<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Irfan Permana</title>
	<atom:link href="http://irfanpermana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://irfanpermana.wordpress.com</link>
	<description>Who am I? Just my name, the rest is Him</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Jan 2012 08:51:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='irfanpermana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Irfan Permana</title>
		<link>http://irfanpermana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://irfanpermana.wordpress.com/osd.xml" title="Irfan Permana" />
	<atom:link rel='hub' href='http://irfanpermana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tentang Duri Ikan dan Takwanya Si Pemain Band Amatir</title>
		<link>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/10/15/tentang-duri-ikan-dan-takwanya-si-pemain-band-amatir/</link>
		<comments>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/10/15/tentang-duri-ikan-dan-takwanya-si-pemain-band-amatir/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 06:47:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Permana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pojok Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanpermana.wordpress.com/?p=571</guid>
		<description><![CDATA[Di Jumat siang itu, tiba-tiba saya tersentak dari kantuk di bagian khutbah shalat Jumat, yang memang biasanya begitu. “Takwa itu bukan sekadar rajin ibadah, tetapi juga senantiasa berhati-hati dan berusaha menghindari maksiat dan dosa-dosa kecil”. Sepotong kalimat sang khatib itu mengingatkan saya pada kejadian lama dalam suatu kesempatan ketika makan malam di rumah salah seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=571&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di Jumat siang itu, tiba-tiba saya tersentak dari kantuk di bagian khutbah shalat Jumat, yang memang biasanya begitu.</p>
<p>“Takwa itu bukan sekadar rajin ibadah, tetapi juga senantiasa berhati-hati dan berusaha menghindari maksiat dan dosa-dosa kecil”. Sepotong kalimat sang khatib itu mengingatkan saya pada kejadian lama dalam suatu kesempatan ketika makan malam di rumah salah seorang ulama. Sambil tangannya memisahkan daging ikan dari durinya, laki-laki yang setiap helai ubannya memancarkan cahaya keilmuan itu berkata: “Takwa itu seperti makan ikan, hati-hati sebelum memakannya, pilah durinya jangan sampai tertelan”, ujarnya singkat. Dan respon saya saat itu hanya manggut-manggut saja pura-pura mengerti sambil asyik mengunyah makanan.</p>
<p><span id="more-571"></span>Rupanya pesan singkat dan ringan itu cukup meninggalkan kesan hingga di kemudian hari. Juga ketika di suatu kesempatan saya mencoba bernostalgia dengan hobi lama yang sudah saya kubur dalam-dalam (karena sadar skill pas-pasan dan tampang kurang komersil sulit untuk mengguncang dunia): ngeband.</p>
<p>Ketika ngeband, ada hal-hal yang harus diperhatikan untuk menjaga kualitas takwa dalam bermusik. Misalnya, sebagai pemain gitar, Anda bebas berimprovisasi memilih pattern solo gitar sesuka-suka hati, namun jangan keasyikan sendiri. Patuhi pakemnya, tempo dan nadanya jangan sampai keluar jalur. Sedikit saja melenceng akan terjadi disharmoni dan segera Anda akan menjadi pemain band yang tidak bertakwa karena telah menodai keutuhan sebuah lagu. Seperti halnya ketika makan ikan, satu saja duri mengganjal di kerongkongan maka selera makan kontan terganggu.</p>
<p>Demikian pula dalam kehidupan beragama. Sehitam apapun jidat Anda, sepanjang dan selebat apapun janggut Anda, atau secingkrang apapun celana Anda, jangan geer dulu kalau Anda sudah tergolong orang-orang takwa yang paling dekat dengan Tuhan. Sebab takwa tidak melulu mengurus yang vertikal, malahan yang horizontal seringkali jadi syarat utama supaya urusan vertikal berjalan mulus. Penting dihitung berapa banyak orang yang sakit hati dengan vonis bid’ah dan sesat yang Anda lontarkan, sementara yang tahu persis mutlaknya suatu kebenaran ya cuma Tuhan. Kita hanya mencoba mengikuti dari jalur-jalur yang berbeda sesuai dengan kadar ilmu dan informasi yang kita miliki, seraya mencoba patuh dengan pakem yang kita pilih itu.</p>
<p>Sebagaimana ketika makan ikan, entah yang Anda makan itu ikan mas, bawal, bandeng, atau gurame, pakemnya adalah Anda harus singkirkan durinya sebelum memakannya (kecuali bandeng presto). Sebagaimana juga dalam bermusik, Anda boleh memainkan jazz, dangdut, rock, atau metal sesuai dengan tarikan jiwanya masing-masing tanpa perlu mencemooh selera orang. Mainkan saja musiknya, pakemnya adalah tetap menjaga tempo dan harmonisasi nada agar jidat penonton tidak berkerut karena mendengar ketukan yang tidak pas atau bunyi-bunyian aneh.</p>
<p>Sampai sini saja dulu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanpermana.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanpermana.wordpress.com/571/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanpermana.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanpermana.wordpress.com/571/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanpermana.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanpermana.wordpress.com/571/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanpermana.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanpermana.wordpress.com/571/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanpermana.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanpermana.wordpress.com/571/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanpermana.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanpermana.wordpress.com/571/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanpermana.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanpermana.wordpress.com/571/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=571&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/10/15/tentang-duri-ikan-dan-takwanya-si-pemain-band-amatir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b1419f267b44e95e86682bd1d296620?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">irfanpp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senyum Itu (Masih) Ibadah</title>
		<link>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/09/04/senyum-itu-masih-ibadah/</link>
		<comments>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/09/04/senyum-itu-masih-ibadah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Sep 2011 08:34:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Permana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanpermana.wordpress.com/?p=569</guid>
		<description><![CDATA[Setelah berjalan di sebuah gang dan melewati sekumpulan orang yang sedang nongkrong di pinggir jalan, seorang teman yang lahir dan besar di metropolitan menegur sambil bertanya heran: “Kenapa barusan kamu bilang punten dan tersenyum kepada orang-orang itu?” “Biasa saja kok begitu”, jawab saya tanpa ingin berpanjang lebar dengan urusan remeh ini. Ia pun nampaknya tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=569&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Setelah berjalan di sebuah gang dan melewati sekumpulan orang yang sedang nongkrong di pinggir jalan, seorang teman yang lahir dan besar di metropolitan menegur sambil bertanya heran: “Kenapa barusan kamu bilang <em>punten </em>dan tersenyum kepada orang-orang itu?”</p>
<p><span id="more-569"></span>“Biasa saja kok begitu”, jawab saya tanpa ingin berpanjang lebar dengan urusan remeh ini. Ia pun nampaknya tidak ingin bertanya lagi. Namun tersirat dari raut mukanya rasa heran melihat saya bilang permisi sambil tersenyum seraya menganggukkan kepala kepada sekelompok orang yang tak pernah saya kenal, yang sedang nongkrong di pinggir gang itu.</p>
<p>Saya tidak tahu persis. Bagi orang-orang yang lahir dan besar di kota besar dan belum merasakan hidup di kampung atau desa, mungkin akan menganggap ganjil melihat apa yang saya lakukan belasan tahun lalu itu, ketika masih kuliah di Bandung. Sekarang saya tinggal di (pinggir) kota Jakarta. Dan nampaknya saya mulai mengerti mengapa di kota besar bernama Jakarta ini yang namanya senyum mulai mahal harganya.</p>
<p>Seorang kawan yang lain kini tinggal di sebuah kompleks besar (juga di pinggir kota) Jakarta. Ia mengeluhkan sebuah kejadian yang berkali-kali ia alami. Ia mengaku sulit untuk tak ambil pusing setelah berusaha tersenyum ramah kepada tetangga namun sang tetangga dengan cueknya melengos. Ia jengkel. Rupanya bukan saya saja yang berkali-kali mengalami itu. Bahkan terus terang saya sempat menyesal mengapa memilih tinggal di sebuah kompleks yang mayoritas dihuni pasangan muda yang terlalu sibuk dengan urusan fulus sehingga aspek kehidupan sosial nyaris tersingkirkan. Saya tidak tahu, mungkin kejadian “biasa” itu lambat laun akan merubah saya menjadi manusia yang pelit senyum juga. Gejala awalnya kini saya sering berhati-hati dan lihat-lihat dulu orang sebelum melemparkan senyum.</p>
<p>Saat tulisan ini dibuat kebetulan saya sedang menghabiskan sisa liburan lebaran di kampung halaman yang tinggal beberapa hari lagi. Sepulang jumatan saya memutuskan untuk nongkrong di sebuah tempat di mana saya biasa mencari inspirasi. Tidak ada maksud khusus, hanya ingin ngopi-ngopi sambil sedikit bernostalgia.</p>
<p>Di tengah lamunan, tiba-tiba saya dikejutkan oleh sapaan seorang lelaki yang tidak saya kenal yang berjalan melintas sekitar dua meter di depan saya. “<em>Punten</em> A’…”, sahutnya sambil tersenyum. “<em>Mangga</em>”, jawab saya sambil membalas senyuman dan anggukannya itu. Ia pun berlalu. Kupandangi langkahnya sambil menerawang ke kejadian masa lalu, yang menghadirkan kembali pertanyaan—atau tepatnya keberatan—sang teman akan ucapan ‘permisi’ yang saya ceritakan di awal tadi.</p>
<p>Kupandangi langkah lelaki itu, ada terselip rasa senang di hati. Rupanya ucapan ‘permisi’ plus senyuman yang sama sekali tidak sulit itu cukup memberi perasaan enak di hati orang. Tak usahlah kita pikirkan apakah senyumnya itu tulus atau tidak. Kita ukur saja sejauh yang nampak di permukaan.</p>
<p>Pantaslah senyum bernilai ibadah di sisi Allah. Bukankah sebuah hadis mengatakan ‘senyum manismu untuk muka saudaramu adalah sedekah untukmu?’ Ah, tapi mengapa manusia-manusia di kota besar semakin banyak yang pelit senyum? Bukankan mereka juga kebanyakan pendatang yang berasal dari kampung atau desa yang dermawan akan senyuman? Bagaimana caranya hiruk-pikuk kehidupan kota merubah mereka? Sudah pelit dengan harta, masak iya mau pelit juga sedekah senyum? Dan pertanyaan terakhir datang dari diri: apakah saya termasuk salah satu di antaranya?”</p>
<p>Tak terhitung jumlahnya Tuhan memberikan nikmat gratis dalam hidup kita, tapi mengapa untuk melemparkan senyum saja seringkali kita pelitnya bukan main… []</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanpermana.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanpermana.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanpermana.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanpermana.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanpermana.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanpermana.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanpermana.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanpermana.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanpermana.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanpermana.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanpermana.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanpermana.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanpermana.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanpermana.wordpress.com/569/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=569&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/09/04/senyum-itu-masih-ibadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b1419f267b44e95e86682bd1d296620?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">irfanpp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Awam Ikut Ahlinya Saja</title>
		<link>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/08/30/yang-awam-ikut-ahlinya-saja/</link>
		<comments>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/08/30/yang-awam-ikut-ahlinya-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 10:52:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Permana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pojok Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanpermana.wordpress.com/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[Ilmu fiqih seperti matematika, sarat dengan muatan logika berikut aturan-aturannya yang ketat. Hanya orang-orang yang mempunyai kecakapan dan telah mengkhususkan diri untuk mendalaminya yang layak dimintai pendapat. Orang awam seperti kita hendaknya mengikuti ahlinya saja. Tapi masalahnya, kita yang awam ini suka dibikin pusing (atau muak?). Tiba-tiba semua orang jadi ahli. Masing-masing mulai bersuara. Celakanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=566&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ilmu fiqih seperti matematika, sarat dengan muatan logika berikut aturan-aturannya yang ketat. Hanya orang-orang yang mempunyai kecakapan dan telah mengkhususkan diri untuk mendalaminya yang layak dimintai pendapat. Orang awam seperti kita hendaknya mengikuti ahlinya saja.</p>
<p>Tapi masalahnya, kita yang awam ini suka dibikin pusing (atau muak?). Tiba-tiba semua orang jadi ahli. Masing-masing mulai bersuara. Celakanya lagi, pendapat dilontarkan sembari meremehkan pendapat lainnya.</p>
<p><span id="more-566"></span>“Lho, bukannya setiap orang bebas mengeluarkan pendapat?” Betul, tapi syahwat pendapat juga perlu dikendalikan. Sebab suatu urusan menjadi rusak karena orang-orang yang tidak benar-benar ahli ikut-ikutan bicara.</p>
<p>Jadi, mau lebarannya hari ini, besok, atau lusa, terlalu &#8216;sok tahu&#8217; untuk diributkan oleh kita yang bukan ahlinya ini. Jalankan saja sesuai keyakinan masing-masing. Yang penting shalat ied-nya sama, tanggal 1 Syawal, hehe&#8230;</p>
<p>Selamat idul fitri 1432 H kepada seluruh teman-teman dan sanak saudara yang merayakan hari ini, besok, atau mungkin lusa. Maaf lahir batin….</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanpermana.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanpermana.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanpermana.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanpermana.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanpermana.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanpermana.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanpermana.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanpermana.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanpermana.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanpermana.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanpermana.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanpermana.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanpermana.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanpermana.wordpress.com/566/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=566&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/08/30/yang-awam-ikut-ahlinya-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b1419f267b44e95e86682bd1d296620?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">irfanpp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fitrah Mudik Para Biker</title>
		<link>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/08/30/fitrah-mudik-para-biker/</link>
		<comments>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/08/30/fitrah-mudik-para-biker/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 10:44:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Permana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Life]]></category>
		<category><![CDATA[Pojok Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanpermana.wordpress.com/?p=562</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar empat tahun yang lalu saya menyimpan pertanyaan: bagaimana para pengendara sepeda motor bisa senekad itu, mudik dengan mengangkut seluruh awak keluarga (termasuk balita) dan membawa barang bawaan seabrek sehingga harus memasang penopang tambahan di bagian belakang motor. Belum lagi atribut safety riding yang kurang memadai. Begitu banyak tantangan serius, misalnya kondisi alam yang tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=562&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-193" title="bikermudik" src="http://irfanpermana.files.wordpress.com/2008/10/bikermudik.jpg?w=600" alt=""   />Sekitar empat tahun yang lalu saya menyimpan pertanyaan: bagaimana para pengendara sepeda motor bisa senekad itu, mudik dengan mengangkut seluruh awak keluarga (termasuk balita) dan membawa barang bawaan seabrek sehingga harus memasang penopang tambahan di bagian belakang motor. Belum lagi atribut <em>safety riding</em> yang kurang memadai. Begitu banyak tantangan serius, misalnya kondisi alam yang tidak menguntungkan, kurangnya konsentrasi, dan yang paling berbahaya adalah ngantuk akibat kelelahan. Jelas ini beresiko tinggi. Konon, Jasa Raharja mencatat sebagian besar dari santunannya diberikan kepada korban kecelakaan sepeda motor.</p>
<p><span id="more-562"></span>Kalau sulit, untuk apa memaksakan diri mengambil resiko setinggi itu. Mestikah silaturahim dilakukan di saat lebaran saja? Bukankah kapan dan di mana saja orang bisa saling meminta dan memberi maaf? Tak adakah saat-saat lain yang lebih aman dan nyaman? Memangnya berdosa kalau lebaran tidak bisa mudik? Kira-kira itulah sederet pertanyaan agak sinis mampir di benak.</p>
<p>Mudik adalah fenomena sosial yang rutin terjadi setiap tahunnya. Bukan saja di Indonesia, di Amerika saja yang jauh lebih modern, fenomena mudik masih terjadi, terutama saat <em>thanks-giving day</em>. Mungkin ini terkait dengan dorongan alamiah manusia, di mana ada saatnya orang-orang ingin kembali dekat dengan keluarga terdekat mereka di kampung. Bukan saja untuk bermaaf-maafan, tetapi juga untuk melepas segenap kerinduan, setelah setahun penuh disibukkan oleh rutinitas terutama urusan dapur. Sehingga bagi para perantau, lebaran tanpa mudik adalah kosong hampa tak bermakna.</p>
<p>Cukup <em>make sense</em>. Tapi mengendarai sepeda motor sekeluarga? Waduh, nanti dulu&#8230;Saya berani, tapi sendiri saja tanpa keluarga.</p>
<p>Dan tanpa direncanakan sebelumnya, saat itu saya betul-betul mudik dengan sepeda motor. Tanpa persiapan yang serius. Dengan alasan yang (sebetulnya) dibuat-buat: <em>Pertama</em>, sekadar untuk membuktikan ‘<em>ilmul yaqin’</em> saya, bahwa mudik memang dorongan alamiah fitrah manusia, meski harus bersusah payah menjalaninya. <em>Kedua</em>, demi ingin merasakan kesenangan seperti yang para pengguna sepeda motor rasakan saat mudik.</p>
<p>Ini terjadi saat Ramadhan 1428 H empat tahun lalu. Setelah beberapa hari sebelumnya istri dan anak-anak tiba di Bandung lebih dulu, saya menyusul sendiri tepat di malam lebaran.</p>
<p>Ini kali pertama saya menggunakan sepeda motor dalam jarak yang–bagi saya yang tidak terbiasa–sangat jauh: Jakarta-Bandung via Puncak. Dan seperti yang saya duga sebelumnya, jalanan macet berat terutama di jalur menuju Puncak. Tetapi gema takbir setia mengiringi perjalanan, baik dari masjid-masjid yang dilalui maupun yang berasal dari beduk keliling mobil bak terbuka atau truk-truk yang khusus disewa. Sesekali, tergetar juga dibuatnya.</p>
<p>Meski macet, suasana sungguh berbeda. Saya tidak bisa memperhatikan secara detil. Saya juga tidak tahu pasti apa yang orang-orang rasakan. Tapi saya rasakan, kebanyakan diantara para pemudik dengan aneka kendaraan yang mereka tumpangi itu, nampak seolah sedang mengejar sesuatu dengan optimisme tinggi. Apalagi dengan latar alunan takbir yang tak pernah terputus, suasananya memancarkan kegembiraan yang tidak ditemukan di hari-hari lain.</p>
<p>Saya tak punya kata-kata pas untuk menggambarkannya, ini belum pernah saya alami sebelumnya. Yang jelas pengalaman baru malam itu membuat saya merasa senang.</p>
<p>Demikianlah, berpuluh-puluh kilometer hingga lebih dari 100 km saya lalui, diselang dua kali beristirahat dengan melahap semangkuk sop kambing dan menyeruput kopi panas. Akhirnya, dalam keadaan limbung sampai juga di tempat tujuan setelah lewat tengah malam. Paginya, ketika orang suka cita shalat ‘ied di masjid atau lapangan, saya masih ambruk di kamar ditemani tapak-tapak merah di punggung bekas kerokan tadi malam.</p>
<p>Terus terang, saya kapok untuk mengulanginya. Alhamdulillah, tahun-tahun berikutnya saya diberi keluasan pilihan untuk mudik dengan cara yang lebih aman dan nyaman.</p>
<p>Tetapi mereka, para biker yang membawa satu keluarga dengan beban berlebih itu? Ya, mereka mau menempuh cara sesulit itu, tak lain karena mudik memang dorongan alamiah fitrah manusia yang tak bisa dibendung oleh aturan manusia manapun di muka bumi ini. Nampaknya, saya gagal menemukan jawaban lain. []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanpermana.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanpermana.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanpermana.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanpermana.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanpermana.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanpermana.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanpermana.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanpermana.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanpermana.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanpermana.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanpermana.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanpermana.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanpermana.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanpermana.wordpress.com/562/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=562&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/08/30/fitrah-mudik-para-biker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b1419f267b44e95e86682bd1d296620?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">irfanpp</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irfanpermana.files.wordpress.com/2008/10/bikermudik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bikermudik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Garden of Truth: Jalan Spiritual Menuju Taman Kebenaran *)</title>
		<link>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/06/18/the-garden-of-truth-jalan-spiritual-menuju-taman-kebenaran/</link>
		<comments>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/06/18/the-garden-of-truth-jalan-spiritual-menuju-taman-kebenaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jun 2011 12:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Permana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Mysticism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanpermana.wordpress.com/?p=548</guid>
		<description><![CDATA[Book Review Oleh: Irfan Permana &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Judul Buku:  The Garden of Truth, Mereguk Sari Tasawuf Judul Asli:  The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s  Mystical Tradition Penulis: Seyyed Hossein Nasr Penerbit: Mizan Cetakan: I, Januari 2010 Tebal: 304 halaman &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Kita lahir, menjalani keriangan masa kanak-kanak, tumbuh kembang menjadi remaja, lalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=548&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Book Review<br />
Oleh: Irfan Permana</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Judul Buku:  <em>The Garden of Truth</em>, Mereguk Sari Tasawuf<br />
Judul Asli:  <em>The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s  Mystical Tradition</em><br />
Penulis: Seyyed Hossein Nasr<br />
Penerbit: Mizan<br />
Cetakan: I, Januari 2010<br />
Tebal: 304 halaman<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Kita lahir, menjalani keriangan masa kanak-kanak, tumbuh kembang menjadi remaja, lalu di usia dewasa tanpa terasa terseret rutinitas di tengah kultur hedonisme beserta aneka problematikanya. Lantas, sebagian dari kita mulai resah dan bertanya: Apa sesungguhnya yang sedang kita cari? Siapakah kita? Dari mana kita berasal? Akan ke mana kita pergi?</p>
<p><span id="more-548"></span>Sederet pertanyaan tersebut merupakan pijakan awal yang bagus bagi mereka yang merasa teralienasi dan dahaga akan kebutuhan spiritual. Pertanyaan eksistensial yang mendasar seperti ini sering muncul terutama di tengah kegersangan spiritual manusia modern yang memang ingin menemukan makna hidup yang hakiki.</p>
<p>Seyyed Hossein Nasr, seorang juru bicara utama spiritualitas Islam dan juga pelaku jalan sufi, melalui buku terakhirnya ini membantu memberikan jawaban. Dengan mengikuti cara-cara yang ditampilkan otoritas lama, penulis mencoba menyajikan sebuah buku tasawuf yang ia sebut sebagai teks sufi dengan bahasa kontemporer (hal 9). Tentu saja bahasa kontemporer yang disesuaikan dengan wacana intelektual kekinian sangat dibutuhkan oleh para pencari yang hidup di tengah dunia modern ini. Meskipun tidak bersifat petunjuk praktis, namun melalui pembahasan yang kontemplatif buku ini mengajak kita untuk memasuki dan menikmati keindahan taman ilahiah: <em>the garden of truth</em>.</p>
<p>Tasawuf atau sufisme merupakan elemen esensial keberagamaan. Ia adalah sebuah jalan terang yang berujung pada taman kebenaran, sebuah tempat yang menyingkap tabir yang selama ini menyelubungi kesadaran manusia akan Realitas Ilahi.</p>
<p>Lalu apa yang dimaksud dengan ”<em>the garden of truth</em>” atau ”taman kebenaran” itu? Tasawuf mengajarkan bahwa tanda-tanda Tuhan terlihat di segala aspek kehidupan. Alam semesta mengandung simbol-simbol yang menyiratkan kedalaman makna. Karenanya, dalam tasawuf seringkali pesan-pesan disampaikan melalui bahasa simbol agar lebih menyentuh kesadaran manusia. Demikian pula taman dalam buku ini diambil dari simbolisme tradisional<a title="" href="#_edn1">[i]</a> Islam sebagaimana dapat ditemukan pula dalam Al-Qur’an. Ia merupakan cerminan surga di bumi yang semestinya diraih selagi masih hidup.</p>
<p>Lantas bagaimana caranya memasuki taman ini? Perjalanan batin yang diajarkan jalan sufi adalah mentransendensikan keberadaan manusia dan mengembalikan kesadaran akan keterpisahan dengan tempat asal. Inilah aspek spiritual yang banyak dilupakan orang. Banyak orang menjalani agama sebatas ritual semata tanpa menyentuh esensi. Mereka lupa dengan jantung keberagamaan yang hanya bisa ditembus melalui aspek esoterik agama, yakni jalan tasawuf, yang juga merupakan jalan yang diajarkan Nabi Muhammad Saw dan terus dilestarikan selama berabad-abad.</p>
<p>Melalui pendekatan itulah Nasr mencoba menjelaskan doktrin metafisika dan kosmologi yang terdapat dalam tradisi sufi. Mungkin terasa agak berat bagi pembaca awam, namun bagi mereka yang sebelumnya telah mengenal wacana ini, justru bisa memperoleh petunjuk komprehensif dengan bobot yang mendalam. Terlebih, buku ini merupakan hasil kajian ilmiah dan partisipasi aktif sang penulis dalam tasawuf selama lebih dari lima puluh tahun.</p>
<p>Buku ini terdiri dari empat bagian yang mengandung enam bab dan dua buah lampiran. Bab pertama berbicara tentang esensi tasawuf secara umum, diawali dengan sederet pertanyaan tentang arti menjadi manusia, siapa kita dan dan apa yang kita lakukan di sini, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Untuk menemukan jawaban tentang Diri yang sejati, seseorang harus mengawali perjalanannya dari aspek <em>syarî’ah</em> yang merupakan jalan wajib yang harus dilalui. Kemudian untuk sampai kepada <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>aqîqah</em> atau kebenaran, seseorang harus menempuh jalan spiritual yang disebut <em>tharîqah</em>. Dan tasawuf inilah yang merupakan jalan penghubung dari lingkaran luar <em>syarî’ah </em>menuju titik pusat <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>aqîqah</em>, yaitu suatu titik yang oleh para mistikus disebut sebagai penyatuan dengan Tuhan. Disinilah hakikat mengenal diri yang sekaligus mengenal Tuhan tercapai, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis: ”Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya”.</p>
<p>Bab dua mengawali bagian kedua buku ini dengan judul ”Kebenaran”, berisi pembahasan tentang pengetahuan yang mencerahkan yang bisa membebaskan manusia dari belenggu kebodohan. Bab tiga, ”Cinta dan Keindahan”, berisi elaborasi mendalam tentang kualitas-kualitas cinta dan keindahan dillihat dari aspek ”<em>human</em>” maupun ”<em>divine</em>”. Bab empat, ”Kebaikan dan Tindakan Manusia”, menekankan kepada ciri khas spiritualitas jalan sufi yang mengintegrasikan kehidupan kontemplatif dengan tindakan nyata, di mana manusia seharusnya menyesuaikan diri dengan kehendak dan norma-norma ilahi, sesuai dengan teladan yang dicontohkan Nabi. Bagian akhir dari bab ini fokus kepada pentingnya tiga modus doa yang terdapat dalam berbagai agama: doa individual (<em>du’a</em>), doa kanonik (shalat), dan doa dari hati (<em>dzikr</em>). Kemudian bab lima, bab terakhir dari bagian kedua ini, berbicara tentang bagaimana caranya mencapai taman kebenaran yang pada hakikatnya adalah jalan menuju yang Esa.</p>
<p>Bagian ketiga buku ini adalah tentang ”Jalan Menuju Pusat”, berisi penjelasan tentang doktrin batin tasawuf yang menekankan pentingnya pemahaman bahwa secara esoteris taman kebenaran itu sesungguhnya berada di sini dan sekarang. ”Meskipun untuk mencapainya terkait dengan masa depan eskatologis kita, ia dapat direalisasikan sekarang pada saat ini” (hal 180).</p>
<p>Terakhir, bagian ke empat, berisi dua buah lampiran, masing-masing mengenai ”Tradisi Sufi dan Tarekat Sufi” serta ”Tradisi Tasawuf dan Irfan Teoretis”. Bagian ini berisi ringkasan padat tentang asal usul dan sejarah tasawuf yang dapat ditelusuri dalam sebuah tradisi panjang yang pada akhirnya kembali ke asal-usul Islam itu sendiri.</p>
<p>Akhirnya, tujuan puncak perjalanan menuju taman kebenaran adalah untuk kembali ke asal-usul kesadaran, yakni Realitas Ilahi yang hakikatnya merupakan inti dari diri. Menemukan kembali kesadaran iniliah yang sesungguhnya menjadi <em>raison d’être</em> keberadaan manusia, yang sayangnya kebanyakan dari kita menderita ”amnesia”. Padahal para sufi, sebagaimana Nabi, berkali-kali mengingatkan kita.</p>
<p>Mari kita simak syair Rumi yang menuturkan keluhan sang seruling yang merindukan tempat asal:</p>
<blockquote><p>“….Sejak aku berpisah dengan asal usulku, bambu yang rimbun, ratapku membuat lelaki dan wanita merintih.<br />
Kukoyak dadaku, kucurahkan kepiluan berahi cinta akan kerinduan tempat asalku.<br />
Siapa saja yang hidup jauh dari kampung halamannya akan merindukan saat-saat ketika ia akan kembali.<br />
Nada-nada senduku senantiasa kunyanyikan dalam setiap kerumunan, bersama mereka yang bersukacita dan menangis.<br />
Rahasia laguku tak terasing dari asal-usul ratapku. Namun, adakah telinga yang mendengar, adakah mata yang melihat?”</p></blockquote>
<p>Tuhan titipkan seruling syahdu di lubuk terdalam jiwa-jiwa manusia. Namun, seberapa sadarkah kita untuk mendengar lengkingan pilu sang seruling yang ingin kembali ke tempat asal, sementara kita terlalu terlena sehingga tak pernah menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi?</p>
<p>Seperti Rumi, Seyyed Hossein Nasr melalui buku yang sangat berharga ini—melanjutkan tradisi yang ditempuh para sufi klasik—ingin kembali mengingatkan kita tentang asal-usul kesadaran. Dan nampaknya, sederet pertanyaan di awal tadi harus ditujukan kepada diri kita sendiri, sebab hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya secara pasti. Dan mematikan diri agar tersingkap hakikat Diri yang sejati merupakan satu-satunya cara, sebagaimana tersirat dalam sebuah hadis yang sering dikutip para sufi: <em>muutu qabla anta muutu</em>, matilah kau sebelum mati. [IP, 2011]</p>
<p>*) Terbit di jurnal ”Titik-Temu, Jurnal Dialog Peradaban”, Volume 3, Nomor 2, Januari-Juni 2011, sebuah jurnal yang diterbitkan oleh NCMS (Nurcholish Madjid Society).</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ednref1">[i]</a> Pengertian Islam tradisional di sini adalah Islam original yang belum lepas dari unsur spiritualitas yang merupakan aspek batin keberagamaan.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanpermana.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanpermana.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanpermana.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanpermana.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanpermana.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanpermana.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanpermana.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanpermana.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanpermana.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanpermana.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanpermana.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanpermana.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanpermana.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanpermana.wordpress.com/548/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=548&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanpermana.wordpress.com/2011/06/18/the-garden-of-truth-jalan-spiritual-menuju-taman-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b1419f267b44e95e86682bd1d296620?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">irfanpp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sedikit Omong Soal Setan</title>
		<link>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/08/28/sedikit-omong-soal-setan/</link>
		<comments>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/08/28/sedikit-omong-soal-setan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 02:10:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Permana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pojok Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanpermana.wordpress.com/?p=537</guid>
		<description><![CDATA[Jika saja Tuhan tak memberikan potensi hewani pada seorang anak manusia, mungkin tak kita dapati manusia yang hidupnya hanya sibuk memikirkan urusan perut dan kelamin. Mungkin juga tak kita temui seseorang yang hobinya berlaku iri, dengki, menipu, mencuri, merampok, memperkosa, membunuh, hingga menerkam hak orang bak hewan buas. Jika saja Tuhan tak memberikan daya setani [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=537&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-539" title="jurig" src="http://irfanpermana.files.wordpress.com/2010/08/jurig1.jpg?w=600" alt=""   />Jika saja Tuhan tak memberikan potensi hewani pada seorang anak manusia, mungkin tak kita dapati manusia yang hidupnya hanya sibuk memikirkan urusan perut dan kelamin. Mungkin juga tak kita temui seseorang yang hobinya berlaku iri, dengki, menipu, mencuri, merampok, memperkosa, membunuh, hingga menerkam hak orang bak hewan buas.</p>
<p>Jika saja Tuhan tak memberikan daya setani pada manusia, mungkin tak kita dapati seseorang yang tega-teganya berbuat jahat sambil melakukan pembenaran atas kelakuan jahatnya itu. Tak akan ada pejabat yang korupsi besar-besaran namun dalam waktu bersamaan membangun masjid dengan maksud ingin membersihkan dosanya. Juga tak akan pernah kita dengar perampok uang rakyat umrah dengan niat ingin membayar lunas kelakuan minusnya itu.</p>
<p><span id="more-537"></span>Para sufi menyebut potensi seperti yang terdapat pada hewan sebagai quwwah syahwaniyyah (dan ghadabiyyah). Sedangkan potensi setani disebut sebagai quwwah syaithaniyyah. Keduanya terangkum dalam satu paket bernama hawa nafsu.</p>
<p>Akan tetapi Tuhan adalah Sang Maha Pembikin Skenario. Ia hendak menjadikan manusia makhluk paling sempurna, tidak seperti malaikat yang memang diset untuk berbuat baik. Atau seperti iblis yang diskenariokan menjadi kutub yang berlawanan dengan malaikat.</p>
<p>Maka selain dua daya di atas, manusia diberi-Nya pula sepercik kekuatan rabbaniyyah, yang bertugas menaklukkan daya-daya buruk tadi. Di sinilah letak kesempurnaan manusia. Dengan segenap ikhtiarnya, dengan kehendak bebasnya, serta melalui fakultas yang dimilikinya, ia bebas memilih untuk menjadi apapun. Silakan menjadi lebih buas dari hewan terganas apa saja. Silakan berbuat jahat melebihi jenis kebejatan apapun. Bahkan silakan jika ingin lebih mulia dari malaikat suci manapun. Dengan kata lain, dalam setiap diri manusia tersimpan potensi untuk menjadi baik atau buruk. Tetapi perlu diingat, setiap pilihan ada konsekuensinya, yang akan mengantarkan derajat manusia melesat naik melebihi maqam malaikat atau malah terjerembab amblas ke maqam Iblis.</p>
<p>Tentu saja maunya Tuhan agar manusia menjadi makhluk mulia dimana quwwah rabbaniyahnya mendominasi dalam dirinya, sehingga mengakar menjadi karakter kuat yang senantiasa mendorongnya untuk berbuat baik dan mencegahnya dari perbuatan buruk</p>
<p>Tapi dasar manusia sukanya mengkambing hitamkan setan. Kalau berbuat salah, sedikit-sedikit setan, dikit-dikit salah setan. Sulit menyalahkan diri sendiri, gembira jika ada orang lain yang bisa disalahkan. Coba tanya si pemerkosa, jawabnya boleh jadi: “Salah sendiri tuh cewek irit bahan pakaian, wajar kalau setan menggoda saya.”  Atau tanya si pencopet, bisa jadi jawabnya: “Salah sendiri tidak peduli orang miskin, wajar setan bisiki saya untuk mencopet.” (<em>Si pemerkosa dan pencopet gak salah-salah amat ya?</em>)</p>
<p>Konon, katanya di bulan puasa ini setan dikerangkeng. Tapi nyatanya, berbagai kejahatan dan kerusakan moral terus terjadi. Lihat di TV: rampok, copet, jambret, permesuman, perjudian, penipuan, kecurangan, tak aneh lagi kita saksikan bahkan di bulan yang mulia seperti ini. Lha, jadi sebetulnya setan mana yang kerjanya menggoda untuk berbuat jahat itu? Bukankah setan si pangkal keburukan sedang tak berdaya?</p>
<p>Jangan takut penampakan setan, juga jangan salahkan bisikan setan. Waspadai saja setan berwujud manusia yang bisa hadir di mana saja, berbuat sesuatu yang sama sekali tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Mereka itulah yang quwwah syahwaniyyah dan syaithaniyyah-nya mendominasi, menutup rapat cahaya rabbaniyyah-nya. Menjadi setan, secara potensial bisa terjadi pada saya, Anda, istri Anda, tetangga atau siapa saja yang gagal mengendalikan daya-daya buruk di dalam diri. []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanpermana.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanpermana.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanpermana.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanpermana.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanpermana.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanpermana.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanpermana.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanpermana.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanpermana.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanpermana.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanpermana.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanpermana.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanpermana.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanpermana.wordpress.com/537/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=537&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/08/28/sedikit-omong-soal-setan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b1419f267b44e95e86682bd1d296620?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">irfanpp</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irfanpermana.files.wordpress.com/2010/08/jurig1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jurig</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Mana Tempat Para Koruptor Kelak?</title>
		<link>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/08/28/di-mana-tempat-para-koruptor-kelak/</link>
		<comments>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/08/28/di-mana-tempat-para-koruptor-kelak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 01:57:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Permana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pojok Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanpermana.wordpress.com/?p=532</guid>
		<description><![CDATA[Anggap semua kelompok, golongan, atau aliran setuju dengan satu pernyataan bahwa korupsi termasuk dosa besar. Kemudian anggap saja semua setuju dengan fatwa MUI tentang korupsi: Korupsi itu haram dan termasuk dosa besar. Sejarah Islam pernah diwarnai perdebatan kalam seputar apakah pelaku dosa besar itu termasuk kafir atau masih mukmin, termasuk juga bagaimana nasib mereka di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=532&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-533" style="margin:2px;" title="logo_koruptor" src="http://irfanpermana.files.wordpress.com/2010/08/logo_koruptor-e1282960549286.gif?w=600" alt=""   />Anggap semua kelompok, golongan, atau aliran setuju dengan satu pernyataan bahwa korupsi termasuk dosa besar. Kemudian anggap saja semua setuju dengan fatwa MUI tentang korupsi: Korupsi itu haram dan termasuk dosa besar.</p>
<p>Sejarah Islam pernah diwarnai perdebatan kalam seputar apakah pelaku dosa besar itu termasuk kafir atau masih mukmin, termasuk juga bagaimana nasib mereka di akhirat nanti. Persoalan ini menjadi salah satu topik utama dalam perdebatan di ranah kalam.</p>
<p>Kalau kita tanya kelompok Khawarij, jawabnya tegas: kafir! Sebab menurut mereka, pelaku dosa besar otomatis kafir. Tempatnya kelak jelas, koruptor bakal dicemplungkan ke dalam neraka. Ini harga mati, tak bisa ditawar.</p>
<p><span id="more-532"></span></p>
<p>Kalau kita tanya kelompok Murji’ah, jawabnya: mereka masih mu’min. Adapun soal dosa, terserah kepada Tuhan mau mengampuninya atau tidak.</p>
<p>Kalau kita tanya kelompok Mu’tazilah, jawabnya abstain, al manzilah baina al manzilatain: tidak mukmin juga tidak kafir. (Mungkinkah mereka, para koruptor, ditempatkan di sebuah tempat di antara surga dan neraka? Tempat apaan tuh?)</p>
<p>Mana yang benar? Wallahu a’lam. Tak usah pusing-pusing memikirkan termasuk ke dalam kelompok mana mereka yang berdebat tentang perlu tidaknya mensalatkan jenazah koruptor. Juga tak penting pusing-pusing memikirkan nasib para koruptor di hari akhir nanti. Mending bikin tempat yang pasti saja di dunia saat ini. Dikurung sampai membusuk di penjara, tembak mati, digantung, dipancung atau dicemplungin ke kolam piranha lapar? Kalau yang terakhir ini, semuanya saya setuju. []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanpermana.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanpermana.wordpress.com/532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanpermana.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanpermana.wordpress.com/532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanpermana.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanpermana.wordpress.com/532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanpermana.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanpermana.wordpress.com/532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanpermana.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanpermana.wordpress.com/532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanpermana.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanpermana.wordpress.com/532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanpermana.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanpermana.wordpress.com/532/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=532&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/08/28/di-mana-tempat-para-koruptor-kelak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b1419f267b44e95e86682bd1d296620?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">irfanpp</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irfanpermana.files.wordpress.com/2010/08/logo_koruptor-e1282960549286.gif" medium="image">
			<media:title type="html">logo_koruptor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sambutlah Senyum Layla</title>
		<link>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/sambutlah-senyum-layla/</link>
		<comments>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/sambutlah-senyum-layla/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 10:26:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Permana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mysticism]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanpermana.wordpress.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Majnun mengisi sebuah wadah dengan air yang mengalir, Layla yang elok mencoba mencuri perhatian. Ia lemparkan batu hingga wadah tersebut pecah. Majnun tersentak dan menoleh. Sungguh, senyuman itu membuat Majnun mabuk kepayang hingga sekarang ia tak mempedulikan lagi airnya yang tumpah. Ia hentikan mengisi air. Sekarang ia pandangi Layla yang senyumnya sangat menawan. Ibarat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=519&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika Majnun mengisi sebuah wadah dengan air yang mengalir, Layla yang elok mencoba mencuri perhatian. Ia lemparkan batu hingga wadah tersebut pecah. Majnun tersentak dan menoleh. Sungguh, senyuman itu membuat Majnun mabuk kepayang hingga sekarang ia tak mempedulikan lagi airnya yang tumpah. Ia hentikan mengisi air. Sekarang ia pandangi Layla yang senyumnya sangat menawan.</p>
<p><span id="more-519"></span>Ibarat Layla, Tuhan melalui beragam cara memikat kita yang sedang asyik masyuk dengan urusan dunia. Seperti Layla, sekali-kali Tuhan pecahkan kondisi kita yang sedang terlarut di negeri yang semakin jauh dari pusat eksistensi ini. Namun alih-alih seperti Majnun yang menyambut senyuman sang Kekasih, kita lebih terpikat dengan wadah air yang tiada bosannya kita isi dan isi lagi. Meski pecah, kita sambungkan dan sambungkan lagi pecahan-pecahan wadah itu. Kita abai dengan sosok Layla yang rupawan.</p>
<p>Dengar syair Rumi yang menuturkan keluhan sang seruling yang merindukan tempat asal:</p>
<blockquote><p>“….Sejak aku berpisah dengan asal usulku, bambu yang rimbun, ratapku membuat lelaki dan wanita mengaduh.</p>
<p>Kuingin sebuah dada koyak sebab terpisah jauh dari orang yang dicintai. Dengan demikian, dapat kupaparkan kepiluan berahi cinta.</p>
<p>Setiap orang yang hidup jauh dari kampung halamannya akan merindukan saat-saat tatkala ia masih berkumpul dengan sanak keluarganya.</p>
<p>Nada-nada senduku senantiasa kunyanyikan dalam setiap majelis pertemuan, aku duduk bersama mereka yang riang dan sedih.</p>
<p>Rahasia laguku tidak jauh dari asal-usul ratapku. Namun, adakah telinga yang mendengar dan mata yang melihat?”</p></blockquote>
<p>Tuhan titipkan seruling syahdu di lubuk terdalam jiwa-jiwa manusia. Namun, seberapa sadar kita? Bisakah kita dengar lengkingan sang seruling yang ingin mengingatkan tempat asal, sementara kita terlalu ‘bengong’ sehingga tak pernah menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi?</p>
<p>Duhai Majnun, sambutlah senyuman Layla…. []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanpermana.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanpermana.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanpermana.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanpermana.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanpermana.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanpermana.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanpermana.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanpermana.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanpermana.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanpermana.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanpermana.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanpermana.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanpermana.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanpermana.wordpress.com/519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=519&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/sambutlah-senyum-layla/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b1419f267b44e95e86682bd1d296620?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">irfanpp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rekam Jejak Wahhabisme</title>
		<link>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/</link>
		<comments>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 09:35:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Permana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanpermana.wordpress.com/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Irfan Permana Gerakan Wahhabisme mengawali kemunculannya di jazirah Arab pada abad ke-18 dengan pertumpahan darah dan jatuhnya banyak korban. Ironisnya, ini terjadi di antara kaum Muslim sendiri. Tak heran, sebab doktrin yang dogmatis, intoleran, sangat literal dan kaku yang diusung kelompok ini telah melahirkan penolakan total terhadap aliran pemikiran lain sampai ke tingkat yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=508&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Irfan Permana</p>
<p>Gerakan Wahhabisme mengawali kemunculannya di jazirah Arab pada abad ke-18 dengan pertumpahan darah dan jatuhnya banyak korban. Ironisnya, ini terjadi di antara kaum Muslim sendiri. Tak heran, sebab doktrin yang dogmatis, intoleran, sangat literal dan kaku yang diusung kelompok ini telah melahirkan penolakan total terhadap aliran pemikiran lain sampai ke tingkat yang membabi buta, yakni doktrin <em>takfiri</em>, yang menganggap kelompok lainnya sebagai kafir. Atas dasar klaim purifikasi, yaitu pemurnian ajaran untuk kembali kepada Islam yang benar (menurut versi mereka), gerakan ini mengijinkan perlawanan terhadap semua kaum Muslim yang dipandang tidak sejalan dengan ajarannya. Maka perpecahan di tubuh Islam pun menjadi tak terelakkan. Peradaban Islam pun menjadi semakin jauh tertinggal karena terlalu disibukkan dengan persoalan internal yang sudah usang.</p>
<p><span id="more-508"></span></p>
<p><strong>I.  Wahhabi Sebagai Sekte Tersendiri</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Istilah Wahhabi tidak diproklamirkan oleh pendiri ataupun pengikutnya, melainkan datang dari orang-orang yang berada di luar. Nama tersebut diambil dari perumus doktrin ajaran ini, yaitu Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb (1115 H/ 1703 M &#8211; 1206 H/ 1791 M). Hingga saat ini, Wahhabi dijadikan mazhab resmi di Arab Saudi yang pahamnya mendominasi berbagai aspek kehidupan di sana.</p>
<p>Pengikut aliran ini sendiri menolak sebutan Wahhabi, sebab sejak awal telah menjadi stigma yang melahirkan kesan buruk, sehingga mereka lebih memilih istilah <em>al-Muwahhidûn</em> atau <em>Ahl al-Tawhîd</em>, yang berarti orang-orang yang mentauhidkan Allah. Namun justru nama yang mereka gunakan itu mencerminkan keinginan untuk menggunakan secara eksklusif prinsip tauhid yang merupakan landasan pokok Islam. Menurut Prof. Hamid Algar, tidak ada alasan untuk menerima monopoli atas prinsip tauhid tersebut, sebab gerakan ini merupakan hasil ijtihad seorang anak manusia yang bisa benar bisa juga salah. Maka, cukup beralasan dan lazim untuk menyebutnya “Wahhabisme” dan “kaum Wahhabi”.<a href="#_edn1">[1]</a></p>
<p>Para pengikut Wahhabi menyatakan diri bahwa tujuan mereka semata-mata hanya untuk memurnikan tauhid. Tauhid harus dimurnikan sebab telah bercampur dengan apa yang mereka namakan sebagai syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat. Islam yang sarat beban historis harus dirampingkan dan dibersihkan dengan cara mengembalikan umat Islam kepada induk ajarannya, Al-Qur’an dan Al-Sunnah.</p>
<p>Wahhabisme merupakan fenomena yang bersifat spesifik, yang mesti dipandang sebagai mazhab pemikiran terpisah atau sekte tersendiri. Para pengamat, khususnya non-Muslim, banyak yang melakukan deskripsi ringkas keliru tentang mereka dengan menyebutnya sebagai kelompok Sunni ekstrim atau konservatif. Padahal sejak awal, para ulama Sunni sendiri menganggap mereka bukan bagian dari <em>Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah</em>. Hal itu disebabkan karena hampir seluruh praktik, tradisi, dan kepercayaan yang merupakan bagian integral Islam Sunni, dikecam oleh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Bahwa kaum Wahhabi kini dianggap sebagai Sunni<a href="#_edn2"><sup><sup>[2]</sup></sup></a>, hal itu mengindikasikan bahwa istilah “Sunni” telah diberi makna yang sangat longgar, yakni sekadar pengakuan terhadap legitimasi empat khalifah yang pertama. Bahkan istilah Sunni yang berkembang sekarang tidak lebih berarti “non-Syi’ah”.<a href="#_edn3"><sup><sup>[3]</sup></sup></a> Karena itulah, penulis menganggap Wahhabi merupakan sekte atau mazhab tersendiri dalam Islam.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>II.  Perjalanan Wahhabisme dalam Sejarah</strong></p>
<p>Pendiri gerakan Wahhabi, Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, berasal dari keluarga klan Tamim yang menganut mazhab Hambali, dan sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan seorang ulama bermazhab Hambali bernama Ibnu Taimiyah yang hidup di abad ke-14 M.</p>
<p>Sebelum menjadi mubaligh, ia banyak melakukan perjalanan ke berbagai wilayah yang motifnya tidak begitu jelas<a href="#_edn4">[4]</a>. Mekkah, Madinah, Baghdad dan Bashrah (Irak), Damaskus (Syria), Qum (Iran), Afghanistan serta India adalah wilayah yang sempat ia kunjungi. Setelah berkelana dan belajar di berbagai kota, lantas ia pun membawa doktrin-doktrin yang kemudian dijadikan landasan pemikiran dan keyakinannya, yang nantinya dinilai bermasalah oleh mayoritas kalangan Sunni ataupun Syi’ah.</p>
<p>Sebagian peneliti meragukan motif utama Wahhabisme sebagai gerakan keagamaan murni. Mereka mengajukan bukti yang mengarah kepada keraguan tersebut. Salah satunya adalah bukti yang diajukan oleh Dr. Abdullah Mohammad Sindi, seorang professor yang berasal dari Saudi Arabia. Dalam makalahnya yang berjudul “<em>Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud</em>”<a href="#_edn5">[5]</a>, ia mengutip sebuah memoar yang ditulis seorang agen rahasia Inggris yang berjuluk Hempher.</p>
<p>Dalam “<em>Confession of a British Spy</em>”<a href="#_edn6">[6]</a>, demikian judul memoar tersebut, Hempher mengakui adanya sebuah konspirasi Inggris untuk menggoyang kekuasaan Imperium Ottoman (Utsmaniyah) serta untuk menciptakan konflik di antara kaum Muslim.</p>
<p>Hempher yang berpura-pura memeluk Islam itu menjalin persahabatan panjang dengan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Hingga akhirnya berhasil melakukan <em>brainwash </em>terhadap Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, sehingga mampu meyakinkannya bahwa kebanyakan kaum Muslim saat itu telah menyimpang dari ajaran yang benar. Dan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab adalah manusia terpilih yang bisa menyelamatkan Islam dari berbagai penyimpangan.</p>
<p>Tentang kepribadian Ibn Abdul-Wahhab, Hempher menggambarkannya sebagai seorang yang tidak stabil, berperangai buruk, gugup, sombong, dan bodoh.<a href="#_edn7">[7]</a></p>
<p>Jika memoar tersebut benar adanya, maka tak diragukan bahwa gerakan Wahhabisme sejak awal sudah terlibat dalam konspirasi yang disusun oleh kolonial Inggris. Namun karena adanya sebagian peneliti yang meragukan memoar tersebut dengan menunjukkan beberapa kejanggalan, maka tidak menutup kemungkinan bahwa gerakan Wahhabisme pada awalnya memang merupakan gerakan keagamaan. Meskipun pada perkembangan berikutnya, adanya campur tangan Inggris tak bisa dipungkiri lagi.</p>
<p>Untuk menarik berbagai analisa dari sebuah gerakan kontroversial ini, penulis membagi perjalanan sejarah Wahhabisme dalam tiga periode:</p>
<p><strong><em>Periode Pertama (1744-1818): Babak Awal Aliansi Wahhabi-Saudi</em></strong></p>
<p>Huraymilah terletak di Najd, sebuah wilayah di bagian timur jazirah Arab. Di sinilah dakwah Ibnu ‘Abdul Wahhab dimulai setelah kembali dari pengembaraannya. Ajarannya yang keras itu mengalami penolakan dari masyarakat setempat, termasuk dari ayah dan saudaranya sendiri.</p>
<p>Pada periode ini, Ibnu ‘Abdul Wahhab menyusun sebuah buku kecil sederhana yang diberi judul <em>Kitâb al-Taw<span style="text-decoration:underline;">h</span>îd</em>, sebuah rujukan yang miskin bobot intelektual, sebab di dalamnya tidak ada penjelasan yang menunjukkan bangunan kerangka berpikir sang penulis. Tentang kitab ini, simak komentar Prof. Hamid Algar:</p>
<p style="padding-left:30px;">Alih-alih menguraikan doktrin Islam yang paling fundamental seperti tercermin dari judulnya, buku kecil itu hanya berisi kumpulan hadits tanpa diberi komentar, yang disusun dalam enam puluh tujuh bab.</p>
<p style="padding-left:30px;">……</p>
<p style="padding-left:30px;">Adalah lebih mendekati kebenaran untuk mengatakan buku ini dan karya-karya lain Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab merupakan catatan-catatan seorang pelajar.</p>
<p style="padding-left:30px;">……</p>
<p style="padding-left:30px;">Tampaknya para pelindung Wahhabisme merasa malu dengan ketipisan karya Muhammad bin ‘Abd Wahhab, sehingga mereka memandang karya itu perlu dipertebal ukurannya.<a href="#_edn8">[8]</a></p>
<p>Setelah empat belas tahun menyebarkan ajarannya, ia kembali ke tempat kelahirannya, ‘Uyaynah, yang kini memiliki kondisi yang lebih menguntungkan. Penguasa setempat, yaitu ‘Utsman ibn Mu’ammar memperluas perlindungannya kepada Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab dan bersumpah untuk setia kepada pemahaman tauhid yang didakwahkan oleh Ibnu ‘Abdul Wahhab.</p>
<p>Perlindungan penguasa membuat Ibnu ‘Abdul Wahhab semakin tak terkendali. Ia semakin terang-terangan mengkafirkan semua kaum Muslimin yang dianggapnya melakukan bid’ah. Ia mulai mengutuk berbagai tradisi dan akidah kaum Muslimin serta menolak berbagai tafsir Al-Qur’an yang dianggapnya menyimpang.</p>
<p>Namun ini tidak berlangsung lama. Penguasa saat itu, ‘Utsman ibn Mu’ammar, menyerah kepada pimpinan suku yang kuat di wilayah itu, sehingga pada tahun 1744 ia diusir penguasa baru yang membuatnya pindah ke Al-Dir’iyyah (masih di Najd), ibu kota keamiran Muhammad bin Sa’ud, yang notabene bermusuhan dengan amir ‘Uyainah saat itu. Di sinilah Ibnu ‘Abdul Wahhâb mendapat perlindungan. Selanjutnya terbentuklah sebuah aliansi permanen yang meliputi tiga aspek: politik, keagamaan, dan perkawinan. Di bidang politik, sebagai amir Ibnu Sa’ud mendapatkan legitimasi keagamaan; dalam bidang keagamaan Ibnu ‘Abdul Wahhab diuntungkan dengan diangkatnya menjadi qadi serta ajarannya dinyatakan sebagai mazhab resmi; dan dalam perkawinan Ibnu Sa’ud mengawini salah seorang putri Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Sebuah aliansi yang tentu saja menguntungkan kedua belah pihak. Prof. Abdullah Mohammad Sindi menyebutkan bahwa lagi-lagi Inggris mengambil peran penting dalam rangka terwujudnya aliansi tersebut. Melalui dukungan uang dan senjata, Inggris semakin mudah menghasut mereka aliansi tersebut.<a href="#_edn9">[9]</a></p>
<p>Inilah babak awal lahirnya sebuah negara teokratik yang kelak mengontrol ketat segala macam bentuk interpretasi keagamaan khususnya di Arab Saudi.</p>
<p>Muhammad bin Saud kemudian menyatakan secara terbuka penerimaannya terhadap berbagai pemikiran dan pandangan keagamaan Muhammad bin Abdul Wahhab. Tahun 1159 H/ 1746 M, aliansi Wahhabi-Saudi melakukan proklamasi formal jihad melawan semua orang yang tidak sejalan dengan pemahaman tauhid Wahhabisme, yaitu orang-orang yang dianggap sebagai kafir, musyrik, dan murtad. Mula-mula mereka menyerang mazhab Syi’ah, kemudian kaum sufi, lalu mulai menyerang orang-orang Sunni. Semua yang tidak mau mengikuti mazhab mereka dianggap kafir dan halal darahnya.</p>
<p>Dalam kurun waktu 10 tahun, aliansi tersebut tumbuh pesat menjadi kekuatan dominan di jazirah Arab. Wilayah kekuasaan Muhammad bin Sa’ud berkembang seluas 30 mil persegi.<a href="#_edn10">[10]</a></p>
<p>Tahun 1206 H/ 1791 M, tidak lama sesudah bentrokan dengan penguasa Madinah, Muhammad bin ‘Abdul Wahhab meninggal. Namun hal ini tidak mengurangi motivasi untuk melakukan penaklukan dan pembantaian. Malah, kekuatan mereka tumbuh semakin besar.</p>
<p>Pada bulan April tahun 1801, mereka membantai kaum Syi’ah di Karbala, tercatat 4000 orang dibantai secara kejam. Secara brutal pula mereka menghancurkan makam Imam Husain di sana. Tahun 1810 mereka membunuh orang-orang tak bersalah di jazirah Arab. Di Makkah mereka menjarah orang-orang yang menunaikan ibadah haji. Di Madinah mereka menyerang dan menodai Masjid dan makam Nabi.</p>
<p>Menyadari kekuatan yang semakin besar, maka target selanjutnya adalah melepaskan diri dari dari Imperium Utsmani. Tidak butuh waktu lama, ekspansi Wahhabi berhasil menimbulkan instabilitas di wilayah kekhalifahan tersebut, terutama di semenanjung Arabia, Irak dan Syam.</p>
<p><strong><em>Periode Kedua (1818-1932): Kekalahan dan Kebangkitan Baru</em></strong></p>
<p>Pendudukan kaum Wahhabi atas Haramain memaksa pewaris kekhalifahan yang resmi, yakni Kerajaan Utsmaniyah, untuk bertindak tegas. Terlebih, berbagai aksi teror yang dilancarkan kelompok Wahhabi itu telah membangkitkan kemarahan kaum Muslim sedunia. Untuk menindaklanjutinya, Istanbul mengirim pasukan Mesir untuk menumpas gerakan tersebut. Tahun 1818 M, Ibrahim Pasya dari Mesir mengalahkan kelompok Wahhabi. Dir’iyyah pun diratakan dengan tanah. Abdullah al-Sa’ud, amir saat itu, beserta dua pengikutnya diseret ke Istanbul. Di depan publik kepalanya dipenggal. Sebagian lagi dibawa ke Kairo untuk ditahan di sana. Ini merupakan sebuah pelajaran yang hendak ditunjukkan Kerajaan Utsmaniyah kepada orang-orang yang menggabungkan ambisi politik dengan penyimpangan agama.</p>
<p>Kekalahan itu membuat kelompok Wahhabi yang tersisa semakin terbakar api permusuhan terhadap kelompok Muslim lainnya. Tapi ironisnya, semakin mendekatkan diri kepada kolonial Inggris. Ini terlihat ketika tahun 1851, Faisal Ibn Turki al-Saud yang sebelumnya berhasil meloloskan diri dari tahanannya di Kairo, kembali meminta dukungan Inggris. Sebagai tindak lanjut hubungan itu, tahun 1865 Inggris mengirim Kolonel Lewis Pelly ke Riyadh untuk membuat suatu perjanjian.</p>
<p>Di awal abad ke-20, tatkala kekuatan dan strategi Inggris semakin berhasil merongrong kekhalifahan Utsmaniyah, kembali pemimpin Wahhabi saat itu, Abdul ‘Aziz, dimanfaatkan. Lagi-lagi, teror kembali dilakukan kelompok Wahhabi. Dilaporkan, sekitar 1200 orang yang membangkang dibantai secara kejam.<a href="#_edn11">[11]</a></p>
<p>Berkat sokongan Inggris, perlahan tapi pasti aliansi Wahhabi-Saudi di bawah kepemimpinan Abdul ‘Aziz berhasil menaklukkan hampir seluruh jazirah Arab. Puncaknya, tahun 1932 kerajaan Saudi Arabia terbentuk. Ini menandai periode kebangkitan baru aliansi Wahhabi-Saudi.</p>
<p><strong><em>Periode Ketiga (1932-Sekarang): Patron Baru dan Melemahnya Ikatan</em></strong></p>
<p>Periode ini ditandai dengan perolehan atas kekayaan minyak dan peralihan dari Inggris ke Amerika sebagai patron asing utama mereka. Kembali aliansi ini dijadikan instrumen istimewa untuk kepentingan Amerika dan sekutunya di Timur Tengah.</p>
<p>Melalui kucuran petrodollar, dalam beberapa dekade terakhir ini Saudi dan Wahhabismenya itu berupaya tidak saja menghilangkan stigma buruk yang melekat kepadanya, tetapi juga secara dramatis berusaha meningkatkan citra diri di tengah dunia Islam. Oleh karena itu, Wahhabisme kini telah disajikan sebagai gerakan reformis yang semata-mata bertujuan untuk melakukan purifikasi di tubuh Islam. Sang pendiri, Muhammad Ibn Abdul-Wahhab pun ditampilkan sebagai tokoh pembaharu yang telah berhasil memurnikan Islam dari berbagai noda.</p>
<p>Hal-hal memalukan yang menjadi sorotan dunia pun berusaha dieliminasi. Perlakuan diskriminasi terhadap kaum perempuan sebagai warga kelas tiga semakin dikurangi. Tetapi isu-isu sektarian yang menyangkut perlakuan buruk terhadap mazhab minoritas, terutama Syi’ah, tetap berlangsung.<a href="#_edn12">[12]</a></p>
<p>Namun seiring berjalannya waktu, gejala melemahnya ikatan antara kelompok keagamaan Wahhabi dan keluarga Saudi pun semakin kentara. Pemicu utamanya adalah maraknya korupsi, gaya hidup hedonis, serta mulai munculnya gejala sekularisasi. Sejumlah kecil orang mulai berani mengecam dan berani mengungkap penyimpangan-penyimpangan rezim Saudi.</p>
<p>Pemberontakan di Mekkah bulan November 1979, yang dipimpin oleh Juhaiman Muhammad ‘Utaibi, seorang mantan Kopral Garda Nasional Saudi, menjadi peringatan awal adanya kekecewaan pada sebagian kalangan terhadap kerajaan Saudi. Dikuasainya Masjidil Haram oleh sekelompok bersenjata cukup mengejutkan dunia. Gejolak politik pun meledak. Lalu tentara Amerika dan Eropa bersatu membantu pemerintah Saudi memulihkan situasi di tanah suci.<a href="#_edn13">[13]</a></p>
<p>Perang teluk 1991 dan ekspansi besar kehadiran Amerika semakin membuat lebarnya jurang antara kelompok Wahhabi dan rezim Saud.</p>
<p>Sementara pemerintah Saudi semakin mesra dengan Amerika, para ulama Wahhabi justru menganggap Amerika dan sekutunya adalah musuh yang harus diperangi. Lantas orang bertanya, jika demikian, di mana ulama-ulama Wahhabi ketika Irak diluluhlantakkan Amerika, ketika Hizbullah menahan gempuran Israel selama 33 hari, juga ketika genosida terhadap rakyat Palestina berlangsung hingga kini? Jawabnya sederhana: haram membantu perjuangan orang-orang yang tidak seakidah dengan mereka.<a href="#_edn14">[14]</a> Itu pula yang menyebabkan kerajaan Saudi setengah hati ketika mendukung penyerangan Amerika terhadap tentara Taliban di Afghanistan yang nota bene berpaham Wahhabi.</p>
<p>Maka ketika World Trade Center di New York luluh lantak pada tanggal 11 September 2001, ulama Wahhabi bernama ‘Abdullah bin Jibrin mengeluarkan fatwa yang tidak hanya membenarkan serangan terhadap WTC, tetapi juga mengutuk orang-orang murtad dan kaum Muslim yang berkolaborasi dengan Amerika, sebuah kategori yang jelas di dalamnya termasuk keluarga Kerajaan Saudi.<a href="#_edn15">[15]</a> Namun meski demikian, masih banyak jajaran ulama Wahhabi yang tetap setia dengan rezim Saudi.</p>
<p><strong>III.  Salafisme: Wajah Baru Wahhabisme?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ada pengertian yang agak kabur antara Wahhabisme dan Salafisme, apakah keduanya sama atau berbeda. Pasalnya, kaum Wahhabi sering pula mengatasnamakan diri sebagai <em>As-Salaf</em>. Namun jika ditinjau dari kategorisasi historis, terdapat perbedaan di antara keduanya.</p>
<p>Sebagai respons terhadap berbagai perkembangan yang terjadi di dunia Islam, berkaitan dengan makin luasnya dominasi kaum imperialis Barat, muncullah tokoh-tokoh pembaharu seperti Jamal al-Din al-Afghani, Muhammad ‘Abduh, Rasyid Ridha, lalu dilanjutkan dengan Ikhwan al-Muslimin, dan singkatnya diteruskan oleh berbagai tokoh dan gerakan yang dikenal sebagai Salafiyah.</p>
<p>Diantara tokoh-tokoh pembaharu di atas, Rasyid Ridha dikenal paling fundamentalis dan konservatif. Seperti Ibn Abdul Wahhab, referensi langsungnya adalah kepada masa lalu dan para pendahulu yang saleh (<em>al-salaf al-shâli<span style="text-decoration:underline;">h</span></em>), karena itu gerakan mereka disebut sebagai <em>Salafiyah</em>. Namun tidak seperti Wahhabisme, gerakan ini berusaha merekonsiliasi ide-ide “modern” dan Islam dengan menemukan (dan menafsirkan) kembali kebaikan-kebaikan yang menurut mereka terdapat dalam agama.<a href="#_edn16">[16]</a></p>
<p>Akibat situasi politik di dunia Arab, era 1960-an tercipta hubungan yang lebih erat antara Salafi dan Wahhabi ketika tejadi perang dingin antara kubu Mesir dan Arab Saudi. Di bawah payung organisasi Liga Dunia Muslim yang dibentuk Arab Saudi tahun 1962, kaitan lebih erat antara kaum Salafi dan Wahhabi terwujud. Para anggota Ikhwan al-Muslimin di Mesir (dan belakangan di Suriah) hampir sulit disalahkan jika mereka mendekatkan diri kepada Arab Saudi, mengingat serangan-serangan yang mereka terima di negeri mereka sendiri. Padahal kekhawatiran mereka sangat beralasan, yakni semakin prihatin dengan cengkeraman imperialisme asing. Mungkin itulah sebabnya orang-orang dengan kecenderungan Salafi seperti Rasyid Ridha, yang dengan perasaan kecewa tengah mencari seorang pahlawan, mulai bersimpati pada Wahhabisme.</p>
<p>Di tengah transformasi Islam yang berkembang di Timur Tengah saat itu, salah satu yang dikenal bercorak keras adalah yang lahir dari buah pemikiran Sayyid Quthb (w.1960). Awalnya ia menggambarkan kondisi masyarakat kontemporer sebagai neo-Jahiliyyah, namun kemudian ditafsirkan secara radikal oleh aliran Islamis yang lebih muda dan ekstrem di Mesir (dan di beberapa tempat di Timur Tengah). Implikasi paling serius yang telah dielaborasi adalah konsep <em>takfir</em>. Muslim nominal (Islam “KTP”) telah menjadi kafir dan karena itu secara potensial diperbolehkan dibunuh.<a href="#_edn17">[17]</a></p>
<p>Watak radikal itulah barangkali yang membuat sebagian orang menyamakan Salafisme dengan Wahhabisme. Memang Salafisme memiliki sejumlah kesamaan pandangan keberagamaan dengan Wahhabisme, tetapi perbedaannya cukup mencolok. Adapun yang membedakannya adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Salafi lebih menekankan persuasi daripada pemaksaan dalam rangka mengajak kaum Muslim untuk menerima pandangan mereka.</li>
<li>Salafi memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai krisis politik dan sosial-ekonomi yang melanda dunia Islam.</li>
<li>Salafi merekonsiliasikan ide-ide modern dengan nilai-nilai dalam Islam.</li>
</ol>
<p>Perbedaan di atas bisa ditarik ketika—sekali lagi—istilah Salafisme dikaitkan dengan kategorisasi historis sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Mengingat saat ini agak kabur untuk membedakan keduanya, terutama yang berkembang di Indonesia.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>IV.  Sekilas Ajaran Wahhabisme</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Setelah memaparkan sejarah perkembangan Wahhabisme, penting kiranya untuk sedikit menyinggung doktrin utama ajaran mereka.</p>
<p>Dari paparan sejarah sebelumnya, sebetulnya dapat terbaca bagaimana corak ajaran mereka. Namun di bagian ini penulis akan mencoba meringkasnya seraya menambahkan beberapa poin yang penulis anggap penting.</p>
<p>Kaum Wahhabi, seperti pendirinya, adalah orang-orang yang berpikir sangat linier, literal, kaku, serta sangat denotatif dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits. Umumnya mereka menolak majâz (metafora). Bagi mereka, semua inovasi itu sesat dan semua yang sesat itu masuk neraka. Sehingga bid’ah hanyalah sebuah eufimisme, kata pelembut untuk ‘kafir’.<a href="#_edn18">[18]</a></p>
<p>Mereka juga menolak keberadaan seni dan budaya dalam Islam, serta tidak mementingkan peninggalan sejarah Islam. Oleh karena itu, tempat-tempat bersejarah Islam seperti rumah tempat kelahiran Nabi, rumah Ummul Mu’minîn Khadîjah, serta tempat tinggal Nabi dihancurkan. Padahal, menurut Syaikh Ja’far Subhani, awalnya Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab memusatkan upayanya hanya untuk menghancurkan kuburan-kuburan saja, bukan menghancurkan setiap peninggalan yang ditinggalkan Rasulullah dan para sahabatnya yang mulia. Tetapi para pengikutnya kini telah meluaskan usahanya dengan melakukan pemusnahan setiap peninggalan Islam, dengan dalih perluasan kedua tempat suci, Makkah dan Madinah.<a href="#_edn19">[19]</a> Ini tentu sangat disayangkan dan penting untuk diperhatikan kaum Muslim di seluruh dunia.</p>
<p>Kian hari umat Islam mengalami persoalan yang kian menumpuk. Namun bagi Wahhabi, persoalan utama umat Islam terletak pada masalah tauhid, di mana mereka membaginya menjadi tiga bagian:<a href="#_edn20">[20]</a> <em> </em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>1). Tauhid al-Rububiyyah</em></p>
<p style="padding-left:30px;">Tauhid ini mengandung arti pengakuan bahwa hanya Allah semata yang memiliki sifat <em>rabb</em>, penguasa dan pencipta dunia, yang menghidupkan dan mematikan. Tauhid ini sekadar pengakuan verbal yang dengannya saja belum memadai untuk mencapai kualitas sebagai Muslim. <em> </em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>2). Tauhid al-Asma wa al-Sifat</em></p>
<p style="padding-left:30px;">Mengandung pengertian hanya membenarkan nama dan sifat yang disebut dalam Al-Qur’an. Tidak diperbolehkan menerapkan nama-nama tersebut kepada siapapun selain Tuhan. Ini merupakan ulangan dari apa yang dirumuskan oleh Ibn Taymiyyah yang mengecam antropomorfisme. <em> </em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>3). Tauhid al-‘Ibâdah</em></p>
<p style="padding-left:30px;">Mengandung pengertian bahwa seluruh ibadah hanya ditujukan kepada Allah. Tauhid inilah yang dianggap paling penting, yang membatasi secara tegas antara Islam dan kufur, antara tauhid dan syirik. Di sini <em>tau<span style="text-decoration:underline;">h</span>îd al-‘ibâdah</em> didefinisikan secara negatif, dalam arti menghindari praktik-praktik tertentu; bukan secara afirmatif. Inilah yang mengakibatkan perasaan takut terhadap apa yang dianggap sebagai penyimpangan. Ini membantu menjelaskan mengapa Wahhabisme memiliki watak yang sangat keras.<a href="#_edn21">[21]</a> Maka segala macam bentuk tawassul, ziyarah, tabarruk, syafâ’ah, hingga praktik-praktik yang telah menjadi tradisi dalam Islam Sunni dan Syi’ah sepeti maulid, dianggap sebagai pelanggaran atas <em>tau<span style="text-decoration:underline;">h</span>îd al-‘ibâdah</em>.</p>
<p>Dalam pandangan Wahhabi, bid’ah dibagi menjadi dua: 1). Bid’ah dalam adat dan tradisi; 2). Bid’ah dalam agama. Bid’ah yang pertama hukumnya mubah/ boleh, sedangkan yang kedua haram dan sesat. Bid’ah yang kedua kemudian dibagi lagi menjadi dua: <em>bid’ah qawliyyah i’tiqadiyyah</em> dan <em>bid’ah fi al-‘ibadah</em>.</p>
<p>Bagi Wahhabi, kaum Syi’ah, Sufi, dan kebanyakan kaum Sunni telah melakukan bid’ah baik <em>bid’ah qawliyyah i’tiqadiyyah</em> maupun <em>bid’ah fi al-‘ibadah</em>. Maka dari itu boleh (bahkan harus) diperangi.</p>
<p><strong>V.  Refleksi</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Wahhabisme pada awalnya memang merupakan sebuah gerakan keagamaan murni hasil pemikiran seorang anak manusia sebagai respons terhadap praktik-praktik lokal keberagamaan yang dipandang menodai kemurnian Islam. Bahwa kemudian ia dijadikan alat oleh Inggris untuk menancapkan hegemoninya, ini adalah hal lain yang memang tak dapat dipungkiri, bukti-bukti sejarah menunjukkan demikian. Namun mengatakannya bahwa sejak awal memang sudah diatur oleh Inggris, memerlukan bukti-bukti yang lebih kuat lagi. Adapun memoar ‘<em>Confession of a British Spy</em>’ tidak cukup kuat dijadikan bukti karena mengandung beberapa kejanggalan, walaupun tetap patut dibaca untuk ‘meraba’ situasi jazirah Arab saat itu.</p>
<p>Jika saja aliansi Wahhabi-Saudi tak memiliki kekayaan berupa cadangan minyak raksasa, gerakan Wahhabisme mungkin hanya tergores dalam catatan sejarah sebagai gerakan pemikiran yang secara intelektual bersifat marjinal dan berumur pendek saja. Namun nasib baik sebagai negeri kaya raya mampu membuat mereka eksis hingga saat ini. Mereka memiliki modal kuat sehingga mampu menyebarluaskan paham Wahhabisme di dunia Islam, hingga ke Indonesia.<a href="#_edn22">[22]</a> Dan penyebaran paham Wahhabisme di Indonesia terbilang cukup pesat. Inilah salah satu sebab mengapa Indonesia yang sebelumnya sering disebut sebagai contoh <em>par excellence</em> masyarakat Muslim yang lembut dan sejuk, perlahan mengalami radikalisasi akibat pengaruh ideologi dan kebudayaan luar.</p>
<p>Karakteristik Wahhabisme yang sangat kaku telah ikut membunuh tradisi dialektika yang mewarnai peradaban Islam berabad-abad lamanya. Contoh konkretnya bisa didapati di Makkah dan Madinah. Sangat disayangkan bahwa Haramain yang telah berabad-abad lamanya menjadi pusat intelektual dunia Islam, di tangan Wahhabi berakhir. Nyaris tak menyisakan apapun kecuali lembaga-lembaga dakwah Wahhabisme yang secara absurd diberi label Universitas. Padahal kegiatan intelektual menentukan perkembangan peradaban suatu bangsa. Selama masih dalam genggaman kekuasaan Wahhabi, sulit mengembalikan Makkah dan Madinah ke masa-masa awal ketika kedua kota tersebut masih menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam.</p>
<p>Imbas ekspansi Wahhabisme menyentuh pula aspek seni dan budaya. Fakta yang ditemukan kini, nyaris tak ada peninggalan seni dan budaya Islam di Arab Saudi. Maka menjadi sebuah ancaman serius ketika mereka berhasil mengekspor pahamnya hingga berhasil memberangus seni dan budaya yang merupakan muatan lokal suatu wilayah.</p>
<p>Memang sulit diterima ketika Wahhabisme menolak keragaman budaya dan apresiasi terhadap seni. Sejak dulu kala keragaman seni dan budaya dalam Islam begitu kaya, ekspresinya amat berwarna. Bahkan dalam pandangan sufistik, seni merupakan manifestasi keindahan ilahiah yang mampu membangkitkan gairah spiritualisme.</p>
<p>Hal lainnya yang patut menjadi sorotan adalah masalah persatuan Islam. Cara-cara radikal yang mereka tempuh telah mengantarkan kepada tindakan kontra produktif. Persatuan Islam yang selama ini telah dijaga utuh oleh berbagai kalangan baik Sunni ataupun Syi’ah terancam secara serius akibat pandangan sempit kelompok Wahhabi, yang sayangnya lagi, mudah dijadikan alat adu domba oleh musuh Islam yang sesungguhnya.</p>
<p>Telah banyak sarjana, baik Muslim maupun non-Muslim, yang merasa prihatin dengan implikasi negatif ekspansi Wahhabisme. Mereka cukup produktif menghasilkan karya ilmiah untuk mengungkap sejarah kelam Wahhabisme. Sayangnya, isu ini bukan sesuatu yang menarik bagi sebagian besar masyarakat kita. Maka akibat sikap lalai, tak heran jika paham Wahhabisme dengan mudahnya masuk ke sekolah-sekolah hingga ke Universitas.<a href="#_edn23">[23]</a></p>
<p>Mungkin membingungkan mengapa para mahasiswa dapat tertarik pada pandangan Wahhabisme. Namun ketertarikan itu bisa jadi wajar, mengingat para mahasiswa terbiasa dengan pandangan dunia rasionalistik yang didorong oleh studi mereka di bidang teknologi, rekayasa dan ilmu alam. Lantas mereka mendapati di dalam Wahhabisme ada Islam yang (seolah) telah dirasionalkan, yakni Islam yang telah dibersihkan dari kompleksitas teologi dan kerumitan sufisme, yang dinilai sebagai tambahan yang tergolong bid’ah. Singkatnya, mereka menemukan bahwa Islam yang disajikan dalam bentuk sederhana dan “hitam-putih” cocok bagi mereka.</p>
<p>Perlu dicatat bahwa tidak semua paham Wahhabi dan Salafi yang ada sekarang setuju dengan cara-cara kekerasan. Ini seiring dengan dinamika kehidupan, spektrum yang terbentuk menjadi semakin lebar dan melahirkan kategorisasi-kategorisasi baru. Dalam hal ini, selama mereka tidak menggunakan cara-cara kekerasan, dakwah mereka tidak dapat disalahkan. Justru ini menjadi PR besar bagi kita untuk berusaha menyajikan ilmu-ilmu agama “orisinil” sebagai menu yang mengundang selera anak-anak muda sejak dini. Sebab, bisa jadi mudahnya mereka terdoktrin oleh ajaran Wahhabisme disebabkan karena kebanyakan dari mereka belum menyadari betapa samudera keilmuan Islam sesungguhnya begitu luas dan mempesona.[]</p>
<hr size="1" /><a href="#_ednref1">[1]</a> Algar, Hamid. <em>Wahhabisme, Sebuah Tinjauan Kritis</em>, Jakarta: Paramadina, 2008, hal 28</p>
<p><a href="#_ednref2">[2]</a> Kaum Wahhabi sendiri menganggap mereka sebagai representasi dari <em>Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah</em>.</p>
<p><a href="#_ednref3">[3]</a> Algar, Hamid, op. cit., hal 30</p>
<p><a href="#_ednref4">[4]</a> Hamid Algar memandang motif perjalanan Ibnu ‘Abdul Wahhab masih tanda tanya. Sejarawan lainnya mengatakan untuk urusan bisnis atau sekadar bersenang-senang. Ada juga yang mengatakan motif perjalanannya itu untuk menimba ilmu.</p>
<p><a href="#_ednref5">[5]</a> Abdullah Mohammad Sindi, <em>Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud</em>, e-Bulletin Vol.IV 16 January 2004, www.kanaanonline.org</p>
<p><a href="#_ednref6">[6]</a> Meskipun catatan atau buku berjudul <em>Confession of a British Spy</em> ini diragukan keasliannya oleh sebagian kalangan, termasuk Prof. Hamid Algar, namun cukup layak dibaca untuk mengetahui gambaran situasi di jazirah Arab saat itu.</p>
<p><a href="#_ednref7">[7]</a> Waqf Ikhlâs, <em>Confession of a British Spy, </em>Istanbul: Waqf Ikhlas Publications No.14, Eight Edition, 2001</p>
<p><a href="#_ednref8">[8]</a> Algar, Hamid, op. cit., hal 30, 44, 45, 47</p>
<p><a href="#_ednref9">[9]</a> Dr. Mohammad Abdullah Sindi, op. cit.</p>
<p><a href="#_ednref10">[10]</a> Ibid.</p>
<p><a href="#_ednref11">[11]</a> Ibid.</p>
<p><a href="#_ednref12">[12]</a> International Crisis Group, dalam jurnal tertanggal 19 September 2005, melaporkan bahwa intimidasi terhadap kaum minoritas Syi’ah terus berlangsung, bahkan di sekolah-sekolah guru-guru secara terbuka mengkafirkan Syi’ah di depan para siswanya. Belum lagi fatwa ulama Wahhabi yang terang-terangan menghalalkan darah kaum Syi’ah.</p>
<p><a href="#_ednref13">[13]</a> Trofimov, Yaroslav, <em>Kudeta Mekkah</em>, eBook, Pustaka Alvabet, <a href="http://books.google.co.id/books?id=gPYcKbf6sxIC&amp;printsec=frontcover&amp;hl=en#v=onepage&amp;q=&amp;f=false">http://books.google.co.id/books?id=gPYcKbf6sxIC&amp;printsec=frontcover&amp;hl=en#v=onepage&amp;q=&amp;f=false</a></p>
<p><a href="#_ednref14">[14]</a> Isu ini bisa dicek di beberapa website Wahhabi/ Salafi baik di luar maupun dalam negeri. Sebagai contoh:  <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=1086">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=1086</a></p>
<p><a href="#_ednref15">[15]</a> Algar, Hamid, op.cit., hal 119</p>
<p><a href="#_ednref16">[16]</a> Fealy, Greg dan Anthony Bubalo, <em>Jejak Kafilah, Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia</em>, Bandung: Mizan, 2007, hal 32</p>
<p><a href="#_ednref17">[17]</a> Ibid, hal 41</p>
<p><a href="#_ednref18">[18]</a> Muhsin Labib, <em>Wahabisme Dan ‘Teologi Penyesatan’</em>, <a href="../../../../../2007/02/28/wahabisme-dan-%E2%80%98teologi-penyesatan%E2%80%99/">http://irfanpermana.wordpress.com/2007/02/28/wahabisme-dan-%E2%80%98teologi-penyesatan%E2%80%99/</a></p>
<p><a href="#_ednref19">[19]</a> Subhani, Ja’far, <em>Al-Milal wa Al-Nihal</em>, <em>Studi Tematis Mazhab Kalam</em>, Pekalongan: Penerbit Al-Hadi, 1997, hal 363</p>
<p><a href="#_ednref20">[20]</a> Algar, Hamid, op.cit., hal 69</p>
<p><a href="#_ednref21">[21]</a> Ibid, hal 72</p>
<p><a href="#_ednref22">[22]</a> Greg Fealy dan Anthony Bubalo dalam bukunya, Jejak Kafilah, mengatakan bahwa tiga organisasi di Indonesia secara khusus menerima dukungan dana signifikan dari Arab Saudi. Mereka adalah DDII, Al-Irsyad, dan Persis. (Fealy, Greg dan Anthony Bubalo, Jejak Kafilah, Bandung: Mizan, 2007)</p>
<p><a href="#_ednref23">[23]</a> Baca tulisan Prof. Komaruddin Hidayat yang dipublikasikan di website alamat berikut: <a href="http://news.okezone.com/read/2009/10/23/58/268509/radikalisme-islam-menyusup-ke-smu">http://news.okezone.com/read/2009/10/23/58/268509/radikalisme-islam-menyusup-ke-smu</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanpermana.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanpermana.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanpermana.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanpermana.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanpermana.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanpermana.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanpermana.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanpermana.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanpermana.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanpermana.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanpermana.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanpermana.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanpermana.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanpermana.wordpress.com/508/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=508&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b1419f267b44e95e86682bd1d296620?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">irfanpp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Spiritualisasi Manajemen</title>
		<link>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/03/07/spiritualisasi-manajemen/</link>
		<comments>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/03/07/spiritualisasi-manajemen/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 11:59:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Permana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanpermana.wordpress.com/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[Kalau ada yang mengatakan bahwa menunggu merupakan pekerjaan yang membosankan, maka itu tak perlu diperdebatkan lagi. Namun tetap saja dari sesuatu yang membosankan itu terkadang terselip ‘sesuatu’. Dalam sudut pandang spiritualitas, dibalik hal-hal yang partikular terdapat keterkaitan universal yang mengikat segala sesuatu. Beberapa hari lalu, sepulang dari sebuah urusan saya putuskan untuk mampir di tempat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=500&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau ada yang mengatakan bahwa menunggu merupakan pekerjaan yang membosankan, maka itu tak perlu diperdebatkan lagi. Namun tetap saja dari sesuatu yang membosankan itu terkadang terselip ‘sesuatu’. Dalam sudut pandang spiritualitas, dibalik hal-hal yang partikular terdapat keterkaitan universal yang mengikat segala sesuatu.</p>
<p><span id="more-500"></span>Beberapa hari lalu, sepulang dari sebuah urusan saya putuskan untuk mampir di tempat cuci mobil. Mungkin karena bukan hari libur, tidak banyak pelanggan sore itu. Maka begitu masuk, tak perlu menunggu terlalu lama, mobil pun langsung mendapat giliran dicuci.</p>
<p>Kalau ada hape yang agak canggihan dikit, daripada melongo menghabiskan waktu mungkin lebih baik browsing atau buka-buka facebook. Sayang HP jadul ini sangat tidak nyaman untuk dipakai berinternet ria, terutama karena layarnya yang terlalu kecil. Maka melamun sambil mengamati keadaan sekitar menjadi opsi satu-satunya yang saya lakukan.</p>
<p>Ada kejadian yang sedikit menarik perhatian. Entah berapa orang yang mencuci mobil itu. Bagaikan semut mengerubungi gula, setelah beramai-ramai menyemprot, tanpa perlu dikomandoi lagi, setiap orang sepertinya sudah tahu tugasnya masing-masing. Mereka pun nampak bersemangat mengerjakannya, seolah ada <em>sense of belonging</em> dari diri masing-masing.</p>
<p>Seorang ambil bagian di sebelah kiri depan, menggosok kaca jendela, spion, sampai ke bagian bawah. Pekerjaan yang sama dilakukan oleh orang yang berada di kiri belakang, kanan depan, juga kanan belakang. Di bagian depan dan belakang mobil ada juga penggarapnya. Begitu pula ketika membersihkan bagian dalam, di setiap pintu mobil sudah siap orangnya. Waktu yang diperlukan untuk mencuci mobil pun jauh lebih cepat dari ukuran normal.</p>
<p>Entah efektif atau tidak cara seperti itu. Sebab terkadang suatu pekerjaan yang cukup dilakukan sedikit orang, ketika dilakukan olah banyak orang malah hasilnya kurang memuaskan. Tapi tentu saja ini menyenangkan bagi mereka yang hidupnya menghargai detik demi detik yang berlalu. Lalu, apakah ini lebih menguntungkan bagi si pemilik tempat pencucian? Belum tentu, sebab ia harus menggaji lebih banyak pegawai. Kalau mobil sedang padat dan mengantri, tentu cara ini efektif. Tetapi menjadi tidak perlu ketika pelanggan sedang sepi, sebagaimana yang terjadi sore itu.</p>
<p>Entahlah… untung-rugi biarlah jadi urusan si pemilik. Mungkin ia punya tujuan-tujuan lain. Namun satu hal yang bisa saya cerna adalah, bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan secara gotong royong, tidak boleh ada seorang pun yang merasa lebih penting dari yang lainnya. Meskipun ia seorang komandan atau pemimpin sekalipun. Sebab ketika ia kehilangan seluruh anak buahnya, maka kepemimpinannya menjadi tidak ada artinya. Demikian pula ketika sekelompok orang tidak memiliki pemimpin, apa yang mereka kerjakan bisa tak menentu arah.</p>
<p>Dalam manajemen modern, terjadi pergeseran paradigma bisnis. Jika sebelumnya prinsip yang diterima secara luas adalah <em>business is business</em>, maka kini para pelaku bisnis mulai melirik apa yang disebut sebagai etika bisnis. Manajemen otoriter diubah menjadi egaliter, dari hierarkis menjadi lebih menekankan kesetaraan. Belakangan, malah berkembang apa yang disebut spiritualisasi manajemen, yang memandang bahwa suatu perusahaan merupakan perwujudan kolektif spirit-spirit, yakni jumlah total ruh individu yang berkerja di dalamnya. Mereka diibaratkan seperti anggota tubuh, yang jika satu organ saja terganggu fungsinya, maka akan mengganggu fungsi tubuh secara keseluruhan. Jika gigi Anda sakit sedikit saja, secara otomatis konsentrasi Anda akan terganggu. Atau ketika Anda menggunting kuku terlalu dalam, lantas terasa senut-senut di jari, pekerjaan Anda pun sedikit banyak akan terganggu. Padahal gigi dan kuku hanyalah bagian kecil saja dari keseluruhan tubuh Anda.</p>
<p>Dalam suatu pekerjaan yang dilakukan gotong royong, seorang pemimpin yang dibekali spiritualitas memadai, akan memandang penting siapapun dan di bagian apapun anak buah—atau tepatnya partnernya—bekerja. Sayangnya manajemen model begini justru berkembang di negara-negara barat, tidak di sini.</p>
<p>Gay Hendricks dan Kate Ludeman, penulis The Corporate Mystic, menyebut para pemimpin dengan model kepemimpinan seperti itu sebagai Mistikus Korporat, yakni para visioner yang mudah bagi mereka untuk bergerak dari dunia spiritual ke dunia bisnis.</p>
<p>Setidaknya ada 12 ciri-ciri Mistikus Korporat yang disebutkan oleh kedua penulis tersebut. Namun bukan tempatnya di sini untuk membahasnya satu persatu, terlebih saya bukan ahlinya di bidang ini. Hanya saja, dari 12 karakteristik tersebut ada satu poin yang terkait erat dengan spiritualitas atau mistisisme dalam Islam: yakni Pengenalan Diri Sendiri. Mengenal diri sendiri berarti mengoptimalkan potensi jiwa, bukan sekedar mengoptimalkan isi dompet.</p>
<p>“<em>Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu</em>…” Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Tak sulit untuk melihat keterkaitan logis dari hadits yang sering dikutip para sufi tersebut. Jika seseorang mengenal Tuhannya, maka mudah baginya untuk berakhlaq seperti Tuhannya.</p>
<p>Para spiritualis korporat selalu berusaha mempelajari diri sendiri sekaligus juga membantu orang lain mempelajari dirinya masing-masing. Sikap selalu bertanya adalah suatu hal yang senantiasa mereka utamakan. Mereka membenci orang yang mengklaim dirinya selalu benar dan merasa dapat menjawab segala pertanyaan.</p>
<p>Inti dari semua itu, spiritualisme dijadikan landasan dalam kepemimpinan mereka.</p>
<p>Tentang spiritualisme, Stephen Covey mengatakan: “Spiritualisme bukanlah mainan, bukan bagian kecil dari hidup kita. Spiritualisme harus ditempatkan dalam batin kita, yang mempengaruhi setiap bagian kehidupan kita.”</p>
<p>Mungkin Anda merasa kurang pas dengan contoh para pencuci mobil yang saya kaitkan dengan spiritualisasi manajemen. Namun inspirasi bisa datang dari mana saja. Dan saya merasa terinspirasi dengan kejadian yang saya alami beberapa hari lalu sehingga merasa perlu untuk membuat sebuah catatan ringan.</p>
<p>Dan sebelum selesai meresapi kejadian tadi, beberapa meter dari gerbang tempat pencucian mobil tersebut, perlahan tapi pasti hujan rintik mulai turun. Tak berapa lama berselang rintik hujan pun segera bertransformasi menjadi tetesan deras. Duh, 17 ribu melayang…Alhamdulillah…..[]</p>
<p>Bacaan:</p>
<p><em>The Corporate Mystic</em>, Sukses Berbisnis dengan Hati, Gay Hendricks dan Kate Ludeman, Penerbit Kaifa, 2003</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanpermana.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanpermana.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanpermana.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanpermana.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanpermana.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanpermana.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanpermana.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanpermana.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanpermana.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanpermana.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanpermana.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanpermana.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanpermana.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanpermana.wordpress.com/500/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanpermana.wordpress.com&amp;blog=772587&amp;post=500&amp;subd=irfanpermana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanpermana.wordpress.com/2010/03/07/spiritualisasi-manajemen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b1419f267b44e95e86682bd1d296620?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">irfanpp</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
