Home > Budaya, Pojok Celoteh > Curhat Ujang Kemod (2)

Curhat Ujang Kemod (2)

Nyaris tak ada yang bisa dibanggakan dari diri Mang Supi. Dompet, cekak. Hobi nyanyi, suara pas-pasan. Hobi gitar, modalnya 2-3 jurus. Wajah yang dia klaim di atas pas-pasan pun kini perlahan memudar seiring rambutnya yang kian hari kian erosi. Maka luluh lantaklah cita-citanya menjadi pemain band terkenal.

Tapi satu hal ia bertekad, mencoba menepati segala janji yang pernah diikrarkannya. Termasuk berjanji kepada Anda untuk menceritakan Ujang Kemod yang ngebet ingin bisa main gitar. Namun tidak seperti pada cerita pertama di mana Anda bisa menyimak kisahnya Ujang. Kali ini Mang Supi tidak memberi sedikitpun kesempatan pada Ujang untuk berceloteh.

“Kemari Jang, aku ajarkan kau nomor-nomor ciamik untuk menaklukan hati Neng Odah, gadis pujaanmu. Sekaligus aku akan mempromosikanmu supaya diperhitungkan di blantika musik tanah air. Kau sudah punya modal, suaramu cuma beda tipis dengan Pasha Ungu”, Mang Supi mencoba menyuntikkan semangat dengan menyebut penyanyi favorit Ujang hingga nampak kini hidungnya mengembang.

“Sayang potongan masih beda tebal”, ujarnya lirih seolah tak tulus memuji.

“Cuma begini Jang, inginnya aku mengajarkan musikalitas cita rasa tinggi. Sayangnya musik jenis ini pasti tak laku di pasaran. Jadi sebelum masuk bab pertama menggonjreng gitar, aku harus ajarkan dulu prinsip-prinsip komersialitas dalam industri musik. Baru kemudian dilanjut dengan idealisme dalam bermusik.

Pertama. Kau harus tutup mata dengan urusan mutu. Karena apa saja yang dikomersilkan pasti turun mutunya. Siapa bilang musik dangdut berkualitas rendah? Cita rasa estetis dangdut tak kalah dibanding musik jazz. George Benson boleh saja pamer teknik scating, yakni bermain melodi gitar diiringi suara mulut. Tetapi taruhan kuping, ia takkan mampu meniru cengkok maut Bang Haji Rhoma. Jadi sebagaimana jazz, dangdut pun punya tempat tersendiri dalam bingkai seni musik. Hanya sayang, bumbu-bumbu komersialitas yang ditabur berlebihan membuatnya keluar dari ambang batas gurih. Sementara jazz -yang kurang komersil dan cenderung segmented– masih konsisten dengan aspek progresivitas dan improvisasi dalam bermusik, dangdut malah lebih menonjolkan unsur sensualitas. Beda jauh jika kita bandingkan dengan musik dangdut produk 70-80-an misalnya.

Jadi sorry mori Jang, bukannya saya munafik. Kita belumlah bicara moralitas, tapi pantat Inul dan belahan dada Dewi Persik membuat mutu dangdut merosot tajam. Sehingga sampai titik ini saya sepakat dengan Serieus Band: “lebih baik musik metal daripada musik jazz.” Lho?

Kedua. Yang namanya budaya pop bukanlah konsumsi masyarakat kelas atas. Orang kaya banyak gengsinya. Cenderung jaga jarak dengan selera pasaran. Contohnya begini, waktu Gan Oded nyetel lagu Norah Jones, kawannya nyeletuk, “emang dompet udah gak lepet? Gaya bener musiknya.”

“Lha, memangnya hanya orang gedongan saja yang boleh putar jazz. Sementara Gan Oded hanya boleh dengar alunan tembang The North Sea (baca: musik pantura) semacam Goyang Dombret atau Si Kucing Garong? Enak saja!” Padahal Gan Oded cuma kesengsem sama Neng Norahnya saja, lagunya sih biasa-biasa saja.

Biarlah para ahli antropologi, sosiologi, budaya, atau cabang ilmu apapun yang terkait, melakukan penelitian lebih lanjut tentang fenomena ‘feodalisme kultur’ ini. Sementara itu, kita ikuti sajalah aturan dunia. Toh ini cuma lahwun wa la’ibun belaka.

Jadi intinya adalah, kau harus pandai-pandai membidik celah, watak gairah pop culture bagaimana yang bakal digandrungi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Ketiga. Untuk terjun di industri musik, kau harus siap memasuki ranah kapitalisme. Harus tunduk pada selera pasar.

Nah, di sini aku tidak menganjurkan tiga poin di atas.

Keempat. Sebetulnya masyarakat kelas bawah, yang notabene mayoritas di negeri ini, tak muluk-muluk dalam mengapresiasi musik. Yang penting untaian nada indah bisa dicerna kuping, nyaris tak ada urusan dengan lirik lagu. Jadi masalah kualitas musik -dalam hal komposisi nada-, menurutku it’s all about perception, kita serahkan pada persepsi pendengar dengan segala subjektivitasnya.

Ijinkan aku berpesan, kalau kau masih bersikukuh dengan tema cinta, boleh saja. Tapi tak perlu mengekor kecengengan para musisi masa kini dalam mengungkapkan ratapan cinta, elegi patah hati, kandasnya harapan atau cinta bertepuk sebelah tangan. Terlampau gombal dan artifisial. Meskipun mereka juga tidak sepenuhnya keliru ketika mengatakan bahwa ini adalah hal lumrah, manusiawi dan potret dari realitas sosial semata.

Namun sungguh mulia jika kau cari tema cinta yang tidak mengalami degradasi makna. Kita beri tahu masyarakat luas bahwa cinta tidak cuma sebatas ketertarikan seksual antara sepasang insan.

Raciklah unsur lirik cinta yang lebih humanis dan ilahiah. Maka kelak, alih-alih risih, kau akan bahagia ketika anak-anak balita nusantara menyanyikan lagumu di pinggir-pinggir trotoar, di lorong jalanan, atau di sudut-sudut gang.

Jadi poin yang utama di sini adalah, fokuskan dulu pada lirik yang mendidik.

Selanjutnya kau pun akan bisa menjawab keberatan sebagian ulama terhadap produk estetika bernama musik ini.

Menurut hematku, ulama juga perlu mendalami seni-budaya, sehingga tidak gagap dalam mengantisipasi aliran deras produk budaya jahiliyah yang nampak seolah keren dan modern, padahal sarat mitos dan sihir.

Sesungguhnya musik bernuansa ilahiah mampu menghubungkan jiwa dengan Tuhan. Sehingga tercurahlah gairah kontemplasi, tersingkaplah tabir ruhani, mengantar jiwa membumbung tinggi melepas kerinduan kepada-Nya. Menuju gerbang keabadian. Esktase dalam puncak kecintaan.

Kalau bumi dan gunung-gunung bukan pecinta, rumput tidak akan tumbuh dari dada mereka”, ujar Mang Supi mengutip Rumi. Di sini jiwa sufistiknya mulai menyeruak ke permukaan.

Jadi bagaimana, siap mengguncang dunia? Kita ajak gabung Gan Oded dan Jang Kimung, kita bikin The Fab Four jilid II.”

Yang diajak bicara melongo saja. Mungkin gumamnya dalam hati, bicara apa ini orang?

“Saya paham dengan gejolak jiwamu, saya juga pernah muda. Tapi mari kita coba mengubah paradigma romantis dalam bermusik.

Manusia seusia kamu pasti lebih suka sesuatu yang berbau percintaan. Kata orang, setiap insan yang sedang jatuh cinta adalah pujangga. Tapi aku katakan satu hal, dulu waktu masih muda (dan ganteng) sering kukutip sajak-sajak cinta Kahlil Gibran, meski sebetulnya penyair satu ini lebih banyak mengungkapkan cinta yang sarat makna. Hanya saja anak-anak ABG saat itu (termasuk aku) lebih terlena pada permainan katanya saja.

Tak segan aku merayu sambil memetik gitar. Tapi apa hasilnya? Belum pernah sekalipun sejarah mencatat, Mang Supi muda diterima cinta karena untaian puisi dan nada. Dan tahukah kau, Om Gibran pun hingga akhir hayatnya tidak kawin Jang! Jadi makan tuh romantis, memangnya Neng Odah mau diparaban cinta?

Huahahaha…..”, tawa mereka membahana di bawah langit Jakarta yang penat. []

Categories: Budaya, Pojok Celoteh
  1. May 25, 2008 at 1:24 am

    Nice Blog
    Please visit me back at http://www.adminkidnet.co.cc

  2. Aditnawawi
    June 2, 2008 at 2:00 am

    …Untung saja Mang Supi cepat tanggap dan berubah pikiran.. kalau tidak.. belum tentu itu ada 3 anak tercinta mewarnai rumah di Legenda…🙂

    🙂 damang juragan?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: