Home > Agama > Eleksir Cinta Abu Dzar

Eleksir Cinta Abu Dzar

Saya tidak hendak menulis riwayat hidup Abu Dzar di blog ini. Saya hanya terkesan membaca kisah-kisah pengorbanan para pencinta Nabi Saw serta Ahlulbaitnya. Kisah-kisah seperti ini seringkali memberikan ‘gairah’ tambahan, entah itu datang dalam bentuk apa. Untuk itu, ijinkan saya menulis sepotong kisah fantastis seorang pencinta sejati. Sebuah kisah menakjubkan dari Abu Dzar.

*****

Siapa tak kenal Abu Dzar al-Ghifari. Pengikut setia Rasulullah Saw yang juga pengikut setia Ali setelah wafatnya Rasul. Tak segan mengumumkan keislamannya di tengah kerumunan para kafir Quraisy. Pribadi yang lantang menyuarakan keadilan. Selalu berkata benar walau pahit. Berada di barisan depan dalam menentang kezhaliman. Konsisten sejak awal mula mengenal Islam hingga wafatnya di Rabadzah, tempat ia dibuang dan diasingkan oleh rezim Utsman.

Betapa cinta begitu mengkristal di dada para pecinta sejati. Hingga menjadikannya mabuk kepayang di atas kepayang. Hingga terkadang wilayah akal tak mampu menjangkaunya. Tentu saja ini terjadi karena adanya objek yang benar-benar pantas untuk dicinta.

Saat Nabi Saw memerintahkan kaum Muslim untuk pergi ke Tabuk, banyak orang (munafik) keberatan dengan berbagai macam alasan yang dibuat-buat. Sebagian malah berusaha menghalang-halangi kepergiannya. Sampai akhirnya serombongan pasukan berangkat juga dengan dibekali peralatan perang seadanya serta minimnya bahan makanan. Namun sosok agung Nabi Saw menciptakan tenaga dan kekuatan bagi mereka untuk menjalankan perintah suci ini.

Di perjalanan, satu demi satu tercecer di belakang. Dan setiap Nabi Saw diberitahu, beliau berkata: “Jika ia orang baik, Allah akan mengembalikannya. Dan jika ia orang yang tidak baik, lebih baik ia tidak menyusul.”

Unta yang kurus dan lemah membuat Abu Dzar termasuk salah seorang yang tertinggal di belakang. Dan ketika hal ini diberitahukan kepada Rasul, beliau mengucapkan kalimat yang sama. “Jika ia orang baik, Allah akan mengembalikannya. Dan jika ia orang yang tidak baik, lebih baik ia tidak menyusul.”

Binatang tunggangan Abu Dzar itu nampak semakin tak berdaya. Segala cara diupayakan namun unta itu tetap tak bergeming. Kini semakin jauh Abu Dzar tertinggal. Hingga ia memutuskan untuk berjalan kaki dan memikul sendiri barang bawaannya ditemani sengatan matahari yang terik memanasi hamparan padang pasir.

Di tengah langkahnya yang gontai akibat lelah dan rasa haus yang mencekik leher, Abu Dzar menemukan sebuah tempat berteduh, di atas batu-batu yang terhalang bukit. Di antara bebatuan itu ia melihat sedikit genangan air bekas hujan. Lantas ia mengisi air ke dalam kantong kulitnya, kemudian bergegas menyusul pasukan yang sudah jauh di depan. Di tengah dahaga yang menyiksa, sama sekali ia tak berniat meminumnya mendahului sahabatnya, Rasulullah Saw.

Sampailah saatnya pasukan Muslim itu melihat sesosok tubuh dari kejauhan berjalan lunglai mendekat. “Ya Rasulullah, kami melihat seseorang berjalan menuju kita!”

“Semoga itu Abu Dzar”, ucap beliau Saw.

Setelah semakin dekat, rupanya benar itu Abu Dzar. Di depan Nabi Saw ia nyaris rubuh. Lalu Nabi menyuruh memberikannya minum secepatnya. “Saya mempunyai air”, kata Abu Dzar dengan suara serak. Nabi berkata: “Engkau membawa air, tetapi engkau hampir mati kehausan.”

“Benar. Ketika saya mencicipi air ini, saya urung meminumnya sebelum engkau ya Rasulullah.”[]

Categories: Agama
  1. April 2, 2007 at 10:30 am

    Abu Dzar Sang lelaki pemberani. Dia tidak takut keroyokan monyet-monyet Quraisy.

    Adakah kalian yang mau seperti Abu Dzar?

  2. April 4, 2007 at 11:07 pm

    Ya Ansorullah……

  3. April 7, 2007 at 3:14 pm

    ::ressay
    Halo Yasser, gmn nih dakwahnya? Menurut saya Antum adalah Abu Dzar-nya kampus. Semoga sukses!

    ::Ahmad Dzikir
    dah kelar nih ujiannya? Sdh mulai ngeblog lagi ya..:)

  4. April 8, 2007 at 5:09 pm

    @Mas Irfan
    wah, Antum terlalu berlebihan. Abu Dzar? masih jauh banget aku dari pribadi Abu Dzar.

    Aku hanya ingin jadi (kalau kata ustadz Jalal) laron-laron kecil. Aku juga ingin menjadi kunang-kunang yang dengan cahaya kecilnya, berusaha berkhidmat dengan memperindah dunia yang sudah diselimuti dengan gelap malam.

    Yakusa…!!!
    Pantang Hina…!!!

  5. Muhammad Shadiq
    April 8, 2007 at 5:38 pm

    Senandung cinta yang menakjubkan. Hanya jiwa-jiwa yang suci dan terpilih yang mampu menyenandungkannya. Saya sungguh terkesan. Meskipun bukan hanya kali ini saya mendengarnya, saya seperti diingatkan kembali akan khazanah cinta para pemberani ini. Para pemilik sejati sejarah Islam yang mulia ini.

  6. April 8, 2007 at 9:59 pm

    ::ressay
    Haihata minnadz dzillah!

    ::Muhammad Shadiq::
    Salam kenal Mas. Betul, itulah yg saya rasakan, meskipun ini bukan kali pertama mendengarnya.

  7. anyi salim
    June 12, 2007 at 4:46 am

    abu dzar yang kekar
    cintamu menggelegar
    bagaikan halilintar
    kepada rasul yang bersinar

  8. arie kariana
    July 2, 2009 at 3:49 am

    salam keluarga bagi pecinta abu dzar…

  9. Yupz1500
    January 23, 2010 at 6:06 pm

    Salamm juga, kisah yang mengharukan. mudah2an biografi yang sebenarnya dan kisah sepenuh tentang beliau semua pada tahu ^_^

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: