Home > Pojok Celoteh > Berita Langit

Berita Langit

Kawan saya ini orang paling jujur sedunia. Saking jujurnya nyaris tak bisa berbasa-basi. Kalau bagus bilang bagus, jelek ya jelek. Tak peduli lawan bicaranya itu pria atau wanita, sudah kenal lama atau baru kemarin sore. Uniknya, di balik bicaranya yang ceplas-ceplos dan sering kali tanpa tedeng aling-aling itu, siapapun bisa cepat akrab dengannya.

Ia baik. Bahkan terlalu baik untuk ukuran manusia modern yang hidup di belantara metropolitan. Siapapun yang membutuhkan pertolongannya, pasti ia bantu. Tentu saja saya termasuk salah seorang yang pernah dibantunya.

Saya mencoba belajar dua hal darinya, meskipun selalu gagal dan gagal. Pertama, segala tindak tanduknya selalu berpijak pada nalar lurus. Ini sejalan dengan sifat jujurnya yang tak mungkin membohongi nurani. Kedua, dengan tingkat kecerdasan dan kemampuan yang ia miliki, sesungguhnya gairah materi apapun bisa dikejarnya. Namun ia lebih suka memilih jaga jarak dengan materi. Mungkin bagi orang seperti dia, gemerlap materi cuma jadi penghalang perjalanan transendennya dalam menggapai sesuatu yang status ontologisnya lebih tinggi, yakni sesuatu yang immateri dan ilahiah. Maka bertambahlah satu lagi daftar zahid yang pernah kukenal di muka bumi ini.

Tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba saja ia menghilang. Burung memberi kabar bahwa ia tengah didera problema hebat. Dan kini ia sedang ‘bertapa’ di sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk sandiwara kota.

Kemudian setelah hampir tiga bulan kehilangan batang hidungnya, barulah ia turun gunung. Namun agak mengejutkan….kawanku sekarang tidak seperti kawanku yang kukenal sebelumnya. Bicaranya jadi aneh, ngelantur ngalor ngidul. Rasanya tidak sejalan dengan kualitas akhlaknya yang semakin meningkat. Adakah ia seperti Ba Yazid al-Busthami, yang mengalami ekstase hingga memuntahkan sathhiyyat, yakni sebentuk ujaran nyeleneh kaum sufi tatkala terbentur keterbatasan definisi? Ibarat keterbatasan sebuah cangkir ketika mencoba menampung seember air.

Dan sejak saat itu nyaris tak ada waktu yang tak dimanfaatkannya untuk menceritakan pengalaman mistisnya itu. Bisa berjam-jam lamanya ia nyerocos. Saat jam kerja di kantor, istirahat makan siang, di rumah, di perjalanan, bahkan tak segan ngoceh di depan client.

Alhasil, nyaris hampir seisi kantor menganggapnya stress berat -untuk tidak mengatakannya gila. Hanya satu-dua yang masih mau menyimak omongannya. Dan saya salah satunya.

“Tahukah kau, sesungguhnya di balik carut marutnya negeri ini, ada pemerintahan bayangan yang dikendalikan oleh manusia-manusia pilihan. Mereka hidup di alam yang berbeda, namun masih bisa menjalin komunikasi bahkan mengendalikan bangsa ini. Kalau saja pemerintah kita sudi mendengar pesan-pesan gaib yang berkali-kali disampaikan, tentu rakyat tak akan menanggung beban penderitaan sedahsyat ini.”

“Mereka ini manusia-manusia langit yang ditugaskan mengamankan negeri dari berbagai bencana. Merekalah pasukan sang Ratu Adil yang kelak akan muncul sebagai penyelamat. Menegakkan keadilan, membasmi berbagai kemungkaran, serta menguak harta terpendam simpanan nusantara yang besar tiada tara…..”

Sebelum dahi Anda mengernyit terlalu dalam, saya potong ceritanya di sini. Berita kasyaf dari langit ini masih berlanjut panjang sekali. Bisa menghabiskan puluhan halaman jika saya selesaikan.

Yang jelas, ia mencoba memaparkan keterkaitan logis berbagai milestone perjalanan sejarah bangsa ini. Tak luput nama-nama tokoh legendaris anak bumi pertiwi ia sebut. Ki Semar, penguasa laut selatan Ibu Ratu Alam atau Nyi Roro Kidul, Sunan Kalijaga, sampai nama-nama yang asing di telinga, disebutnya juga. Konon Said Agil Munawar, melakukan penggalian prasasti batu tulis Bogor itu atas perintah Megawati, setelah mendapat instruksi gaib dari sang ayah, Bung Karno. Karena berdasarkan informasi, ada harta terpendam di bawahnya yang jumlahnya cukup untuk membayar hutang negara. Menurutnya lagi, tokoh proklamator kebanggaan kita ini sesungguhnya tidak benar-benar mati, melainkan sedang mengemban tugas sebagai wakil penguasa bayangan bersama pentolan DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo.

Sudah ya….nanti giliran Anda yang menganggap saya gila.

Dan di akhir cerita yang panjang itu ditutupnya dengan sebuah pertanyaan, membuyarkan imajiku yang mencoba mengembara lintas kosmik. “Jujur, kamu percaya tidak dengan ceritaku??”

Di depan makhluk jujur saya tak kuasa untuk tak jujur, maka saya katakan: “Saya percaya sebatas benang merahnya saja”.

Sebetulnya saya pernah mendengar kisah semacam ini dalam versinya yang lain. Dan tetap saya percaya bahwa ia masihlah seorang manusia terjujur yang pernah saya jumpai. Saya pun percaya bahwa Tuhan telah memberinya tiket perjalanan mistis-spiritual, sebagai reward atas riyadhah yang telah ditempuhnya. Hanya saja ia punya cara tersendiri dalam mengartikulasikan pengalaman ruhaninya. Dan tentu saja ini sulit dimengerti oleh makhluk jenis apapun -termasuk saya­- yang hidupnya masih berkutat dalam watak hedonisme alam rendah materi.

Saya yakin ia tidak sendirian. Di jaman serba edan ini semakin banyak orang yang skeptis menghadapi keadaan. Namun setidaknya, kisah semacam ini, bagi sebagian orang cukup mujarab sebagai obat pelipur lara. Sebab kelak, sang Ratu Adil pastilah datang bersama pasukan pilihannya. Segera menggantikan posisi manusia-manusia beku nurani yang kini duduk nyaman di kursi empuk pemerintahan. Kemudian menyelamatkan peradaban bangsa ini dari kebobrokan yang lebih akut lagi.

Setelah rasa kenyang dirampas, setelah semakin akrab dengan nestapa, setelah darah dan air mata bertumpah ruah, apalagi yang bisa menghibur kecuali mimpi dan harapan. Bukankan kita masih bisa bertahan karena mimpi dan harapan? Sementara itu, tunggulah saatnya, ketika para tiran merasakan tumpahan darah dan airmatanya sendiri.

Ya Tuhan, tiba-tiba saja saya merindukan ocehannya. Tapi sssttt…jangan bilang-bilang MUI ya? Sebab sekali saja senjata ampuh bernama fatwa sesat meluncur, maka segerombolan manusia kalap yang mengaku paling iman dan takwa akan segera menggebukinya. Nah, saya yang prestasinya nihil di bidang gebuk-menggebuk ini nanti cuma bisa melongo menyaksikan kawan saya yang jujur digebuki. [IP]

Categories: Pojok Celoteh
  1. June 1, 2008 at 5:19 am

    suatu saat akan terjadi perang habis2an ( bratayudha ) antara yang hak dan yang bathil, yang akan di pimpin oleh seorang yang ada mayat ( di ) tangan kanannya.
    alam sana lebih luas dari alam sini, sebeb akibatnya juga sangat berpengaruh terhadap fenomena yang ada di alam sini.
    tapi ini rahasia kita aja hehehee….. jangan sampai bocor ke bapak-bapak kiyai.


    IP:
    hehehe…masak bapak2 kyai ga tau, Ujang Kemod aja tau…

  2. June 11, 2008 at 2:06 am

    He..he..he…kade ah, tong kacandak ku sakaba-kaba. “Bersembunyi di tempat terang”

  3. hardi
    August 2, 2011 at 7:59 pm

    ngapain jauh-jauh ke langit, stiap manusia bisa tahu berita langit, asal ada kemauan besar

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: