Archive for the 'Agama' Category

Dan Pukullah Mereka?

CharmRose_kcl

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya[1], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisâ’ [4]: 34)

Continue reading ‘Dan Pukullah Mereka?’

Tentang “Al-Milal”

Hingga saat ini, para pengkaji dan peneliti sejarah Islam di bidang kalam atau teologi, seringkali merujuk kepada sebuah kitab yang berjudul Al-Milal wa Al-Nihal, karya Muhammad ibn ‘Abd al-Karim Ahmad al-Syahrastânî, seorang mutakallim yang hidup di Persia di paruh pertama abad 6 H/ 12 M.

Kitab klasik ini secara khusus membahas tentang aliran-aliran teologi dalam Islam, cukup detil hingga membahas sub golongannya masing-masing. Sampai-sampai ‘Abd al-Wahhab ibn ‘Alî al-Subkî, penulis Thabaqât al-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, memujinya sebagai kitab terbaik dalam bidang sejarah aliran-aliran teologi dalam Islam.

Pujian bukan hanya datang dari ulama atau sejarawan generasi dulu, tetapi juga dari pengkaji dan peneliti masa kini. Maka wajar jika buku ini seringkali dijadikan rujukan utama para pengkaji teologi Islam di tanah air.

Benarkah sedemikian hebatnya Al-Milal?

Continue reading ‘Tentang “Al-Milal”’

Tentang Asyura

Jalaluddin Rakhmat

Sepuluh Muharam, dalam bahasa Arab, disebut ‘Asyura. Orang Jawa menyebutnya Suro. Di beberapa daerah di Jawa Barat, hari itu biasanya dirayakan dengan membuat bubur merah-putih; bubur sura. Kini sukar menemukan orang tua yang dapat menjelaskan asal-usul upacara itu. Para ulama yang ditanya, hanya menjelaskan tentang disunatkannya puasa pada hari itu. Mengapa? Karena hari itu adalah hari pertolongan Allah kepada para nabi dalam menghadapi orang-orang zalim. Pada hari Asyura, Ibrahim lepas dari api Namrudz, Yunus keluar dari perut ikan, Musa bebas dari kejaran Fir’aun, dan Muhammad Saw selamat dari racun orang Yahudi. Konon, masih kata para ulama, ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, ia menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari itu untuk mengenang kemenangan Musa. “Aku lebih berhak untuk berpuasa daripada kalian,” kata Nabi kepada orang-orang Yahudi.

Continue reading ‘Tentang Asyura’

Bukan Mengkultuskan

Seorang kawan mengkritik saya yang terlalu sering mengutip ucapan Imam Ali dalam (hampir) setiap kesempatan diskusi di salah satu komunitas tempat saya bergaul. Baginya, mendengar sederet keutamaan-keutamaan seorang manusia agung bernama Ali bin Abi Thalib as sama dengan mengkultuskan. Menurutnya, yang mengkultuskan hanyalah orang-orang Syi’ah.

Continue reading ‘Bukan Mengkultuskan’

DR. Soroush yang Sensasional

Irfan Permana

Beberapa tahun yang lalu, saya berkenalan dengan DR. Abdulkarim Soroush melalui bukunya, Reason, Freedom and Democracy in Islam: Essensial Writings, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan dengan judul: Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama (2002).

Continue reading ‘DR. Soroush yang Sensasional’

Fatima is Fatima

Ada dua tangan yang dicium Rasulullah Saw. Pertama, tangan seorang yang melepuh akibat kepayahan dalam mencari nafkah halal. Kedua, tangan puterinya sendiri, Fathimah.

Siapakah gerangan Fathimah, sehingga tangannya dicium oleh Rasulullah? Begitu kontras di tengah kultur Arab tatkala derajat kaum wanita begitu termarginalkan saat itu.

Continue reading ‘Fatima is Fatima’

Kita Pentung Saja Rame-rame

Tahun 9 H, empat belas pendeta nasrani utusan dari Najran mendatangi Rasulullah Saw yang saat itu sedang berada di masjid Nabawi. Mereka disambut dengan hangat dan penuh hormat, bahkan diijinkan untuk melakukan ibadah di dalam masjid, meskipun secara tegas Nabi Saw menghendaki mereka untuk menanggalkan segala atribut kemewahan sebelum memasuki masjid, serta meminta mereka untuk menghadap ke timur dalam melakukan ibadahnya.

Setelah menyampaikan kekeliruan pandangan mereka tentang Yesus, Nabi pun memungkasinya dengan tantangan terhadap bantahan mereka yang menganggap Nabi berdusta.

Continue reading ‘Kita Pentung Saja Rame-rame’

Ideologi Minder

Sore itu nampaknya sayalah satu-satunya yang mempunyai pendapat berbeda, yang mungkin membuat kuping hadirin -yang tidak siap menerima perbedaan pendapat- merasa panas. Dengan segala kerendahan hati, tanpa bermaksud meremehkan siapapun, saya merasa sedang berada di tengah kumpulan orang yang belum terbiasa “mendobrak” kemapanan pandangan mainstream, merasa sudah cukup, aman dan nyaman dengan keyakinan yang terbangun secara taken for granted.

Continue reading ‘Ideologi Minder’

Maulid Nabi: Pesan Cinta yang Menggema

Apapun mazhabnya, pasti sepakat bahwa mencintai Nabi Muhammad Saw merupakan satu hal yang sangat ditekankan dalam Islam, meskipun ekspresi kecintaan itu bisa diwujudkan orang dalam beragam cara. Dan kemarin, kaum Muslim di seluruh dunia mengekspresikan kecintaannya itu melalui peringatan maulid, yakni memperingati sebuah peristiwa penting dalam sejarah: kelahiran manusia suci, junjungan semesta alam, Nabi besar Muhammad Saw.

Continue reading ‘Maulid Nabi: Pesan Cinta yang Menggema’

Kasan Kusen

Emha Ainun Nadjib

caknun.jpgSESUDAH dibantai dengan jenis kekejaman yang sukar dicari tandingannya dalam peradaban umat manusia, penggalan Sayidina Husein putra Fatimah putri Muhammad Rasulullah SAW diarak, diseret dengan kuda sampai sejauh 1.300 kilometer. Wallahua’lam, ada yang bilang dibawa sampai ke Mesir, yang lain bilang ke Syria –sebagaimana ada beberapa makam Sunan Kalijogo di Pulau Jawa– tapi pasti pembantaian sesama muslim itu terjadi di Karbala.

Orang yang mencintai beliau bisakah menangis hanya dengan mengucurkan air mata, dan bukan darah? Jutaan pencintanya memukul-mukul dada mereka agar terasa derita itu hingga ke jantung dan menggelegak ke lubuk jiwa. Ribuan lainnya membawa cambuk besi atau apa saja yang bisa melukai badan mereka agar kucuran darah itu membuat mereka tidak siapa pun kecuali Imam Husein sendiri. Orang yang mencintai melarutkan eksistensinya, melebur, hilang dirinya, dirinya sirna, menjadi orang yang dicintainya.

Continue reading ‘Kasan Kusen’

Asyura Husaini

Oleh: Jalaluddin Rakhmat

Bersama Husayn, lanjutkan risalah suci para nabi
With Husayn, perpetuate the sacred mission of the prophets
Ma a al- Husayn sayyidis syuhada, waaluu al risalah al zaakiyah lil anbiya

Telah datang pada kalian sang utusan
Paling mulia di antara kalian
Pedih hatinya merasakan yang kalian derita
Sangat ingin ia melihat kalian bahagia
Kepada kaum beriman
Ialah yang paling santun
Dan penuh kasih sayang
Tiadalah Aku utus Engkau Muhammad
Kecuali sebagai kasih bagi seluruh alam semesta

Lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Seorang lelaki kurus, berambut gondrong, bersandal jepit turun dari bukit. Orang-orang berkumpul berdesak-desakan mengelilinginya. Ada di antara mereka yang berusaha menjamahnya. Ia memandang mereka dengan penuh kasih dan bersabda:

Continue reading ‘Asyura Husaini’

Samâ’, Ekstase dalam Cinta

Oleh:  Irfan Permana

Setiap atom menari di darat atau di udara
Sadari baik-baik, seperti kita, ia berputar-putar tanpa henti di sana
Setiap atom, entah itu bahagia atau sedih,
Putaran matahari adalah ekstase yang tak terperikan
(Rumi)

Shalawat disenandungkan, gendang mulai bertabuh, seruling ney mulai ditiup.

Di ruangan itu tampak sekelompok darwis mengenakan atribut yang seragam. Topi yang memanjang ke atas, jubah hitam besar, baju putih yang melebar di bagian bawahnya seperti rok, serta tanpa alas kaki. Mereka membungkukkan badan tanda hormat lalu mulai melepas jubah hitamnya. Posisi tangan mereka menempel di dada, bersilang mencengkram bahu. Di tengah-tengah mereka tampak seorang Syaikh, yang berperan sebagai pemimpin. Jubah hitam tetap ia kenakan. Ia maju mengambil tempat. Kini giliran syaikh tersebut membungkukkan badannya pada darwis lainnya, mereka pun balas menghormat.

Continue reading ‘Samâ’, Ekstase dalam Cinta’

Rumi’s Spiritual Shiism

By: Seyed G Safavi
London Academy of Iranian Studies, UK

Abstract
The present paper aims to provide textual evidence in support of Rumi’s spiritual shiism. The evidence will be taken from Rumi’s Mathnawi. Shiism, in its true form, believes in the welayat (authority) of Imam Ali and his eleven descendents following the demise of Prophet Muhammad. Allah has chosen Ali and his descendents, as the true spiritual and religious successors of Prophet Muhammad, after whom there will always be a representative from Ali’s family to guide and lead human kind. This paper deals with three types of welayat: solar, lunar and stellar welayats.

Interpretation of the Mathnawi text by ‘conceptual’, ‘synoptic’ and ‘hermeneutic circle’ research techniques – makes clear that Maulana Jalal-Din Rumi honoured the office of the Imamate that is the authority – Wilayah of Allah, the Prophet Muhammad and his 12 Divinely appointed successors.

Continue reading ‘Rumi’s Spiritual Shiism’

Optimisme Rumi

Oleh: Irfan Permana

Kami bukanlah caravan yang patah hati
atau pintu-pintu dari keputus asaan,
Mari kemari datanglah
Meski kau telah jatuh ribuan kali,
Walau kau telah patahkan ribuan janji,
Mari kemari…datang…datanglah sekali lagi
(Jalaluddin Rumi)

Suka duka kehidupan datang silih berganti. Suka cita dirasakan setiap orang ketika kesenangan hidup menghampirinya, seperti halnya duka lara dirasakan ketika kesulitan mendera. Sebuah laku yang sangat manusiawi. Menyulap sebentuk duka menjadi suka -dalam keadaan apapun- adalah sesuatu yang dianjurkan oleh para arif. Terlebih, agamapun memerintahkan demikian. Bukankah agama diturunkan supaya kita berbahagia bukan saja di akhirat kelak, tetapi juga di dunia kini?

Continue reading ‘Optimisme Rumi’

Sunnah-Syiah Quraish Shihab

(Resensi Buku)

Oleh: Irfan Permana

Judul: Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Halaman: 303
Cetakan: I, Maret 2007

Sebagaimana persamaan, perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan manusia. Sekecil apapun sebuah komunitas tempat kita bernaung, niscaya akan selalu ditemukan adanya perbedaan. Namun, sebagai manusia berakal, kita dituntut arif dalam menyikapinya. Sikap positif menghadapi perbedaan ini justru akan membawa hasil yang positif pula. Dan sikap positif yang demikian hanya dimiliki oleh seseorang yang luas wawasannya. Semakin luas wawasan seseorang, akan semakin tinggi pula toleransinya, dengan kata lain ia akan semakin arif dalam menyikapi segala perbedaan. Sebaliknya, sempitnya pengetahuan menjadikan seseorang terjebak dalam fanatisme buta, sehingga kerap menggiring perbedaan menuju perselisihan. Inilah sesungguhnya yang terjadi pada orang-orang yang cepat sekali termakan hasutan –karena piciknya pandangan– ketika dihadapkan pada perbedaan madzhab dalam kehidupan keberagamaannya, termasuk di negeri kita sendiri.

Continue reading ‘Sunnah-Syiah Quraish Shihab’

Rumi, Tentang Imam Husain as

rumiRumi refers to Imam Hussein as, ‘KING OF RELIGION, ROYAL AND PURE SPIRIT’.

‘A royal spirit escaped from a prison; why should we rend our garments and how should we gnaw our hands. Since they (Hussein and his family) were Kings of the (true) religion, it was the hour of joy for them when they broke their bounds.’
(Matsnawi, Book Six verse 797-8)

Eleksir Cinta Abu Dzar

Saya tidak hendak menulis riwayat hidup Abu Dzar di blog ini. Saya hanya terkesan membaca kisah-kisah pengorbanan para pencinta Nabi Saw serta Ahlulbaitnya. Kisah-kisah seperti ini seringkali memberikan ‘gairah’ tambahan, entah itu datang dalam bentuk apa. Untuk itu, ijinkan saya menulis sepotong kisah fantastis seorang pencinta sejati. Sebuah kisah menakjubkan dari Abu Dzar.

*****
Continue reading ‘Eleksir Cinta Abu Dzar’

Jaringan Kafir Liberal

Masih seputar par-pir. Kali ini bersama Cak Nun. Tulisan ini saya ambil dari bukunya yang berjudul Kafir Liberal.

 

Memunafikkan La Ilaha Illallah
Oleh: Emha Ainun Najib

Pada suatu malam salah satu yang hadir di “Kenduri Cinta” Jakarta adalah seorang pemuda yang berpidato memperkenalkan kelompoknya yang dinamakan “Jaringan Kafir Liberal. Ia berpidato berapi-api, mengkritisi berbagai kenyataan kehidupan kaum Muslimin serta kehidupan bangsa Indonesia pada umumnya yang penuh kemunafikan. Intinya ia melakukan penolakan-penolakan frontal terhadap berbagai trend nilai yang sedang berlangsung. Dalam bahasa Islam: ia melakukan “kekufuran” atau sikap kafir terhadap sangat banyak hal, termasuk pandangan ketuhanan dan theologi yang populer.
Continue reading ‘Jaringan Kafir Liberal’

Imamah: Antara Teologi dan Politik

Oleh: Jalaluddin Rakhmat

Alim Syiah itu berkata, “Secara singkat, Abu Bakar itu lebih utama dan lebih cerdas dari Rasulullah saw.” Orang yang hadir takjub mendengar itu dan berkata, “Mengapa engkau berkata seperti ini?”
Continue reading ‘Imamah: Antara Teologi dan Politik’

Vandalisme Wahabisme

Masih segar dalam ingatan, ketika para pejuang Hezbollah bertempur mati-matian menahan gempuran bertubi-tubi pasukan Israel demi menyelamatkan muka bangsa Arab, ulama Wahabi Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang sulit diterima akal waras: “haram hukumnya mendukung, membantu atau berdoa untuk kemenangan Hezbollah yang bermazhab Syi’ah”.
Continue reading ‘Vandalisme Wahabisme’

Next Page »



Irfan Permana Putra, suami dari satu istri, ayah dari tiga anak. Selebihnya, tidak ada yang istimewa.

irfan.permana[at]gmail[dot]com
irfanpp[at]yahoo[dot]com
Facebook: Irfan Permana

Categories

Blog Stats

  • 21,858 hits