Home > Budaya, Pojok Celoteh > Malam Budaya Paramadina

Malam Budaya Paramadina

(Reportase Suka-suka)

Jumat malam, 15 Juni 2007, Universitas Paramadina merayakan ulang tahunnya yang ke-20. Perayaan tersebut disemarakkan dengan sebuah malam kebudayaan yang bertajuk “Refleksi 20 Tahun Paramadina, Revolusi Akal Sehat Merawat Kewarasan Ruang Publik.”

‘Serem’ juga ya judulnya. Pasti isinya memberatkan kepala. Apa yang akan direfleksikan? Revolusi yang mana? Akal sehat yang seperti apa? Lalu bagaimana cara merawat kewarasan ruang publik? Kira-kira pertanyaan itulah yang hinggap di benak ketika membaca undangan “tak resmi” yang mampir di layar monitor.

Tapi sederet pertanyaan di atas menjadi tidak penting setelah mengetahui para tokoh yang bakal tampil. Diantara yang akan hadir adalah budayawan kondang Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) beserta grup musik KiaiKanjeng-nya. Juga akan tampil sastrawan-sufistik favorit saya, Abdul Hadi W.M.

Pastinya pitutur sang Kyai Mbeling ini bukan sembarang mbacot. Tokoh kita yang satu ini piawai betul dalam memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, serta pengupayaan solusi terhadap masalah yang dihadapi masyarakat kelas bawah. Celotehan segarnya tak sabar saya nanti. Tak sabar juga untuk menyimak puisi mistik Pak Abdul Hadi. Selebihnya ¬–termasuk pemandangan isi kampus yang ehm– cuma bonus saja (huss!).

Baiklah, sekarang saya antar Anda menuju sebuah pelataran bernama Taman Peradaban. Sesuai namanya, semestinya etika pergaulan antar lawan jenis serta cara berpakaian para penghuni taman itu mencerminkan keteduhan sebuah taman adab, tapi ini….ya sudahlah.

Masih sepi, namun kami sudah dipersilakan masuk. Setelah disambut ramah para resepsionis, kami berjalan di atas karpet merah. Nyala lilin di sepanjang koridor mengantarkan kami memasuki ruangan terbuka yang dinaungi tenda putih. Kemudian para tamu dipersilakan membasuh tangan, muka dan kaki (ada apa ini, shalat berjamaah dulu ya?). Setelah itu kami diberi spidol untuk membubuhkan sepatah dua patah kata di atas kanvas putih yang telah disediakan. Lalu dipersilakan untuk duduk lesehan di barisan depan yang masih kosong. Simkuring yang urang dusun ini sempat celingak-celinguk juga diperlakukan ramah begini. Maklum, sudah terbiasa jadi ‘penyelinap’ yang diperlakukan tak ramah. Wah, jangan-jangan salah masuk nih.

Di panggung tampak seperangkat alat musik beserta sound systemnya sudah diatur sedemikian rupa. Cahaya remang-remang yang menghiasi taman menambah daya tarik penataan yang sangat artistik ini. Two thumbs up buat kreativitas anak-anak muda ini.

Tanpa menunggu terlalu lama, sekitar jam 20.00 WIB gebrakan rancak memikat KiaiKanjeng membuka acara. Harmonisasi bunyi-bunyian etnis gamelan dan seperangkat alat musik modern melebur dalam sebuah komposisi apik. Musikalitasnya yang jelas bukan selera rendahan itu serta merta menyihir penonton yang hadir malam itu. Dari wajah-wajah itu tampak sederet nama yang cukup populer. Ada pelatih vokal ngetop Bertha, ada Mbah Surip yang nyentrik, dan di sebelah kiri tampak sang gitaris kalem Totok Tewel duduk di atas kursi. Sang komandan Cak Nun beserta istrinya Novia Kolopaking belum terlihat.

Anda tahu KiaiKanjeng? Kalau baru sekadar dengar namanya saja atau malah tidak tahu sama sekali, saya maklumi. Memang para produser musik tanah air rupanya lebih bergairah mengorbitkan lagu macam Si Jablai, Si Kucing Garong atau aksi si tukang ngebor dengan lirik lagu dan goyangan yang….uhhh. Tak heran jika saraf-saraf artistik dan kreatif masyarakat lebih sensitif terhadap jenis musik seperti ini.

KiaiKanjeng adalah kelompok musik yang dipimpin oleh Emha Ainun Nadjib. Konsep musiknya memadukan unsur etnis gamelan, perkusi serta instrumen modern dengan syair-syair religius. Kiprahnya di dunia musik kini sudah melintas lima benua. Berbagai penghargaan internasional pernah diterimanya. Sayangnya, di dalam negeri kurang mendapat perhatian, padahal di luar namanya cukup mengharumkan bangsa.

Dalam sebuah tulisannya Emha pernah bertutur bahwa ‘matinya’ kreativitas kita dimungkinkan karena kita terletak marginal dari pusat-pusat komoditi kebudayaan, termasuk musik. Jadi sebagus-bagus KiaiKanjeng bikin musik, tak akan laku jualan di sini ya Cak?

Yang tak kalah menarik bagi saya adalah kehadiran Totok Tewel. Kalau Anda seuumuran saya atau cuma terpaut beberapa tahun, dan di masa muda pernah tenggelam dalam hingar-bingar musik rock, kelewatan kalau tidak kenal gitaris yang satu ini. Dialah mantan gitaris Elpamas, grup musik asal Malang yang pernah memenangkan festival musik rock Indonesia di tahun 80-an. Totok Tewel sendiri berhasil meraih penghargaan sebagai gitaris terbaik saat itu.

Nah, sekarang Anda ingat permainan Totok Tewel? Gandakan 3-5 kali lipat, itulah kepiawaiannya saat ini. Dan malam itu kita saksikan aksi jemarinya lincah menari di atas fret gitar elektrik mengiringi KiaiKanjeng yang tampil cukup prima.

Sebelum terlampau larut dalam lahwun wa la’ibun paling pop yang bernama musik ini, saya niatkan hiburan malam itu untuk melonggarkan dan merelaksasikan saraf serta mengkalibrasi ulang telinga yang sudah tak kuasa lagi membendung arus musik mutakhir yang sering bikin weureu alias mabok. Tentunya selain ingin mendengar pitutur dan celetukan satire sang Kyai Mbeling, yang konon katanya pernah hidup menggelandang di Malioboro dan negeri Belanda ini.

Tak berselang lama setelah musik pembuka, Yudi Latif (mantan rektor) dan Anis Basweden (rektor pengganti) memberikan sambutan yang cukup singkat, padat dan berisi. Dalam sambutan tersebut Anis menyampaikan tentang semangat optimisme dalam menatap masa depan bangsa. “Paramadina harus terus mempertahankan diri sebagai ruang publik dan rumah bagi semua golongan dan kelompok, serta tempat disemaikannya harapan Indonesia yang lebih baik”, ujarnya.

Selanjutnya giliran Cak Nun memandu acara. Wejangan-wejangannya dilontarkan dalam gaya bahasa yang segar namun memiliki kedalaman. Cukup menarik dan mengundang tawa.

Obrolan ‘ringan’ itu diselingi untaian nada demi nada, serta ditingkahi gesekan biola nan anggun dari Idris Sardi yang dipadu dengan bebunyian etnis gamelan dan perkusi. Selain sebagai pemandu acara, Cak Nun juga turut menyumbangkan beberapa buah lagu.

Diantara lagu-lagu yang disuguhkan, ada sebuah lagu dari penyanyi terkenal Mesir, Ummi Kultsum, yang namanya sering disebut-sebut Cak Nun dalam beberapa tulisannya. Juga sebuah tembang indah asal Libanon –yang pernah dibawakan oleh biduan kristen Libanon– dilantunkan Novia Kolopaking malam itu. Selebihnya, diisi lagu-lagu berbahasa Arab, daerah, maupun Indonesia, yang rata-rata liriknya mengandung pesan religius.

Tak mau kalah, Mbah Surip menyumbangkan beberapa buah lagu. Kemudian di tengah acara tiba-tiba muncul Sudjiwo Tedjo, yang berhasil ditarik ke atas panggung dan didaulat unjuk kebolehannya malam itu. Aksinya mengundang tawa penonton.

Kemudian acara dilanjutkan dengan diskusi santai yang dipandu Cak Nun yang malam itu terlihat cukup antusias. Tampil sebagai pembicara beberapa orang dari kalangan rektorat dan mahasiswa. Omi Komariah Madjid, istri alm. Cak Nur (Nurcholish Madjid) juga hadir.

Diskusi tersebut mengangkat tema seputar arah dan tujuan Universitas Paramadina di masa yang akan datang. Para pembicara duduk lesehan di atas panggung. Bergantian mereka mengutarakan pandangannya. Topik yang diperbincangkan cukup beragam, mulai dari tema yang senada dengan tajuk acara sampai ke pembicaraan tentang ketidakberesan pendistribusian minyak goreng –yang cukup menarik kalau saja si pembicara tidak terlalu lama bicara. Dalam kesempatan ini Cak Nun mengajak kita untuk merenungkan nasib bangsa ini, dan berharap agar Paramadina dapat berperan aktif dalam proses pembangunan bangsa di masa depan.

Yang tak kalah menarik adalah ketika mereka saling melempar anekdot. Dan bukan Kyai Mbeling namanya kalau tidak bisa mengimbangi guyonan yang dilontarkan beberapa pembicara. Pun Sudjiwo Tedjo dan Bertha tak mau ketinggalan. Suasana betul-betul hidup dari awal sampai akhir. Rasanya saya ingat, dalam selorohnya Cak Nun pernah “menantang” siapa saja untuk tanding anekdot, baik yang berasal dari lokal maupun mancanegara. Dan malam itu ia membuktikan kepiawaiannya.

Memang, untuk memahami masyarakat Indonesia yang serba plural ini, pendekatan sosio-kultur tidak kalah pentingnya. Termasuk juga dalam memahami seni dan folklore yang menjadi ciri khas suatu daerah. Di sinilah Cak Nun punya otoritas dalam kapasitasnya sebagai seorang budayawan.

Seni memang memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang tidak menghargai seni pastilah dihuni oleh jiwa-jiwa yang kering akan nilai estetika.

Sekarang saya mau omong ngawur.

Kemampuan mengapresiasi seni penting juga dimiliki oleh seorang pemimpin. Makanya, hati-hatilah memilih Presiden. Sebagai pengamat dan penikmat seni, saya mengidamkan seorang Presiden yang mempunyai cita rasa seni tinggi. Termasuk seni mendengarkan suara rakyat.

Menurut saya, seorang capres gagah berwibawa yang mampu berkaraoke ria dengan lagu yang tengah populer di tengah rakyat, bukan jaminan ia bisa memahami rakyat. Apalagi kalau ditemani partner yang terlalu obral komentar. (Tapi ngambek ketika dikomentari rakyat).

Rasanya sudah terlalu lama kita bermimpi untuk memiliki seorang Presiden yang bisa memfungsikan mata dan telinga lahiriahnya sebagai media transformasi yang mampu menyerap dengan baik informasi dari atas dan bawah, yakni dari Tuhan dan rakyat. Kemudian mata dan telinga batinnya digunakan sebagai perangkat analisa untuk mengolah informasi tersebut. Lantas hasilnya mewujud dalam tindakan yang bersumber kepada nalar lurus.

Maka ketika ada seorang Presiden yang penglihatan lahiriahnya terganggu, bukan masalah selama ia bisa melihat dengan mata batinnya. Tapi repotnya kalau telinganya yang normal tidak dipakainya untuk mendengar.

Meminjam bahasa Cak Nun malam itu, seorang pemimpin seyogyanya bisa meleburkan Tuhan dan rakyat dalam dirinya, seraya menafikan keakuan dirinya. Ketika menghadap Tuhan, ia membawa kepentingan rakyatnya tanpa menghadirkan dirinya. Dan ketika menghadap rakyat, ia menghadirkan Tuhan tanpa membawa kepentingan dirinya. Inilah sesungguhnya hakikat dari Manunggaling Kawulo Gusti.

Cak, sampeyan sajalah yang jadi Presiden.

Akhirnya, menjelang puncak acara, sang penyair-sufistik Abdul Hadi W. M membacakan dua buah puisi pembasuh kalbu. Dilanjutkan aksi jam session dan medley beberapa buah lagu. Acara pun ditutup dengan lantunan shalawat yang mengiringi barisan penonton yang menyalami para ‘penghibur’ itu satu persatu.

Cak, ada posisi kosong untuk pemain gitar tidak? Gini-gini dulu simkuring pernah ngetop juga di kampung, meskipun levelnya 17 Agustusan. Dengan modal 2-3 jurus awak siap mengimbangi sayatan gitar Totok Tewel. Kita guncang lima benua. Kita ajari para produser musik di tanah air tentang musik nyeni yang berkualitas tinggi. Kita cekoki kuping masyarakat republik ini dengan lagu bernafas spiritual yang jauh lebih sehat dan beradab. Kemudian mari kita benamkan lagu-lagu rongsokan dengan lirik dan goyangan seronok itu. (Ahh, Irfan ini tukang mimpi).[]

Categories: Budaya, Pojok Celoteh
  1. Riki Rahadian
    June 20, 2007 at 4:33 am

    Sebuah reportase berdasarkan akal sehat dan nalar religius, dalam menciptakan komposisi peradaban yang harmonis di republik ini.

  2. Quito
    June 22, 2007 at 3:38 am

    Wah, kebetulan sekali belakangan ini saya lagi demen2nya dengerin musik & lagu2nya Cak Nun 3 seri “Kyai Kanjeng”…tapi sayang saya gak diundang jadi gak bisa liat Cak NUn..he..3x. Salam.
    ——————————-

    Waah asyik….bisa pinjam CD nya nih,hehe

  3. April 21, 2009 at 11:42 am

    TOP SEKALI TULISANYA….AMPEK TERPANA

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: