Archive for the 'Pojok Celoteh' Category

Tuhan, Wahhabisme, dan Hedonisme

bom-kclKetika Saint Agustinus ditanya tentang apa yang dilakukan Tuhan sebelum alam semesta tercipta, jawabnya enteng: Tuhan sibuk bikin neraka untuk orang-orang yang bertanya seperti itu.

Saint Agustinus tidak sedang bercanda. Sebab bagi kebanyakan orang beragama, kata “iman” seringkali dijadikan tameng untuk menangkal pertanyaan-pertanyaan usil macam itu. Persis seperti ketika Wiro Sableng mengeluarkan kapak maut naga geni 212-nya. Secanggih apapun ilmu lawan-lawannya, akan segera terkapar dalam hitungan waktu kurang dari sepeminuman teh.

Continue reading ‘Tuhan, Wahhabisme, dan Hedonisme’

Tafsir Beruang

Syahdan, dua orang pemburu beruang belum apa-apa sudah berdebat tentang hendak dipakai apa uang hasil penjualan beruang buruan mereka nantinya. Padahal, perburuan belum juga dimulai. Tetapi yang satu sudah berangan-angan ingin begini, yang satu lagi ingin begitu. Demikian seterusnya hingga mulut mereka tak pernah bisa berhenti bicara. Continue reading ‘Tafsir Beruang’

Idol dan Namrud

Ibrahim as, sang jawara tauhid, dilahirkan di lingkar peradaban besar Babilonia. Ia datang untuk berjuang melawan penyembahan berhala.

Setelah tiga belas tahun menjalani kehidupan di dalam gua, Ibrahim yang telah dibekali tauhid yang kokoh itu menyaksikan sebagian masyarakat yang memperlakukan bintang, bulan, dan matahari dengan begitu bodoh. Sebagian lagi membuat berhala dengan tangan sendiri,  kemudian menyembahnya. Yang terparah adalah bahwa seorang anak manusia bernama Namrud, dengan mengambil keuntungan dari kejahilan rakyat, mengaku sebagai tuhan mereka dan menyatakan diri sebagai pemberi hidup dan penentu takdir semua makhluk.

Continue reading ‘Idol dan Namrud’

Ihwal Pakaian, Pemilu dan Secangkir Kopi

Dalam Matsnawi, Rumi berkisah tentang burung beo yang dicukur gundul oleh majikannya gara-gara gagal menjalankan tugas menjaga kedai sang bos yang akan pergi sebentar untuk shalat. Karena merasa bebas bermain-main, tanpa sengaja ia menumpahkan sebotol minyak goreng hingga pecah. Sebagai hukumannya, kepala burung itu dicukur habis hingga gundul. Setelah beberapa hari murung, tiba-tiba ia melihat seorang darwis berkepala botak melintas di depan kedai. Si beo girang bukan main karena melihat ada orang yang dipikirnya senasib dengannya.

“Hei kawan….kau menumpahkan minyak juga ya sepertiku?” Teriaknya.

****

Saya hentikan dulu cerita Rumi sejenak. Sebab sore itu, di TV, Ryan si jagal dari Jombang lebih menarik perhatian. Dengan senyumannya yang khas, tampak ia mengenakan baju koko berwarna putih bersih, lengkap dengan peci putih pula. Persis seperti foto saya di facebook. Sama persis!

Continue reading ‘Ihwal Pakaian, Pemilu dan Secangkir Kopi’

Bukan Bangsa Kasihan

Penyair Lebanon Kahlil Gibran (Khalil Jibran di lidah Arab), suatu ketika menulis sebuah syair yang berjudul Bangsa Kasihan:

Continue reading ‘Bukan Bangsa Kasihan’

Sihir Pop Culture Kita

pop-culture-kcl

Jika tipu muslihat liberalime politik dan ekonomi Amerika mudah dicium aromanya, maka liberalisme moral begitu membius sehingga lebih sukar ditelusuri jejaknya. Dunia menyaksikan betapa kentaranya liberalisme politik AS yang memaksakan pemilu ala demokrasi liberalnya itu di berbagai negara. Melalui kedok organisasi non politik berupa LSM, dihembuskanlah hasutan untuk menggalang dukungan bagi partai yang pro-AS. Begitu pula dengan jurus liberalisme ekonominya. Perlahan tapi pasti kapitalisme mulai membocorkan sendiri berbagai trik tipuannya. Sebuah neo-imperialisme yang dilengkapi dengan ancaman: Anda di pihak mana? Sejalan berarti kawan, tak sejalan jadi lawan.

Continue reading ‘Sihir Pop Culture Kita’

Celoteh Sebotol Minyak Wangi

Tahun tujuh puluhan, duet Ahmad Bakr-Saddam Hussein mengambil kebijakan penting bagi rakyat Irak, namun dirasa pahit bagi pengelola Iraqi Petroleum Company (IPC), sebuah konsorsium yang terdiri dari lima oil company terbesar di dunia, yakni British Petroleum, Shell, Eso, Mobil, dan Française des Pétroles. Mereka harus menghadapi kenyataan diberlakukannya nasionalisasi perusahaan minyak di Irak. Dampaknya terasa langsung. Masyarakat Irak segera bisa menikmati keuntungan dari cadangan minyak yang melimpah itu. Kesejahteraan pun meningkat pesat di berbagai sektor, termasuk di bidang pendidikan yang akhirnya mengantarkan Saddam meraih penghargaan dari UNESCO. Bukti nyata untuk sebuah kredo yang pernah meluncur dari mulut sang tiran ini, yakni: minyak Arab untuk Arab.

Continue reading ‘Celoteh Sebotol Minyak Wangi’

Perut Kenyang, Otak Tumpul

Sekali-kali boleh dong Gan Oded nongkrong di mall sepulang kerja? Kalau sekadar traktir teman makan bakso malang di food court, sampai merangkak kekenyangan pun insya Allah masih mampu. Tetapi sohibnya yang bernama Sule ini, setelah menghabiskan semangkuk bakso yang isinya cuma lima buah (kecil-kecil pula), menolak untuk menambah. Padahal tawaran Gan Oded bukan basa-basi, sebab lima butir bakso malang mana cukup untuk mengganjal perut yang belum diisi lagi sejak tadi siang.

Continue reading ‘Perut Kenyang, Otak Tumpul’

Maaf

Tidak seperti puasa tahun lalu yang diiringi musim penghujan, Ramadhan 1429 H ini betul-betul terasa terik menyengat. Di Jakarta, terhitung hanya sesekali saja turun hujan, itupun hanya gerimis. Sepertinya pas betul dengan asal kata bulan mulia ini, yakni al-ramdhu, yang artinya membakar sesuatu.

Continue reading ‘Maaf’

Bukan Mengkultuskan

Seorang kawan mengkritik saya yang terlalu sering mengutip ucapan Imam Ali dalam (hampir) setiap kesempatan diskusi di salah satu komunitas tempat saya bergaul. Baginya, mendengar sederet keutamaan-keutamaan seorang manusia agung bernama Ali bin Abi Thalib as sama dengan mengkultuskan. Menurutnya, yang mengkultuskan hanyalah orang-orang Syi’ah.

Continue reading ‘Bukan Mengkultuskan’

Bukan Salah Haji Syaichon

Dengan modal 30 ribu perak, kita bisa makan-minum di warteg sebanyak 3-4 kali. Di sebuah food court di mall, mungkin bisa sekali. Di restoran cepat saji, dengan menu standar masih bisa sekali. Tapi untuk makan steak di sebuah restoran mewah, kalau tidak diusir keluar, paling beruntung dapat tusuk giginya saja.

Dan di Pasuruan sana, uang sejumlah 30 ribu diburu sekian banyak dhuafa, sebab cukup untuk modal makan sekian hari. Bukan untuk satu perut saja, tapi untuk perut-perut sebuah keluarga yang tak pernah mengenal yang namanya food court, fast food, apalagi rib eye steak. Bisa kita bayangkan, menu seperti apa yang biasa mereka santap sehari-hari. Tak perlu memikirkan kandungan gizi, manusia-manusia akrab derita ini bahkan tak mempermasalahkan hari-hari manakala tak ada menu apapun yang tersaji.

Continue reading ‘Bukan Salah Haji Syaichon’

Kita Pentung Saja Rame-rame

Tahun 9 H, empat belas pendeta nasrani utusan dari Najran mendatangi Rasulullah Saw yang saat itu sedang berada di masjid Nabawi. Mereka disambut dengan hangat dan penuh hormat, bahkan diijinkan untuk melakukan ibadah di dalam masjid, meskipun secara tegas Nabi Saw menghendaki mereka untuk menanggalkan segala atribut kemewahan sebelum memasuki masjid, serta meminta mereka untuk menghadap ke timur dalam melakukan ibadahnya.

Setelah menyampaikan kekeliruan pandangan mereka tentang Yesus, Nabi pun memungkasinya dengan tantangan terhadap bantahan mereka yang menganggap Nabi berdusta.

Continue reading ‘Kita Pentung Saja Rame-rame’

Berita Langit

Kawan saya ini orang paling jujur sedunia. Saking jujurnya nyaris tak bisa berbasa-basi. Kalau bagus bilang bagus, jelek ya jelek. Tak peduli lawan bicaranya itu pria atau wanita, sudah kenal lama atau baru kemarin sore. Uniknya, di balik bicaranya yang ceplas-ceplos dan sering kali tanpa tedeng aling-aling itu, siapapun bisa cepat akrab dengannya.

Ia baik. Bahkan terlalu baik untuk ukuran manusia modern yang hidup di belantara metropolitan. Siapapun yang membutuhkan pertolongannya, pasti ia bantu. Tentu saja saya termasuk salah seorang yang pernah dibantunya.

Continue reading ‘Berita Langit’

Curhat Ujang Kemod (2)

Nyaris tak ada yang bisa dibanggakan dari diri Mang Supi. Dompet, cekak. Hobi nyanyi, suara pas-pasan. Hobi gitar, modalnya 2-3 jurus. Wajah yang dia klaim di atas pas-pasan pun kini perlahan memudar seiring rambutnya yang kian hari kian erosi. Maka luluh lantaklah cita-citanya menjadi pemain band terkenal.

Tapi satu hal ia bertekad, mencoba menepati segala janji yang pernah diikrarkannya. Termasuk berjanji kepada Anda untuk menceritakan Ujang Kemod yang ngebet ingin bisa main gitar. Namun tidak seperti pada cerita pertama di mana Anda bisa menyimak kisahnya Ujang. Kali ini Mang Supi tidak memberi sedikitpun kesempatan pada Ujang untuk berceloteh.

Continue reading ‘Curhat Ujang Kemod (2)’

Sajak Orang Sesat

Shalat sambil bersiul atau berbahasa Indonesia itu bukanlah sebuah bentuk kejahatan. Ia baru akan tidak sopan ketika siulan itu dilakukan tepat di depan hidung atau telingamu.

Ibadah yang dilakukan dalam bentuk nyanyian sambil menyulam juga bukan kejahatan. Ia jadi kurang ajar ketika yang disulam itu mulutmu yang kebanyakan bacot.

Menyembah secangkir kopi ngebul, silakan. Menyembah sop kambing, monggo. Menyembah tongseng ayam, terserah. Bahkan mau menyembah sepatu butut milik Gan Oded sekalipun tidaklah jahat, kecuali setelahnya dipakai untuk menimpuk kepalamu.

Continue reading ‘Sajak Orang Sesat’

Moralitas Vladimir Putin

Gan Oded pria normal. Tak pernah dipungkirinya bahwa ia menyukai setiap jengkal keindahan dari makhluk yang bernama wanita. Wanita cantik tentunya.

Tetapi mendengar Dewi Persik nyerocos angkuh menantang sang walikota, perutnya mual juga. Mual akibat reaksi asam lambung yang bekerja keras menahan guyuran secangkir kopi yang viskositasnya terlalu tinggi. Memang kebiasaan Gan Oded setiap Sabtu-Minggu pagi adalah menyeruput kopi panas nan legit sambil membaca buku. Sementara istrinya, sejak fatwa haram nonton infotainment dicabut sang suami, pagi ini menyimak aneka gegap-gempita berita selebritis teranyar.

Continue reading ‘Moralitas Vladimir Putin’

Ayat-ayat Cinta Ali Shadra

ali.jpgSetelah kesibukan berkurang, setelah koneksi internet di rumah lumayan kencang, setelah keluarga kembali berkumpul di Cibubur (sebulan ini berada di Bandung berhubung kelahiran putera ketiga), aku masih juga tidak bisa menulis apapun kecuali yang berhubungan dengan syntax pemrograman.

Continue reading ‘Ayat-ayat Cinta Ali Shadra’

Babi Panggang Itu…

Ah…akhirnya tiba juga waktu makan siang. Meeting sejak pukul 7.30 pagi tadi betul-betul bikin ngantuk dan lelah. Kalau disuruh memilih, saya lebih suka langsung bekerja di depan komputer ketimbang berlama-lama menyimak orang-orang mendiskusikan pekerjaan. Tapi meeting yang bertempat di sebuah boardroom hotel itu bersifat mandatory sehingga saya tidak punya pilihan.

Continue reading ‘Babi Panggang Itu…’

Gan Oded dan Ramadhan (6)

Para Pencari Tuhan 

[6 Ramadhan 1428 H]. Kalau saja semua tayangan sinetron semutu “Para Pencari Tuhan”, niscaya Gan Oded tidak sampai hati mengeluarkan fatwa haram menonton seonggok sampah bernama sinetron bagi anak-istrinya.

Continue reading ‘Gan Oded dan Ramadhan (6)’

Gan Oded dan Ramadhan (3)

Protes Gan Oded

Memasuki hari ke-3 Ramadhan, saya menerima sedikit protes dari Gan Oded.

“Sekali-kali mbok ya nulis yang rada ilmiah gitu. Supaya blogmu agak sedikit berbobot, tidak sekedar berisi celotehan.”

Continue reading ‘Gan Oded dan Ramadhan (3)’

Next Page »



Irfan Permana Putra, suami dari satu istri, ayah dari tiga anak. Selebihnya, tidak ada yang istimewa.

irfan.permana[at]gmail[dot]com
irfanpp[at]yahoo[dot]com
Facebook: Irfan Permana

Categories

Blog Stats

  • 21,883 hits