Home > Politik > Bendera 1/2 Tiang untuk Soeharto Keadilan

Bendera 1/2 Tiang untuk Soeharto Keadilan

“Ada pengumuman dari Pak RT, setiap warga harus pasang bendera setengah tiang”, kata istri saya beberapa waktu lalu. “Gak usah!”, saya menimpali dengan suara datar tanpa memberikan alasan.

Saya tidak berpikir tentang korupsi atau penumpukan kekayaan yang gigantik. Saya hanya teringat komentar seorang nenek di televisi dengan senyum yang dipaksakan dan mata yang berkaca-kaca, “Dua anak saya (yang aktifis atau dicurigai aktifis) diculik penguasa order baru, sampai sekarang tidak diketahui nasibnya apakah masih hidup atau sudah mati.” Terenyuh saya mendengarnya, pastilah hati sang nenek lebih luluh lantak lagi. Belum lagi hati orang-orang yang dipenjara puluhan tahun tanpa proses pengadilan terlebih dahulu.

Saya tidak akan bercerita lebih banyak. Saya baru saja menemukan artikel menarik dari blog tetangga, dan nampaknya sudah menyebar di beberapa blog dan milis. Sayang sekali tidak diketahui dengan pasti siapa penulisnya. Saya minta maaf kepada penulis aslinya karena saya hanya bisa menyebutkan sumber tempat saya meng-copy tulisan tersebut.

Rekans, Anda bebas berpendapat dan berkomentar sebagaimana saya pun bebas memilih sikap. Namun satu yang pasti, sejarah adalah milik penguasa.

Berikut tulisannya:

Soekarno – Sejarah yang Tak Memihak

Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat-saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno.

Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak (almarhum) sedang menangis sesenggukan.

” Pak Karno seda ” ( meninggal )

Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono – Panglima KKO – pernah berkata , “Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO”

Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.

Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.

The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor . Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya – Mayjend Amir Mahmud – disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam
11 siang.

Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan.

” Het is niet meer mijn huis ” – sudahlah, ini bukan rumah saya lagi, demikian Bung Karno menenangkan istrinya.

Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso.

Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London . Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.

Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya.

Jenasah dibawa ke Wisma Yaso.

Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta! dan Ali Sadikin – Gubernur Jakarta – yang juga berasal dari KKO Marinir. Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak.

Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !.

Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah

Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain.

Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor . Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota. Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.

Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa, ” Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban”.

“Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. ”

( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )

dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal.  Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.

( Kompas 11 Mei 2006 )

Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, ” Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi
dari Kowad”

( Kompas 13 Januari 2008 )

Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan.

Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden !

Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ?

Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki
karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu.

Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah.

Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.

Kesadaran adalah Matahari Kesabaran adalah Bumi

Keberanian menjadi cakrawala Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata

( * WS Rendra )

Sumber: http://hsgautama.multiply.com/journal/item/267/Soekarno_VS_Soeharto_-_WS_Rendra

Categories: Politik
  1. February 4, 2008 at 2:24 am

    Sejarah selalu berulang, kalimat yang sederhana, namun memiliki makna yg luas, mulai dari jaman nabi adam sampe akhir jaman, sejarah memang milik sang penguasa.

  2. ebiotusif979
    February 26, 2008 at 7:37 am

    Salam kenal! Tulisan Mas bagus!
    Saya juga membuat tulisan mengenai kematian Soeharto.
    Silakan kunjungi blog saya yang sederhana dan masih bau kencur di http://www.ebiotusif979.wordpress.com. Saya masih pemula dalam hal penggunaan WordPress.
    Mohon kerjasamanya…

  3. March 2, 2008 at 10:01 am

    @ebiotusif979
    Salam kenal juga. Artikel di atas ini bukan tulisan saya lho🙂

  4. taqiku
    March 11, 2008 at 1:06 pm

    Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala aalihi….
    Semoga Allah selalu melindungi kita dari tangan2 penguasa zalim…

    salam

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: