Home > Agama, Mysticism > Samâ’, Ekstase dalam Cinta

Samâ’, Ekstase dalam Cinta

Oleh:  Irfan Permana

Setiap atom menari di darat atau di udara
Sadari baik-baik, seperti kita, ia berputar-putar tanpa henti di sana
Setiap atom, entah itu bahagia atau sedih,
Putaran matahari adalah ekstase yang tak terperikan
(Rumi)

Shalawat disenandungkan, gendang mulai bertabuh, seruling ney mulai ditiup.

Di ruangan itu tampak sekelompok darwis mengenakan atribut yang seragam. Topi yang memanjang ke atas, jubah hitam besar, baju putih yang melebar di bagian bawahnya seperti rok, serta tanpa alas kaki. Mereka membungkukkan badan tanda hormat lalu mulai melepas jubah hitamnya. Posisi tangan mereka menempel di dada, bersilang mencengkram bahu. Di tengah-tengah mereka tampak seorang Syaikh, yang berperan sebagai pemimpin. Jubah hitam tetap ia kenakan. Ia maju mengambil tempat. Kini giliran syaikh tersebut membungkukkan badannya pada darwis lainnya, mereka pun balas menghormat.

Sekelompok darwis itu kemudian membentuk barisan. Satu per satu maju. Setelah sang pemimpin memberi restu, maka ritual pun dimulai.

Tangan-tangan masih menyilang di bahu. Kaki-kaki yang telanjang mulai merapat. Lalu dimulailah gerakan berputar yang lambat, dengan tumit kaki dijadikan sebagai tumpuan secara bergantian, sementara kaki yang satunya sebagai pemutar. Perlahan-lahan tangan dilepas dari bahu dan mulai terangkat. Gerakan tangan yang anggun itu berangsur membentuk posisi horizontal. Telapak tangan kanan menghadap ke atas, yang kiri ke bawah.

Semakin lama gerakan semakin cepat, selaras dengan ketukan irama yang mengiringinya. Mata-mata itu nampak semakin sayu, sebagian terpejam. Kepala mereka semakin condong ke salah satu pundaknya. Semakin cepat putaran, rok-rok putih yang mereka kenakan semakin mengembang sempurna laksana payung yang terbuka. Orang-orang itu semakin larut. Suasana magis seolah tercipta.

Gendang belum berhenti bertabuh, ney masih mengalun syahdu. Tanpa isyarat dari sang pemimpin ritual untuk berhenti, mereka akan terus melambung dalam keadaan ekstase.

******* 

sema4.jpgItulah samâ’, tarian sakral yang pertama kali diajarkan oleh Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273), sang penyair-sufi agung asal Persia. Samâ’ merupakan sebuah ritual yang menjadi ciri khas tarekat (tharîqat) Maulawiyah.

Tarian mistis penuh simbolisme ini pertama kali menginspirasi Rumi setelah kehilangan guru spiritual yang sangat dicintainya, Syamsuddin Tabrizi. Ia adalah seorang darwis misterius yang bagaikan magnet mampu menyedot seluruh perhatian Rumi, hingga orientasi spiritual Rumi berubah secara dramatis, dari seorang teolog dialektis menjadi seorang penyair-sufi. Kemisteriusan Syams membuat putera Rumi menyepadankannya dengan Khidr.

Dikisahkan di suatu pagi, seorang pandai besi yang juga darwis bernama Shalahuddin Faridun Zarkub menempa besinya. Pukulan itu kontan membuat Rumi menari hingga mencapai keadaan ekstase. Lalu secara spontan dari mulut Rumi mengalir ujaran-ujaran mistis. Selanjutnya, Shalahuddin dijadikan Rumi sebagai khalifah (wakil) untuk menggantikan posisi Syams, tempat ia mencurahkan gagasan dan perasaannya. Setelah melembaga, tarian ini sering dilakukan Rumi selepas shalat Isya di jalanan kota Konya, diikuti para darwis lainnya. Acara terakhir biasanya ditutup dengan pembacaan ayat suci Al-Quran.

Bagi Rumi menari adalah cinta. Dan Rumi tak berhenti menari karena ia tak pernah berhenti mencintai Tuhan. Hingga tiba saatnya di suatu senja 17 Desember 1273, ia dipanggil Sang Maha Kuasa dalam keadaan diliputi cinta Ilahi.

Setelah wafatnya Rumi, tarekat Maulawiyah (beserta ritual samâ’-nya) berlanjut terus di bawah pimpinan Syaikh Husamuddin Hasan bin Muhammad, salah seorang sahabat karibnya, yang juga dijadikan Rumi sebagai khalifah setelah kepergian Shalahuddin. Husamuddin adalah orang yang memberinya dorongan dan inspirasi sehingga lahirlah sebuah karya yang menjadi magnum opus Rumi, yakni Matsnâwî. Kitab ini terdiri dari enam jilid dan berisi 25.000 untaian bait bersajak.

“Jika kau menulis sebuah buku seperti Ilahiname milik Sana’i atau Mantiq at-Thayr milik Fariduddin Attar, niscaya akan menarik minat sekumpulan penyanyi keliling. Mereka akan mengisi hatinya dengan apa yang kau tulis dan musik akan digubah untuk mengiringinya”, demikian saran Husamuddin kepada Rumi di sebuah kebun anggur Meram di luar Konya. Bersama Husamuddin lah Matsnâwî tercipta. Sehingga karya monumental ini dikenal pula dengan sebutan Kitab-i Husam (Bukunya Husam).

Saking terpesona dengan kandungannya, seorang orientalis Inggris bernama R.A Nicholson –yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengkaji karya Rumi– mengatakan, Matsnâwî adalah sungai besar yang tenang dan dalam, mengalir melalui banyak dataran yang kaya dan beragam menuju samudera tak bertepi. Matsnâwî di mata para pengikut Rumi dianggap sebagai uraian makna batin Al-Quran. Sementara Abdurahman Jami –penyair asal Persia– menyebutnya “Al-Quran dalam bahasa Persia.”

Dan bab ke tiga Matsnâwî berisi tentang kefanaan dalam samâ’. “Tatkala gendang ditabuh, serta merta sebuah rasa ekstase merasuk laksana buih yang meleleh dari debur sang ombak.”, begitu senandung Rumi.

Setelah Husamuddin wafat, tarekat Maulawiyah berlanjut di bawah kepemimpinan putera tertua Rumi, Sultan Walad. Di tangan puteranyalah tarekat ini terorganisir dengan baik, hingga ajaran ayahnya tersebut menyebar ke seluruh penjuru negeri.

Konsep Spiritual dalam Samâ

Samâ’ bukan sembarang tarian, melainkan ada konsep spiritual di dalamnya. Samâ’ bisa dikatakan sebagai sebuah metode intuitif untuk membimbing setiap individu untuk membuka jalan jiwanya menuju Tuhan. Ketika akal pikiran tak sanggup lagi menjangkau Tuhan, maka metode semacam ini ditempuh. Lewat samâ’, para darwis melakukan perjalanan mistis spiritual menuju kesempurnaan, untuk meleburkan jiwanya dengan Tuhan. Dengan membuang segala ego, menghampiri kebenaran hingga tiba di gerbang kesempurnaan. Setelahnya, mereka kembali lagi sebagai seorang dengan tingkat kesempurnaan yang meningkat, sehingga mampu menebar cinta kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan tanpa membedakan keyakinan atau ras.

Dalam bukunya yang berjudul Sufism: A Short Introduction, William C. Chittick mengatakan bahwa tujuan samâ’ adalah memperkuat zikir kepada Allah seraya mengobarkan api yang membakar habis segala sesuatu kecuali Dia. Bagi penari samâ’, musik adalah bahasa rahasia, tanda-tanda Tuhan yang bersinar dan dapat didengar. Ketika mendengar bahasa rahasia tersebut, jiwa manusia mengingat tempat kediaman asalnya, yakni hari alastu, ketika Tuhan mengadakan perjanjian dengan Adam dan keturunannya, dengan mengatakan, “Alastu bi rabbikum?”. “Bukankah Aku Tuhanmu?”, yang dijawab oleh mereka dengan: “Ya! kami bersaksi.” (QS. 7:172).

Setidaknya ada tiga unsur penting yang menjadi karakteristik samâ’: pikiran, hati (lewat ekspresi perasaan, puisi dan musik), dan tubuh (dengan menggerakan kehidupan lewat putaran).

Simbolisme dalam Samâ

Terdapat rahasia tersembunyi dalam samâ’. Musik dan tari, masing-masing menyimpan muatan spiritual. Musik yang mengiringi merupakan media untuk membangkitkan gairah kalbu untuk mengingat Tuhan, yang bisa mengantarkan manusia ke alam yang tidak dapat dilihat, kepada asal mereka sendiri dalam ‘ketiadaan’.

Dari sudut pandang sains, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini dibangun dari kumpulan partikel atom. Di dalam atom terdapat elektron yang berputar mengitari intinya. Jika kita kaitkan, sesungguhnya seluruh benda di alam semesta ini dalam keadaan berputar. Hakikatnya manusia berputar karena ada atom di tubuhnya yang berputar menggerakkan sel sehingga darah dapat beredar. Kehidupan manusia pun berputar melewati beberapa fase. Dari tanah berputar melewati berbagai fase hidup, akhirnya kembali lagi menuju tanah. Demikian juga planet-planet berputar mengitari matahari.

Dalam samâ’, putaran tubuh mengibaratkan elektron yang bertawaf mengelilingi intinya menuju sang Maha Kuasa. Harmonisasi perputaran di alam semesta, dari sel terkecil hingga ke sistem solar, dimaknai sebagai keberadaan Sang Pencipta. Pikirkan ciptaan-Nya, bersyukur dan berdoalah. “Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS. 64:1.

Karena itulah Rumi menyebut samâ’ sebagai simbolisme kosmos, sebuah misteri yang sedang menari. Putaran tubuh adalah tiruan alam raya, seperti planet-planet yang berputar. Posisi tangan yang membentang secara simbolik menunjukkan bahwa hidayah Allah diterima oleh telapak tangan kanan yang terbuka ke atas, lalu disebarkan ke seluruh makhluk oleh tangan kiri. Ini merepresentasikan sebuah penyerahan dan penyatuan dengan Tuhan.

Atribut yang dikenakan juga merupakan metafora yang menyimpan makna. Topi Maulawi –yang biasanya berwarna merah atau abu-abu– melambangkan batu nisan ego, jubah hitam sebagai simbol alam kubur yang ketika dilepaskan melambangkan kelahiran kembali menuju kebenaran, baju putih adalah kain kafan yang membungkus ego, dan ney melambangkan jiwa yang dinafikan dari diri, digantikan dengan Jiwa Ilahi. Seruling buluh ini juga melambangkan terompet yang ditiupkan malaikat di hari kebangkitan untuk menghidupkan kembali orang yang mati. Karpet merah yang biasa diduduki oleh sang syaikh melambangkan keindahan matahari dan langit senja, yang waktu itu menghiasi kepergian Rumi untuk selamanya.

Dengan berputarnya tubuh yang berlawanan dengan arah jarum jam, para penari merangkul kemanusiaan dengan cinta. Manusia diciptakan dengan cinta untuk mencinta. “Semua cinta adalah jembatan menuju Cinta. Siapa saja yang tak merasakannya tak akan tahu,” demikian kata Rumi.

Seperti gelombang di atas putaran kepalaku,
maka dalam tarian suci Kau dan aku pun berputar
Menarilah, Oh Pujaan Hati,
jadilah lingkaran putaran
Terbakarlah dalam nyala api-bukan dalam nyala lilin-Nya

Sekian abad lamanya pertunjukan samâ’ menarik perhatian para pengembara spiritual, hingga lahir catatan-catatan penting tentangnya. Dalam bukunya yang berjudul Islamic Art and Spirituality, Seyyed Hossein Nasr mengatakan bahwa samâ’ diawali dengan nostalgia tentang Tuhan, berlanjut dengan keterbukaan sedikit demi sedikit terhadap limpahan karunia dari surga, setelah itu mengalami keadaan ekstase (fana’), lebur bersama al-Haq.

Tarekat Maulawiyah di Barat lebih dikenal dengan sebutan ‘The Whirling Dervishes’ (darwis-darwis yang berputar), mengambil nama dari ciri utama tarekat ini. Selain di Eropa, kini tarekat Maulawiyah sudah merambat ke dataran Amerika hingga ke benua Asia.

Menyebarnya tarekat ini berarti pula menyebarnya agama Islam. Sebuah syiar yang ditempuh melalui jalur esoteris secara santun.

Perlu disampaikan, bahwa tulisan ini tidak bermaksud mengajak pembaca untuk menari di hadapan Tuhan, apalagi menganggapnya sebagai ritual yang sejajar dengan shalat, puasa, haji, dan sebagainya. Sekadar untuk memperkenalkan khazanah keislaman yang dibawa oleh seorang Jalaluddin Rumi, yang masyhur bukan saja di Timur, tapi juga di Barat.

Terlepas dari keberatan sebagian ulama fikih yang memandang musik dan tarian sebagai sesuatu yang diharamkan secara syariat, jalan spiritual melalui tasawuf –yang notabene sering menggunakan musik dan tarian sebagai media– telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi peradaban Islam. Terlebih, dalam prakteknya tasawuf mampu memainkan peranan sebagai obat bagi penyakit spiritual yang dilanda manusia modern yang semakin teralienasi dari poros eksistensi.

Setelah ambruknya dinasti Ottoman (Utsmaniyah) serta berkuasanya presiden Republik Turki Kemal Attaturk, ruang gerak semua tarekat di Turki dibatasi. Hingga pada tahun 1925, tarekat Maulawiyah dibubarkan di tanah kelahirannya sendiri. Tahun 1927, pusat tarekat Rumi di Konya hanya dijadikan museum. Untunglah pada tahun 1953, pemerintah Turki memperbolehkan samâ’ dipertontonkan, meskipun disyaratkan hanya bersifat tontonan saja untuk kalangan wisatawan. Para darwis pun mulai diijinkan untuk berkelana keliling dunia mempertontonkan samâ’, kendatipun aspek sufisme masih menjadi ‘barang haram’ di Turki. Di auditorium umum di belahan Eropa dan Amerika, tontonan ini cukup menyedot perhatian publik.

Hingga kini makam Rumi di Konya dikelola oleh pemerintah Turki sebagai obyek wisata. Setiap tahunnya, terutama antara tanggal 2-17 Desember, ribuan peziarah dari delapan penjuru mata angin berkunjung, menyaksikan para pengikut Maulawi berputar untuk memperingati “malam penyatuan”, malam di mana sang guru tercinta wafat.

rumi5.jpgMausoleum Konya menyimpan kenangan. Saksi bisu sejarah tatkala ujaran sang penyair agung mengisi lembar peradaban luhur Islam melalui karya estetisnya, menjadi sumber inspirasi yang membakar jiwa para pecinta di segenap penjuru dunia.

Akhirnya kita saksikan sang pemimpin mulai berdiri. Tabuhan gendang terdengar dipercepat, seiring itu putaran tubuh pun semakin kencang. Kemudian syaikh itu memberikan isyarat untuk berhenti. Seketika itu musik dan para penari pun berhenti. Dan pertunjukan pun berakhir. Tanpa tepuk tangan, karena samâ’ bukanlah sebuah pagelaran seni.[dari berbagai sumber]

Categories: Agama, Mysticism
  1. Quito
    May 28, 2007 at 7:57 am

    Wah, tulisannya bagus, Mas. Kalo begini justru saya yg mesti belajar ke Mas Irfan nih…
    Salam, Mas! Semoga sukses n tambah maju ya!
    Ito
    ————————————-
    Irfan:
    Ah, Mas Ito bisa aja…Terima kasih Mas atas support-nya. Senang sekali bisa mengenal Antum.

  2. May 28, 2007 at 4:09 pm

    salam
    kang tulisannya memang sangat bagus. kang irfan ternyata mendalami juga irfan ( terutama Rummi ).
    saya pernah baca2 tentang sama’ akan tetapi tidak begitu mendalam. dengan membaca tulisan antum saya jadi tertarik lagi pingin membacanya. hatur nuhun kang. semoga terus berkarya ( siap baca nih )
    ——————————–
    Irfan:
    Waduh Kang, nama boleh Irfan, tapi untuk mendalami ‘irfan rasanya saya perlu mengatasi dulu banyak keterbatasan ‘kecerdasan diri’ …:)
    Hatur nuhun Kang atas apresiasinya.

  3. May 28, 2007 at 4:10 pm

    membacanya lagi (ralat)

  4. August 11, 2007 at 7:20 am

    Assalamualaikum
    Kebetulan saya sedang mempelajari mengenai ekspresi ekstase. tentunya berkaitan dengan Rumi, Iqbal dkk. terima kasih atas tulisannya. maaf kalau nantinya saya mungkin akan mengutip. saya minta izin. lain kali mungkin saya akan tanya-tanya lagi.
    Wasalam.
    ———————————————————
    IP:
    Wa’alaikum salam.
    Silakan saja Mbak.

  5. December 27, 2007 at 7:04 am

    salam…
    Saya juga sedang tertarik dengan sama’, terutama dengan ney…seruling yang biasa mengiringinya itu. Mas/abang/kang Irfan mungkin punya info lebih banyak tentang ney…mari kita berbagi…

  6. January 10, 2008 at 11:26 am

    Salam kenal. Insya Allah kalau ada waktu saya akan mengangkatnya dalam sebuah tulisan lain di blog ini.

  7. Rusmana Nugraha
    January 31, 2009 at 11:38 pm

    Terima kasih atas tulisannya, semoga akan lahir tulisan lain yang bermanfaat. Kalau boleh tahu alamat tarekat ini di Jakarta di mana ya? Terima kasih

  8. ardiasyah
    May 3, 2009 at 9:10 am

    salam sejahtera,..begitu banyak kuasa ilahi yang dapat kita dapati dalam kehidupan ini.salah satunya seorang wali allah.tulisan ini mengerakan hati banyak orang u bisa mengenal rasa cinta,mahabbah. salut u penulis u selalu berbagi….

    ilaliqa,

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: