Home > Agama > Fatima is Fatima

Fatima is Fatima

Ada dua tangan yang dicium Rasulullah Saw. Pertama, tangan seorang yang melepuh akibat kepayahan dalam mencari nafkah halal. Kedua, tangan puterinya sendiri, Fathimah.

Siapakah gerangan Fathimah, sehingga tangannya dicium oleh Rasulullah? Begitu kontras di tengah kultur Arab tatkala derajat kaum wanita begitu termarginalkan saat itu.

Dalam sebuah hadis, disebutkan empat wanita mulia: Asiyah istri Fir’aun, Maryam ibunda Isa as, Khadijah istri Rasulullah, serta Fathimah puteri Rasulullah Saw. Tiga nama pertama adalah wanita paling mulia di zamannya. Namun khusus untuk Fathimah, ia adalah sosok tersempurna yang melintas zaman, merentang sepanjang sejarah peradaban manusia, menembus ruang dan waktu hingga akhir zaman.

Siapakah ia, sehingga posisinya ditinggikan oleh Allah Swt sebegitu rupa? Siapakah ia, sehingga kalam suci Muhammad al-Mushthafa mengatakan dialah jantungku, dialah cahaya mataku, dialah buah hatiku, dialah bagian dari diriku, dialah yang semerbak wangi surga tercium darinya, dialah yang ridhanya adalah ridhaku dan marahnya adalah marahku?

Ialah Fathimah, wanita yang menyaksikan rangkaian penderitaan ayahnya. Paling merasakan kepedihan ayahnya lantaran ditinggalkan manusia yang dicintainya satu persatu, terlebih ketika kehilangan Khadijah al-Kubra, isteri Rasulullah yang tak lain adalah ibunya.

Ialah Haura Insiyah, sang bidadari berbentuk manusia, yang semerbak wangi surga dari tubuhnya senantiasa dihirup ayahnya.

Ialah Azzahra yang memancarkan cahaya. Cerah dan elok, sehingga tatkala menatap wajahnya, serta merta kesedihan Ali sirna.

Ialah yang lubuk hatinya dipenuhi kecintaan kepada ayahnya. Yang tangan-tangan kecilnya telaten membersihkan kucuran darah ayahnya akibat perang, membasuh tubuh ayahnya dari kotoran yang dilemparkan kaum kafir, serta pelipur lara di tengah kesedihan. Ibarat kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, totalitas pengkhidmatan kepada ayahnya membuatnya dijuluki Ummu Abiha, ibu dari ayahnya. Sebuah pujian yang cukup mengguncang masyarakat Arab.

Ialah wanita yang suaminya dipilihkan oleh Allah Swt. Pernikahannya diselenggarakan secara sederhana di bumi tetapi meriah di langit. Undangannya para malaikat, khutbah nikahnya oleh Jibril.

Ialah yang mampu menyusun rangkaian mutiara dalam khotbahnya, mencerminkan ketinggian tingkat intelektualitasnya. Sebuah demonstrasi kejernihan logika dan ketajaman pandangan.

Ialah ash-Shiddiqah, al-Mubarakah, ar-Radhiyyah, al-Mardhiyyah, ath-Thahirah, az-Zakiyah, al-Muhaddatsah, al-Bathul, al-Adzra, al-Haniyyah, Rasyidah, Raihanah, Shabirah, Muthahharah dan berbagai julukan lainnya.

Sayyidah Fathimah as, sumber inspirasi yang tak ada habisnya, yang menggema hingga akhir zaman. Model ideal dalam berbagai dimensi kehidupan, tidak saja bagi kaum wanita tetapi juga lintas gender. Pengabdian sempurna seorang anak bagi ayahnya. Partner sempurna bagi suaminya. Ibu sempurna bagi anak-anaknya. Politikus cemerlang penyuara keadilan serta penentang kezaliman. ‘Cum Laude’ jebolan Universitas Rasulullah, seperti suaminya Ali bin Abi Thalib. Dimuliakan Allah karena ketakwaan, jihadnya dan derajat makrifatnya.

Inilah Sayyidah an-Nisa al-Alamin, sang pemimpin wanita semesta alam.

Dalam karyanya yang berjudul Fatima is Fatima, DR. Ali Syariati menutup tulisannya yang luar biasa dengan kalimat berikut:

…..
And I wanted to begin in this manner with Fatima. I got stuck. I wished to say, ‘Fatima is the daughter of the great Khadijeh.’ I sensed it is not Fatima. I wished to say, ‘Fatima is the daughter of Mohammad (‘s).’ I sensed it is not Fatima. I wished to say, ‘Fatima is the wife of Ali (‘a).’ I sensed it is not Fatima. I wished to say, ‘Fatima is the mother of Hasan and Hosein.’ I sensed it is not Fatima. I wished to say, ‘Fatima is the mother of Zainab.’ I still sensed it is not Fatima.

No, these are all true and none of them are Fatima. FATIMA IS FATIMA.

Mencoba mendeskripsikan Fathimah, seperti mencoba mengungkapkan kemuliaan ayahnya Rasulullah Saw, Ali suaminya, serta Hasan dan Husein puteranya. Ibarat berusaha menuangkan seember air ke dalam cangkir kecil. Cangkir takkan mampu menampungnya. Segala penjelasan belumlah cukup untuk memaparkan keagungan mereka.

Maka seperti Syariati, saya pun hanya bisa menyampaikan: Fathimah adalah Fathimah.[]

______________________

Selamat atas kelahiran putri Rasulullah tercinta, Sayyidah Fathimah Azzahra as

 

Categories: Agama
  1. hildalexander
    June 29, 2008 at 5:50 am

    Saya rasa tak ada realitas di luar Fatima

  2. June 29, 2008 at 6:31 am

    Yaa wajihatan ‘indallah isyfa’ii lanaa ‘indallah

  3. abualitya
    August 28, 2008 at 5:36 am

    saya merasa menjadi orang tua paling bahagia “hanya” karena telah memberi nama bagi anakku: alithya zahra raihani. sblmnya saya menduga bhw hanya “zahra” yg merupakan bagian dari nama lengkap fathima. ternyata beliau juga punya gelar raihanah. maka nama “raihani” utk putri sy melengkapi kebahagiaan saya; anggap saja “raihani” adl bentuk nisbah dari “raihanah”, salah satu gelar siti fathima.
    ________________________
    IP:
    What a beautiful name….

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: