Kata

Kata disusun sedemikian rupa menjadi rangkaian kalimat agar pesan tersampaikan dan dipahami sebaik mungkin oleh penerima pesan. Seorang yang (betulan) cerdas akan memilih diksi yang pas, yang dipahami secara umum, sehingga pesan tersampaikan tanpa melangit dan berboros kata. Tak kalah cerdasnya adalah yang memilih diam atau bilang ‘tidak tahu’ ketika memang tak memahami persoalan. Tak peduli dengan titel akademik tinggi atau gelar yang disematkan orang.

Continue reading “Kata”

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

Are you new to blogging, and do you want step-by-step guidance on how to publish and grow your blog? Learn more about our new Blogging for Beginners course and get 50% off through December 10th.

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

Absurditas 212

Anak sulungku yang baru baru masuk SMA adalah lulusan sebuah SMP boarding school yang ustad-ustadnya pendukung gerakan 212. Awalnya ia menyayangkan bapaknya tidak ikutan demo seperti keluarga teman-temannya.

“Nak, mereka itu tidak suka dengan mantan gubernur yang suka berkata kasar. Tapi imam besarnya sendiri suka berkata kasar. Mereka tidak suka penista agama. Tapi kelakuan teman sekubunya sendiri banyak yang menista agama. Tidakkah itu absurd, Nak?”

Sedikit-sedikit aku jelaskan sampai ke tema utama: politisasi agama.[]

Toleransi Bubur Ayam

Sabtu pagi ini aku makan bubur ayam pinggir jalan bareng istriku. Aku nggak diaduk, istriku diaduk. Aku merasa jijay lihat bubur diaduk. Mirip-mirip apaa gitu (gak usah disebut). Istriku bilang aku lebay. Tetapi kami makan bubur bareng akur-akur saja. Meski masing-masing yakin bahwa buburnya lah yang lebih enak. Itulah namanya toleransi bubur ayam.

Aku pikir demikian juga dalam kehidupan beragama. Terkadang kita lihat orang ada jijay-jijaynya, kadang ada lebaynya. Namun selama tidak saling menyakiti, harus saling menghargai. Sambil tetap memegang keyakinan masing-masing.[]

Islam Nusantara dan Sedikit Pertanyaan

“Islam Nusantara bukan Mazhab, bukan aliran, tapi tipologi, mumayyizaat, khashais. Islam yang santun, berbudaya, ramah, toleran, berakhlak, dan berperadaban. Inilah Islam Nusantara.”
(Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA)

“Islam itu aqidahnya sama sedunia. Tapi aplikasi & ekspresi keislaman itu ada muatan lokalnya. Contoh: KFC itu jualan ayam goreng. Tapi di Indonesia mereka juga jualan nasi. Di Ausie cuma pakai kentang. Namanya tetap KFC. Kalau udah paham ini, gak sulit mau paham tentang Islam Nusantara”
(Prof. Nadirsyah Hosen)

***

Tidak sulit untuk memahami apa yang disampaikan oleh Kyai Said Aqil di atas, ditambah analogi dari Gus Nadir. Adapun gelombang kritikan dan nyinyiran dari para aktivis media sosial, kebanyakan tidak tepat sasaran. Kebanyakan mempersoalkan bahwa Islam Nusantara adalah aliran baru yang mengada-ada dan cari gara-gara.

Continue reading “Islam Nusantara dan Sedikit Pertanyaan”

Post-truth dan Algoritma Media Sosial Kita

Image source: google

Inilah era post-truth, di mana kita kehabisan waktu untuk mengolah dan menyaring informasi yang datang membanjiri ruang virtual kita. Di mana kita lebih suka memastikan kebenaran suatu informasi hanya karena sejalan dengan keinginan, kenyamanan, dan berbagai perasaan yang meliputi kita.

Continue reading “Post-truth dan Algoritma Media Sosial Kita”

Pagi

Setelah menghabiskan secangkir kopi, kendaraan kupanaskan. Melaju melewati tukang sapu jalanan dan Pak Satpam yang selalu lempar senyuman. Kemudian memasuki jalan besar: manusia yang lalu-lalang, mobil dan sepeda motor yang berseliweran, hangat matahari pagi yang menyilaukan, debu yang bikin alergi kambuh, atau terpaan angin yang menyegarkan. Terkadang gerimis dan hembusan angin yang mencucuk tulang. Sampai di tujuan, kendaraan kuparkirkan. Menghidupkan laptop dan memulai aktivitas.

Yang tersembunyi adalah: neraka yang kucumbui, surga yang kuhayati, dan Tuhan yang kucandai.

Pagi tak berubah, hanya tubuh yang perlahan merapuh dan jiwa yang terus mengembara.

Pasar Minggu, 5 Jul 2018

Sekali Lagi Tentang Bungkus Luar

Saya ingin mengutip kembali cerita tentang Si Beo dalam Matsnawi.

Dalam Matsnawi, Jalaluddin Rumi berkisah tentang burung beo yang dicukur gundul oleh majikannya gara-gara gagal menjalankan tugas menjaga kedai sang bos yang pergi sebentar untuk shalat. Merasa bebas bermain-main, ia terbang leluasa kesana-kemari hingga tanpa sengaja menumpahkan sebotol minyak sampai pecah. Sebagai hukuman, kepala burung itu dicukur habis hingga gundul. Sang burung bersedih. Setelah beberapa hari murung, tiba-tiba ia melihat seorang darwis gundul melintas di depan kedai. Si beo girang bukan kepalang melihat ada orang yang dipikirnya senasib dengan dirinya: sama-sama dihukum oleh majikannya.

Continue reading “Sekali Lagi Tentang Bungkus Luar”

Cannery Row: yang Ringan Tapi Asyik

Cannery Row digambarkan sebagai sebuah wilayah bising nan kumuh di Monterey, California, di mana pabrik pengalengan sarden dan gudang-gudang penyimpanan berdiri tak jauh dari pantai. Di tempat ini hidup seorang marine biologist kharismatik bernama Doc. Setiap orang yang mengenalnya akan berpikiran sama: “I really must do something nice for Doc”.

Continue reading “Cannery Row: yang Ringan Tapi Asyik”

Khotbah di Atas Bukit: Sebuah Perburuan Spiritual?

Segala kesenangan duniawi pernah dirasakan Barman. Kini, setelah sekian lama menduda, Barman tua hendak menghabiskan hidup dalam kesegaran, ketenangan dan kesunyian di sebuah bukit, di mana ia mulai mengisi hari-harinya yang santai ditemani Popi yang muda dan cantik, mantan pelacur yang kini menjadi istrinya.

Tetapi Barman belum menemukan juga apa yang dicarinya. Bahkan ia tak tahu persis apa sebetulnya yang dicari. Keresahan yang menghampiri belum juga terobati. Hingga suatu ketika ia bertemu Humam, sosok bijak misterius yang mengajarkannya tentang “detachment” dalam hidup, yang kemudian menghanyutkannya dalam perburuan spiritual.

Continue reading “Khotbah di Atas Bukit: Sebuah Perburuan Spiritual?”

Ustadz Dadakan, Salah Siapa?

Kata orang, profesi paling gampang itu jadi ustadz. Latar belakang pendidikan apapun sekarang bisa jadi ustadz. Tidak perlu menguasai ilmu-ilmu keislaman, asalkan potongan dan casing sudah pas. Tapi yang paling gampang adalah kalau Anda kebetulan berprofesi sebagai artis, pelawak, pemain band, atau profesi seleb lainnya. Masyarakat akan segera terpesona dengan keputusan Anda untuk hijrah menjadi ustadz. Segera Anda akan diundang ceramah di mana-mana. Tidak perlu khawatir, orang tidak akan mencari tahu seberapa jauh kedalaman ilmu agama Anda.

Continue reading “Ustadz Dadakan, Salah Siapa?”

Jika Khilafah Berdiri

Khilafah adalah solusi dari segala permasalahan umat. Demikian kredo yang terbeli kalangan awam yang kebetulan mempunyai ghirah keagamaan tinggi, yang juga sedang mencari ketegasan identitas dan posisi. Instabilitas politik, krisis ekonomi, serta faktor ketidakadilan struktural (yang sesungguhnya kompleks) ikut serta menanamkan keyakinan pada mereka bahwa Pancasila dinilai gagal mencapai tujuan utamanya, yaitu keadilan sosial. Lantas muncullah sekelompok orang yang memanfaatkan situasi ini. Mereka menawarkan obat mujarab bahwa formalisasi syariat Islam dalam sebuah sistem pemerintahan (Islam) lah satu-satunya yang dapat membereskan segala persoalan umat.

Continue reading “Jika Khilafah Berdiri”

Islam dan Demokrasi: Perspektif Wilâyah al-Faqîh

Book Review
Oleh: Irfan Permana

Judul Buku: Islam dan Demokrasi, Perspektif Wilâyah al-Faqîh
Penulis: Muhammad Anis
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Oktober 2013
Tebal: 300 halaman

Iran berhasil bangkit dari sistem kerajaan di bawah Dinasti Pahlevi yang berada dalam buaian Barat menjadi sebuah sistem pemerintahan Islam berlandaskan demokrasi yang mandiri dan lepas dari hegemoni Barat. Secara resmi menjadi Republik Islam sejak 1 April 1979, setelah sebagian besar rakyat menyetujuinya melalui referendum nasional. Di bawah atap rumah baru ini Iran tidak lagi mengenal pemisahan politik dan agama. Yang diterapkan adalah perkawinan antara prinsip-prinsip demokrasi dengan nilai-nilai politik Islam. Sebuah terobosan baru yang tertuang dalam sebuah konsep bernama Wilâyah al-Faqîh atau kepemimpinan ulama.

Lalu bagaimana hasilnya? Setelah lebih dari tiga dekade terhitung dua belas kali pemilu dilaksanakan dengan melibatkan rakyat Iran dalam jumlah mayoritas. Hasil implementasinya, praktek demokrasi Islam Iran justru lebih demokratis dibandingkan demokrasi liberal ala Barat yang dipraktekkan di banyak negara.

Continue reading “Islam dan Demokrasi: Perspektif Wilâyah al-Faqîh”

Farag Fouda: Membaca Ulang Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Islam

Book Review
Oleh: Irfan Permana

Judul Buku: Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim
Judul Asli: Al-Haqiqah al-Ghaybah
Penulis: Farag Fouda
Penerjemah: Novriantoni
Penerbit: Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan penerbit Dian Rakyat
Cetakan: II, Agustus 2008
Tebal: 198 halaman

Gara-gara tulisan yang mengguncang supremasi mapan sebuah pemikiran politik Islam, nyawa seorang pemikir yang cukup berpengaruh, aktivis hak asasi manusia, penulis dan kolumnis asal Mesir bernama Farag Fouda (1945-1992) melayang.

Kejadian ini berlangsung pada tanggal 8 Juni 1992, beberapa bulan setelah terjadi polemik tajam antara Fouda dan sekelompok ulama yang merasa terusik dengan gagasan liarnya itu. Memang ia seringkali menulis baik berupa buku ataupun artikel di surat kabar yang menyerang secara kritis dengan gaya satir dan ironi, khususnya terhadap kelompok ekstrimis di Mesir. Fouda sendiri merasa bahwa ia sedang membela Islam dari distorsi pemikiran kaum fundamentalis. “Islam adalah agama, kaum Muslim adalah manusia. Agama tidak dapat disalahkan, manusianyalah yang berbuat salah,” kilahnya suatu ketika.

Continue reading “Farag Fouda: Membaca Ulang Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Islam”

Zoroastrianisme, Agama Samawi?

Oleh: Irfan Permana P.

Setidaknya ada dua prinsip dasar dalam keyakinan Zoroastrianisme : pertama, ada hukum di dalam alam. Kedua, ada konflik di dalam alam. Penegakan hukum berlangsung terus menerus akibat adanya konflik yang terjadi di alam semesta ini. Dalam konsepnya, harus ada penyatuan antara kejahatan dengan kebaikan abadi Tuhan. Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa proses penyatuan kebaikan dan kejahatan itu tidak dipahami sebagai aktivitas yang mandiri, melainkan dua aspek dari Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain, konflik tersebut adalah perjuangan Tuhan melawan diri-Nya sendiri. Jadi dapat dikatakan secara teologis bersifat monistis dan secara filosofis bersifat dualis.

Continue reading “Zoroastrianisme, Agama Samawi?”

Ibn ‘Arabi: The Seal of Muhammadan Sainthood

Irfan Permana P.

 If you are a walī, you are the heir of a prophet. And if you have inherited knowledge from Moses or Jesus or from any prophet in between, all you have actually inherited is Muhammadan knowledge. (Ibn ‘Arabi, Futūhat)

It goes without saying that Shaykh al-Akbar Ibn ‘Arabi (560-638 AH/ 1165-1240 AD) to anyone who is not well informed is one of the most controversial figures in Islamic history. His world-view which he claimed coming from his visionary knowledge and personal experience, undoubtely, made him popular that made it such a threat to the extreme muslim community.

Continue reading “Ibn ‘Arabi: The Seal of Muhammadan Sainthood”

The Garden of Truth: Jalan Spiritual Menuju Taman Kebenaran *)

Book Review
Oleh: Irfan Permana

—————————————————–
Judul Buku:  The Garden of Truth, Mereguk Sari Tasawuf
Judul Asli:  The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s  Mystical Tradition
Penulis: Seyyed Hossein Nasr
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Januari 2010
Tebal: 304 halaman
—————————————————–

Kita lahir, menjalani keriangan masa kanak-kanak, tumbuh kembang menjadi remaja, lalu di usia dewasa tanpa terasa terseret rutinitas di tengah kultur hedonisme beserta aneka problematikanya. Lantas, sebagian dari kita mulai resah dan bertanya: Apa sesungguhnya yang sedang kita cari? Siapakah kita? Dari mana kita berasal? Akan ke mana kita pergi?

Continue reading “The Garden of Truth: Jalan Spiritual Menuju Taman Kebenaran *)”

Sedikit Omong Soal Setan

Jika saja Tuhan tak memberikan potensi hewani pada seorang anak manusia, mungkin tak kita dapati manusia yang hidupnya hanya sibuk memikirkan urusan perut dan kelamin. Mungkin juga tak kita temui seseorang yang hobinya berlaku iri, dengki, menipu, mencuri, merampok, memperkosa, membunuh, hingga menerkam hak orang bak hewan buas.

Jika saja Tuhan tak memberikan daya setani pada manusia, mungkin tak kita dapati seseorang yang tega-teganya berbuat jahat sambil melakukan pembenaran atas kelakuan jahatnya itu. Tak akan ada pejabat yang korupsi besar-besaran namun dalam waktu bersamaan membangun masjid dengan maksud ingin membersihkan dosanya. Juga tak akan pernah kita dengar perampok uang rakyat umrah dengan niat ingin membayar lunas kelakuan minusnya itu.

Continue reading “Sedikit Omong Soal Setan”

Sambutlah Senyum Layla

Ketika Majnun mengisi sebuah wadah dengan air yang mengalir, Layla yang elok mencoba mencuri perhatian. Ia lemparkan batu hingga wadah tersebut pecah. Majnun tersentak dan menoleh. Sungguh, senyuman itu membuat Majnun mabuk kepayang hingga sekarang ia tak mempedulikan lagi airnya yang tumpah. Ia hentikan mengisi air. Sekarang ia pandangi Layla yang senyumnya sangat menawan.

Continue reading “Sambutlah Senyum Layla”

Rekam Jejak Wahhabisme

Oleh: Irfan Permana

Gerakan Wahhabisme mengawali kemunculannya di jazirah Arab pada abad ke-18 dengan pertumpahan darah dan jatuhnya banyak korban. Ironisnya, ini terjadi di antara kaum Muslim sendiri. Tak heran, sebab doktrin yang dogmatis, intoleran, sangat literal dan kaku yang diusung kelompok ini telah melahirkan penolakan total terhadap aliran pemikiran lain sampai ke tingkat yang membabi buta, yakni doktrin takfiri, yang menganggap kelompok lainnya sebagai kafir. Atas dasar klaim purifikasi, yaitu pemurnian ajaran untuk kembali kepada Islam yang benar (menurut versi mereka), gerakan ini mengijinkan perlawanan terhadap semua kaum Muslim yang dipandang tidak sejalan dengan ajarannya. Maka perpecahan di tubuh Islam pun menjadi tak terelakkan. Peradaban Islam pun menjadi semakin jauh tertinggal karena terlalu disibukkan dengan persoalan internal yang sudah usang.

Continue reading “Rekam Jejak Wahhabisme”