Home > Pojok Celoteh > Mang Pardi, Pocong dan Malaikat

Mang Pardi, Pocong dan Malaikat

Malam itu cukup dingin. Namun agak terhangati oleh sepotong pengalaman hidup Mang Pardi. Apalagi kopi hitam kental panas nan legit yang asapnya mengepul dan wangi itu setia memanjakan.

Mang Pardi adalah seorang tukang bangunan bersahaja yang sedikit bicara banyak kerja. Satu kebiasaannya yang sukar dicegah adalah ketika ada pekerjaan tanggung yang ingin diselesaikan, ia kerap kali menambah jam kerja sampai gelap menjelang. Walau berusaha keras dicegah, tetap saja tak bergeming. Agak keras kepala juga.

Kebiasaan lainnya, setiap kali suara adzan berkumandang, adukan pasir dan semen akan ditinggalkannya sementara. Setelah mencuci tangan dan kaki, kacamata tebalnya dilepas, lalu pergi berwudhu. Segera ia berganti pakaian bersih dan mengenakan sarungnya untuk memenuhi panggilan itu.

Nah, malam itu ia menceritakan beberapa pengalaman mistisnya, termasuk ‘mistis’ yang sudah terlanjur dimaknai sebagai sesuatu yang berhubungan dengan dedemit, pocong, kuntilanak, genderuwo dan sebangsa jurig lainnya.

Dulu, ketika berjualan sekoteng keliling di malam hari, ia pernah berpapasan dengan sebentuk pocong, berdiri tegak sambil menatap ke arahnya dalam jarak pandang yang tidak terlalu jauh. Kalau saja tak ingat roda dagangannya, ia sudah ngacir tunggang langgang. Tapi yang ia lakukan hanya berjalan menunduk, mendorong rodanya sambil mulut komat-kamit baca doa, tentu saja dengan vibrasi yang tiba-tiba bergetar rapat. “Masih mending Mang, kalau saya mungkin malah gak bisa lari saking bergetarnya lutut. Pastilah celana saya tiba-tiba jibrug,” Saya menimpali.

Saya tidak tahu persis apakah itu pocong betulan atau sekadar ilusi. Namun Mang Pardi yang polos meyakini bahwa itu sesosok pocong.

Ada satu lagi cerita Mang Pardi. Saya tidak tahu, apakah pembaca budiman akan terkesan juga atau tidak, karena ini memang peristiwa biasa yang biasa kita temui dan biasa terjadi di sekitar kita, namun seringkali kita tidak menyadarinya.

Ilmu kemelaratan beserta cabang-cabangnya mungkin sudah dikuasai dengan baik oleh Mang Pardi, sudah default. Tapi sekalipun tak pernah terdengar ia mengeluh. Tapi kali itu ia betul-betul terdesak oleh kebutuhan hidup, yang jika dikalkulasikan jumlahnya sekitar 40 ribu rupiah. Tak seberapa memang. Namun bagi Mang Pardi yang waktu itu profesinya berjualan mainan anak di kaki lima, hari itu sungguh menggelisahkan. Esok adalah tenggat waktu untuk mendapatkan uang itu. Jika tidak, celaka dua belas. Begitu ia menggambarkan, tanpa memberi penjelasan lebih terperinci.

Lantas seperti biasanya, pagi-pagi ia sudah menggelar dagangannya. Lewat tengah hari, masih juga sepi pembeli. Sore hari, juga sepi. Ia hitung-hitung hasil penjualan, kok tidak mencapai target. Walhasil, pasrah menjadi pilihan terakhir, lazimnya tindakan manusia yang berikhtiar.

Menjelang maghrib, tiba-tiba seorang laki-laki setengah baya menghampirinya. Tanpa memperkenalkan identitasnya terlebih dulu, ia berkata, “Mang, ini saya titip uang 40 ribu, kapan-kapan diambil.” Mang Pardi kebingungan, tidak tahu mau berkata apa. Baru saja kata-kata akan meluncur dari mulutnya, tiba-tiba saja lelaki itu menghilang dari pandangan.

Mang Pardi melongo, “Ya Allah! 40 ribu?” Harap-harap cemas Mang Pardi menunggu hingga malam tiba, sang lelaki belum juga muncul. Akhirnya ia pulang lalu memutuskan untuk menggunakan uang itu. Esok ia berniat akan meminta maaf sambil menjelaskan duduk perkaranya. Dan berjanji akan segera mengusahakan untuk menggantinya.

Singkat cerita, kebutuhannya yang sejumlah 40 ribu itu terpenuhi. Dan seperti biasa ia menggelar lagi dagangannya, sambil menanti kedatangan sang lelaki tadi. Waktu bergulir berganti tahun. Tak pernah lagi dilihatnya laki-laki misterius itu. Padahal setiap harinya ia siapkan uang sejumlah itu untuk dikembalikan. Kini Mang Pardi sudah berganti jabatan lagi, sebagai tukang bangunan. Namun peristiwa sore itu tak pernah dilupakannya.

“Kira-kira siapa ya A laki-laki itu?” Tanya Mang Pardi memecah kebengongan saya.

“Eeeu… mungkin itu Malaikat Mikail Mang. Ia mengatakan menitip uang, hakikatnya uang yang saya dan Mang Pardi peroleh cuma titipan kan? Ia mengatakan kapan-kapan diambil. Tuhan memang akan mengambil apa yang dimiliki-Nya kapan saja Dia mau. Bukan begitu Mang?” Saya yakin Mang Pardi tidak terlalu polos untuk memahami omongan saya.

Allah, ya Allah…Seperti Mang Pardi, sesungguhnya kita pun acap kali didatangi sang pengantar rezeki-Nya. Terkadang itu delivery order yang memang kita minta, tapi seringnya malah tanpa diminta. Begitulah Sang Maha Kaya dan Pemurah.

Utusan itu bisa jadi malaikat langsung yang selalu siaga di setiap hela nafas kehidupan kita. Entah itu termanifestasi dalam diri bos-bos kita di kantor, orang tua kita, sanak famili, teman, atau apa saja, termasuk ayam, kambing, atau hasil panen Anda.

Termasuk juga peristiwa beberapa waktu lalu. Tanpa saya email, tanpa saya telpon atau SMS, tiba-tiba seorang sahabat mendatangi saya untuk memberi pinjaman lunak, yang kata dia boleh dibayar atau tidak. Katanya, bisikan gaib mengabarkan ‘kesulitan’ saya waktu itu. Tapi itu beberapa minggu lalu, sekarang Tuhan kembali menakdirkan saya kaya raya.

Ketika kebutuhan mendesak, asalkan kita mau berikhtiar, maka malaikat akan tetap siaga melaksanakan perintah atasannya.

Namun sayangnya, kita jarang menyadarinya. Kita terlalu hanyut dengan keinginan-keinginan yang belum kesampaian. Kita terlena dalam mimpi panjang yang tak kunjung usai. Kita gemar memanjangkan angan-angan. Dan malangnya, tak jarang kita lupa dengan apa yang sudah kita terima. Kalau sudah begitu, nanti yang mengetuk pintu bukan malaikat lho, malahan kerabat jurig semacam pocong yang menemani tidur-tidur malam kita.[]

Categories: Pojok Celoteh
  1. badruzaman
    June 16, 2007 at 8:36 pm

    Beda antara bersekolah dan belajar. yang pertama formal sedang yang kedua bisa dilakukan scr non-formal. di sekolah agama seorang murid menghafal dalil ttg pentingnya sabar, ikhtiar, doa dan tawakkal. di luar sekolah belum tentu ia seorang penyabar yg rajin ikhtiar, fasih berdoa disertai tawakkal. alih-alih demkian, ia seorang pemalas, jarang berdoa, dan lebih sering menggerutu.
    sosok mang pardi mungkin hanya mengenyam bangku SR. tapi ia tdk pernah henti belajar; belajar dari alam, lingkungan dan pengalaman. mang pardi mungkin tdk tahu surat apa dan ayat berapa dalil ttg keharusan bekerja berwawasan etos kerja. tapi ia sadar betul bahwa sbg seorang pekerja kasar, yg dituntut darinya adl kerja yang baik nan apik. cukuplah “kasar” sbg predikat bagi dirinya sbg “pekerja.” sdgkan hasil kerjanya mestilah apik.
    mang pardi mungkin juga tdk tahu bhw salah satu ideal moral ayat “fa idza faragta fanshab, wa ila rabbka farghab” adl etos kerja berbasis nilai-nilai spritual. tapi mang pardi sadar, pekerjaan kasar yg digelutinya tdk boleh dilakukan sambil mengorbankan kewajiban agama spt salat. “peupeuriheun infak, zakat dan sedekah teu mampu, cing atuh solat-solat wae mah jangan sampe tinggaleun,” kira-kira demikian prinsip hidup yg dipedomani mamang kita yg sederhana itu.
    mang pardi mungkin tdk spt santri yg sudah mondok belasan tahun yg dengan lancar membedakan ant “tawakkal” dan “tawaakul.” yg pertama mengandung makna bekerja sambil berserah, sdg yang kedua hanya berserah saja. ia hanya tahu bhw bekerja tanpa berserah adl kepongahan, sedang beserah tanpa bekerja adl kemalasan. meski ia tdk hafal teks agama (qur’an dan hadis) yg mencela kepongahan dan kemalasan, tapi ia tahu kepongahan dan kemalasan itu tercela.
    sakitu komen ti akang. kumaha tah Cep Irfan, satuju teu?
    ———————————————————–

    Tepat sekali Kang Badru!

  2. June 20, 2007 at 6:31 am

    Fan, bersyukur dapat mendengarkan pengalaman mang pardi yg bijaksana menyikapi hidup dan memaknai hidup dengan berpikir sederhana, mungkin InsyaAllah akan membukakan pintu hati kecil kita untuk selalu terus bersyukur
    ————————————————-

    Insya Allah Bu. Dan sebetulnya masih banyak sisi keunikan lain dari Mang Pardi yang tidak saya ungkapkan di sini.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: