. Orderan semakin bertambah.” Seolah-olah orang melarat tidak disayang Tuhan.
Begitu juga dalam kasus gempa. Banyak orang tergesa-gesa melihatnya sebagai adzab (meskipun ada juga peluang utk ini), tanpa memberi kesempatan teropong pemahaman lain berbicara.
Itu tema yg sedang saya tulis. Beberapa hari lagi mampir ya? kasih komen lagi…
Mangga. Komo upami sambil nyuruput kopi mah. sedaaaaaaaaaaap.
__________________
Kopi panas ngebul lambang kejantanan pria bos….