Home > Politik > The Big Blunder of SBY-JK

The Big Blunder of SBY-JK

Siapa saja yang melek berita politik (dan masih punya hati nurani) pasti akan terperangah menyaksikan blunder besar yang baru saja dilakukan pemerintah kita. Setelah lantang menyuarakan dukungan terhadap program nuklir damai Iran, tanpa diduga pemerintah RI (bersama 14 anggota DK lainnya) menyetujui resolusi Dewan Keamanan PBB No.1747 (24 Maret 2007) tentang sangsi yang akan dijatuhkan kepada Republik Islam Iran. Sebuah sikap yang memalukan. Selain melukai Iran, pemerintah SBY-JK telah melukai hati nurani umat muslim sedunia. Di dalam negeri, duet SBY-JK mencederai aspirasi rakyatnya sendiri yang cukup terwakili oleh dua ormas besar Islam, NU dan Muhammadiyah, yang secara tegas mengecam keputusan pemerintah. Belum lagi mayoritas partai politik di parlemen bereaksi keras dengan bertekad akan menggulirkan hak interpelasi.

Ada apa gerangan, mengapa Indonesia rela menggadaikan harga diri di mata dunia dengan sikap plin plannya itu. Di mana indentitas bangsa yang mengaku besar dan seringkali geer bisa tampil sebagai jembatan antara bangsa-bangsa yang berbenturan.
Sudah sering kita baca kegeeran Indonesia melalui statemen-statemen normatifnya. Terkait isu ini, pemerintah menyatakan bahwa dengan mendukung resolusi ini, prinsip Indonesia tidak berubah, yakni tetap mendukung hak Iran untuk mengembangkan nuklir untuk tujuan damai. It’s very very ridiculous.

Jubir istana, Dino Patti Jalal, menyatakan berkali-kali bahwa hendaknya Teheran tidak keras kepala dan mau mendengarkan sedikit saja suara internasional. Yang dilakukan Indonesia bukanlah menentang Iran, namun ini merupakan message yang ingin disampaikan bahwa tensi tinggi timur tengah akan menurun jika saja Iran bersikap akomodatif. Indonesia sangat mencemaskan ketegangan yang terjadi di timteng. Demikian yang saya ingat dari acara bertajuk “Topik Minggu Ini” yang ditayangkan sebuah TV swasta (28/3). Sebuah pernyataan yang cukup menggelitik kita untuk bertanya balik. Mengapa mesti Iran (saja) yang mendengarkan? Bagaimana dengan Amerika? Apakah Amerika dibiarkan saja mengabaikan suara dunia? Apakah Amerika (dan Israel) dibiarkan saja memiliki senjata nuklir? Apakah mereka pantas memiliki sedangkan Iran tidak? Apakah Iran dipandang sebagai negara kurang beradab sehingga dikhawatirkan menimbulkan kekacauan jika mengembangkan teknologi nuklir? Apalagi jelas-jelas program nuklir Iran untuk kepentingan sipil. Dan sejauh inipun IAEA (badan tenaga atom internasional) tidak menemukan bukti-bukti ke arah pengembangan senjata nuklir oleh Iran. Apakah pemerintah masih saja menutup mata terhadap kelicikan-kelicikan yang dipertontonkan Amerika secara bertubi-tubi? Tidakkah terpikirkan bahwa akibat dari dukungan ini Amerika merasa mendapat restu untuk melancarkan agresinya? Jika saja darah sampai tertumpah di Iran, jelas Indonesia tidak bisa cuci tangan.

Satu lagi yang mengherankan dari pernyataan Dino, yang tentu saja sudah mendapat restu dari sang tuan. Di sebuah media cetak secara tertulis ia menyatakan bahwa sikap Indonesia sebetulnya mencerminkan politik bebas aktifnya. Indonesia tidak tunduk kepada anggota tetap DK PBB manapun, tetapi tidak serta merta bertuan kepada Iran. Menurut saya, secara implisit ia menyatakan bahwa bangsa-bangsa yang mendukung Iran telah bertuan kepada Iran, termasuk dua ormas Islam besar di tanah air yang merepresentasikan mayoritas suara muslim Indonesia. Sikap yang terkesan melecehkan. Kalau begitu, secara jelas pemerintah telah memilih bertuan kepada siapa.

”Seandainya suatu saat Indonesia mampu mengembangkan program nuklir damai, dan ditentang oleh Amerika, sebagai bangsa Iran (misalnya) saya akan mendukung Indonesia bukan karena Indonesianya, tapi karena keadilan.” Demikian komentar Kang Jalal yang saya dengar di televisi. Ada benarnya Dino, benar juga Kang Jalal. Memang tidak sepatutnya kita bertuan kepada bangsa manapun, termasuk kepada Iran. Namun kita juga tidak patut untuk tunduk kepada Paman Sam yang mengimingi bantuan finansial yang pastinya tidak gratis. Kita hanya boleh bertuan kepada keadilan. Dan di sini, membela Iran bukan karena Irannya atau Islamnya, tapi demi menegakkan suara keadilan yang semakin terdengar parau.

Ada baiknya pemerintah kita sedikit merenungkan pertanyaan sederhana yang dilontarkan Ahmadinejad saat tur politiknya tahun lalu. ”Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya mengapa kalian sebagai negara adikuasa boleh memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik untuk kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?”. Tidak perlu perenungan mendalam untuk menjawab pertanyaan MAN di atas.[]

Categories: Politik
  1. dadang ismawan
    August 6, 2007 at 3:31 pm

    SBY-JK*
    Cape dech..!!
    *Surabaya-Jakarta Kota

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: