Home > Agama, Pojok Celoteh > Kita Pentung Saja Rame-rame

Kita Pentung Saja Rame-rame

Tahun 9 H, empat belas pendeta nasrani utusan dari Najran mendatangi Rasulullah Saw yang saat itu sedang berada di masjid Nabawi. Mereka disambut dengan hangat dan penuh hormat, bahkan diijinkan untuk melakukan ibadah di dalam masjid, meskipun secara tegas Nabi Saw menghendaki mereka untuk menanggalkan segala atribut kemewahan sebelum memasuki masjid, serta meminta mereka untuk menghadap ke timur dalam melakukan ibadahnya.

Setelah menyampaikan kekeliruan pandangan mereka tentang Yesus, Nabi pun memungkasinya dengan tantangan terhadap bantahan mereka yang menganggap Nabi berdusta.

“Maka siapa yang membantahmu tentang masalah ini sesudah datang kepadamu ilmu, maka katakanlah, “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian, diri-diri kami dan diri-diri kalian! Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita mohon agar laknat Allah ditimpakan kepada para pendusta!”(QS. Ali Imran: 61).

“Perang doa” itu pun diselenggarakan keesokan harinya. Namun rupanya para pemuka Nasrani itu ngeper juga tatkala menyaksikan kilauan cahaya kebenaran dari wajah suci Muhammad al-Mushthafa, dari penghulu pemuda surga Hasan dan Husain, dari wanita termulia sepanjang zaman Fathimah Azzahra, serta dari sang gerbang ilmu Ali al-Murtadha yang menyertainya di belakang. Hati mereka goyah juga menyaksikan Rasulullah yang membawa serta para pemuka Ahlulbait yang disucikan Allah itu (QS.33:33). Ketakutan menyelimuti para pendeta Nasrani sehingga mereka menolak tantangan itu.

Demikianlah, laknat Allah tidak menimpa siapapun, sebab fragmen perang doa urung terjadi.

Tidak Ada yang Berdusta

Mubahalah adalah tadharru’ fiddu’aa, yakni memohon dengan sungguh-sungguh dalam berdoa, agar Allah menjatuhkan laknat kepada salah satu pihak yang berdusta. Jadi konteksnya adalah siapa yang berdusta dialah yang akan kena laknat. (Lihat bagian akhir ayat di atas, la’natallah ‘ala al-kaadzibiin. Kaadzibiin adalah orang-orang yang berdusta).

Seribu empat ratus tahun lebih kemudian, di Polda Metro Jaya, Habib Rizieq Shihab berteriak tantang Gus Dur untuk bermubahalah dengan membawa serta istri dan anak-anak mereka. Habib tidak main-main, sebab ia berpijak di atas keyakinan bahwa pendapat dirinya tentang Ahmadiyah adalah benar, sedangkan pendapat Gus Dur salah. Di lain pihak, Gus Dur pun berkeyakinan demikian. Sehingga keyakinan Habib terhadap sesatnya Ahmadiyah sama dengan keyakinan Gus Dur tentang perlu dibelanya hak hidup para Ahmadi. Keresahan Habib terhadap Ahmadiyah sama seperti keresahan yang Gus Dur rasakan. Jadi sampai batas ini, siapakah gerangan yang berdusta? Tidak ada.

Maka menurut hemat saya, tantangan Habib itu di luar konteks. Akan pada tempatnya jika redaksi akhir ayat Qur’an itu berbunyi: laknat Allah atas pihak yang salah.

Saya jadi bertanya-tanya. Kedua orang yang berseteru itu berpijak pada keyakinannya masing-masing, sehingga tidak ada yang melakukan kebohongan. Lalu apa yang dinantikan dari mubahalah, padahal konteksnya adalah laknat bagi pendusta? Mau bilang apa jika ternyata setelah bermubahalah keduanya aman-aman saja? Apa kata orang kalau ternyata Habib dan pasukannya masih setia dengan pentungannya, sedangkan Gus Dur masih merdeka dengan cetusan nyeleneh “syathhiyyat”-nya? Atau katakanlah, semisal salah satu dari keduanya mengalami kecelakaan di jalan, kita tak bisa mengatakan itu akibat dari mubahalah, karena tak ada hubungan keniscayaan. Tapi bisakah pasukan Habib menahan erangan jika ternyata Habib yang mengalami musibah?

Mentung Kepala Bandit Koruptor Diridhai Allah?

Untunglah hingga kini Gus Dur tak pernah menggubris ajakan perang sumpah itu. Sebab ini bisa jadi bahan tertawaan bagi sebagian orang yang skeptis dengan Islam. Dan dapat dipastikan para musuh Islam riuh rendah bersama tepuk tangan mereka.

Tapi seumpama saya jadi Gus Dur, saya terima tantangan itu. Dengan satu syarat, kita ubah aturan mainnya: Jika Habib yakin bahwa mentung kepala orang itu perbuatan yang diridhai Allah dan Rasulnya, mari kita berdoa dengan sungguh-sungguh agar laknat Allah ditimpakan bagi para koruptor sehingga kepala mereka dipentung ribuan tahun lamanya. Tapi jika ternyata Habib salah, kita doakan juga supaya para perampas rasa kenyang dari perut rakyat itu ditimpa kutukan lapar tujuh puluh turunan. Lalu, jika azab itu tak pernah terjadi? Kita pentung saja kepala bandit itu rame-rame, sampai puas. [IP]

 

Categories: Agama, Pojok Celoteh
  1. June 15, 2008 at 5:28 pm

    Sesama pentungan dilarang saling mentung

  2. hilda alexander
    June 17, 2008 at 3:08 am

    mari kita pentung rame-rame para koruptor (termasuk Urip dan Nursalim gak ya?)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: