Tentang Duri Ikan dan Takwanya Si Pemain Band Amatir
Di Jumat siang itu, tiba-tiba saya tersentak dari kantuk di bagian khutbah shalat Jumat, yang memang biasanya begitu.
“Takwa itu bukan sekadar rajin ibadah, tetapi juga senantiasa berhati-hati dan berusaha menghindari maksiat dan dosa-dosa kecil”. Sepotong kalimat sang khatib itu mengingatkan saya pada kejadian lama dalam suatu kesempatan ketika makan malam di rumah salah seorang ulama. Sambil tangannya memisahkan daging ikan dari durinya, laki-laki yang setiap helai ubannya memancarkan cahaya keilmuan itu berkata: “Takwa itu seperti makan ikan, hati-hati sebelum memakannya, pilah durinya jangan sampai tertelan”, ujarnya singkat. Dan respon saya saat itu hanya manggut-manggut saja pura-pura mengerti sambil asyik mengunyah makanan.
Rupanya pesan singkat dan ringan itu cukup meninggalkan kesan hingga di kemudian hari. Juga ketika di suatu kesempatan saya mencoba bernostalgia dengan hobi lama yang sudah saya kubur dalam-dalam (karena sadar skill pas-pasan dan tampang kurang komersil sulit untuk mengguncang dunia): ngeband.
Ketika ngeband, ada hal-hal yang harus diperhatikan untuk menjaga kualitas takwa dalam bermusik. Misalnya, sebagai pemain gitar, Anda bebas berimprovisasi memilih pattern solo gitar sesuka-suka hati, namun jangan keasyikan sendiri. Patuhi pakemnya, tempo dan nadanya jangan sampai keluar jalur. Sedikit saja melenceng akan terjadi disharmoni dan segera Anda akan menjadi pemain band yang tidak bertakwa karena telah menodai keutuhan sebuah lagu. Seperti halnya ketika makan ikan, satu saja duri mengganjal di kerongkongan maka selera makan kontan terganggu.
Demikian pula dalam kehidupan beragama. Sehitam apapun jidat Anda, sepanjang dan selebat apapun janggut Anda, atau secingkrang apapun celana Anda, jangan geer dulu kalau Anda sudah tergolong orang-orang takwa yang paling dekat dengan Tuhan. Sebab takwa tidak melulu mengurus yang vertikal, malahan yang horizontal seringkali jadi syarat utama supaya urusan vertikal berjalan mulus. Penting dihitung berapa banyak orang yang sakit hati dengan vonis bid’ah dan sesat yang Anda lontarkan, sementara yang tahu persis mutlaknya suatu kebenaran ya cuma Tuhan. Kita hanya mencoba mengikuti dari jalur-jalur yang berbeda sesuai dengan kadar ilmu dan informasi yang kita miliki, seraya mencoba patuh dengan pakem yang kita pilih itu.
Sebagaimana ketika makan ikan, entah yang Anda makan itu ikan mas, bawal, bandeng, atau gurame, pakemnya adalah Anda harus singkirkan durinya sebelum memakannya (kecuali bandeng presto). Sebagaimana juga dalam bermusik, Anda boleh memainkan jazz, dangdut, rock, atau metal sesuai dengan tarikan jiwanya masing-masing tanpa perlu mencemooh selera orang. Mainkan saja musiknya, pakemnya adalah tetap menjaga tempo dan harmonisasi nada agar jidat penonton tidak berkerut karena mendengar ketukan yang tidak pas atau bunyi-bunyian aneh.
Sampai sini saja dulu.

sagala ge ulah kaleuleuwihi he..he..