Home > Renungan > Mah, di Mana Allah?

Mah, di Mana Allah?

adel2.jpgAnak bungsuku yang masih bicara cadel suatu hari bertanya kepada ibunya, “Mah, di mana Allah? Kok Adel gak liat?”. Mamanya menjawab sederhana, “Allah ada di mana-mana, Allah gak kelihatan sama Adel tapi bisa lihat Adel dimanapun berada”. Dijawab begitu nampaknya si kecil Adel (Delshadia Zahra) kurang puas, ia celingak-celinguk kiri-kanan atas-bawah.

Aku tersenyum geli dan bergumam dalam hati. Nak, nanti kalau sudah waktunya tentu kuberitahukan padamu, bahwa Sang Gerbang Ilmu pernah menjawab pertanyaan yang sama jauh berabad-abad silam:

“Akankah aku menyembah sesuatu yang tidak kulihat? Dia (Allah) takkan tercapai oleh penglihatan mata, tetapi oleh mata hati yang dipenuhi hakikat keimanan. Dekat tanpa ada sentuhan jauh tanpa ada jarak. Berbicara tanpa harus berpikir. Berkehendak tanpa harus berencana. Berbuat tanpa memerlukan tangan. Lembut tapi tidak tersembunyi. Besar tapi tidak teraih. Melihat tapi tidak bersifat inderawi. Maha penyayang tapi tidak bersifat lunak. Wajah-wajah merunduk di hadapan keagungan-Nya. Jiwa-jiwa bergetar karena ketakutan terhadap-Nya.” (Imam Ali bin Abi Thalib as, Nahjul Balaghah).[]

Categories: Renungan
  1. abuzahra
    March 10, 2008 at 6:54 am

    Delshadia Zahra. nama apik, sae! jigana perpaduan bhs. persi-arab nya? mirip sareng nami puteri simkuring, alityha zahra raihani (alityha bhs yunani kuno, bhs arabnya al-haqq). tya juga acap bertanya spt itu. dan sptnya masih banyak adel adel dan tya tya yang lain dengan pertanyaan yang sama. kumaha si bungsu damang? iraha nya tepang di ciputat? setelah selesai di ciputat, kini di kampus jadi lebih riweuh. maklum jadi “pejabat” leuleutikan di jurusan ushuluddin. he he

  2. March 20, 2008 at 2:04 pm

    @abuzahra
    Muhun kang, kaleresan harita teh, taun 2004-2005, atmosfir di kepala nuju ke-parsi-parsi-an (maklum lg kursus dasar bhs persia…hehe). Eta teh nyandak ti kata ‘delshad/ dilshad’ nu hartosna kabingahan, mung eta nami teh ternyata seueur dianggo ku pameget. Supados kakuping feminin, nya ku simkuring ditambihan akhiran -ia…hehe.

    Wah, si akang ayeuna ngajar di UIN nya? Selamat!…Insya Allah Kang Abad calon cendekiawan muslim yg bersinar di masa datang..amiin.

    Salam kanggo Alityha sareng kulawargi.

  3. abuzahra
    March 27, 2008 at 2:42 am

    “Wah, si akang ayeuna ngajar di UIN nya? Selamat!…”

    Ngajar mah tetep di STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Tulungagung, Jatim, Cep! Dulu, STAIN Tulungagung teh “jajahan” IAIN Sunan Ampel Sby, sekarang sudah “merdeka” dan berwenang mengurusi urusan RT-nya sendiri tanpa kendali IAIN Sby. hubungan abdi sareng ciputat bisa disebut tos teu aya, kecuali bahwa abdi teu acan nyandak ijazah di Prog. pasca UIN Jkt. jadi masih ada peluang ka ciputat, cuma masalah waktu. justeru eta, pami ka ciputat hoyong pisan pendak sareng salira.

    “Insya Allah Kang Abad calon cendekiawan muslim yg bersinar di masa datang..amiin.”

    Amiin. doa orang saleh biasanya terkabulkan.

  4. tras
    May 21, 2008 at 9:07 pm

    …Mamanya menjawab sederhana, “Allah ada di mana-mana…”

    glekk… Allah juga ad di wc, lubang got, tempat sampah, kandang babi, cafe/diskotik, dll dsb yg kotor-2, gitu ???

    weleh…weleh… sampeyan udah banyak salah arah dari sini…

    IP:
    Apakah yg Anda pikirkan ttg Tuhan? Sesuatu yg berkuasa dan duduk di atas singgasana yg bisa bolak-balik dari langit ke bumi kah? Menempati ruang? Tidak menempati ruang? Kalo menempati, di mana? Kalo tidak, bagaimana? Ataukah Anda tidak memikirkannya sama sekali? Mau paham atau tdk itu pilihan Anda. Kalo sampeyan pikir sampeyan tidak salah arah, coba jelaskan ttg perkara ini….

  5. Kasyful Hijab
    June 2, 2008 at 12:14 pm

    “..Fa Ainama Tuwallu Fatsamma Wajhullah”
    “….Kemana pun kamu menghadap di sanalah Wajah ALLAH”
    Allah itu ada dimana-mana !!!!
    Coba anda ber 3 duduk di suatu karpet/alas yang lebar. Maka anda tanya diri anda dan ke 2 teman anda. Sedang ada dimana kah anda? Jawabnya : semua teman anda menjawab “Sedang ada di karpet” walaupun anda sedang berjauhan dengan teman anda tapi anda berada dalam satu karpet. Segeralah kembali pahami i’tibar ini. Itulah “ALLAHU AKBAR”!!!!

    Seumpama ada anggapan bahwa ALLAH akan kotor bila berada dalam diskotik, inilah anggapan yang keliru. ALLAH itu Maha Suci, jangan anggap bila ALLAH MELIPUTI dalam WC lantas menjadi kotor.

  6. Erlina
    July 23, 2008 at 12:40 am

    Kalau ada hambaku yang bertanya dimana Allah, maka jawabannya adalah Allah itu dekat (QS 2:186). Kasus ini sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad, dan Allah memberi jawaban melalui Quran.
    Kalau takut Allah kotor jika berada di WC, jaln2, pasar, dll. Apakah WC, pasar, kotoran, penyakit ada dengan sendirinya, bukankah itu juga diciptakan? Dan Allah menciptakan itu semua tidak ada yg sia2 pasti ada gunanya, pasti ada tujuannya. Allah Maha Suci, sangat mudah bagiNya untuk tetap suci walau berada di tempat kotor. Bukankah di Islam diajarkan thoharah.
    Dengan mengatakan Allah tidak mungkin ada di tempat2 kotor berarti kita mengecilkan kekuasaan, kekuatan, dan kemampuan Allah.

    Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita.

  7. agus
    July 23, 2008 at 1:42 am

    saya masih belum paham maksud mas Kasyful Hijab tentang:

    “..Fa Ainama Tuwallu Fatsamma Wajhullah”
    “….Kemana pun kamu menghadap di sanalah Wajah ALLAH”
    Allah itu ada dimana-mana !!!!
    Coba anda ber 3 duduk di suatu karpet/alas yang lebar. Maka anda tanya diri anda dan ke 2 teman anda. Sedang ada dimana kah anda? Jawabnya : semua teman anda menjawab “Sedang ada di karpet” walaupun anda sedang berjauhan dengan teman anda tapi anda berada dalam satu”

    mungkin bisa dijelaskan lebih detail dan hubungannya dengan ayat di atas. Terima kasih..

  8. Aku
    July 23, 2008 at 6:58 am

    Sejauh yang ane pahami :

    Tuhan di Langit, di Tempat yang Tinggi dan di Arsy
    —————————————————

    Maka ketika kita bicara tentang tuhan itu ada di suatu tempat, maka tidak bisa kita samakan keberadaannya itu dengan makhluk ciptaan-
    Nya. Sebab laisa kamitslihi syai’un, wa lam yakun lahu kufuwan ahad.

    Namun tuhan sendiri telah menyebutkan di mana dirinya. Mari kita dengar baik-baik ‘pengakuan’ tuhan langsung di dalam Al-Quran Al-Kariem.

    “Tidakkah kamu merasa aman dari Allah yang berada DI LANGIT bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang. Atau apakah merasa aman terhadap Allah yang DI LANGIT bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat) mendustakan peringatan-Ku”. (QS Al-Mulk: 16-17).

    Selain itu juga silahkan buka surat lainnya:

    “Yang Maha Pemurah itu berada DI ATAS ‘ARYS BERSEMAYAM”.(QS Thaha: 5)

    “Sesungguhnya tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi lalu bersemayam DI ATAS ‘ARSY”. (QS. Al-A‘raf: 54).

    Juga ada sabda utusan resmi dari tuhan, nabi Muhammad SAW tentang keberadaan Allah SWT.

    Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Kasihanilah yang bumi maka kamu akan dikasihani oleh Yang DI LANGIT”. (HR. Tirmiziy).

    Dan dalil yang menyebutkan bahwa Allah ada di langit, Arsy atau di tempat yang tinggi itu sangat banyak sekali dalam Al-Quran maupun Al-Hadits.

    Benarkah Allah Ada di mana-mana?
    ——————————–

    Sebaliknya, tentang keterangan bahwa Allah SWT itu ada di mana-mana, sama sekali kita tidak mendapatkan dalil yang sharih. Paling jauh ada ayat berikut ini saja:

    Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 4)

    Namun kata ma’a tidak berarti menunjukkan tempat seseorang berada. Sebab dalam percakapan kita bisa mengatakan bahwa aku menyertaimu, meski pada kenyataannya tidak berduaan. Sebab kebersamaan Allah SWT dalam ayat ini adalah berbentuk muraqabah atau pengawasan.

    Seperti ketika Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakar ra di dalam gua,”Jangan kamu sedih, Allah beserta kita.” Ini tidak berarti Allah SWT ikut masuk gua. Juga ketika Musa as berkata, “Bersamaku tuhanku,” tidak berarti Allah SWT ada di pinggir laut merah saat itu.

    Jikalau kamu tidak menolongnya maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS At-Taubah: 40)

    Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS As-Syu’ara: 62).

    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    sumber :
    http://www.eramuslim.com/ustadz/aqd/6902134430-sebenarnya-mana-allah-.htm

  9. August 3, 2008 at 11:47 am

    Rekan-rekan pengunjung irfanpermana.wordpress.com,

    Hakikatnya, kita dan semua yang kita lihat, kita raba, kita dengar, dan kita rasakan hanyalah seolah-olah ada, tidak betulan ada. Tak ada sesuatupun yang sungguh-sungguh ada kecuali Allah. Ketika kita meng-indera sesuatu, yang mampu kita tangkap hanyalah abstraksi mental kita, yakni tajalli atau hasil dari penampakan-Nya. Sedangkan hakikat ke-ADA-an sesuatu tak mungkin terjangkau dengan indera.

    Allah tidak di langit, tidak di wc, tidak di got, TIDAK di mana-mana serta TIDAK TIDAK di manapun. Sebab kata “DI” tidak semestinya dilekatkan kepada The Ultimate Reality. Kata “DI” hanya bisa dilekatkan kepada makhluk. “Subhaana rabbika rabbil’izzati ‘ammaa yashifuun. Mahasuci Tuhanmu, Tuhan keagungan (yang tak terjangkau) oleh apa-apa yang mereka sifatkan. (QS. ash-Shaffat: 180)

    Namun bagi yang mata hatinya dipenuhi hakikat keimanan, akan mampu menjangkaunya. Sehingga wheresoever you turn, there is the face of Allah…. kemanapun engkau menghadap di situ wajah Allah…fa ainama tuwallu fatsamma wajhullah…(QS.2:115).

    Maka dalam konteks ini Allah ada di mana-mana, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. “Wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil wariid”. Kami lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri. (QS. Qaaf: 16). Jadi ketika kita melihat sesuatu, even itu wc atau got, maka yang kita lihat adalah Dia, tetapi bukan Dia sebagai wujud mutlak, melainkan pancaran atau penampakan diri-Nya. (perlu pembahasan tersendiri mengenai wujud yang tidak mungkin kita bahas tuntas di sini).

    Mari renungkan lagi perkataan Imam Ali pada tulisan di atas:
    “Akankah aku menyembah sesuatu yang tidak kulihat? Dia (Allah) takkan tercapai oleh penglihatan mata, tetapi oleh mata hati yang dipenuhi hakikat keimanan. Dekat tanpa ada sentuhan jauh tanpa ada jarak……”

    Ada satu riwayat lainnya yang patut direnungkan:
    Ketika Imam Ali ditanya seseorang, “di mana wajah Allah”, beliau tidak segera menjawab. Namun meminta orang itu untuk menyalakan api. Ketika api itu menyala hebat, Imam Ali bertanya: “Tunjukkan padaku di mana wajah api ini?”

    Orang itu menjawab: “Seluruh sudut api adalah wajahnya.”

    Lalu Imam Ali berkata: “Kalau benda ciptaan seperti api saja kau tak bisa mengetahui wajahnya, bagaimana pula dengan zat Pencipta yang sama sekali tidak serupa dengan ciptaan ini?”

    Allah di Langit?

    Jika ada yang berpendapat Allah di langit, saya tidak akan tergesa-gesa membantahnya (apalagi itu termaktub dalam Alquran). Akan tetapi berikan dulu definisi langit. Apa itu langit? Jika Anda mendefinisikan langit sebagaimana sesuatu yang dilingkupi dimensi ruang (dan waktu), maka Anda telah menafikan “laisa kamitslihi syai’un”, yang Anda sebutkan di atas itu. Sebab yang dilingkupi dimensi ruang hanyalah makhluk.

    Adapun ayat yang menyatakan bahwa Allah di langit jelas tidak saya tolak (masa iya Alquran ditolak), namun pendapat/ penafsiran Anda yang saya tolak. Sebab kita mesti mencoba memahami ayat tersebut dari perspektif lain. Tidak semua ayat dapat dipahami secara literal.

    Itu saja yang bisa saya komentari dalam ruang yang serba terbatas ini. Selebihnya, butuh ilmu, perenungan, serta do’a kepada Allah Swt agar dianugerahi pemahaman yang lebih baik tentang hakikat keberadaan-Nya.

    Wallahu a’lam

  10. Dia
    November 1, 2008 at 9:22 am

    kalau begitu siapa yang belum melihatnya tidak boleh mengucap kalimah syahadah..
    dan seseorang itu belum islam kerana belum mengenal Allah (penyaksian)..

    awaludin makrifatullah (awal2 agama mengenal Allah SWT)

  11. Gibran
    November 29, 2008 at 11:32 am

    بسم الله الرحمن الرحيم

    من عرف نفسه فقد عرف ربه

    sebelum kita mengenal Allah maka kita harus mengenal diri kita sendiri, karena ada unsur ketuhanan didalam setiap diri manusia.

    wa fii anfusikum afalaa tubsiruun……

  12. Lovely_loeloe
    December 6, 2008 at 3:04 pm

    membaca cerita pak irfan soal zahra, saya jadi teringat adik saya yang waktu itu baru berusia 5th, namanya Habibur Rohman. waktu kecil,dia anak yang banyak bertanya banyak hal, seperti kenapa sholat harus wudhu??kenapa laki-laki harus sholat jumat???? namun, suatu ketika dia bertanya ma umi(ibu AQ)
    “mi. Alloh itu laki-laki atau perempuan tho mi…”tanyanya polos
    “yo nggak laki-laki, yo g perempuan” jawab umi singkat, sambil sibuk memlipat baju2 yang masih hangat dari jemuran.
    “orak lanang????” (bukan laki-laki???) tanya adik ku memperjelas
    ” bukan!!!” jawab umi singakat
    ” wedhok mi….”( perempuan mi…) adik ku bertanya lagi.
    sesaat, umi terdiam…. dan adik ku pun langsung menimpali
    “lha opo??? rak lanang rak wedhok?? banci.. heeh…” tanyanya sedikit jengkel.
    Abah pun datang dan menjawab
    ” Alloh itu g lanang yo g wedhok. Alloh itu berdiri sendiri,Alloh yang memiliki bumi ini dan tidak sama seperti makhluknya, tidak sama seperti abah,umi, mbak ridha atao habib”
    habib, terdiam dan kebingungan. dan gumam abah “sok lek wis gedhe yo ngerti dewe nang cah bagus”
    sekarang dah SMP kelas 2 di GONTOR putra

  13. KARMAN
    April 2, 2009 at 10:36 pm

    Numpang lewat ya……

    Emang susah untuk menyamakan persepsi jika ilmu yang kita miliki tidak dari sumber yang “hidup”. Menurut aku supaya perjalanan kita selamat dari dunia sampai akhirat, carilah guru (syaikh mursyid) yang bisa membimbing kita baik jasadi maupun ruhani.

    Sebenarya berbicara tentang Allah, maka akan “kelu” lidah kita. ungkapan kata tidak akan cukup untuk memahaminya.

    Salam,

  14. April 8, 2009 at 7:16 am

    Saudaraku seiman, pertanyaan Dimana, dan Kapan hanyalah berlaku untuk zat yang terperangkap dalan dimensi Ruang-Waktu yang terbatas ini, alam semesta kita. Padahal Ruang-Waktu adalah salah satu mahkluk Allah juga. Jadi tidaklah pantas kita bartanya Dimana atau Kapan pada Allah yang tak terbatas.

    Karena Allah diluar Ruang, maka Tidak ada jarak antara Allah dan Mahkluknya (seperti kita tidak berjarak dengan Urat Leher Kita sendiri) namun Allah tetap terpisah (tidak menjadi satu) dengan Mahkluknya.

    Dan karena Allah diluar Waktu, maka tidak layak ada pertanyaan Sebelum dan Sesuah pada Allah. Buat Allah Masa lalu, Kini dan akan Datang semuanya sudah dalam kuasaNya.

    Jika Langit adalah batas Ruang-Waktu, maka bisa disebut Allah diatas Langit, karena Allah diluar Ruang-Waktu.

    Allah ada dimana-mana namun bukan berarti Allah berada dimana-mana, karena Ada Nya tidak membutuhkan Ruang.

    Wasalam,
    8 April 2009

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: