Archive for the 'Renungan' Category

Mereka Bilang…

Gempa lagi…
Ada yang bilang azab dan murka Tuhan.
Ada yang bilang akibat ulah manusia juga.
Ada yang bilang jeweran Tuhan

Continue reading ‘Mereka Bilang…’

Gunung Kosmik

simurghDalam lingkar sufisme, gunung melambangkan perluasan langit yang tak terhingga. Meskipun ia hanyalah sebuah titik dalam Ketakberhinggaan Ilahi, ia adalah titik tertinggi di jagat semesta. Ia dilambangkan sebagai sumber keseluruhan kosmos.

Semakin tinggi seseorang mendaki, semakin kecil benda-benda yang tampak di bawahnya. Semakin jauh jangkauan pandangannya, semakin banyak objek penglihatan yang diperolehnya. Pada saat yang sama, sang pendaki mampu melihat puncak-puncak lainnya. Di tengah keangkuhan Sang Gunung, segera ia akan merasakan kekerdilan dirinya.

Continue reading ‘Gunung Kosmik’

Sejenak Bersama Bayazid (Dialog Imajiner)

“Salam. Bagaimana kabar Anda malam ini Tuan?”

“Aku tak punya malam. Pagi, sore, dan malam hanya untuk orang yang dibatasi atribut, dan aku tak punya atribut.”

“Baiklah, aku ingin bertemu Tuan Bayazid al-Busthami, Andakah orangnya?”

Continue reading ‘Sejenak Bersama Bayazid (Dialog Imajiner)’

Teror vs Teror

Pelaku teror atas nama agama biasanya datang dari masyarakat yang tingkat ekonominya cukup memprihatinkan. Sesaknya dada akibat himpitan kebutuhan hidup turut memuluskan jalan untuk memilih pandangan hidup yang lebih transendental. Ketika tak ada lagi yang bisa diharapkan dari kehidupan duniawi ini, ketika derita semakin mengakrabi keseharian, dan ketika segala gairah materialisme di muka bumi hanya menjadi tontonan belaka tanpa pernah ada kesempatan untuk mencicipinya barang sedetik pun, maka kehidupan akhir yang abadi nan menjanjikan menjadi prioritas utama untuk segera diraih. Pertikaian picik tentang uang dan segala kesementaraan di dunia ini segera bernilai nista di mata mereka.

Continue reading ‘Teror vs Teror’

Tafsir Beruang

Syahdan, dua orang pemburu beruang belum apa-apa sudah berdebat tentang hendak dipakai apa uang hasil penjualan beruang buruan mereka nantinya. Padahal, perburuan belum juga dimulai. Tetapi yang satu sudah berangan-angan ingin begini, yang satu lagi ingin begitu. Demikian seterusnya hingga mulut mereka tak pernah bisa berhenti bicara. Continue reading ‘Tafsir Beruang’

Gaza Lagi, Darah Lagi

 ”Jika kaum Muslim bersatu dan masing-masing dari mereka mengguyurkan seember air pada Israel, maka Israel akan tersapu, namun masih saja mereka tak berdaya di hadapannya.
(Imam Khomeini)

Masya Allah….Di penghujung 2008 ini, tanah Gaza masih terus dibasahi darah. Dan akan terus berlumuran darah selama bermacam-macam kelompok dari kaum muslimin di segenap penjuru dunia mensikapi Gaza hanya sebagai ajang untuk adu wacana, pandangan politik, tema kajian, materi pembahasan, bahan berita atau sekadar tontonan di ruang berhembuskan AC sejuk sambil ditemani seruputan kopi panas. Lebih celaka lagi, tak sedikit (yang mengaku) muslim tidak mau tahu bahwa di muka bumi ini ada tempat yang bernama Gaza. Ada bangsa yang bernama Palestina.

Continue reading ‘Gaza Lagi, Darah Lagi’

Bukan Salah Haji Syaichon

Dengan modal 30 ribu perak, kita bisa makan-minum di warteg sebanyak 3-4 kali. Di sebuah food court di mall, mungkin bisa sekali. Di restoran cepat saji, dengan menu standar masih bisa sekali. Tapi untuk makan steak di sebuah restoran mewah, kalau tidak diusir keluar, paling beruntung dapat tusuk giginya saja.

Dan di Pasuruan sana, uang sejumlah 30 ribu diburu sekian banyak dhuafa, sebab cukup untuk modal makan sekian hari. Bukan untuk satu perut saja, tapi untuk perut-perut sebuah keluarga yang tak pernah mengenal yang namanya food court, fast food, apalagi rib eye steak. Bisa kita bayangkan, menu seperti apa yang biasa mereka santap sehari-hari. Tak perlu memikirkan kandungan gizi, manusia-manusia akrab derita ini bahkan tak mempermasalahkan hari-hari manakala tak ada menu apapun yang tersaji.

Continue reading ‘Bukan Salah Haji Syaichon’

Pesan Singkat untuk Hidup yang Singkat

Mengapa kalian bergembira karena memperoleh dunia yang sedikit
dan tidak bersedih karena kehilangan akhirat yang banyak

(Imam Ali bin Abi Thalib as, Nahj al-Balaghah)

Pada musim hujan lalu, dengan sepeda motor Ahmad nekat menembus hujan deras. Teman-temannya menganggap ia agak keras kepala -mungkin bodoh- dalam hal ini. Tapi baginya menunggu hujan reda di pinggiran jalan adalah sebuah pekerjaan menjemukan dan sia-sia.

Adalah sebuah kesenangan tersendiri ketika melihat ratusan bahkan ribuan pengendara sepeda motor di Jakarta sibuk mencari tempat berteduh, sementara ia melenggang menembus hujan tanpa banyak saingan. Tanpa ada yang seruduk kanan-kiri. Tanpa kepulan asap knalpot yang menyesakkan dan seringkali membuat mata perih dan berair. Tanpa ada pelototan mata yang siap-siap sewot hanya karena sepeda motornya sedikit tersenggol. Kecuali cipratan air dari pengendara mobil, semua ritual rutin itu untuk sejenak libur. Dan tentu saja membahagiakannya.

Continue reading ‘Pesan Singkat untuk Hidup yang Singkat’

Ideologi Minder

Sore itu nampaknya sayalah satu-satunya yang mempunyai pendapat berbeda, yang mungkin membuat kuping hadirin -yang tidak siap menerima perbedaan pendapat- merasa panas. Dengan segala kerendahan hati, tanpa bermaksud meremehkan siapapun, saya merasa sedang berada di tengah kumpulan orang yang belum terbiasa “mendobrak” kemapanan pandangan mainstream, merasa sudah cukup, aman dan nyaman dengan keyakinan yang terbangun secara taken for granted.

Continue reading ‘Ideologi Minder’

Islam Indonesiaku Islamnya Preman

Lihatlah…. Alih-alih tersentuh dengan wajah-wajah ketakutan para perempuan tua yang saling berangkulan satu sama lain, serta ditingkahi jeritan tangis anak-anak, wajah-wajah garang nampak semakin kalap. Semestinya tak ada nurani yang tak tergetar menyaksikan pemandangan menggiris hati itu. Ini kusaksikan di televisi dan beberapa foto di majalah. Sementara itu di tempat dan waktu yang lain:

“Bunuh, bunuh, bunuh, BUNUH! PERANGI AHMADIYAH, BUNUH AHMADIYAH, BERSIHKAN AHMADIYAH DARI INDONESIA! Ahmadiyah halal darahnya! Persetan HAM! Tai kucing HAM! Allahu Akbar” (1)

Entah kerasukan setan apa Sobri Lubis ini….

“Hukuman bagi nabi palsu sederhana: Kalau ditemukan, tangkap, potong leher!” (2)

Abu Bakar Baasyir tak mau kalah. (Hayoo..siapa ingin hidup di negara Islam ala Pak Tua ini?)

“Bila pengikut Ahmadiyah tidak mau bertobat, hukumannya mati!” (3)

Hebat betul M. Khattath ini mengambil alih peran Tuhan, atau mau jadi Tuhan Bung? Biar Baasyir jadi nabinya.

Continue reading ‘Islam Indonesiaku Islamnya Preman’

Sajak Orang Sesat

Shalat sambil bersiul atau berbahasa Indonesia itu bukanlah sebuah bentuk kejahatan. Ia baru akan tidak sopan ketika siulan itu dilakukan tepat di depan hidung atau telingamu.

Ibadah yang dilakukan dalam bentuk nyanyian sambil menyulam juga bukan kejahatan. Ia jadi kurang ajar ketika yang disulam itu mulutmu yang kebanyakan bacot.

Menyembah secangkir kopi ngebul, silakan. Menyembah sop kambing, monggo. Menyembah tongseng ayam, terserah. Bahkan mau menyembah sepatu butut milik Gan Oded sekalipun tidaklah jahat, kecuali setelahnya dipakai untuk menimpuk kepalamu.

Continue reading ‘Sajak Orang Sesat’

Mah, di Mana Allah?

adel2.jpgAnak bungsuku yang masih bicara cadel suatu hari bertanya kepada ibunya, “Mah, di mana Allah? Kok Adel gak liat?”. Mamanya menjawab sederhana, “Allah ada di mana-mana, Allah gak kelihatan sama Adel tapi bisa lihat Adel dimanapun berada”. Dijawab begitu nampaknya si kecil Adel (Delshadia Zahra) kurang puas, ia celingak-celinguk kiri-kanan atas-bawah.

Aku tersenyum geli dan bergumam dalam hati. Nak, nanti kalau sudah waktunya tentu kuberitahukan padamu, bahwa Sang Gerbang Ilmu pernah menjawab pertanyaan yang sama jauh berabad-abad silam:

“Akankah aku menyembah sesuatu yang tidak kulihat? Dia (Allah) takkan tercapai oleh penglihatan mata, tetapi oleh mata hati yang dipenuhi hakikat keimanan. Dekat tanpa ada sentuhan jauh tanpa ada jarak. Berbicara tanpa harus berpikir. Berkehendak tanpa harus berencana. Berbuat tanpa memerlukan tangan. Lembut tapi tidak tersembunyi. Besar tapi tidak teraih. Melihat tapi tidak bersifat inderawi. Maha penyayang tapi tidak bersifat lunak. Wajah-wajah merunduk di hadapan keagungan-Nya. Jiwa-jiwa bergetar karena ketakutan terhadap-Nya.” (Imam Ali bin Abi Thalib as, Nahjul Balaghah).[]

This Love

Optimisme Rumi

Oleh: Irfan Permana

Kami bukanlah caravan yang patah hati
atau pintu-pintu dari keputus asaan,
Mari kemari datanglah
Meski kau telah jatuh ribuan kali,
Walau kau telah patahkan ribuan janji,
Mari kemari…datang…datanglah sekali lagi
(Jalaluddin Rumi)

Suka duka kehidupan datang silih berganti. Suka cita dirasakan setiap orang ketika kesenangan hidup menghampirinya, seperti halnya duka lara dirasakan ketika kesulitan mendera. Sebuah laku yang sangat manusiawi. Menyulap sebentuk duka menjadi suka -dalam keadaan apapun- adalah sesuatu yang dianjurkan oleh para arif. Terlebih, agamapun memerintahkan demikian. Bukankah agama diturunkan supaya kita berbahagia bukan saja di akhirat kelak, tetapi juga di dunia kini?

Continue reading ‘Optimisme Rumi’



Irfan Permana Putra, suami dari satu istri, ayah dari tiga anak. Selebihnya, tidak ada yang istimewa.

irfan.permana[at]gmail[dot]com
irfanpp[at]yahoo[dot]com
Facebook: Irfan Permana

Categories

Blog Stats

  • 21,809 hits