Home > Pojok Celoteh, Renungan > Sajak Orang Sesat

Sajak Orang Sesat

Shalat sambil bersiul atau berbahasa Indonesia itu bukanlah sebuah bentuk kejahatan. Ia baru akan tidak sopan ketika siulan itu dilakukan tepat di depan hidung atau telingamu.

Ibadah yang dilakukan dalam bentuk nyanyian sambil menyulam juga bukan kejahatan. Ia jadi kurang ajar ketika yang disulam itu mulutmu yang kebanyakan bacot.

Menyembah secangkir kopi ngebul, silakan. Menyembah sop kambing, monggo. Menyembah tongseng ayam, terserah. Bahkan mau menyembah sepatu butut milik Gan Oded sekalipun tidaklah jahat, kecuali setelahnya dipakai untuk menimpuk kepalamu.

“Lha, tidakkah penyimpangan-penyimpangan itu termasuk kejahatan vertikal?”

“Menyimpang menurut ukuranmu, menurut ukuran mereka kau yang menyimpang. Dan kalaupun itu kejahatan vertikal, biarkan urusan vertikal Tuhan yang urus!”

 “Tidakkah itu sesat? Dan kewajiban kita adalah memurnikan aqidah?”

“Murnikan dulu hatimu dari pikiran kotor dan niat-niat hati yang tercela!”

Sulit dipercaya bahwa di balik wajah-wajah garang penuh nafsu yang melakukan pengrusakan dan pembakaran itu, terselip niat suci untuk memurnikan aqidah. Meskipun mungkin saja karena kepolosannya (baca: kebodohan), sebagian dari mereka memang berniat seperti itu. Terkutuklah para aktor politik yang dengan segala jurus keculasannya itu berusaha memanfaatkan situasi. Sorry, bukan menuduh, bisikan gaib telah sampai ke telinga Gan Oded.

Memang kewajiban kita ber-amar ma’ruf nahi munkar, mengajak orang berbuat yang baik-baik dan menjauhi yang jelek-jelek. Tapi coba tanya hatimu yang terdalam, apakah keyakinan seseorang bisa dianggap kriminal? Apakah pikiran seseorang bisa diadili? Kata Kyai Mbeling, kau memikirkan menyetubuhi artis manapun saja tak bisa diadili hingga kau betul-betul mempraktekkannya.
 
Relakah kau ketika sekelompok orang bergunjing tentang istrimu yang panuan atau korengan? Bahkan seumpama yang didiskusikan itu body sexy istrimu, ­jikalau kau waras kau akan risih. Lha, ini masalah keyakinan yang lebih dari sekadar perkara istri. Banyak pasangan memilih cerai karena salah satunya melakukan konversi keyakinan. Keyakinan adalah hak yang paling asasi menyangkut hubungan manusia dan Tuhannya secara langsung. Melebihi bentuk hubungan terintim manapun yang ada di muka jagat ini. Kita boleh saja mengajak orang untuk menyakini apa yang kita yakini ­­–atau dalam konteks ini mengajak bertaubat dan kembali ke jalan yang benar–, tapi tak bisa kita memaksakannya.

Mengaku Jibril, mengaku Imam Mahdi, sampai mengaku Nabi barupun mbok ya kita kasih kesempatan dulu. Siapa tahu sedang teler. Dengan siraman seember air segar mungkin akan sadar lagi. Pengecut sekali kau yang tanpa tedeng aling-aling, tanpa memberinya kesempatan bersuara, beramai-ramai menghajar KO seorang bocah hijau kemarin sore yang sedang mabok. Biarkan sejarah yang membuktikan, yang kuat akan bertahan, yang lemah akan terhempas. Orang pintar bilang, serahkan pada mekanisme pasar bebas ide.

Dalam ukuran keyakinan kita yang mainstream ini, mungkin benar mereka sesat. Akan tetapi kau juga jangan kepedean dengan mengatakan sudah berada di jalan yang lurus, sehingga seolah-olah kunci surga sudah berada di tanganmu dan kau dapat berdialog dengan Tuhan kapanpun kau inginkan seraya mengklaim sudah mendapatkan mandat dari Beliau untuk berbuat apapun kepada siapapun yang tidak sejalan dan sepaham.

Setiap hari kita bacakan ihdina ash-shirat al-mustaqim. Tiada pernah henti hingga penggalan nafas terakhir. Kita senantiasa memohon agar diberikan petunjuk, dibentangkan sebuah peta akurat menuju jalan tol yang bernama ash-shirat, sebuah jalan lurus yang sangat lebar sehingga saking lebarnya seolah-olah menelan sang pejalan.

Nah, kita yang kegeeran ini jangan-jangan masih berputar-putar belaka di jalan protokol sebagaimana mereka yang sesat menurut pandangan kita. Mas, Mbak, Pak, Bu….Kita ini laron-laron yang beterbangan berusaha menggapai sumber cahaya sebagaimana mereka dengan pencapaian kebenarannya masing-masing. Kita ini sesungguhnya masih tersesat sebagaimana mereka menurut anggapan kita.

Selintas saja kau cermati, dalam konteks kenegaraan kini, tak ada satupun stake holder bangsa ini yang luput dari kesesatan. Ya sesat ideologis, teologis, akhlak, politik, budaya, perilaku, etika, hingga sesat syahwat. Jika Ahmadiyah berada dalam kesesatan, terlebih lagi orang-orang yang getol bikin stempel sesat.

Kita semua adalah sesat. Dan sesama sesat, dilarang saling mensesatkan!

Categories: Pojok Celoteh, Renungan
  1. hilda alexander
    May 25, 2008 at 12:31 pm

    Jadi teringat akan tindak tanduk FPI (*halah…. menyebut nama ini berarti pikiran saya masih kotor ya, tidak murni🙂 )… tapi tadi pagi saya nonton Insert, Habib Rizieq mengislamkan Steve Emanuel tuh…

    Apakah kelak Steve bakal jadi kader (eksklusif, secara dia bule hehehe) baru FPI? Mohon maaf ustadz, komentar saya kali ini ‘nyerempet-nyerempet’….

    IP:
    Komentar apa aja boleh mbak, namanya juga orang sesat🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: