Home > Agama > Maulid Nabi: Pesan Cinta yang Menggema

Maulid Nabi: Pesan Cinta yang Menggema

Apapun mazhabnya, pasti sepakat bahwa mencintai Nabi Muhammad Saw merupakan satu hal yang sangat ditekankan dalam Islam, meskipun ekspresi kecintaan itu bisa diwujudkan orang dalam beragam cara. Dan kemarin, kaum Muslim di seluruh dunia mengekspresikan kecintaannya itu melalui peringatan maulid, yakni memperingati sebuah peristiwa penting dalam sejarah: kelahiran manusia suci, junjungan semesta alam, Nabi besar Muhammad Saw.

Sebagian kaum Muslim yang menolak merayakannya mencoba melihat fakta secara sederhana, bahwa tidak pernah ditemukan dalam sejarah atau hadis-hadis, bahwa nabi semasa hidupnya merayakan hari lahirnya sendiri. Pada satu titik mungkin bisa disepakati, bahwa semua yang dilakukan Nabi menjadi sunnah, anjuran bahkan perintah dalam agama. Namun bukan berarti semua yang tidak dilakukan Nabi menjadi sesuatu yang dilarang dalam agama. Alangkah sempitnya hidup jika kita memiliki pandangan bahwa semua yang tidak dilakukan Nabi dijadikan larangan dalam agama. Sesungguhnya yang ditekankan dalam perayaan Maulid ini adalah spirit dan pesan yang mesti digemakan di sepanjang zaman.

Betapa menyedihkan ketika kita dapati kenyataan bahwa orang-orang tidak tahu sejarah Nabi mereka sendiri. Mengaku berislam tetapi tidak mampu menjelaskan seperti apa Nabi mereka. Yang kebanyakan orang tahu tentang Nabi kita hanyalah seputar data tentang tanggal lahir dan wafat saja. Sudah cukup bagus kalau tahu beberapa peristiwa penting yang terjadi semasa hidupnya. Ini sungguh memprihatinkan. Selain orang-orang yang memang berlatar belakang pendidikan ilmu-ilmu Islam, sangat sedikit yang mengetahui kehidupan pribadi agung ini. Maka melalui peringatan maulid, kita berusaha menyegarkan ingatan tentang sejarah, sepak terjang serta keluhuran akhlak beliau yang tiada tandingnya sepanjang sejarah peradaban manusia. Hingga beribu-ribu halaman buku pun takkan pernah cukup untuk mendeskripsikan akhlaknya yang luhur itu.

Tentang akhlak al-karimah nya itu, Allah Swt memujinya dalam QS. 68: 4, “wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim, dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung”. Dan memang untuk itulah Nabi kita Saw diutus, ” “Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak”.

Karena akhlak luhurnyalah kita jatuh cinta, yang semestinya kadarnya melebihi cinta kita terhadap apapun di muka bumi ini, termasuk kecintaan terhadap diri dan keluarga kita sendiri. Seperti diungkapkan dalam sebuah hadis, “Belum beriman kamu sebelum aku lebih kamu cintai daripada dirimu, anak-anakmu, dan seluruh ummat manusia.”

Mengenai kesehariannya, tak ada manusia yang dapat menandingi kezuhudannya. Manusia agung yang hidupnya sarat derita ini, tidak pernah membiarkan perutnya kenyang diisi makanan. Jika hari ini makan, esok tidak. Jika siang hari makan, malamnya tidak. Tempat tinggalnya, hanya rumah kecil sederhana seluas 4,8 x 4,62 M2. Nyaris tak ada perabot di dalamnya, kecuali selembar tilam usang yang jika seseorang bertamu ke rumahnya, maka akan dipersilakannya tamu tersebut duduk di atasnya, sedangkan beliau di atas tanah.

Pakaian yang dikenakannya teramat bersahaja. Beliau pun menjahit sendiri pakaiannya yang sobek, begitu pula dengan sandal yang dikenakannya. Akhlaknya terhadap sesama sungguh tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Terhadap istri-istrinya, sahabat-sahabatnya, masyarakat umum, anak-anak kecil, wanita, kaum dhu’afa, mustadh’affin, bahkan terhadap binatang, akhlak luhurnya melampaui yang dapat dicapai ukuran manusia biasa.

Manusia yang memilih menjadi ‘abdan-nabiyya (Nabi yang jelata) serta menolak tawaran menjadi mulkan-nabiyya (Nabi yang raja seperti Sulaiman as) ini, amatlah sengsara selama hidupnya. Satu persatu orang-orang yang menyertai perjuangannya diambil Allah. Satu-satunya anak laki-lakinya, juga diambil Allah di masa kanaknya. Baru sejenak beroleh bahagia menyambut kelahiran cucu keduanya, Jibril langsung memberitakan bahwa kelak cucu tersayangnya itu akan dibantai secara keji oleh orang-orang yang mengaku umatnya.

Manusia ini disengsarakan orang tidak saja semasa hidupnya, tetapi juga sesudah wafatnya, hingga berabad-abad kemudian. Saat jenazahnya masih hangat diurus oleh beberapa keluarga dan segelintir sahabat, tanpa sopan santun orang-orang langsung sibuk mencari penggantinya. Saat tangisan dalam kesunyian masih terdengar dari bilik sempitnya, keriangan tengah mengiringi pengangkatan penguasa baru. Ketika jenazahnya dibaringkan di tanah Madinah, tak lebih dari 14 orang yang menyaksikannya. Tak perlu menunggu terlalu lama, tanah fadak yang diwasiatkan secara khusus untuk keluarga puteri tercintanya, langsung diserobot penguasa. Padahal zakat telah diharamkan atas mereka, lalu kenapa hak khumus dirampas pula. Menantu yang juga sepupunya dikhianati oleh mereka yang lebih cinta dunia, hidupnya berakhir dalam bacokan pedang orang yang mengaku umatnya. Cucu pertamanya diracun isterinya sendiri. Nasib cucu keduanya lebih tragis, kepalanya dipenggal, diarak dan diseret sejauh ratusan kilometer, keluarga dan pengikutnya juga dibantai dengan kekejian yang tiada tandingannya. Para wanita yang tersisa, dihinakan sedemikian rupa.

Itu belum berakhir. Fitnah dan kesalahanpahaman masih bertubi-tubi menghiasi putaran roda sejarah, tidak saja dari musuh-musuh Islam yang secara nyata memerangi dari luar, juga dari dalam. Dengan dalih penyegaran kembali pemahaman terhadap Islam, manusia suci yang sakral ini didesakralisasikan sedemikian rupa. Padahal Allah dan malaikat saja bershalawat untuknya (QS. 33:56). Bagi mereka, risalah suci yang dibawanya tak lebih dipandang sebagai onggokan sampah sejarah yang perlu didaur ulang dengan sebuah mesin bernama liberalisme.

Itulah perlakuan terhadap manusia yang hidupnya cuma memikirkan keselamatan umatnya, umat sepeninggalnya.

Dan setelah rangkaian perlakuan buruk itu, yang semestinya umatnya sendiri yang menjauhkannya, maka apakah sekadar menyegarkan ingatan akan keluhuran akhlaknya dalam sebuah peringatan bertajuk maulid nabi merupakan perbuatan yang diada-adakan yang terlarang dalam agama? Lalu wujud kecintaan yang lebih bertenaga mana lagi yang hendak ditawarkan?

Maka segala ekspresi cinta yang terpendam dalam dada, semestinya menjadi energi yang sangat potensial. Belumlah terlambat untuk membangun kesadaran bahwa betapa kecintaan terhadap pribadi agung ini merupakan keniscayaan dalam hidup. Kecintaan yang mengejawantah, bukan cinta semu.

Dan melalui peringatan Maulid, kita tampilkan kembali sosok insan kamil dengan segala kualitas luhur kemanusiaannya, agar ingatan akan moralitasnya yang tinggi tetap terpelihara. Menjadi api yang membakar para pecinta. Menggema di setiap sanubari yang ingin menjadikannya sebagai model ideal dalam mewarnai hidup.

Ketahuilah, salah satu anugerah Allah bagi para pencinta Rasul ialah digabungkannya para pencinta dengan Rasulullah secara ruhaniah di dunia dan secara hakiki di akhirat.

Yaa wajiihan’indallah, isyfa’lanaa ‘indallah. [IP]

Categories: Agama
  1. March 21, 2008 at 5:02 pm

    Never ending story, history without end.

  2. May 30, 2008 at 1:54 pm

    semua imam madzhab melarang maulid Nabi …
    karena itu adalah kebid’ahan …
    jika benar tentu akan ada keterangan tekstual
    dengan sanad yang sahih dan juga tidak terlewat
    di kitab-kitab hadits ulama …

    baiklah jika kita tidak taklid madzhab pun …
    tidak akan menemukan dalil nya

    coba lihat kitab siroh atau sejarah …
    adakah para sahabat melakukan maulid ???

    ini bentuk ikut-ikutan nashrani …
    tapi saya tidak aneh jika itu keluar
    dari seorang syi’ah …
    anda syi’ah kan bung ???

    slogan mu

    cinta ahlul bait

    cinta Nabi

    hanya

    slogan palsu

    dengarlah cinta itu kan artinya
    mengikuti petunjuknya …
    ahlaknya jadi contoh …
    lho koq anda mencontoh nashrani sih ???

    aaannnneeeeeeh kan ???


    IP:
    Eeee…monggo..monggo..silakan duduk. Tenang..tenang, tarik nafas dulu dalam2, duduk yg manis, baru ngomong. Tapi jangan diminum kopinya ya, teknologi mesin gilingnya bikinan org kafir…

  3. June 3, 2008 at 2:39 am

    Namanya nyiar elmu ya kudu ilmiah

    Baiklah kalau kang Irfan benci wahabi …
    kita pakai kitab ulama terkenal Syaikh Yusuf Al Qardhawy …
    yang lebih dekat ke mesir pasti
    (Alhamdulillah dari negeri mesir pernah dimusnahkan darinya daulah syiah fatimiah oleh Sollahudin al ayyubi rohimahullohu ta’ala …)
    tau ulama yang satu ini.
    Saya kutip :

    Bid’ah itu sendiri bisa berupa keyakinan yang bertentangan
    dengan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw dan ajaran
    yang terdapat di dalam Kitab Allah. Dan bid’ah untuk jenis ini
    kita sebut dengan bid’ah dalam aqidah (al-bid’ah
    al-i’tiqadiyyah) atau bid’ah dalam ucapan (al-bid’ah
    al-qawliyyah); yang sumbernya ialah mengatakan sesuatu tentang
    Allah yang tidak didasari dengan ilmu pengetahuan. Perkara ini
    termasuk salah satu perkara haram yang sangat besar. Bahkan
    Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa perkara ini merupakan perkara
    haram yang paling besar. Allah SWT berfirman:

    “Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan
    yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi,
    dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan
    yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah
    dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah
    untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap
    Allah apa yang tidak kamu ketahui.'” (al-A’raf: 33)

    Termasuk dalam hal ini ialah perbuatan mengharamkan apa yang
    dihalalkan oleh Allah, tanpa dasar yang jelas; sebagaimana
    difirmankan oleh-Nya:

    “Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang
    diturunkan oleh Allah kepadamu, lalu kamu jadikan
    sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.’
    Katakanlah: ‘Apakah Allah telah memberikan izin
    kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja
    terhadap Allah?'” (Yunus: 59)

    Selain itu, juga perbuatan yang dimaksudkan untuk beribadah
    kepada Allah tetapi tidak disyariahkan dalam ajaran agama-Nya,
    seperti mengadakan upacara-upacara keagamaan yang tidak
    diajarkan oleh agama.

    “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain
    Allah yang mensyariahkan untuk mereka agama yang tidak
    diizinkan oleh Allah?…” (as-Syura: 21)

    Dalam sebuah hadits disebutkan:

    “Jauhilah, hal-hal baru dalam urusan agama, karena
    sesungguhnya setiap bid’ah adalah kesesatan.”

    (Diriwayatkan oleh Ahmad dari Irbad bin Sariyah. 43, 44; dan
    Hakim. 1:95; dan Ibn Hibban)

    “Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami,
    dan ia tidak ada dalam ajaran kami, maka sesuatu itu
    tidak diterima.”6

    (Mutaffaq ‘Alaih. Diriwayatkan oleh Bukhari, 2697; dan
    diriwayatkan oleh Muslim. 1718.)

    Kedua macam bid’ah di atas –sebagaimana dikatakan oleh Ibn
    al-Qayyim– adalah saling bergantung satu dengan lainnya.
    Jarang sekali bid’ah yang terpisah satu dengan lainnya;
    sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama: “bid’ah dalam
    perkataan berkawin dengan bid’ah amalan; kemudian kedua
    “pengantin” itu sibuk merayakan perkawinannya. Lalu keduanya
    melahirkan anak-anak zina yang hidup di negeri Islam; kemudian
    mereka bersama-sama kaum Muslimin menuju kepada Allah SWT.”

    Syaikh Islam Ibn Taimiyah berkata, “Hakikat “dikawinkannya”
    kekafiran dengan bid’ah adalah lahirnya kerugian di dunia dan
    akhirat.”

    Bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada kemaksiatan, karena
    hal itu bertentangan dengan ajaran agama. Di samping itu,
    orang yang melakukan bid’ah tidak merasa perlu bertobat, dan
    kembali kepada jalan yang benar. Bahkan dia malah mengajak
    orang lain untuk menjalankan bid’ah itu bersama-sama. Seluruh
    isi bid’ah itu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh
    Allah dan Rasul-Nya. bid’ah menolak semua ajaran agama yang
    dibenarkan. Ia memberi dukungan kepada orang yang memusuhi
    agama, dan memusuhi orang yang mendukung agama ini. Ia
    menetapkan apa yang di-nafi-kan oleh agama, dan me-nafi-kan
    apa yang telah ditetapkan oleh agama.

    (Lihat Madarij al-Salikin, I :222-223)

    Seluruh bid’ah tidak berada pada satu tingkatan. Ada bid’ah
    yang berat dan ada pula bid’ah yang ringan. Ada bid’ah yang
    disepakati dan ada pula bid’ah yang dipertentangkan.

    Bid’ah yang berat ialah bid’ah yang dapat menjadikan pelakunya
    sampai kepada tingkat kekufuran. Semoga Allah SWT memberikan
    perlindungan kepada kita dari perbuatan tersebut. Misalnya,
    kelompok-kelompok yang keluar dari pokok-pokok ajaran agama
    ini, dan memisahkan diri dari umat; seperti: Nashiriyah, Druz,
    Syi’ah Ekstrim dan Ismailiyah yang beraliran kebatinan, dan
    lain-lain; sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ghazali:
    “Secara lahiriah mereka menolak, dan secara batiniah mereka
    kufur.” Syaikh Islam Ibn Taimiyah berkata, “Mereka lebih kufur
    daripada orang Yahudi dan Nasrani, dan oleh sebab itu
    perempuan mereka tidak boleh dinikahi, sembelihan mereka tidak
    boleh dimakan, padahal sembelihan Ahli Kitab boleh dimakan dan
    wanita mereka boleh dinikahi.”

    Dari :
    FIQH PRIORITAS
    Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah
    Dr. Yusuf Al Qardhawy
    Robbani Press, Jakarta
    Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M

    Ga Usah Pake Perasaan Kang Irfan, saya tau anda sama seperti guru anda kang Jalaludin rakhmat … jadi ini usaha terakhir saya untuk menyadarkan anda … karena saya ga bisa ngasi pelajaran sama guru2 persia anda …

    selamat berusaha …
    ____________________________________________________

    IP:
    Wah, gak nyambung tuh Mas Abu Ilmiah…
    Alih-alih menunjukkan bukti tentang bid’ahnya maulid, Anda malah menyodorkan dalil bid’ah secara umum….kalau itu mah semua org juga setuju atuh Mas Abu…heuheueu

    Tentang Syiah, Anda bukan hidup di pedalaman, informasi terbuka lebar utk Anda.

    Satu lagi, saya gak benci wahabi (setidaknya saya tidak menggeneralisir wahabi). Saya cuma tdk habis pikir dengan org2 yg mengaku Islam tp anti persatuan dan lebih suka menggunakan cara kekerasan.

    Terakhir, ada pesan dari Gan Oded. Katanya, sekali-kali nontonlah film komedi utk melonggarkan saraf-saraf Anda, jangan tegang melulu nanti cepat tua…

  4. abdul wahab
    January 24, 2009 at 5:05 am

    Assalamualaikum WR.Wb.

    Meny kudu persis jaman nabi hirup teh, saeutik-saeutik bid’ah, rewel pisan. siga pang alimna.
    Ieuh Gusti Allah mah henteu rewel siga maraneh. anu gawe hade dicarek,kumaha mun maneh teh ka naraka tiheula sabab, sok ngalarang jalma anu niat hade. jeung manehna ge can puguh bisa atawa ngalakonan. insyaf atuh, urus diri sorangan. gawe teh ngan ngahidengan batur wae.
    tambahan ilmu, regepkeun jeung baca referensi anu di baca ku batur, ulah ngan ukur ceuk manehna bae.

    kompilasi hadist teh kakara aya tahun 200an sedengkeun elmu agama ti saprak nabi dugi ka para ahli fikih. tah harita para ahli kompilasi hadist teh can aya. naha deuk nurut ka nu dedukeut ka nabi atawa dua ratus tahun ka beh dieunakeun. sok nyanyahoanan. keun da kaputusa mah aya di Gusti Allah anu Maha Kawasa. lain maneh.
    _____________________________
    IP:
    Santai maaang…..Nyarekan saha eta teh? Mun ka urg salah alamat euy, urang mah pendukung maulid. Sigana teu maca heula nya? hehe…

  5. March 8, 2009 at 4:41 am

    Assalamu’alaikum wr wb….
    Bang irfan Permana, santai saja…. mang imam madzab juga punya dalil yg kokoh tentang tarawih misalnya, kenapa memiliki jumlah rakaat yang berbeda jika memang bersumber dari Rumah Wahyu yang salam. Salam bang irfan. Sholawat.

    wassalamu’alaikum wr wb

  6. March 9, 2009 at 8:39 am

    KALO MASALAH BUKU KARYA YUSUF QARDHAWI.. TELAH DIBAHAS TUNTAS OLEH AYATULLAH JA’FAR SUBHANI…. SILAHKAN KALO MAU MENGKAJI MASALAH BID’AH…. BELIAU (AYATULLAH JA’FAR SUBHANI) TELAH MEMBERIKAN ULASAN YANG SANGAT DAHSYAT.

  7. Budi suci
    July 16, 2009 at 6:45 pm

    Assalamualaikum..

    hehehehe…makanya cari guru yang benar ah..
    cari guru yang sanad nya sambung ke nabi suci Muhammad Shallahu alaihi waalihi wasallam…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: