Home > Agama > Asyura Husaini

Asyura Husaini

Oleh: Jalaluddin Rakhmat

Bersama Husayn, lanjutkan risalah suci para nabi
With Husayn, perpetuate the sacred mission of the prophets
Ma a al- Husayn sayyidis syuhada, waaluu al risalah al zaakiyah lil anbiya

Telah datang pada kalian sang utusan
Paling mulia di antara kalian
Pedih hatinya merasakan yang kalian derita
Sangat ingin ia melihat kalian bahagia
Kepada kaum beriman
Ialah yang paling santun
Dan penuh kasih sayang
Tiadalah Aku utus Engkau Muhammad
Kecuali sebagai kasih bagi seluruh alam semesta

Lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Seorang lelaki kurus, berambut gondrong, bersandal jepit turun dari bukit. Orang-orang berkumpul berdesak-desakan mengelilinginya. Ada di antara mereka yang berusaha menjamahnya. Ia memandang mereka dengan penuh kasih dan bersabda:

Berbahagialah, hai kaum yang miskin, karena kamulah yang empunya kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.
Berbahagialah, hai kamu yang sedang menangis, karena kamu akan tertawa
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
Celakalah kamu yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.
Celakalah kamu yang sekarang tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis

Lelaki kurus itu di panggil para pengikutnya Yesus. Al-Qur’an menyapa dengan mesra:
Itulah Isa putra Maryam, yang menyampaikan perkataan Al-Haq, yang mereka perdebatkan di dalamnya.
Isa berkata: sungguh, aku ini hamba Allah.
Ia memberiku Al kitab dan menjadikanku Nabi
Di manapun aku berada, ia berkati diriku
Ia berpesan untuk melakukan shalat dan mengeluarkan zakat sepanjang hidupku.
Untuk berbakti pada ibuku
Dan tidak Ia jadikan aku orang yang pongah dan berahklak rendah
Salam sejahtera ketika aku lahir
Ketika aku mati
Dan ketika aku dibangkitkan kembali (1)

Isa turun dari bukit untuk memberikan kerajaan Tuhan kepada orang-orang miskin, untuk memuaskan orang-orang yang lapar, dan untukmenghibur orang-orang yang menderita. Sebagaimana Musa yang turun dari bukit Sinai untuk menjatuhkan Fir’aun, ia turun dari bukit untuk meruntuhkan orang-orang pongah dan berakhlak rendah. Ia mengecam orang kaya yang menegakkan kekayaannya di atas kesengsaraan orang banyak. Ia memperingatkan orang orang yang kenyang di tengah-tengah orang yang kelaparan.

Inilah agama yang dibawa Isa as. Ia bukan hanya mengajarkan shalat, tetapi juga berbagi rezeki dengan zakat. Ia bukan hanya mengajak berzikir, ia juga menghibur orang-orang fakir. Karena itu marahlah orang-orang kaya, orang-orang yang kenyang, orang-orang pongah, orang-orang berakhlak rendah. Ia diburu sebagai penjahat, Muridnya berkhianat. Ia dijebloskan ke penjara, dihadapkan ke pengadilan, hanya karena satu kesalahan: ia ingin meruntuhkan kepongahan para tiran, baik tiran politik maupun tiran agama.

Pada hari-hari terakhirnya, sebelum para prajurit penindasan menangkapnya, Isa as menyampaikan kutbah wada’ atau kutbah perpisahan:

Hal ini tidak kukatakan padamu dari semula, karena selama ini aku masih bersama-sama dengan kamu, tetapi sekarang aku akan pergi kepada Dia yang telah mengutus aku, dan tiada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepadaku:  Kemana engkau pergi? Tetapi karena kau mengatakan hal ini kepadamu, sebab itu hatimu berduka cita.

Tetapi apabila Ia datang kepadaku, yaitu Roh Kebenaran, ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari padaKu.

Yesus menjanjikan kedatangan pelanjut perjuangannya. Ia menyebutnya Roh Kebenaran, Penolong, atau Penghibur. Ketika Ia meninggalkan murid-muridnya untuk selama-lamanya, umat manusia menunggu dengan penuh kerinduan kedatangan Roh Kebenaran itu.

Hampir enam abad setelah Isa diangkat Tuhan ke langit, dari bukit-bukit batu yang terjal turun seorang lelaki. Ia berjalan cepat dengan kepala yang selalu terpekur ke bumi. Dari wajahnya tampak cahaya Ilahi yang memancarkan cinta kasih. Kabut duka yang sekali-sekali menutup mukanya terusir mentari ceria begitu ia berjumpa dengan fuqara. Tetapi kelembutan muka yang sama berubah menjadi keras dan tegar ketika berhadapan dengan tokoh-tokoh kepongahan.

Pada suatu pagi, ia turun  dari bukit Abu Gubaisy. Ia bergegas menuju Rumah Tuhan. Ia mengecup batu hitam, yang pernah dikecup kakek-kakeknya, Ibrahim dan Ismail as. Di depan maqam Ibrahim, orang-orang miskin, budak-budak belian, makhluk-makhluk yang dianggap setengah manusia, berdesakan menemuinya. Tidak jauh dari situ, para tiran menonton mereka sambil tertawa terbahak-bahak. Para tiran agama yang melakukan kesalehan dengan ibadat-ibadat yang hirup-pikuk agar tidak lagi mendengar jeritan orang-orang yang kelaparan  di sekitarnya. Para tiran politik yang menjalankan agama dengan melakukan kekerasan pada rakyat yang lemah dan tidak berdaya.

Dengarkan ia menyampaikan firman Tuhan:
Dengan nama Allah yang Mahakasih Mahasayang
Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama?
Itulah dia yang menyia-nyiakan anak yatim,
Dan tidak berusaha memberi makan orang yang miskin
Celakalah (orang-orang kaya) yang salat
Yang melalaikan (makna) shalat (yang sebenarnya)
Yang (salatnya itu hanya untuk) pamer (kesalehan saja)
Dan tidak mau memberikan pertolongan
Dengan nama Allah yang Mahakasih, Mahasayang,
(Hai orang-orang kaya) telah melalaikan kalian kerakusan untuk mengumpulkan kekayaan,
Sampai kalian tiba di pekuburan,
Kallaa, waktu itu kamu akan mendapat pengetahuan,
Kallaa, waktu itu kamu akan mendapat pengetahuan keyakinan
Sungguh kamu akan melihat neraka yang menggelegak panas,
Lalu kamu akan melihatnya dengan mata keyakinan,
Lalu hari itu kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang anugrah Tuhan.
Itulah Sang Pengibur yang telah ditunggu ratusan tahun. Itulah Sang Penolong yang datang setelah penantian yang panjang. Itulah Roh Kebenaran, yang diamanahkan Isa as kepada umat manusia.

Para tiran murka. Kelompok penguasa yang dipimpin oleh Abu Sofyan dari Bani Umayyah berusaha untuk menahan dakwah Rasulullah SAW. Mereka menyebarkan fitnah yang menjatuhkan kemuliaan Nabi. Mereka memboikot keluarga Nabi dan mengasingkannya ke lembah yang gersang. Akhirnya mereka mengusir Nabi ke Madinah.

Setelah berjuang menghadapi lebih dari 80 kali peperangn, orang yang terusir dari kampung halamannya berhasil menaklukkan para penentangnya. Lihat, manusia besar itu berdiri di tengah-tengah lembah Arafah, di kaki jabal rahmah. Pada hari Jum’at, bakda Zhuhur, tahun 10 Hijriah. Ia memandang dengan tatapan mata kasih pada ratusan ribu jemaah hajinya yang pertama. Di hadapanya bersimpuh lautan manusia yang tertunduk khusyu seakan-akan burung bertengger  di atas kepala mereka. Manusia besar ini ingin agar Tuhan menyaksikan keberhasilan missinya. Sebelum sampai ke lembah Arafah, ia sudah kehilangan istri yang dicintainya. Ia sudah kehilangan ayah angkatnya. Ia sudah kehilangan karib kerabatnya, sahabat-sahabatnya dan banyak orang yang mencintainya. Ia telah mengorbankan keringat, air mata dan darah untuk melaksanakan tugas sucinya. Ia memandangi ratusan ribu manusia yang tak bergerak di hadapan kebesarannya. Mungkin air matanya menggelegak di pelupuk matanya.  Dengarkan suaranya yang lembut tetapi lantang bergaung di Arafah:

“Wahai manusia, simak perkataanku. Sungguh aku tidak tahu apakah aku akan berjumpa lagi dengan kalian setelah hari ini selama-lamanya.”

Ia berhenti sebentar. Ia menatap sejauh-jauhnya kepada lautan manusia yang tidak bergeming. Kalimat yang terakhir menyadarkan mereka Sang Junjungan yang sangat mereka cintai itu akan menyampaikan wasiatnya yang terakhir. Mereka tersentak. Mereka mendengar Nabi Saw bertanya:

“Ayyu yawmikum hadza. Hari apakah ini?”
“Yawmul Haram. Hari yang Suci.”
“Ayyu syahrikum hadza. Bulan apakah bulan ini?”
Syahrul haram. Bulan yang Suci!”
“Ayyu baladikum hadza. Negeri apakah negeri ini?”
“Baladul Haram. Negeri yang Suci.”

“Ketahuilah, darah, kehormatan, dan harta semua manusia, suci seperti sucinya hari ini, bulan ini dan negeri ini. Tidak boleh darahnya ditumpahkan. Tidak boleh kehormatannya dijatuhkan. Tidak boleh hartanya dihancurkan.”

Inilah pernyataan hak-hak asasi manusia. Ia ingin agar umatnya melanjutkan missi sucinya: menghentikan semua kezaliman di atas bumi ini, menghentikan pertumpahan darah, penodaan kehormatan dan perampasan kekayaan. Semua manusia, apapun agamanya, apapun status sosial ekonominya, apapun bangsanya, harus dibebaskan dari kezaliman. Inilah missinya. Inilah missi  para Nabi sebelumnya. Inilah juga missi yg ingin diwariskan kepada kaum Muslim sesudahnya:

“Akan kusampaikan kepada kalian siapa yang disebut muslim, mukmin, muhajir dan mujahid. Muslim adalah orang yang tidak mengganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. Mumin adalah orang yang menjaga jiwa dan harta orang lain. Muhajir adalah orang yang menjauhi keburukan akhlak. Mujahid adalah orang yang terus-menerus berjuang melawan hawa nafsunya dalam mentaati Allah.”

Rasul yang mulia sejenak berhenti. Kemudian berkata:

“Wahai manusia, aku sudah tinggalkan kepada kalian, yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya: Kitab Allah dan Keluargaku (Ahli Baitku).”

Kutbah ini tercatat dalam sejarah, sebagai kutbah haji akbar. Ia menyampaikannya pada waktu wuquf di Arafah yang jatuh pada hari Jum’at. Kutbah ini juga disebut sebagai Kutbah wada’, karena disampaikan Nabi pada haji wada’. Dahulu Yesus dalam kotbah perpisahannya menyampaikan kepada umatnya kedatangan Sang Penghibur yang melanjutkan missinya. Kini Muhammad bin Abdullah, dalam kutbah wada’nya memperingatkan umatnya untuk mengikuti Ahlu Bayt yang akan datang untuk melanjutkan missi sucinya.

Kalau Nabi Isa as memberikan kabar gembira tentang Ahmad yang datang sesudahnya, siapakah yang dijanjikan Rasul Allah Saw untuk menjadi pelanjutnya? Ketika pulang dari Haji Wada’, Rasulullah Saw mengumpulkan ribuan sahabatnya di sebuah jalan simpang di tengah padang pasir yang terik. Pelana-pelana unta dan kuda ditumpuk sebagai mimbar. Seperti Kristus dihadapan para sahabatnya, ia memulai kutbahnya sekali lagi dengan ucapan perpisahan: “Sebentar lagi aku dipanggil Tuhan dan aku harus memenuhi panggilan itu. Aku tidak bakal berjumpa lagi dengan kalian setelah tahun ini. Aku tinggalkan bagi kalian dua pusaka yang berat: Al-Qur’an dan Keluargaku (Ahli Baitku). Perhatikanlah bagaimana kamu menjaga keduanya. Keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya datang kepadaku di telaga pada hari akhir nanti. Allah adalah mawlaku (pemimpinku) dan aku adalah pemimpin setiap mukmin dan mukminah.

Kemudian ia mengangkat tangan dan berkata: “Man Kuntu Mawlah, fa hadza ‘Aliyyun Mawlah.” Siapa yang menerima aku sebagai pemimpin, maka jadikanlah Ali sebagai pemimpinnya juga.   Rasulullah melingkarkan serban di kepala ‘Ali. Ia mengamanahkan wilayah (kepemimpinan Islam) kepadanya. Ia menitipkan kelanjutan perjuangan untuk menegakkan keadilan kepada Ali bin Abi Thalib – suami Fatimah az-Zahra.

(Ana Madinatul ‘ilm wa ‘Aliyyun Babuha / Akulah Kota Ilmu dan ‘Ali adalah Pintunya)

Tidak lama setelah Rasulullah sampai di Madinah, ia menderita sakit keras. Di pangkuan Ali bin Abi Thalib, disaksikan oleh Fatimah, putrinya yang tercinta, dan Hasan dan Husain, kedua cucunya, Sang Penghibur itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Ketika keluarga Rasulullah sedang sibuk mengurus jenazah, segelintir orang berkumpul untuk meninggalkan wasiat Nabi. Mereka tidak ingat lagi sabda Nabi Saw: Man kuntu mawlah fa hadza ‘Aliyyun mawlah.   Tangisan pedih masih terdengar di bilik Nabi yang sempit.  Air mata kedukaan masih mengalir pada pipi  Az-Zahra. Tirai kelabu masih menutup muka Ali bin Abi Thalib. Kabut kesedihan masih menyelimuti Ahlil Bayt Nabi. Tetapi para tiran berpesta ceria untuk mensyukuri pengangkatan penguasa baru. Bertentangan dengan kesunyian kamar Rasulullah Saw, hiruk-pikuk keriangan terdengar dari Mesjid Nabawi.

Maka Nabi yang mulia pun dikuburkan dalam kesunyian. Hanya keluarga Nabi saja (tidak lebih dari 14 orang) yang menyaksikan jenazahnya dibaringkan di atas tanah yang dingin. Fatimah tidak sanggup menahan jeritannya ketika tanah Madinah perlahan-lahan menyembunyikan wajah dan senyuman Rasulullah Saw.

Nafasku tersekat dalam tangisan
Duhai mengapakah nafas tak lepas bersama jeritan
Sesudahmu tak ada lagi kebaikan dalam kehidupan
Aku menangis karena takut hidupku akan berkepanjangan
Duhai yang tinggal di bawah tumpukan debu
Tangisan memelukku
Kenangan padamu melupakan daku dari segala musibah yang lain
Jika engkau menghilang dari mataku ke dalam tanah
Engkau tidak hilang dari hatiku yang pedih
Berkurang sabarku bertambah dukaku
Setelah kehilangan Khatamul Anbiya
Duhai mataku, curahkan air mata sederas-derasnya
Jangan  kau tahan linangan darah sekalipun
Ya Rasul Allah, wahai kekasih Tuhan
Pelindung anak yatim dan dhu’afa
Setelah mengucurnya air mata langit
Bebukitan, hutan dan burung
Dan seluruh bumi menangis
Duhai junjunganku
Untukmu menangis tiang-tiang Ka’bah
Bukit-bukit dan lembah Makkah
Telah menangisimu Mihrab
Tempat belajar Al-Qur’an di kala pagi dan senja
Telah menangisimu Islam
Sehingga Islam kini terasing di tengah manusia
Sekiranya kau lihat mimbar yang pernah kau duduki
Akan kuliat kegelapan setelah cahaya

Ketika Fatimah, Ali dan beberapa pengikut Ahlul Bayt yang setia berkumpul di rumah Fatimah, sekelompok orang beringas membentak mereka untuk keluar rumah. Mereka mendesak agar semua orang yang ada di rumah berbaiat kepada penguasa baru. Ketika semuanya tetap bertahan, mereka mengancam untuk membakar rumah persinggahan para malaikat itu. Fatimah menghalangi mereka di depan pintunya, seraya berkali-kali memanggil Rasulullah, Jeritan permata hati Nabi itu tidak melembutkan hati para penjarah. Mereka bertambah beringas.. Mereka bertambah beringas. Mereka mendorong Fatimah yang hamil dengan keras. Ia terjatuh ke belakang. Darah menyembur dari tubuhnya. Kandungannya gugur dalam kemarahan para pecinta kekuasaan.

Tanganmu selembut Sutra

Waktu kau usap darah al-Mustofa
Waktu kau belai Hasan Husain yang lara
Waktu kau sentuh tangan Yatim yang papa
Tanganmu selembut sutra

Waktu kau bersihkan luka al-Murtadha
Waktu kau angkat tanganmu dalam doa
Waktu kau hapus air mata sang pecinta
Tanganmu selembut sutra

Kau tergeletak lemah berimbah darah
Dihempaskan dalam amukan amarah
Tanganmu mencari tangan Rasulullah
Tanganmu selembut sutra

Dosa apakah gerangan yang menyebabkan duka berkepanjangan pada keluarga Nabi Saw? Warisan Nabi diambil oleh para penguasa. Mereka diharamkan untuk menerima hak Zakat. Tetapi hak khumus juga dirampas dari tangan mereka. Tanah Fadak, yang dulu Rasulullah wasiatkan secara khusus untuk keluarga Fatimah, kini juga disita penguasa. Satu-satunya hiburan bagi Fatimah ialah mengunjungi pusara ayahnya.

Lihat, ia mengambil segenggam tanah dari kuburan Nabi, menciumnya dengan mesra dan melantunkan puisinya:

Wahai penutup segala Rasul
Penuh berkah cahayamu
Semoga yang menurunkan Al-Qur’an
Bershalawat atasmu
Katakan kepada dia yang terbaring dibawah tumpukan debu
Jika kau dengar jeritan dan tangisku
Telah menimpa daku musibat
Sekiranya menimpa siang, ia berubah menjadi gulita
Dahulu aku berlindung dalam naungan Muhammad
Tidak kutakutkan bencana apapun dalam lindungannya
Hari ini di bawah kuasa si hina
Aku menolak orang yang menzalimiku, dengan selendangku
Ketika merpati menangis di malam hari
Dalam derita di atas ranting pohon, ia menjerit pilu
Akan aku jadikan pilu temanku sepeninggalmu
Akan aku jadikan air mata untukmu sebagai perhiasanku
Apakah yang telah mencium tanah pusara Ahmad
Tak akan lagi mencium wewangian sepanjang masa
Dahulu engkau gunung untuk berlindung di naungannya
Sekarang kau serahkan daku pada keping cahaya mentari
Dahulu kau lindungi aku sepanjang hayatmu
Sekarang siapa yang akan menjaga sayapku
Aku kejapkan mataku dan segera aku tahu
Telah tiada ksatria dan perisaiku
Sudah sampai ke dambaannya
Sehingga kesedihan menghempaskanku
Dan kemalangan menorehkan luka-lukaku.

Mungkin karena terlalu berat menanggung luka-lukanya, lahir dan batin, kekasih Syayidul Mursalin itu meninggalkan dunia fana enam bulan kemudian. Ia bergabung kembali dengan ayahnya, membawa berita duka tentang pengkhianatan umatnya. Tetapi ia juga bisa berkata pada ayahnya bahwa ia tidak hanya merintih dan menangis. Ia juga memperjuangkan hak-nya dengan kefasihan lidahnya dan ketegaran hatinya. Ia berkutbah di depan penguasa tanpa gentar. Ia mendatangi rumah para sahabat Anshar, mengingatkan mereka akan wasiat Nabi: “Man kuntu mawlah fa hadza ‘Aliyyun mawlah.”  Ia membela hak suaminya, sebetulnya hak seluruh ummat, sampai titik darah penghabisan. Ialah pejuang perempuan pertama yang menentang para tiran dengan segala ketulusan. Ia menuntut haknya bukan karena ia mencintai dunia, tetapi ia ingin menunjukkan kepada rakyat kalau penguasa sudah berani merampas hak keluarga Nabi, apa lagi yang dapat menghalangi mereka untuk merampas hak orang-orang kecil.

Sepeninggal Fatimah, Ali bin Abi Thalib meneruskan perlawanan tanpa kekerasan. Ia memprotes penguasa ketika mengusir dari Madinah sahabatnya yang setia, Abu Dzar al Ghifari. Kesalahannya hanyalah karena ia berani mengkritik kezaliman penguasa dengan kata-kata. Dahulu Nabi Saw pernah bersabda: “Di bawah kolong langit ini, di atas permukaaan bumi, tidak ada lidah yang lebih jujur dari lidah Abu Dzar.”   Ali, Hasan dan Husain mengantarkannya ke dalam pembuangannya, walaupun dilarang penguasa.

Ali juga menentang perlakuan sewenang-wenang pada ‘Ammar bin Yassir. Ia datang menemui khalifah. Ia membawa surat protes dari banyak sahabat akan kebijakan khalifah yang menindas rakyat. Ammar dilemparkan dari rumah, sampai patah tulang rusuknya. Ia pingsan sejak pagi sampai ba’da Isya. Siapakah ‘Ammar? Orang tuanya syahid dalam penganiyaan kaum aristrokrat Quraisy pada zaman permulaan Islam. Ia sendiri disiksa setiap hari sehingga ia terpaksa mengucapkan kekufuran tetapi hatinya tetap menyimpan iman. ‘Ammar dipenuhi iman sampai ke tulang sumsumnya,” Rasulullah memujinya.

Empat puluh tahun setelah hijrah Nabi, Ali bin Abi Thalib telah kehilangan sahabat-sahabatnya yang setia. Istrinya yang tercinta telah tiada. Para pengikutnya mengkhianatinya karena kecintaaan mereka pada dunia. Musuh-musuhnya bertambah banyak karena ketakutan mereka kepada keadilan ‘Ali. Sekarang  ‘Ali menyendiri dipagut kesepian.. (bersambung)


[1] Al Qur’an, S. maryam: 30-34

Categories: Agama
  1. February 1, 2008 at 2:33 am

    Mani terharu fan…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: