Archive for the 'Mysticism' Category

Gunung Kosmik

simurghDalam lingkar sufisme, gunung melambangkan perluasan langit yang tak terhingga. Meskipun ia hanyalah sebuah titik dalam Ketakberhinggaan Ilahi, ia adalah titik tertinggi di jagat semesta. Ia dilambangkan sebagai sumber keseluruhan kosmos.

Semakin tinggi seseorang mendaki, semakin kecil benda-benda yang tampak di bawahnya. Semakin jauh jangkauan pandangannya, semakin banyak objek penglihatan yang diperolehnya. Pada saat yang sama, sang pendaki mampu melihat puncak-puncak lainnya. Di tengah keangkuhan Sang Gunung, segera ia akan merasakan kekerdilan dirinya.

Continue reading ‘Gunung Kosmik’

Sejenak Bersama Bayazid (Dialog Imajiner)

“Salam. Bagaimana kabar Anda malam ini Tuan?”

“Aku tak punya malam. Pagi, sore, dan malam hanya untuk orang yang dibatasi atribut, dan aku tak punya atribut.”

“Baiklah, aku ingin bertemu Tuan Bayazid al-Busthami, Andakah orangnya?”

Continue reading ‘Sejenak Bersama Bayazid (Dialog Imajiner)’

Samâ’, Ekstase dalam Cinta

Oleh:  Irfan Permana

Setiap atom menari di darat atau di udara
Sadari baik-baik, seperti kita, ia berputar-putar tanpa henti di sana
Setiap atom, entah itu bahagia atau sedih,
Putaran matahari adalah ekstase yang tak terperikan
(Rumi)

Shalawat disenandungkan, gendang mulai bertabuh, seruling ney mulai ditiup.

Di ruangan itu tampak sekelompok darwis mengenakan atribut yang seragam. Topi yang memanjang ke atas, jubah hitam besar, baju putih yang melebar di bagian bawahnya seperti rok, serta tanpa alas kaki. Mereka membungkukkan badan tanda hormat lalu mulai melepas jubah hitamnya. Posisi tangan mereka menempel di dada, bersilang mencengkram bahu. Di tengah-tengah mereka tampak seorang Syaikh, yang berperan sebagai pemimpin. Jubah hitam tetap ia kenakan. Ia maju mengambil tempat. Kini giliran syaikh tersebut membungkukkan badannya pada darwis lainnya, mereka pun balas menghormat.

Continue reading ‘Samâ’, Ekstase dalam Cinta’

Optimisme Rumi

Oleh: Irfan Permana

Kami bukanlah caravan yang patah hati
atau pintu-pintu dari keputus asaan,
Mari kemari datanglah
Meski kau telah jatuh ribuan kali,
Walau kau telah patahkan ribuan janji,
Mari kemari…datang…datanglah sekali lagi
(Jalaluddin Rumi)

Suka duka kehidupan datang silih berganti. Suka cita dirasakan setiap orang ketika kesenangan hidup menghampirinya, seperti halnya duka lara dirasakan ketika kesulitan mendera. Sebuah laku yang sangat manusiawi. Menyulap sebentuk duka menjadi suka -dalam keadaan apapun- adalah sesuatu yang dianjurkan oleh para arif. Terlebih, agamapun memerintahkan demikian. Bukankah agama diturunkan supaya kita berbahagia bukan saja di akhirat kelak, tetapi juga di dunia kini?

Continue reading ‘Optimisme Rumi’



Irfan Permana Putra, suami dari satu istri, ayah dari tiga anak. Selebihnya, tidak ada yang istimewa.

irfan.permana[at]gmail[dot]com
irfanpp[at]yahoo[dot]com
Facebook: Irfan Permana

Categories

Blog Stats

  • 21,790 hits