Home > Agama, Mysticism, Renungan > Optimisme Rumi

Optimisme Rumi

Oleh: Irfan Permana

Kami bukanlah caravan yang patah hati
atau pintu-pintu dari keputus asaan,
Mari kemari datanglah
Meski kau telah jatuh ribuan kali,
Walau kau telah patahkan ribuan janji,
Mari kemari…datang…datanglah sekali lagi
(Jalaluddin Rumi)

Suka duka kehidupan datang silih berganti. Suka cita dirasakan setiap orang ketika kesenangan hidup menghampirinya, seperti halnya duka lara dirasakan ketika kesulitan mendera. Sebuah laku yang sangat manusiawi. Menyulap sebentuk duka menjadi suka -dalam keadaan apapun- adalah sesuatu yang dianjurkan oleh para arif. Terlebih, agamapun memerintahkan demikian. Bukankah agama diturunkan supaya kita berbahagia bukan saja di akhirat kelak, tetapi juga di dunia kini?

Hingga saat ini ribuan buku tentang motivasi, optimisme dan kebahagiaan sudah ditulis. Ada yang melalui pendekatan filsafat, ilmu psikologi, hingga temuan mutakhir di bidang kedokteran.

Sekarang kita coba menghampirinya dari sisi lain. Sebelumnya kita simak sebuah quatrain dari sang penyair mistik masyhur, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273 M).

“Jangan duduk di dekat si sedih.
Ketika kau memasuki kebun
Apakah yang kau lihat duri atau bunga?
Habiskan lebih banyak waktu bersama sang mawar dan melati.”

Rumi mengingatkan kita agar tak menghabiskan waktu bersama si sedih, yang merupakan personifikasi dari sebuah perasaan yang menyesakkan dada. Bersikaplah optimis karena selalu ada harapan di tengah kesulitan. Seperti kata pepatah: every dark cloud has a silver lining. Seperti juga disebutkan dalam Al-Qur’an al-Karim, “Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.” (QS. 94:6).

“Ketika kau memasuki kebun apakah yang kau lihat duri atau bunga?” Artinya adalah ketika kita mengarungi hidup, menjalankan rutinitas sehari-hari, berikan perspektif yang optimis. Sesungguhnya musibah merupakan sebuah realitas objektif. Namun cara mensikapinya merupakan sesuatu yang subjektif. Sebagai ilustrasi, si penggerutu akan larut dalam kesedihan mendalam hanya karena kehilangan sandal di masjid. Bandingkan dengan Sa’di -sang penyair sufi- yang tak mampu mengganti sandalnya yang hilang, namun merasakan anugerah melimpah setelah menjumpai pengemis buntung di Masjid Kufah. Bertelanjang kaki masih terlampau bagus ketimbang tak memiliki sepasang kaki.

Satu contoh lagi. Suami atau istri saleh/ salehah seperti Anda tentu merasakan kepedihan mendalam tatkala kehilangan pasangan hidup yang Anda cintai. Namun si nakal hidung belang merasa senang karena bebas menikahi selingkuhannya. Baik si saleh/ salehah atau si hidung belang mendapatkan musibah yang sama, yakni kehilangan pasangan, namun perspektif dari keduanya sungguh berbeda. Sekali lagi, musibah adalah realitas objektif, mensikapinya bisa subjektif.

Kembali ke Rumi. Mawar dan melati -yang dilambangkan sebagai peristiwa menyenangkan yang melahirkan perasaan bahagia- merupakan sebuah pemandangan elok. Pandangi mawar dan melati, palingkan saja mata dari duri-duri dan tanaman layu.

Untuk menikmati sang mawar dan melati, Rumi memilih kata ‘habiskan lebih banyak waktu’, bukan ‘habiskan seluruh waktu’. Ini merupakan sebuah isyarat, bahwa sesungguhnya ‘duri’ diperlukan juga dalam hidup. Duri adalah kemalangan yang seharusnya menempa kita agar lebih tangguh. Jika saja hidup kita terus menerus diisi kesenangan, bisa jadi kita akan terbuai dan menjadi lupa. Jika saja kemalangan tak pernah menghampiri hidup kita, mungkin kita akan kehilangan apresiasi terhadap kesenangan. Dengan kata lain, kemalangan diperlukan untuk lebih memaknai kesenangan. Namun bagaimanapun, Rumi menganjurkan agar kita tidak mencurahkan perhatian pada kemalangan.

Maka, ketika kau memasuki kebun, habiskan waktu lebih untuk menikmati anggunnya sang mawar dan melati, hati-hati dengan tajamnya duri yang bisa melukai tanganmu.

Kita patut mengambil pelajaran optimisme dari seorang Rumi yang senantiasa menjalani hidup dalam keadaan ‘happy state of mind’. Hampir seluruh waktu hidupnya dihabiskan untuk merenungkan hakikat kehidupan. Ini berlangsung sejak masa kecilnya. Dan tentu saja ia bahagia menjalaninya.

Jika kita perhatikan, sejumlah besar refleksi mistis Rumi mengandung tema yang senada, yakni optimisme. Bahkan ketika memaknai konsep takdir, Rumi secara anggun menggambarkan, seraya mengkritik cara pandang kaum Jabariyah yang fatalistik. Simak parabel berikut yang berisikan perbincangan antara binatang buas (orang awam) dan Singa (manusia sempurna):

Sekelompok binatang buas berkata kepada sang Singa: Tak ada perbuatan yang lebih baik daripada berserah pada Tuhan. Adakah yang lebih lancang ketimbang berpaling (dari-Nya)? Sering kita melarikan diri dari penderitaan (hanya) untuk (jatuh ke dalam) penderitaan (lain). Lepas dari ular bertemu naga.

“Ya, kata sang Singa. Namun Tuan si hamba itu menyiapkan tangga di depan kakinya.”
Selangkah demi selangkah, kita harus naik menuju atap. Menjadi Jabariyah di sini adalah (tenggelam) dalam harapan-harapan dungu.

Engkau punya kaki, mengapa kau jadikan dirimu lumpuh?
Engkau punya tangan, mengapa kau sembunyikan jemarimu?

Ketika tuannya meletakkan skop di tangan sang budak, benda itu (skop) memberitahukan (apa yang harus dilakukan) tanpa lidahnya.

Kehendak bebas adalah upaya mensyukuri anugerah-Nya. Kaum Jabariyahmu membuang hadiah (kehendak bebas) itu dari tanganmu.
Jabariyahmu seperti tidur di jalan, jangan tidur!
Jangan tertidur wahai Jabariyah yang lalai, kecuali di bawah pohon yang subur buahnya.

Karena, setiap saat angin bisa menggoncangkan tangkainya dan menjatuhkan makanan (spiritual) bagi orang tidur, dan sebagai bekal dalam perjalanan…

Jika engkau tawakal kepada Tuhan, tawakallah demi usahamu, tebarkan (benih), lalu berserahlah pada Yang Maha Kuasa.”

Jelas sekali, tawakal di mata Rumi merupakan usaha aktif yang dinamis, bukan penerimaan yang pasif. Manusia adalah makhluk yang diberi kehendak bebas untuk memilih. Kehendak bebas ini merupakan amanah dari Allah, dan inilah sesungguhnya anugerah terbesar bagi manusia. Ini pula yang membedakannya dari makhluk-makhluk lainnya. Pilihan yang tepat berarti memanfaatkan potensi ilahiahnya, sehingga derajatnya akan bergerak naik secara transenden. Sebaliknya, pilihan yang keliru akan menjerembabkannya ke arah lumpur nista. Itulah manusia, bebas memilih tetapi berikut segala konsekuensinya.

Rumi mengkritik pedas sekelompok orang yang memahami takdir sebagai sesuatu yang sudah ditetapkan sebelumnya, seraya mengambil sikap tawakal -dalam pengertian pasrah begitu saja- tanpa menabur benih terlebih dahulu. Sebuah sikap yang pesimis dalam menjalani hidup.

Bagi Rumi, takdir adalah ‘the law of life’ beserta konsekuensi logisnya. Mungkin ada yang bertanya, bukankah di dalam hadits -terkait masalah takdir- disebutkan bahwa “pena telah kering”? Memang betul, namun keringnya pena untuk menuliskan segala hukum sebab-akibat. Jika kau berbuat “ini” kau akan mendapatkan “ini”, jika kau berbuat “itu” maka kau akan mendapatkan “itu”. Pilihan-pilihan tersebut terhampar luas di depan kita, bahkan di setiap helaan nafas kita. Jangan lupa, dalam setiap gerak dan diam kita ada pertanggung jawabannya kelak.

……………………………
Oleh sebab itu pena tersebut menulis bahwa setiap perbuatan punya efek dan konsekuensi yang sesuai dengannya.
Pena telah kering adalah jika kau berbuat salah (di dunia), kau akan menderita (di akhirat), dan jika kau bertindak benar hasilnya adalah kebahagiaanmu.

Jika kau bersikap zhalim, engkau dikutuk. Pena telah kering.
Jika kau berlaku adil, engkau akan menikmati buahnya. Pena telah kering.

Demikianlah semangat optimisme Rumi yang terpancar dari gagasan-gagasan spiritualnya. Pandangan Jalaluddin Rumi -yang tentu saja diajarkan juga oleh Rasulullah SAW- membuat manusia lebih bahagia menjalani hidupnya.

Maka tebarkanlah benih, setelah itu bertawakallah sembari optimis menatap masa depan. []

Kalibata Utara, 17 Mei 2007

*Tulisan ini dimuat di Majalah Syi’ar, Edisi Dzulhijjah 1428 H

Categories: Agama, Mysticism, Renungan
  1. May 19, 2007 at 3:56 am

    Usaha + Berdo’a + Tawakal = Optimisme
    Sebagaimana pepatah Persia mengatakan; “Az Mo Harkat Az Khudo Barkat”, “Usaha dari kita Berkah dari Tuhan”.
    Terima kasih Antum telah mengunjungi blog Saya.

  2. May 19, 2007 at 3:57 am

    Usaha + Berdo’a + Tawakal = Optimisme

  3. May 19, 2007 at 4:14 am

    ::islamfeminis
    Terima kasih atas catatan tambahannya.
    Do’a memang sesuatu yg harus include satu paket dari awal sampai akhir, baik ketika ‘menabur benih’ maupun ketika ‘menyerahkan’ hasilnya. Do’a akan mengantarkan kita ke pilihan-pilihan yg baik.

  4. May 20, 2007 at 9:54 am

    khauf dan raja ( takut dan harapan ) bagaikan dua sayap tuk bisa terbang ke haribaan Haq. betul teu kang. wah tulisannya sae euy.

  5. May 20, 2007 at 10:22 am

    ::azzahra
    Betul Kang Ustadz. Nuhun ahh…

  6. Lover
    May 22, 2007 at 4:59 am

    Wah, tulisan Pak Ustazd Irfan luar biasa. Boleh bertanya pak Kiai? Apa musibah dan kemalangan itu berbeda atau sama? Mana yang obyektif: musibah atau “hilangnya seseorang/sesuatu yang dicintai”, “jatuh ketika sedang berjalan”, atau “dimaki orang gila”?
    Terima Kasih,

    —————————————————
    Irfan:
    Salam Mas/ Mbak Lover,
    Karena saya bukan Ustadz or Kyai, maafkan klo jawabannya gak memuaskan.
    Menurut saya musibah dan kemalangan bisa sama atau beda tergantung perspektif org yg memandangnya.
    Pertanyaan ke dua sy gak ngerti tuh😦

  7. Lover
    May 24, 2007 at 3:13 am

    Pak Irfan, boleh saya mendapatkan penjelasan lebih lanjut di mana persamaannya dan di mana perbedaannya? Lalu bagaimana dengan cobaan dan azab? Adakah perbedaan dan persamaannya?

    Terima Kasih,
    Lover
    ————————————————————————-
    Irfan:

    Mas/ Mbak Lover,
    Sebelumnya, boleh saya tahu nama sebenarnya? Rasanya lebih nyaman memanggil seseorang tidak dengan julukan.
    3 Pertanyaan dari Mas/ Mbak:
    1). Musibah dan kemalangan itu sama atau tidak?
    2). Mana yang obyektif: musibah atau “hilangnya seseorang/sesuatu yang dicintai”, “jatuh ketika sedang berjalan”, atau “dimaki orang gila”?
    3). Cobaan dan azab sama atau tidak?

    Ijinkan saya memberikan satu ilustrasi lagi. Secara tiba-tiba teman Anda kehilangan sepeda motor yang sudah susah payah dikreditnya. Lantas dia berkata: “Aku baru saja kena musibah, motorku hilang. Duh, malangnya nasibku.” Lalu Anda mencoba menghiburnya, “Aku juga kemarin baru kehilangan mobilku. Sudahlah sobat, kita ber-istirja’ saja, ini ujian dari Allah, lagipula segala yang kita punya sesungguhnya bukan milik kita, cuma titipan saja, bukan? Kita sedang diuji bagaimana caranya menjaga titipan tersebut. Peristiwa ini pasti ada hikmahnya.”

    Teman Anda memaknai musibah yang menimpanya sebagai kemalangan, sedangkan Anda memaknainya sebagai ujian dari Allah. Teman Anda menderita karenanya, sedangkan Anda bisa sabar menghadapinya. Bagi dia, musibah dan kemalangan sama saja. Bagi Anda, tidak ada yang namanya kemalangan, musibah adalah ujian dari-Nya.
    Itu sebabnya saya katakan (di jawaban saya sebelumnya), “musibah dan kemalangan bisa sama atau beda tergantung perspektif org yg memandangnya”. Dan tulisan sederhana saya di atas mencoba meninjaunya dari perspektif seorang Jalaluddin Rumi, meskipun tidak dibahas secara mendalam.

    Kata musibah berasal dari kata ashaaba, yushiibu, mushiibatan, yang artinya sesuatu yang menimpa baik berupa kesenangan maupun kemalangan/ kesusahan, konotasinya tidak selalu negatif. Namun, dalam pemakaian sehari-hari umumnya musibah selalu diidentikkan dengan kesusahan atau kemalangan, sesuatu yang melahirkan perasaan yang tidak mengenakkan hati.

    Dalam mensikapi suatu musibah, perspektif orang bisa bermacam-macam. Ada yang menganggapnya sebagai hukuman atau azab, sehingga menimbulkan kesusahan/ kemalangan, ada juga yang justru mengingatkannya untuk bertobat dan berintrospeksi diri. Yang lain menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa. Ia tidak pernah menyerahkan segala yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT. Dan ada juga orang yang meyakini bahwa musibah adalah tak lain dari cobaan/ ujian untuk ladang peningkatan kualitas dirinya secara spiritual.

    Dalam sebuah hadits, Imam Ja’far ash-Shadiq as mengatakan:
    “Tidak ada qabdh (kesempitan) dan basth (kelonggaran) kecuali di situ ada kehendak, ketentuan dan cobaan Allah”

    Jadi, baik kesempitan (kesusahan) maupun kelonggaran (kesenangan) adalah ujian dari-Nya. Dengan ujian, Allah sedang menyeleksi antara manusia yang selamat dan celaka.

    Semoga ini menjawab pertanyaan pertama dan ketiga.

    Untuk pertanyaan kedua. Menurut saya, dari anak TK sampai ke seorang Professor, ketika jatuh saat berjalan, pastinya menganggapnya sedang mengalami peristiwa “jatuh”, bukan “terbang”. Ketiga contoh yang Anda sebutkan itu adalah objek peristiwa. Saya tidak mengerti dengan pertanyaan “mana yang lebih objektif?”

    Itu saja Mas/ Mbak.

  8. Lover
    May 25, 2007 at 10:05 am

    Alhamdulillah, Saya telah mendapatkan pencerahan. Jika musibah itu bisa kesenangan/positif atau kesulitan/negative, maka bisa jadi musibah itu sebagai sesuatu yang obyektif. Maka saya dapat menyimpulkan bahwa “hilangnya seseorang/sesuatu yang dicintai”, “jatuh ketika sedang berjalan”, atau “dimaki orang gila” adalah musibah atau realitas. Tapi pak ustad, saya punya pertanyaan selanjutnya. Mengapa musibah atau kemalangan diperlukan agar kita bisa lebih apresiatif terhadap kesenangan? Bagaimana kalau logikanya kita balikkan: Kesenangan diperlukan agar kita dapat lebih apresiatif terhadap kemalangan? Apa perbedaan antara mengapresiasikan kemalangan dan mengapresiasikan kesenangan?

    Terima Kasih,

  9. June 25, 2007 at 11:29 pm

    Kita patut mengambil pelajaran optimisme dari seorang Rumi yang senantiasa menjalani hidup dalam keadaan ‘happy state of mind’. Hampir seluruh waktu hidupnya dihabiskan untuk merenungkan hakikat kehidupan
    artinya, kita bisa memikirkan dan merenungkan hakikat kehidupan dalam suasana gembira ya?
    menenangkan sekali, Ma jadi merasa mempelajari hal hal itu bukanlah hal yang menyesakkan dan sangat menyulitkan,,
    terima kasih,,🙂
    ————————————————
    IP:
    Sama-sama Rizma, makasih juga sudah berkunjung dan kasih komen

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: