Home > Pojok Celoteh > Babi Panggang Itu…

Babi Panggang Itu…

Ah…akhirnya tiba juga waktu makan siang. Meeting sejak pukul 7.30 pagi tadi betul-betul bikin ngantuk dan lelah. Kalau disuruh memilih, saya lebih suka langsung bekerja di depan komputer ketimbang berlama-lama menyimak orang-orang mendiskusikan pekerjaan. Tapi meeting yang bertempat di sebuah boardroom hotel itu bersifat mandatory sehingga saya tidak punya pilihan.

Memilih aneka makanan di restoran hotel sebesar ini bagi saya yang lambungnya masih sekelas karedok leunca ini bikin pusing juga. Maka ketika mata ini tertumpu pada antrian beberapa orang di sebuah stand makanan tradisional, nafsu makan tak terbendung lagi. Satu dua orang telah diservice sang pelayan, kini tibalah giliran saya menanti sang pelayan mengulek bumbu kacang yang segera ditaburi aneka sayuran segar. Hmm…sepiring gado-gado.

Tapi…oh tidak! Saya dibuat terbelalak melihat pemandangan seonggok daging gemuk digantung di sebuah etalase tak jauh dari tempat saya berdiri. Lama saya perhatikan seolah tak percaya dan ingin meyakinkan apakah benar yang sedang saya saksikan ini. Moncongnya itu men…tidak salah lagi…babi panggang…waks! Perut keroncongan ini segera terasa kenyang. Selera makan tergantikan rasa mual, ingin muntah rasanya. Seketika saya menyingkir lalu mencari aneka minuman segar untuk menghilangkan rasa mual.

Seumur-umur baru kali ini melihat seekor babi panggang dalam jarak pandang yang cukup dekat. Mungkin karena sudah jadi mindset sejak kecil bahwa babi adalah binatang yang haram dan menjijikan, saraf-saraf pencernaan kontan kusut.

Sambil menyedot segelas orange juice, pikiran menerawang…meeting melelahkan…hotel brengsek tanpa mushalla…babi panggang…uhh.

Eh, omong-omong tentang babi, apa ya salah babi sehingga dijauhi oleh ratusan juta umat Muslim di seluruh dunia? Kenapa harus babi yang diharamkan, tidak ayam, tidak ikan, tidak sapi. Padahal menurut si Caca teman baik saya yang non muslim, babi paling enak di antara daging-daging yang saya sebutkan di atas.

Memang sudah sering saya dengar orang mengatakan bahwa di dalam tubuh babi terkandung banyak sekali cacing pita yang membahayakan manusia. Karena itulah Tuhan mengharamkannya. Tapi kok si Caca sampai sekarang sehat-sehat saja?

Pendapat lainnya mengatakan bahwa sifat babi yang rakus dan jorok itu bisa menular pada manusia yang memakannya. Wallahu a’lam, saya tidak tahu. Tapi rasanya sukar dipercaya. Buktinya, Caca yang non Muslim itu tidak demikian. Malah saya lebih suka berteman dengannya ketimbang dengan orang Muslim yang angkuh, sombong, dan enggan menolong orang susah.

Babi haram dan tetap haram sampai akhir jaman. Tetapi semua alasan yang dikemukakan di atas itu mengada-ada saja. Bagi saya, tidak perlu cari argumen kenapa Tuhan mengharamkan daging babi, meskipun pasti ada hikmahnya. Yang  jelas, Tuhan ingin menguji kepatuhan hamba-Nya melalui seonggok daging babi, itu saja

Jarum jam menunjukkan pukul 13 lebih. Meeting lagi….[]

Categories: Pojok Celoteh
  1. December 5, 2007 at 2:15 pm

    Wah gan oded dah naek level dari babi ngepet biar dompet ga lepet, sekarang levelnya babi panggang yang bikin tegang. Welcome back…

  2. salmanparisi
    January 9, 2008 at 4:29 am

    Akal Gan Oded ini rupanya lagi nakal. Tuh buktinya pake nanya-nanya alasan babi haram. Tapi emang Gan akal itu nakal, kalo gak dikasih makan suka makan keyakinan he he he. Jadi biar gak makan babi, makan karedok aja lagi he he

  3. January 10, 2008 at 6:03 am

    @salmanparisi
    Terlalu banyak makan karedok jadi lupa dengan makanan hati. Jadi, kapan nih mau ngajak ke pengajian “adem” di Cianjur tea?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: