Home > Renungan > Pesan Singkat untuk Hidup yang Singkat

Pesan Singkat untuk Hidup yang Singkat

Mengapa kalian bergembira karena memperoleh dunia yang sedikit
dan tidak bersedih karena kehilangan akhirat yang banyak

(Imam Ali bin Abi Thalib as, Nahj al-Balaghah)

Pada musim hujan lalu, dengan sepeda motor Ahmad nekat menembus hujan deras. Teman-temannya menganggap ia agak keras kepala -mungkin bodoh- dalam hal ini. Tapi baginya menunggu hujan reda di pinggiran jalan adalah sebuah pekerjaan menjemukan dan sia-sia.

Adalah sebuah kesenangan tersendiri ketika melihat ratusan bahkan ribuan pengendara sepeda motor di Jakarta sibuk mencari tempat berteduh, sementara ia melenggang menembus hujan tanpa banyak saingan. Tanpa ada yang seruduk kanan-kiri. Tanpa kepulan asap knalpot yang menyesakkan dan seringkali membuat mata perih dan berair. Tanpa ada pelototan mata yang siap-siap sewot hanya karena sepeda motornya sedikit tersenggol. Kecuali cipratan air dari pengendara mobil, semua ritual rutin itu untuk sejenak libur. Dan tentu saja membahagiakannya.

Subhanallah, ia nikmati kucuran air yang membasahi sekujur tubuh. Ia rasakan udara terhirup lebih segar manakala polusi Jakarta sedikit berkurang. Memang tamparan air hujan lumayan mengganggu di wajah, tapi tak mungkin helm yang full-face ia tutup karena kabut segera akan memenuhi kaca helm hingga menghalangi pandangan.

Di rumah, anak-anaknya menyambut kedatangan sang ayah seperti biasa. Basah kuyup sepulang kerja ketika musim hujan bukanlah pemandangan aneh bagi mereka. Sudah biasa. Yang tak biasa adalah handphone disimpan di saku celana! Celaka…ia baru sadar, cepat-cepat ia lap dengan tissue dan segera dikeringkan. Ia hidupkan, tetapi tak ada reaksi. Ia coba dan coba lagi, benda itu tak jua bergeming. Aneka jampi-jampi juga tak mempan. Maka tewaslah seonggok alat komunikasi yang modelnya sudah ketinggalan zaman itu. Agak kuno dan murahan memang, tapi tetap saja ia enggan membelanjakan uangnya untuk meng-update barang yang baginya fungsinya cuma dua: sms dan telpon, sedangkan fitur lainnya cuma urusan gaya. Tapi….ya sudahlah….Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.

Di waktu dan kejadian yang lain, tepatnya minggu lalu. Tidak seperti biasanya, sore itu di kantor Ahmad merasa sangat kedinginan. Betul-betul menggigil. Di depan laptop, segelas air panas digenggam dengan kedua tangannya sambil diseruput sedikit demi sedikit. Tiba-tiba muncul sebuah email yang cukup menarik perhatian. Ketika tangan hendak meraih keyboard, dalam kejadian yang begitu cepat gelas tersenggol. Isinya yang masih panas itu tumpah dan menggenangi keyboard laptop. Ia bereaksi cepat. Tombol power ia tekan, kabel listrik ia cabut, lalu laptop diangkat dan dibalikkan hingga air mengucur membasahi karpet.

Beberapa saat ia tertegun. Ia mencoba menghidupkan kembali laptop itu. Bisu, tak ada reaksi.

Oh my….habislah semuanya. Perangkat perang andalan yang membuat dapur tetap ngebul tamat sudah riwayatnya. Pekerjaan yang sudah digarap berminggu-minggu hingga menguras energi siang-malam, beberapa prototype aplikasi untuk jualan, software-software yang sebagian kecil original (kebanyakan bajakan), sejumlah e-book berharga, foto-foto keluarga, MP3 (tentu saja bajakan), serta file-file penting lainnya belum sempat terselamatkan. Semua terjadi dalam waktu yang begitu singkat. Teramat singkat.

Di tengah kedinginan pagi buta, saat bangun tidur, tiba-tiba pikirannya tertuju pada satu hal. Bukan handphone bukan pula laptop. Tetapi masya Allah…..keluhan seseorang tadi malam cukup menamparnya.

Seseorang berkata: “Apa andalanku di akhirat kelak. Sedang aku merasa tidak pernah berbuat kebaikan yang spesial. Ibadahku biasa-biasa saja, sekadar menggugurkan kewajiban. Mengaji dan membaca cukup banyak, tetapi apa gunanya kalau tidak dipraktekkan dalam keseharian. Malah disengaja atau tidak, seringkali menjebakku kepada bentuk keangkuhan spiritual dan intelektual. Pengkhidmatan kepada sesama yang sering dianjurkan oleh ustadzku, dalam praktek hidupku menjadi omong kosong belaka. Jangankan berbuat untuk orang lain, untuk mempertahankan kualitas hidup keluarga sendiri saja cukup menyita waktu. Pantaskah melemparkan tudingan kepada rutinitas kerja yang aku jalani?”

Seseorang yang lain berkata: “Menurut Anda, pekerjaan apa sih yang cocok sehingga bisa seimbang dunia-akhirat? Akhiratnya dapat, dunianya juga tidak ketinggalan.”

“Aneh…. apa urusannya denganku sehingga mereka berkata seperti itu”, Ahmad membatin. Ia terdiam. Pertanyaan retoris yang ia rasakan agak sentimentil itu tidak dijawab. Tapi sepertinya tepat menggambarkan dirinya. Apalagi ketika tiba-tiba sebuah pesan singkat terbaca dari handphone-nya yang sudah diperbaiki itu:

Mengapa kalian bergembira karena memperoleh dunia yang sedikit dan tidak bersedih karena kehilangan akhirat yang banyak. (Imam Ali bin Abi Thalib, Nahj al-Balaghah)

Masya Allah….sms ini seolah pesan singkat dari langit, begitu nyambung. Tapi aku lebih parah….dunianya belum dapat, akhiratnya hilang banyak.

Pikiran menerawang. Kejadian hp yang basah kuyup, laptop tersiram air panas, aneka pertanyaan, hingga sebuah sms yang tiba-tiba, membentuk rangkaian pesan yang bukan tidak disengaja dibikin Sang Sutradara untuk mengingatkan siapa saja yang masih mau diingatkan. Dialah yang tak pernah istirahat, yang setiap waktu terlibat dalam alur lakon yang diperankan setiap insan. Kini Sang Sutradara sedang memberikan pengarahan kepada seorang aktor yang terlalu keasyikan dengan peran bebasnya, tetapi nyaris keluar dari alur cerita yang semestinya.

Dan jangankan hanya seonggok hp atau laptop, bahkan aktor tersempurna di muka bumi manapun bisa diputus kontrak mainnya, kapan dan dimana saja Beliau berkehendak. Melalui peristiwa yang tanpa pernah diduga-duga. Juga tanpa surat pemberitahuan sebelumnya.

Beruntung, dengan treatment khusus, hp dan laptop itu pada akhirnya bisa digunakan lagi, meskipun jadinya mengalami cacat fungsi. Bahkan hp-nya kini nampak semakin kumuh, ditempel isolatip akibat penutup baterenya patah ketika ia coba perbaiki. Tapi tidak apa-apa, yang penting masih bisa digunakan. Yang justru ia khawatirkan adalah bagaimana jadinya jika saat bangun tidur, tiba-tiba sudah berada di belahan alam lain? Dan tak ada satupun treatment khusus yang mampu mengembalikannya ke dunia untuk memperbaiki segala macam kesalahan yang pernah dilakukan. Sedangkan selaksa penyesalan sudah tiada guna.

Kemarin sore, istrinya melihat tetangga yang nampak segar bugar sedang bermain dengan anak-cucunya. Malamnya, Ahmad menerima kabar tentang kematian tetangganya itu. Raga yang sebelumnya nampak segar itu kini terbujur kaku tanpa nyawa. Begitu cepat dan mendadak.

Ia membisu, menerawang, dan merenung lebih dalam.

Nampaknya ucapan Imam Ali di atas -yang juga pernah disampaikan Rasulullah Saw- patut direnungkan. Senyampang nafas berhembus, mumpung nyawa masih dikandung badan. [IP]

Categories: Renungan
  1. hildalexander
    August 7, 2008 at 5:35 am

    Momen saat Ahmad ngebike menerobos hujan itu, “Gw Banget deh”. hehehehe….

    Anyway, kontemplatif. dunia gak dapet, akhirat jauh banget. Duh Gusti…

    Akankah kisah Ahmad ini bakal jadi serial?
    _________________________
    IP:
    Sebetulnya hidup Ahmad ini penuh kejutan2. Banyak sisi liar yang ingin ia share di blog sini. Cuma ini orang rada jaim, maunya cerita bagusnya aja, padahal banyak juga hikmah yg bisa dipetik dari sesuatu yg liar.

  2. August 20, 2008 at 2:20 am

    Pengalaman pribadi ni yeeee
    __________________
    IP:
    Ahmad mang Ahmad…..
    Urg mah HP na alus, henteu tatambalan kawas nu gering😀

  3. August 26, 2008 at 1:24 am

    Subhanallah, mani merinding bacanya, kapanpun dan dimanapun maut pasti akan menjemput, siapkan kita?, dan sadarkah kita?
    Nuhun pisan fan telah mengingatkan saya akan kematian.:)

  4. abualitya
    August 28, 2008 at 5:11 am

    Orang-orang sedang asyik rapat persiapan menghadapi tahun akademik baru. seperti biasa si mamang yang satu ini asyik sendiri; ngawut-ngawut dunia maya. ada dua situs favoritnya: icc-jakarta dan irfanpermana.com. akhir-akhir ini si mamang sedang rada (sok) sibuk; ada job buku dari salah satu penerbit di YK. judul yg diminta “kabar buruk dari malaikat izrail” alias tentang kematian. (Tidak) kebetulan jika Tuhan kemudian mengarahkan pencarian saya akan alamat web ke irfanpermana.com. Ya, “Pesan Singkat untuk Hidup yang Singkat” meneguhkan saya utk menerima job buku itu sepenuh hati. terima kasih Jang Ahmad. satu hal mempersamakan saya dengan dia: HP bututnya. hatur nuhun oge ka rerencangan Jang Ahmad nu tos ngaguar pangalamanana dina bahasa nu kacida pisan alusna. saha heula atuh, alo mamang, Jang Irfan!!!
    ______________________________________
    IP:
    Siiip….mang. Ditunggu terbitnya. Mudah2an prosesnya lancar supaya produktif terus berkarya. Hatur nuhun rorompok simkuring dilinggihan teras.

  5. nahawan
    September 15, 2008 at 9:23 am

    irfan … irfan … rasanya dikau sudah pantas jadi penulis, pandai mengobok ngobok perasaan dan lincah dalam untaian kata penuh makna. sayang sekali kalau harus disibukkan dengan urusan dunia yang tak kunjung reda.

    top lah…

  6. inggie
    September 27, 2008 at 2:42 pm

    rame uy….rd sedih bacana..he.he…

  7. wind
    October 14, 2008 at 8:02 am

    nice story…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: