Ustadz Dadakan, Salah Siapa?

Kata orang, profesi paling gampang itu jadi ustadz. Latar belakang pendidikan apapun sekarang bisa jadi ustadz. Tidak perlu menguasai ilmu-ilmu keislaman, asalkan potongan dan casing sudah pas. Tapi yang paling gampang adalah kalau Anda kebetulan berprofesi sebagai artis, pelawak, pemain band, atau profesi seleb lainnya. Masyarakat akan segera terpesona dengan keputusan Anda untuk hijrah menjadi ustadz. Segera Anda akan diundang ceramah di mana-mana. Tidak perlu khawatir, orang tidak akan mencari tahu seberapa jauh kedalaman ilmu agama Anda.

Continue reading “Ustadz Dadakan, Salah Siapa?”

Advertisements

Secangkir Kopi Pagi

Secangkir kopi pagi nyaris tak pernah lupa kau saji, dalam suka maupun duka, dalam senang ataupun marah. Semerbak dari asapnya yang mengepul ke udara memberi isyarat bahwa secangkir kopi pagi tak punya ruang untuk benci, seperti pembuatnya.

Gerbang Tol Cibubur, 11 Dec 2017

Jika Khilafah Berdiri

Khilafah adalah solusi dari segala permasalahan umat. Demikian kredo yang terbeli kalangan awam yang kebetulan mempunyai ghirah keagamaan tinggi, yang juga sedang mencari ketegasan identitas dan posisi. Instabilitas politik, krisis ekonomi, serta faktor ketidakadilan struktural (yang sesungguhnya kompleks) ikut serta menanamkan keyakinan pada mereka bahwa Pancasila dinilai gagal mencapai tujuan utamanya, yaitu keadilan sosial. Lantas muncullah sekelompok orang yang memanfaatkan situasi ini. Mereka menawarkan obat mujarab bahwa formalisasi syariat Islam dalam sebuah sistem pemerintahan (Islam) lah satu-satunya yang dapat membereskan segala persoalan umat.

Continue reading “Jika Khilafah Berdiri”

Unsubscribe

Blog masih menjadi tempat yang menyenangkan untuk mencurahkan ekspresi atau sekadar pemikiran yang tidak melulu mesti yang berat-berat. Sunyi dan tidak mengundang agar dibaca (dibaca silakan, tidak dibaca ya gpp). Tidak seperti medsos yang memang sengaja mencari perhatian untuk dibaca.

Tetapi saya baru ingat, setiap postingan akan terkirim ke email follower yang saya yakin sebagian besarnya tidak sengaja ketika mengklik tombol follow di Blog yang sepi ini.

Jika tidak berkenan dengan email-email yang masuk (yang sepertinya bakalan bertubi-tubi…:D), silakan klik tombol/link unsubscribe di email Anda, di email yang pengirimnya Blog Irfan Permana tentunya 🙂

Terima kasih.

Islam dan Demokrasi: Perspektif Wilâyah al-Faqîh

Book Review
Oleh: Irfan Permana

Judul Buku: Islam dan Demokrasi, Perspektif Wilâyah al-Faqîh
Penulis: Muhammad Anis
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Oktober 2013
Tebal: 300 halaman

Iran berhasil bangkit dari sistem kerajaan di bawah Dinasti Pahlevi yang berada dalam buaian Barat menjadi sebuah sistem pemerintahan Islam berlandaskan demokrasi yang mandiri dan lepas dari hegemoni Barat. Secara resmi menjadi Republik Islam sejak 1 April 1979, setelah sebagian besar rakyat menyetujuinya melalui referendum nasional. Di bawah atap rumah baru ini Iran tidak lagi mengenal pemisahan politik dan agama. Yang diterapkan adalah perkawinan antara prinsip-prinsip demokrasi dengan nilai-nilai politik Islam. Sebuah terobosan baru yang tertuang dalam sebuah konsep bernama Wilâyah al-Faqîh atau kepemimpinan ulama.

Lalu bagaimana hasilnya? Setelah lebih dari tiga dekade terhitung dua belas kali pemilu dilaksanakan dengan melibatkan rakyat Iran dalam jumlah mayoritas. Hasil implementasinya, praktek demokrasi Islam Iran justru lebih demokratis dibandingkan demokrasi liberal ala Barat yang dipraktekkan di banyak negara.

Continue reading “Islam dan Demokrasi: Perspektif Wilâyah al-Faqîh”

Farag Fouda: Membaca Ulang Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Islam

Book Review
Oleh: Irfan Permana

Judul Buku: Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim
Judul Asli: Al-Haqiqah al-Ghaybah
Penulis: Farag Fouda
Penerjemah: Novriantoni
Penerbit: Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan penerbit Dian Rakyat
Cetakan: II, Agustus 2008
Tebal: 198 halaman

Gara-gara tulisan yang mengguncang supremasi mapan sebuah pemikiran politik Islam, nyawa seorang pemikir yang cukup berpengaruh, aktivis hak asasi manusia, penulis dan kolumnis asal Mesir bernama Farag Fouda (1945-1992) melayang.

Kejadian ini berlangsung pada tanggal 8 Juni 1992, beberapa bulan setelah terjadi polemik tajam antara Fouda dan sekelompok ulama yang merasa terusik dengan gagasan liarnya itu. Memang ia seringkali menulis baik berupa buku ataupun artikel di surat kabar yang menyerang secara kritis dengan gaya satir dan ironi, khususnya terhadap kelompok ekstrimis di Mesir. Fouda sendiri merasa bahwa ia sedang membela Islam dari distorsi pemikiran kaum fundamentalis. “Islam adalah agama, kaum Muslim adalah manusia. Agama tidak dapat disalahkan, manusianyalah yang berbuat salah,” kilahnya suatu ketika.

Continue reading “Farag Fouda: Membaca Ulang Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Islam”

Zoroastrianisme, Agama Samawi?

Oleh: Irfan Permana P.

Setidaknya ada dua prinsip dasar dalam keyakinan Zoroastrianisme : pertama, ada hukum di dalam alam. Kedua, ada konflik di dalam alam. Penegakan hukum berlangsung terus menerus akibat adanya konflik yang terjadi di alam semesta ini. Dalam konsepnya, harus ada penyatuan antara kejahatan dengan kebaikan abadi Tuhan. Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa proses penyatuan kebaikan dan kejahatan itu tidak dipahami sebagai aktivitas yang mandiri, melainkan dua aspek dari Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain, konflik tersebut adalah perjuangan Tuhan melawan diri-Nya sendiri. Jadi dapat dikatakan secara teologis bersifat monistis dan secara filosofis bersifat dualis.

Continue reading “Zoroastrianisme, Agama Samawi?”