Home > Agama, Renungan > Ideologi Minder

Ideologi Minder

Sore itu nampaknya sayalah satu-satunya yang mempunyai pendapat berbeda, yang mungkin membuat kuping hadirin -yang tidak siap menerima perbedaan pendapat- merasa panas. Dengan segala kerendahan hati, tanpa bermaksud meremehkan siapapun, saya merasa sedang berada di tengah kumpulan orang yang belum terbiasa “mendobrak” kemapanan pandangan mainstream, merasa sudah cukup, aman dan nyaman dengan keyakinan yang terbangun secara taken for granted.

Kemudian dengan intonasi setengah ragu –karena menjaga perasaan orang– saya katakan bahwa keyakinan adalah produk dari pikiran, dan pikiran sama sekali tak bisa diadili atau dikriminalkan. Jadi mempersoalkan keberadaan Ahmadiyah di Indonesia ini hanya menghabiskan energi belaka. Alangkah lebih maslahat jika dicurahkan untuk hal-hal yang high priority, sembari mencicil PR bangsa ini yang kian hari kian menumpuk.

Ahmadiyah bukan kumpulan sekte yang menyeru untuk bunuh diri massal. Mereka tidak menganjurkan perampokan atau pemerkosaan. Mereka tak makan uang negara. Mereka juga tak pernah terlibat dalam upaya-upaya makar terhadap negara. Pun tak pernah terdengar keterlibatan kelompok ini dalam peledakkan bom yang menewaskan ratusan nyawa tak berdosa. Masyarakat Ahmadiyah baik, kehidupan sosialnya pun baik. Bahkan saya yakin, Mirza Ghulam Ahmad itu orang baik.

Mereka ini bukan sekumpulan orang-orang yang terbelakang. Mereka manusia-manusia beradab. Justru paham Wahabisme yang kian merebak di negeri inilah yang jauh lebih primitif. Tidak ada peradaban yang bisa dibanggakan, anti seni, nyaris tak berbudaya. Dakwah yang ditawarkan pun berparas seram. Contoh terdekat, simak saja omongan barbar sekumpulan ulama preman ketika seperti orang kalap berorasi ingin menghabisi para pengikut Ahmadiyah. Dengan modal beberapa kata kunci: bunuh, perang, halal darahnya, potong lehernya.

Ahmadiyah sama sekali bukan gerakan politik. Beberapa pakar malah menganggapnya sebagai gerakan tasawuf dengan cirinya yang khas. Dari segi teknologi, mereka mempunyai beberapa stasiun televisi dan radio di Eropa yang menyiarkan  24 jam sehari pelajaran tentang Islam, akhlak, dan ekonomi. Bung Karno menyebutkan bahwa Ahmadiyah merupakan salah satu faktor penting dalam pembaharuan Islam di India, dan satu faktor penting pula dalam propaganda Islam di benua Eropa khususnya, dan di kalangan kaum intelektual seluruh dunia umumnya. Untuk menyebut satu nama, DR. Abdussalam, pemenang Nobel Fisika, adalah orang Ahmadiyah.

Walhasil, mereka “hanya tersesat” dalam masalah penafsiran agama. Itupun menurut ukuran keyakinan kita yang “mainstream”.

Imam Ali menyebut orang-orang Khawarij sebagai orang-orang yang sebetulnya sedang mencari kebenaran. Orang yang tersesat dalam mencari kebenaran lebih baik daripada yang mencari kebatilan dan menemukannya. Padahal, eksistensi Khawarij sangat mengancam jiwa siapa saja yang mempunyai pemahaman berbeda dalam Islam. Lalu mengapa kita harus resah dengan Ahmadiyah?

Saya mencoba merenungi. Pada hakikatnya, sebagaimana kita, mereka sedang berusaha menggapai jalan kebenaran, dengan mengambil jalur yang paling mereka yakini tentunya.

Ash-shiraath al-mustaqiim adalah jalan yang lurus. Kita analogikan sebagai jalan tol yang sangat lebar, yang akan mengantarkan kita dengan cepat ke tempat tujuan, tanpa keraguan sedikitpun kita akan tersesat di dalamnya. Semua orang dengan pilihannya masing-masing berusaha mencari gerbang terdekat.

Semua jalan yang baik pada akhirnya akan bermuara kepada ash-shiraath al-mustaqiim. Jalan yang baik ini tak lain dari jalan-jalan kedamaian. Dan melalui jalan kedamaianlah Allah akan mengantar manusia menuju ash-shiraath al-mustaqiim. Menurut hemat saya, Ahmadiyah adalah agama kedamaian, bisa jadi Allah akan mengantarkan mereka menuju keselamatan. Wallahu a’lam.

Rahmat Allah sangatlah luas, meliputi segala sesuatu, melampaui apa-apa yang terjangkau pikiran manusia. Malangnya, kita seringkali mempersempit rahmat Allah yang Maha luas itu, bahkan tak sedikit yang tak segan mulai mengambil peran Tuhan dalam menentukan hidup-mati hingga surga-neraka seseorang yang berbeda pemahaman.

Sungguh saya tak berani geer dengan mengatakan sudah berada di jalan yang paling benar. Paling pede saya hanya bisa mengatakan, saya punya peta yang menurut saya paling akurat –berdasarkan informasi yang saya kumpulkan dan pelajari– yang saya yakini mampu mengantarkan saya (dan Anda) ke gerbang tol dengan jarak dan waktu terpendek. Adalah suatu kewajaran (bahkan kewajiban) jika saya ingin mengajak orang-orang untuk mengikuti jalan yang saya pilih. Tetapi jika mereka menolak, sedikitpun saya tak bisa memaksanya, apalagi sampai melemparinya batu. Bisa jadi bahwa informasi yang saya sampaikan ini masih kurang persuasif sehingga belum berhasil meyakinkan mereka. Jika ada yang mengatakan bahwa jalan yang saya tempuh ini tidak benar, ini malah jadi pembelajaran buat saya, bahwa ternyata saya masih gagal mengartikulasikan pemahaman saya.

Kepada Anda yang sewot dengan Ahmadiyah, dari sisi mana Anda melihat bahwa keberadaan Ahmadiyah di Indonesia akan mengancam harta, jiwa serta keyakinan Anda? Kalau Anda merasa benar, mengapa harus takut? Jika Anda menemukan fakta bahwa banyak orang tertarik masuk Ahmadiyah, seharusnya Anda introspeksi diri, jangan-jangan ada yang salah dengan metodologi dakwah Anda. Atau malah pondasi keyakinan Anda yang ternyata masih rapuh. Jadi tak usah minder. Ideologi minder hanya milik kaum Wahabi yang gemar menggunakan cara kekerasan. Dan kekerasan yang mereka lakukan hanya untuk menutupi ketidakmampuan dalam menghadapai tantangan wacana intelektual. Coba cari satu saja tokoh intelektual Wahabi yang berasal dari Arab Saudi misalnya, saya jamin jutaan rambut Anda akan rontok (seperti saya).

Untuk membuktikan kekokohan akidah yang kita anuti, kita harus berani membenturkannya dengan “kebenaran-kebenaran” versi lain, sampai terbukti benar kehebatan milik kita. Selanjutnya biar putaran roda sejarah yang menentukan, yang kuat akan bertahan, yang lemah akan terhempas. [IP]

Categories: Agama, Renungan
  1. May 12, 2008 at 7:15 am

    mang Irfan, ngomong-ngomong soal Ahamdiyah, saya salut kpd orang2 Syi’ah yang walaupun sering di kritik oleh orang2 Ahmadiyah dalam website-nya, tapi selalu “membela” orang Ahmadiyah dari ancaman kelompok muslim (?) garis keras Indonesia. Saya tahu bahwa yang dibela orang Syiah bukan keyakinan Ahmadiyah itu sendiri, tetapi hak mereka untuk mempunyai faham/keyakinan ataupun penafsiran yang berbeda atas ajaran Islam yang rasanya mustahil bisa dipaksakan, sebaimana firman Allah : “laa ikrohafiddin” tidak ada paksaan dalam agama. Menurut saya hal ini berlaku baik dalam internal agama (antar mazhab/aliran) ataupun antar agama.

    Sungguh sulit difahami ketika kesadaran seseorang akan muncul dari suatu keterpaksaan. Memangnya robot ?

  2. May 14, 2008 at 11:36 am

    muhun kang satuju. kita harus bedakan yang najah ( selamat ) dengan yang hak. tidak semua yang tidak hak itu tidak najah.
    jangan mempersempit surga dan memperluas neraka.

  3. May 19, 2008 at 6:18 pm

    Ustad Iwan, kmh kabarna? Si bungsu damang? Selamat yah…

  4. May 23, 2008 at 7:57 am

    Kalau di Jepang ada seorang petarung bernama Sakuraba dgn julukan The Gracie Hunter, kini di Indonesia ada The Wahabi Hunter, setidaknya pertarungan secara pikiran / ideologi. Keep on fighting bro

  5. nahawan
    September 12, 2008 at 3:06 am

    kang irfan memang berbakat bermain kata-kata…indah nian tulisannya….

  6. reza
    October 15, 2008 at 5:01 am

    Setujulah Kang Irfan ! Banyak fitnah terhadap Ahmadiyah, syahadatnya beda,hajinya ke India, kitab sucinya Tadzkirah, sholatnya beda dan tuduhan-tuduhan lainnya. Pertanyaannya, mengapa Arab Saudi melarang penganut Ahmadiyah untuk beribadah haji ? Ini membuktikan bahwa orang Ahmadiyah pun melaksanakan ibadah hajinya ke Mekkah. Kemudian, proyek yang sedang digarap Ahmadiyah adalah menerjemahkan Al-Qur’an dalam 100 bahasa dunia, hal ini membuktikan bahwa kitab suci orang Ahmadiyah adalah Al-Qur’an juga.Jadi, sekarang ini propaganda wahabi sedang gencar-gencarnya mengadu domba umat Islam, sayangnya umat Islam sendiri tidak sadar.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: