Home > Pojok Celoteh > Moralitas Vladimir Putin

Moralitas Vladimir Putin

Gan Oded pria normal. Tak pernah dipungkirinya bahwa ia menyukai setiap jengkal keindahan dari makhluk yang bernama wanita. Wanita cantik tentunya.

Tetapi mendengar Dewi Persik nyerocos angkuh menantang sang walikota, perutnya mual juga. Mual akibat reaksi asam lambung yang bekerja keras menahan guyuran secangkir kopi yang viskositasnya terlalu tinggi. Memang kebiasaan Gan Oded setiap Sabtu-Minggu pagi adalah menyeruput kopi panas nan legit sambil membaca buku. Sementara istrinya, sejak fatwa haram nonton infotainment dicabut sang suami, pagi ini menyimak aneka gegap-gempita berita selebritis teranyar.

“Lho, Ded, sejak kapan fatwa itu kau cabut?”.

“Sejak kupercayakan kepada istriku kedewasaan mengambil hikmah dari bentuk apapun dalam lakon hidup ini. Bukankah dari mulut si kafir saja bisa keluar hikmah? Apalagi itu cuma urusan pantat Inul atau aksi liar Dewi Persik. Sama sekali tidak akan menurunkan IQ tingginya”, jawab Gan Oded.

Manusia lurus seperti Anda akan geram melihat aksi Inul, Anisa Bahar, Trio Macan, hingga Dewi Persik. Tapi tunggu dulu. Sebelum Anda geram, simak ocehan Gan Oded yang rupanya diam-diam mencuri dengar acara infotaintment tersebut, sehingga tiba-tiba muncul ide di kepalanya untuk menurunkan tulisan ini.

Pertama: Musik dangdut akan gagal disebut dangdut jika saja unsur erotisme yang terkait dengan aksi goyangan dieliminasi. Orang masih mau mendengar Bang Haji Rhoma bernyanyi dengan gaya paling banter menggoyangkan gitar ke kiri dan ke kanan. Tapi masa iya seorang Elvy Sukaesih atau Camelia Malik bergaya serupa? Bisakah Anda bayangkan penyanyi dangdut lainnya (yang seangkatan) bernyanyi dengan pakaian sopan tanpa goyangan? Kalau perlu pakai kerudung yang rapi? Kalau begini, namanya ya bukan dangdut lagi, tapi qasidahan. Padahal di dalam jenis musik yang satu ini, setiap hentakan gendang, untaian nada seruling, ketukan irama yang ditingkahi betotan bass yang khas, akan merangsang saraf-saraf tubuh untuk paling tidak menggoyangkan kedua jempol Anda, sebagaimana seorang penggemar trash metal sejati akan melakukan aksi headbang ketika jagoannya beraksi. Jadi poinnya di sini adalah, goyangan sudah terlanjur menjadi bagian wajib, sudah jadi budaya, bahkan bagian dari rukun dangdut. Dan saya curiga, fenomena ini bukannya tidak disadari oleh Bang Haji yang sejak awal lantang meneriakkan dakwah untuk menumpas segala bentuk kemaksiatan di atas muka bumi melalui musik yang diusungnya itu.

Kedua:  pada perkembangan selanjutnya, peradaban musik dangdut tanah air melahirkan makhluk berbakat bernama Inul Daratista. Jauh-jauh hari sebelum wanita lugu asal Pasuruan ini memperoleh kekayaan melimpah dari bakatnya itu, di tanah kelahirannya ia sudah dikenal orang. Aksi panggungnya digemari masyarakat lokal. Di sini Inul cukup jeli untuk tidak sekadar meniru senior-seniornya, tetapi memodifikasi goyangannya sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Maka lahirlah apa yang disebut goyang ngebor. Tetapi lebih jeli lagi sang pencari bakat yang dapat dengan mudah melihat pundi-pundi emas di balik pantat Inul. Maka jadilah Inul sebagai bagian dari sejarah peradaban dangdut di tanah air.

Ketiga: makhluk-makhluk lainnya semacam Anisa Bahar, Uut Permatasari, Dewi Persik atau Trio Macan, tentu saja tak mau kalah. Setelah fenomena Inul, semakin tampak jelas di depan mata apa-apa yang digandrungi masyarakat. Maka kemudian mereka ini mati-matian memodifikasi sedemikian rupa goyangan seniornya itu sehingga lahirlah istilah goyang gergaji, goyang kayang, goyang satu kaki, patah-patah, ngecor, ngocok, geboy hingga vibrator –­yang tidak ada gaya jempol. Jadi mereka ini belajar dari seniornya juga, hanya saja mencoba lebih kreatif.

Dalam dunia sains -bahkan dalam dunia apapun– tidak ada penemuan yang bersifat orisinil. Inovasi mutakhir lahir karena menyempurnakan prinsip-prinsip yang lahir sebelumnya. Teori relativitas tak mungkin mencuat jika saja Tuan Einstein gagap dalam menganalisa teori mekanika klasik Newton. Begitu juga halnya dalam musik.

Diawali kehadiran sang raja dan ratu dangdut yang menggebrak khasanah musik tanah air, dangdut berjaya. Siapapun yang punya bakat cengkokan vokal disertai goyangan tergiur untuk terlibat di dalamnya. Lalu lahirlah Inul. Inul belajar dari seniornya bagaimana melakukan proses kreatif sehingga kehadirannya digandrungi masyarakat luas. Dewi Persik datang menyusul, bahkan lebih kreatif lagi. Ia sadar betul bahwa bukan goyangannya saja yang bernilai jual. Sepasang auratnya yang sengaja disembulkan juga bernilai jual, mengundang perhatian dan menjadi daya tarik bagi para penggilanya. Jadi sebetulnya perempuan ini tidak perlu melancarkan jotosan maut ketika tiba-tiba saja tangan si hidung belang menggeranyangnya. Bukankah ia sudah tahu konsekuensinya sejak awal? Bukankah ia sendiri yang mengundang kejadian itu? Sebagaimana Bang Haji yang tentunya tahu persis sejak awal bagaimana efek budaya dangdut, yang perlahan tapi pasti akan menggeranyangi nilai-nilai moralisme bangsa.

Berdakwah melalui musik dangdut tidak efektif. Ibarat kita ingin mengusir setan memakai topeng setan, mana mungkin setan takut. Tetapi Bang Haji manusia biasa, ia makhluk yang lemah seperti kita. Untunglah ada makhluk-makhluk lainnya yang punya posisi lebih strategis seperti Pak H. Wahidin di Tangerang dan Pak H. Dada Rosada di Bandung. Gan Oded memberikan standing ovation untuk keduanya. Tetapi Gan Oded juga mengajak untuk menelisik lebih jauh, tidak cukup hanya melihat secara parsial.

Saya tidak ingin menceramahi orang pintar seperti Anda-anda ini. Saya hanya ingin mengutip omongan orang “kafir” bernama Vladimir Putin, Presiden Rusia yang mantan pentolan agen KGB itu. Di akhir acara infotaintment pagi itu, Ust. Wahfiuddin juga mengutipnya.

Di Time Magazine terbitan 31 Desember 2007/ 7 Januari 2008, Putin ditanya: “What role does faith play in your leadership?” Secara mengejutkan ia menjawab: “First and foremost, we should be governed by common sense. But common sense should be based on moral principles first. And it is not possible today to have morality separated from religious values“.

Perhatikan hubungan keterkaitan antara common sense, moral principles, dan religious values di atas. Anda boleh menyebut Putin orang kafir, tapi wallah, omongannya Islami betul, mungkin tindakannya juga. Dan sependek yang saya tahu, Putin memang relijius.

Jadi kepada Bapak-bapak pemimpin tanah air ini, seandainya belajar kepada Ahmadinejad dirasa terlampau sulit, karena Anda harus rela hidup sederhana serta tak segan menampik tawaran tidur di hotel mewah di saat kunjungan kenegaraan, tidak ada salahnya Anda-anda ini merenungi omongan Tuan Putin itu. Setelah itu, simak ulang apa yang selalu disampaikan Aa Gym: mulailah dari diri sendiri.

Kepada Anda yang pemimpin, mulailah benahi diri Anda. Kepada Anda yang ustadz, ulama, da’i atau musisi sekaligus da’i, carilah strategi dan metodologi dakwah yang lebih strategis dan efektif. Kepada Anda yang penulis (tapi tidak laku), tak usah mati-matian mencari cela buku fenomenal Ayat-ayat Cinta atau Laskar Pelangi, yang jelas-jelas banyak bagusnya ketimbang celanya itu. Kepada Anda yang Dewi Persik atau Annisa Bahar, masa iya Tuhan pelit memberikan rezeki-Nya jika Anda berlaku lebih sopan. Kepada Anda yang produser acara TV, tidak cuma kontes dangdut kok yang mampu menyedot perhatian pemirsa. Dan saya serta Gan Oded, ya bisanya cuma berceloteh seperti ini.

Jadi, fenomena kemunculan Inul hingga Dewi Persik, ya karena Anda-anda juga yang gagal memberikan keteladanan. Maka jangan limpahkan kesalahan secara total kepada seorang Dewi Persik, meskipun secara kampungan, ia masih berusaha mati-matian membela diri. Mungkin dalam hatinya ia bergumam, “masih untung gua gak kayak Maria Eva yang juga anggota DPR itu.” Maka tidak perlu ngambek juga ketika Slank meneriakkan ‘Gosip Jalanan’. “Kalau Anda ingin kami membuat lirik lagu yang baik, ya bikin baik dulu diri Anda”, demikian Bimbim membela diri.[]

Categories: Pojok Celoteh
  1. April 14, 2008 at 2:11 am

    Nilai-nilai keislaman itu universal, tidak hanya artifisial belaka. Intinya harus ada koneksitas antara akal dan hati yang sejalan seimbang, sehingga bisa menyikapi berbagai peristiwa atau kejadian dalam kehidupan ini dengan lebih bijak dan bermartabat.
    Bukan dari sudut pandang mana moralitas itu dinilai, tapi sejauh mana nilai moralitas itu mengandung kebenaran yang nyata dalam kehidupan ini.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: