Home > Renungan > Islam Indonesiaku Islamnya Preman

Islam Indonesiaku Islamnya Preman

Lihatlah…. Alih-alih tersentuh dengan wajah-wajah ketakutan para perempuan tua yang saling berangkulan satu sama lain, serta ditingkahi jeritan tangis anak-anak, wajah-wajah garang nampak semakin kalap. Semestinya tak ada nurani yang tak tergetar menyaksikan pemandangan menggiris hati itu. Ini kusaksikan di televisi dan beberapa foto di majalah. Sementara itu di tempat dan waktu yang lain:

“Bunuh, bunuh, bunuh, BUNUH! PERANGI AHMADIYAH, BUNUH AHMADIYAH, BERSIHKAN AHMADIYAH DARI INDONESIA! Ahmadiyah halal darahnya! Persetan HAM! Tai kucing HAM! Allahu Akbar” (1)

Entah kerasukan setan apa Sobri Lubis ini….

“Hukuman bagi nabi palsu sederhana: Kalau ditemukan, tangkap, potong leher!” (2)

Abu Bakar Baasyir tak mau kalah. (Hayoo..siapa ingin hidup di negara Islam ala Pak Tua ini?)

“Bila pengikut Ahmadiyah tidak mau bertobat, hukumannya mati!” (3)

Hebat betul M. Khattath ini mengambil alih peran Tuhan, atau mau jadi Tuhan Bung? Biar Baasyir jadi nabinya.

*****

Sungguh ku tak habis pikir. Apakah mereka dengan segala atribut keislaman yang paling “nyunnah” ini tak pernah mentafakuri ayat:

…. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 5:8).

Dengan cara demikiankah sosok lembut al-Mustafa sang pembawa ajaran yang rahmatan lil ‘aalamiin ini diteladani? Adakah dalam benak mereka, jika Rasulullah masih hidup, seperti itu beliau mengompori massa?

Duh Gusti….berikanlah sepercik pemahaman kepada hambamu ini, apakah sesungguhnya yang sedang terjadi di negeri ini.[]

Catatan:

(1), (2), (3): Berdasarkan kesaksian Ade Armando, yang ditulikannya di majalah Madina.

Categories: Renungan Tags:
  1. May 8, 2008 at 3:16 am

    Inilah kaum khawarij abad 21

  2. abualitya
    May 8, 2008 at 5:29 am

    jika Sabri Lubis yang disebut di atas adl Sabri Lubis yang pernah “nyantri” di Mesir dan saya pernah melihatnya, maka–meski sama-sama pernah meneguk air sungai Nil–saya berlindung kepada Allah dari meniru kelakukan dan omongan primitifnya itu…

  3. May 8, 2008 at 6:35 am

    Videonya saya cek di Youtube ternyata sudah ada yg upload:

  4. hilda alexander
    May 25, 2008 at 12:42 pm

    Harusnya dia (Sobri Lubis) dikenakan pasal ‘hasutan’, mengajak orang untuk melakukan tindak pidana (membunuh)kalo tidak salah pasal 340 KUHP ya….

    IP:
    Betul, pasal pembunuhan berencana…

  5. Nugi
    June 15, 2008 at 9:50 am

    Dramatis…
    Kang Irfan tulisannya progresif sekali ya…
    Saya kalo bacanya persis seperti nonton sinetron… yang ditayangkan cuma kekerasannya saja. Nyaris di mata kang Irfan tidak pernah ada kelembutan dan kebahagiaan kecuali cerita kekerasan. Kayaknya Kang Irfan nggak mau tau deh sebab munculnya kekerasan itu. Kalau Sebagian ummat Islam merasa sakit hati dan tersinggung dengan kelompok lain yang dianggap melecehkan agamanya, itu kekerasan bukan?? Justru kekerasan mental psikologislah yang paling sadis di dunia ini, Kekerasan fisik hanyalah efek dari kekejaman psikologis itu sendiri…Coba deh, perspektif kang Irfan di-extend dikit… Kalo model tulisan kang Irfan begini terus, yaaa… Kang Irfan sama saja memprovokasi pembaca untuk tidak perlu tau sebab-sebab kekerasan fisik itu muncul.. Coba yang berimbang, agar pembaca jadi cerdas.. jangan doktrinal seperti ini…. Waaahhh… Kak Irfansudah terjebak pada frame anti balancing…

    ________________________________________________
    IP:
    Terima kasih atas masukannya. Anda pernah dengar cerita Jalaluddin Rumi tentang sekelompok orang buta yang ingin mencoba mendeskripsikan gajah? Yang pegang ekor bilang gajah itu seperti ular, yang pegang kuping berpendapat gajah itu lebar seperti kipas, yang meraba kaki bersikeras gajah itu kokoh seperti tiang, dst… Secara tidak langsung Rumi ingin menyampaikan pesan bahwa pendapat orang itu bisa berbeda-beda sesuai dengan perspektif yang ia miliki, yang jelas masing-masing mempunyai pijakan argumentasi.

    “Nyaris di mata kang Irfan tidak pernah ada kelembutan dan kebahagiaan kecuali cerita kekerasan.”
    Justru itulah saya ingin mengajak orang untuk kembali kepada Islam yang penuh kelembutan dan kebahagiaan. Meminjam istilah tempo: beriman tanpa harus jadi preman.

    “Sebagian ummat Islam merasa sakit hati dan tersinggung dengan kelompok lain yang dianggap melecehkan agamanya.”
    Yang melecehkan agama itu adalah orang-orang yang dengan kesadaran penuh melakukan penghinaan, semisal Salman Rushdie dan Geerts Wilders, bukan orang-orang yang menjalankan keyakinan keberagamaannya. Kebetulan saja keyakinannya berseberangan dengan pandangan mainstream. Lalu, mestikah kepala orang-orang ini kena pentung? Tempatnya dibakar? Bahkan dipotong lehernya? Alamaak, keberagamaan model apa ini?

    Nah, Mas Nugi tidak perlu resah. Anggap saja tulisan-tulisan saya ini lahir akibat kegelisahan saya terhadap realitas yang saya tangkap. Bahwa ada realita lain yang luput atau belum ter-capture, itu sangat mungkin karena memang kita baru berhasil mendefinisikan “gajah” secara parsial. Yang jelas, pencapaian keyakinan saya adalah bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan terhadap orang yang berbeda pendapat. Saya yakin Anda baca sejarah Islam. Dan saya pun yakin, jika Anda membacanya dengan cermat, Anda akan gagal menemukan Rasulullah mengajarkan Islam dalam paras kasar seperti yang Anda saksikan pada sebagian umat Islam dewasa ini.

    Mas, Anda boleh saja meng-klaim -meskipun tanpa argumentasi- bahwa yang saya tulis doktrinal belaka. Tetapi saya pun bisa berkata sama, bahwa Anda baru sebatas menjangkau realitas –meminjam bahasa Anda- kekejaman psikologis. Dengan kata lain, ada hal-hal yang luput dari penglihatan Anda. Tahukah Anda bahwa akar-akar kejumudan fundamentalisme dalam Islam bisa dilacak jauh-jauh sebelum para tokoh agama kita meributkan masalah ini? Dan ini tidak ada hubungannya dengan kekerasan mental psikologis yang Anda sebut itu.

    Sampai titik ini, mungkin kegelisahan yang saya rasakan sama seperti yang Anda rasakan. Hanya saja kita mencoba meneropong dari perspektif yang berbeda.

    O ya, lain kali saya mau coba bikin sinetron cinta. Sementara ini, kalau Anda tidak suka, Anda bebas memindahkan channel Anda.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: