Kata

Kata disusun sedemikian rupa menjadi rangkaian kalimat agar pesan tersampaikan dan dipahami sebaik mungkin oleh penerima pesan. Seorang yang (betulan) cerdas akan memilih diksi yang pas, yang dipahami secara umum, sehingga pesan tersampaikan tanpa melangit dan berboros kata. Tak kalah cerdasnya adalah yang memilih diam atau bilang ‘tidak tahu’ ketika memang tak memahami persoalan. Tak peduli dengan titel akademik tinggi atau gelar yang disematkan orang.

Continue reading “Kata”

Advertisements

Absurditas 212

Anak sulungku yang baru baru masuk SMA adalah lulusan sebuah SMP boarding school yang ustad-ustadnya pendukung gerakan 212. Awalnya ia menyayangkan bapaknya tidak ikutan demo seperti keluarga teman-temannya.

“Nak, mereka itu tidak suka dengan mantan gubernur yang suka berkata kasar. Tapi imam besarnya sendiri suka berkata kasar. Mereka tidak suka penista agama. Tapi kelakuan teman sekubunya sendiri banyak yang menista agama. Tidakkah itu absurd, Nak?”

Sedikit-sedikit aku jelaskan sampai ke tema utama: politisasi agama.[]

Toleransi Bubur Ayam

Sabtu pagi ini aku makan bubur ayam pinggir jalan bareng istriku. Aku nggak diaduk, istriku diaduk. Aku merasa jijay lihat bubur diaduk. Mirip-mirip apaa gitu (gak usah disebut). Istriku bilang aku lebay. Tetapi kami makan bubur bareng akur-akur saja. Meski masing-masing yakin bahwa buburnya lah yang lebih enak. Itulah namanya toleransi bubur ayam.

Aku pikir demikian juga dalam kehidupan beragama. Terkadang kita lihat orang ada jijay-jijaynya, kadang ada lebaynya. Namun selama tidak saling menyakiti, harus saling menghargai. Sambil tetap memegang keyakinan masing-masing.[]

Islam Nusantara dan Sedikit Pertanyaan

“Islam Nusantara bukan Mazhab, bukan aliran, tapi tipologi, mumayyizaat, khashais. Islam yang santun, berbudaya, ramah, toleran, berakhlak, dan berperadaban. Inilah Islam Nusantara.”
(Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA)

“Islam itu aqidahnya sama sedunia. Tapi aplikasi & ekspresi keislaman itu ada muatan lokalnya. Contoh: KFC itu jualan ayam goreng. Tapi di Indonesia mereka juga jualan nasi. Di Ausie cuma pakai kentang. Namanya tetap KFC. Kalau udah paham ini, gak sulit mau paham tentang Islam Nusantara”
(Prof. Nadirsyah Hosen)

***

Tidak sulit untuk memahami apa yang disampaikan oleh Kyai Said Aqil di atas, ditambah analogi dari Gus Nadir. Adapun gelombang kritikan dan nyinyiran dari para aktivis media sosial, kebanyakan tidak tepat sasaran. Kebanyakan mempersoalkan bahwa Islam Nusantara adalah aliran baru yang mengada-ada dan cari gara-gara.

Continue reading “Islam Nusantara dan Sedikit Pertanyaan”

Post-truth dan Algoritma Media Sosial Kita

Image source: google

Inilah era post-truth, di mana kita kehabisan waktu untuk mengolah dan menyaring informasi yang datang membanjiri ruang virtual kita. Di mana kita lebih suka memastikan kebenaran suatu informasi hanya karena sejalan dengan keinginan, kenyamanan, dan berbagai perasaan yang meliputi kita.

Continue reading “Post-truth dan Algoritma Media Sosial Kita”

Pagi

Setelah menghabiskan secangkir kopi, kendaraan kupanaskan. Melaju melewati tukang sapu jalanan dan Pak Satpam yang selalu lempar senyuman. Kemudian memasuki jalan besar: manusia yang lalu-lalang, mobil dan sepeda motor yang berseliweran, hangat matahari pagi yang menyilaukan, debu yang bikin alergi kambuh, atau terpaan angin yang menyegarkan. Terkadang gerimis dan hembusan angin yang mencucuk tulang. Sampai di tujuan, kendaraan kuparkirkan. Menghidupkan laptop dan memulai aktivitas.

Yang tersembunyi adalah: neraka yang kucumbui, surga yang kuhayati, dan Tuhan yang kucandai.

Pagi tak berubah, hanya tubuh yang perlahan merapuh dan jiwa yang terus mengembara.

Pasar Minggu, 5 Jul 2018

Sekali Lagi Tentang Bungkus Luar

Saya ingin mengutip kembali cerita tentang Si Beo dalam Matsnawi.

Dalam Matsnawi, Jalaluddin Rumi berkisah tentang burung beo yang dicukur gundul oleh majikannya gara-gara gagal menjalankan tugas menjaga kedai sang bos yang pergi sebentar untuk shalat. Merasa bebas bermain-main, ia terbang leluasa kesana-kemari hingga tanpa sengaja menumpahkan sebotol minyak sampai pecah. Sebagai hukuman, kepala burung itu dicukur habis hingga gundul. Sang burung bersedih. Setelah beberapa hari murung, tiba-tiba ia melihat seorang darwis gundul melintas di depan kedai. Si beo girang bukan kepalang melihat ada orang yang dipikirnya senasib dengan dirinya: sama-sama dihukum oleh majikannya.

Continue reading “Sekali Lagi Tentang Bungkus Luar”