Home > Pojok Celoteh > Curhat Ujang Kemod (1)

Curhat Ujang Kemod (1)

Tidak ada yang disesali dalam hidup Ujang Kemod kecuali dua hal. Pertama, ia tidak tahu kapan lahir. Kedua, ia tidak bisa main gitar.

Sebelum mendengar cerita penyesalan Ujang Kemod di atas, mari kita simak kisah Ujang berikut ini.

Ujang Kemod menemui kesulitan ketika pertama kali harus narik angkot. Dia tidak punya SIM, padahal sistem mewajibkan memilikinya. Kalau tidak, tanggung sendiri akibatnya. Ujang bakal kena bulan-bulanan Pak Polisi ramah yang super peka itu. Bagaimana tidak peka, ban mobil menyentuh garis pembatas jalan sedikit saja, maka priiiitt…suara nyaring itu segera bikin jantung Ujang nyaris copot. Kalau sudah begini, Ujang cuma bisa pasrah. Aturan tetap aturan. Selanjutnya Ujang cuma bisa melongo menyaksikan lembaran rupiahnya raib berpindah ke saku Pak Polisi ramah itu.

Lha, lalu apa susahnya bikin SIM? Siapkan fulus, kunjungi kantor polisi. Di sana, tanpa diminta Pak Polisi-Pak Polisi ramah yang lain akan menghampiri. Dengan sedikit basa-basi transaksi disepakati. Dan tidak lebih dari sehari SIM pun jadi. Tanpa testing tertulis apalagi uji driving skill. Mudah sekali bukan? Tidak ada prosedur administrasi sulit hidup di negeri gemah ripah loh jinawi ini Jang!

“Masalahnya bukan itu Mang”, Ujang menjawab lirih. Yang diajak curhat oleh Ujang adalah Mang Supi. O ya, sedikit perkenalan. Supi bukan nama sebenarnya, ini julukan yang diambil dari kata sufi. Sudah mafhum, di lidah Sunda bunyi ‘f’ atau ‘v’ jadi ‘p’. For your information, ini orang doyan banget bicara sufistik, tapi prakteknya nol besar. Mana ada sufi guyon jorang (saru). Mana ada sufi suka menggerutu. Ini hanya sebentuk ledekan dari rekan-rekan kerjanya, terutama si Abah Bedoel. Tapi Mang Supi tak pernah tersinggung. Itu dianggapnya sebagai ledekan kasih sayang, tidak ada unsur kebencian sedikit pun. Maklum, Mang Supi ngantor di lingkungan penuh kekeluargaan. Pokoknya benar-benar bikin betah. Terlebih, kantornya dikendalikan oleh empat orang sufi korporat (kalau mereka ini sih benar-benar sufi). Makanya, meski sudah sekian lama gajian tidak teratur dan sering telat, Mang Supi bersama teman-temannya masih saja nagen. Alasannya hampir sama: kerja di sini tidak sekadar fastabiqul fulus Mas!

“Lha, lalu apa masalahnya Jang?” Tanya Mang Supi membuyarkan paragraf perkenalan di atas.

“Nyaeta Mang, saya tidak tahu tanggal lahir saya. Saya tanya si emak jeung bapa di lembur (kampung) juga tidak ada yang tahu. Jadi, boro-boro bikin SIM, KTP saja tidak punya.”

“Akte kelahiran?”
“Yee…kan tanggalnya tidak tahu, bagaimana mau bikin akte.”
“Iya ya, heuheu…”

Alah, eta mah gampang atuh Jang,” Mang Supi coba lempar ide. “Kamu tanya saja si emak, siapa saja anak-anak di kampung yang lahir sejaman dengan kamu. Lalu tanya mereka atau melalui orang tua mereka, tahun berapa mereka lahir. Tanggal dan bulannya, kamu kira-kira saja lah.”

“Sudah Mang, mereka juga tidak tahu.”
Euleuh-euleuh, kacida teuing Jang….hahaha.” (Mana ada sufi ngakak)

Orang lembur hidupnya memang sederhana. Tidak terbesit membuat catatan historis kronologis apalagi ngeblog. Tidak ada planning yang njelimet. Tidak ada perdebatan politik, apalagi diskusi tasawuf-mistik Persoalan yang hinggap pun tidak rumit-rumit. Dan ajaibnya lagi, kekebalan tubuh mereka biasanya tinggi. Penyakit yang mendera paling seputar borok atau encok. Harga beras melambung tinggi, tinggal ngabeuleum hui (bakar ubi) atau ngabubuy sampeu (singkong –ada yang tahu padanan kata ngabubuy?). Terkecuali jika tanah-tanah mereka yang kini tinggal secuil itu diincar juga oleh orang-orang kota yang rakus. Ini lain soal.

Ujang pernah cerita. Betapa kedua orang tuanya rela mengabdikan hampir seluruh hidupnya kepada juragan tanah, yang puluhan tahun lalu membeli tanah di kampung itu dengan luas yang fantastis tapi harga super tipis. (Tetap saja tak terjangkau oleh Mang Supi yang kere). Hingga kini kerja mereka menjaga sisa tanah yang belum terjual itu beserta buah-buahan yang tumbuh di atasnya, tentu saja dengan upah di bawah UMR.

“Kurang ajar!” Mang Supi membatin. Apalagi setelah tahu siapa juragan tanah tersebut. Tapi Mang Supi tidak bisa menuding kesalahan siapapun, termasuk Pak Polisi yang menilang Ujang dan Juragan yang ‘memperkosa’ orang tua Ujang. Meminjam istilah kerennya Kyai Fadil –salah satu sahabat Mang Supi, problem bangsa ini sudah stadium akut, merembet secara struktural dan sistemik di semua lini. Seharusnya negeri ini tenggelam dulu seperti jaman Nabi Nuh dulu, baru dihidupkan lagi manusia-manusia baru dengan potensi ilahiah yang lebih tinggi.

Huss Pak Kyai ngawur! Siapa orangnya di negeri ini yang berani pede bisa selamat dari tsunami maha dahsyat itu? Sedang kita tak pernah tahu berapa gelintir tetangga yang menjerit kelaparan. Sedang kita enggan menoleh kaum papa yang menggigil di saat hujan dan kepanasan di saat kemarau. Sedang kita tak pernah punya kepentingan dengan anak-anak yang seharusnya belajar memegang pensil, kini berprofesi sebagai musisi karbitan. Sedang untuk bersedekah kepada gelandangan saja, kita masih mencari pecahan rupiah terkecil di saku kita. Sedang ustadz-ustadz kita, sementara konsisten bicara pembelaan terhadap wong cilik, sementara juga mematok tarif per kedatangan yang tak mungkin terjangkau si kere yang haus ilmu.

Ahh sudahlah, itu cerita masa lalu. Kini Ujang punya SIM, dengan tahun kelahiran tertulis 1979. Dan sekarang ia bergabung bersama seluruh “awak kapal” yang sedang berjuang melawan gulungan “ombak besar”. Tapi hampir seluruh kru masih bisa guyon, apalagi yang jorang-jorang. Yang penting anak-istri masih bisa makan. Positif sajalah menatap masa depan.

Tentang Ujang yang ingin bisa main gitar, nanti sajalah. Mang Supi sudah mengantuk.[]

Categories: Pojok Celoteh
  1. May 16, 2007 at 3:33 pm

    Sebuah lukisan kehidupan dalam bingkai normatif, dimana selalu ada realitas kontradiktif dalam memahami hakikat hidup ini

  2. June 7, 2007 at 10:27 am

    kondisi indonesia dan urang indonesia memang sudah demikian. mudah2an saja ada keajaiban bisa merubah negri kita itu.
    sok ngarumas upami ngemut ka dinya teh.
    ————————————————–

    Ya, rasanya cuma keajaiban dari langit saja yang bisa merubah. Ngarumas mun ngemut ternyata kita dilahirkan dan dibesarkan sebagai bagian dari fase sejarah kebobrokan akut sebuah bangsa, sementara kita (baca: saya) tidak bisa berbuat banyak selain berceloteh di blog. Semoga Antum dan teman-teman lain tidak bosan dengan ocehan saya….hehe

  3. parsimurgh
    June 16, 2007 at 10:57 pm

    ujang kemod sangat pasrah, potret kepasrahan rakyat kecil yang mau disedot darah dan daginnya untuk membesarkan perut tuan tanah. hanya satu kata “LAWAN”
    nuhun jang!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: