Home > Agama > DR. Soroush yang Sensasional

DR. Soroush yang Sensasional

Irfan Permana

Beberapa tahun yang lalu, saya berkenalan dengan DR. Abdulkarim Soroush melalui bukunya, Reason, Freedom and Democracy in Islam: Essensial Writings, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan dengan judul: Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama (2002).

Kesan pertama yang saya tangkap adalah bahwa DR. Soroush yang muslim liberal hasil godokan timur dan barat ini pastilah orang pintar. Pengetahuan -termasuk pengetahuan agamanya- tentu mendalam, meskipun tidak mengenakan sorban dan jubah sebagaimana para mullah di negerinya, Iran. Bukunya, telah memberikan masukan yang berharga bagi saya, bahwa tidak semestinya takut mempertanyakan sesuatu yang terlanjur dianggap sakral, sebab tidak ada yang sakral dalam masyarakat manusia. Pesan implisit lainnya yang saya petik, tidak semestinya kita anti barat. Sebab nilai-nilai kebenaran pun tercecer di dunia barat. Tidak semua dari timur baik, dan tidak semua dari barat jelek. Dan Soroush telah berhasil mengawinkan filsafat barat, timur (khususnya filsafat Mulla Shadra), serta kandungan mistisisme dalam karya-karya Rumi, yang belakangan jadi idola utamanya. Sebuah kombinasi yang langka, sebab, sementara ia berusaha menghindari kungkungan tradisi dan otoritas keagamaan dalam kebebasan berpikirnya, di sisi lain masih berupaya setia dengan dasar-dasar agamanya. Baginya, untuk menjadi mukmin sejati, seseorang harus bebas, tidak berada di bawah tekanan atau paksaan.

Dalam buku itu, Soroush menyampaikan pemikirannya bahwa mesti dibedakan antara Islam sebagai identitas dan Islam sebagai kebenaran. Soroush hendak membedakan antara agama dan pemahaman agama. Agama secara hakiki adalah benar mutlak, namun pemahaman manusia terhadap agama bergradasi dan bisa saja salah. Poin ini berusaha saya pahami melalui cerita Jalaluddin Rumi tentang Gajah dan Orang Buta, dimana masing-masing orang buta itu menyampaikan deskripsi gajah secara berbeda-beda sesuai dengan bagian tubuh gajah yang mereka raba dan rasakan.

Ide lainnya adalah perampingan peran agama dalam masyarakat modern. Soroush yang free thinker ini mengatakan bahwa agama tidak seharusnya mengurusi semua urusan manusia. Di sini saya tidak/ belum berhasil menjangkau pemikirannya. Sebab keyakinan saya masih mengatakan bahwa agama -dalam hal ini Islam- merupakan pandangan hidup yang komprehensif. Tidak ada satupun aspek kehidupan yang luput dari perhatiannya. Tinggal bagaimana cara manusia menginterpretasikan pesan dan substansi yang terkandung di dalamnya.

Lebih jauh lagi, pemikir yang juga piawai di bidang fisika dan kimia ini mengkritik cukup pedas otoritas para ulama di negerinya terkait sistem pemerintahan yang mereka terapkan di Republik Islam Iran.

Menurut Soroush, wilayah al-faqih adalah anakronisme. Namun, dalam satu napas dia buru-buru menambahkan: “Saya tidak mengatakan bahwa Konstitusi (maksudnya, Konstitusi Republik Islam Iran -HB) mesti ditulis kembali. Tetapi, kecenderungan yang dominan di dalam masyarakat (Iran) mengarah kepada pembatasan wilayah al-faqih di dalam praktik. Saya berpikir bahwa pelan-pelan, orang akan mengabaikannya. Jabatan pemimpin (pemerintahan) pun akan menjadi lebih terbatas dan lebih terikat pada hukum ketimbang berada di atasnya.” (Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama, hal. xvi, bagian Pengantar, oleh Haidar Bagir).

Tak luput sistem pendidikan di hauzah ilmiah Iran pun kena semprot. Menurutnya, hauzah harus mengambil langkah-langkah praktis untuk memperbaharui metodologinya, sehingga dapat berdampingan dengan Universitas.

Berangkat dari poin-poin itulah, banyak kalangan, terutama barat, menganggapnya sebagai pemimpin intelektual gerakan pembaharuan di Iran. Masyarakat barat pun menyambutnya riuh rendah serta membuka pintu lebar-lebar baginya. Pemikiran Soroush pun semakin banyak menghiasai majalah-majalah terkemuka di Barat.

Terlepas dari pemikirannya yang dianggap nyeleneh oleh banyak kalangan Islam, bagi saya, Soroush adalah salah satu dari sedikit orang yang berani memfungsikan kemerdekaan dalam menumpahkan isi kepala, yang tidak sekadar copy-paste. Tentunya berani juga mempertanggungjawabkannya secara ilmiah.

Namun sayang, nantinya saya dibikin “patah arang” dengan pemikiran mutakhirnya yang mulai menggoyang sakralitas wahyu. Kalau boleh mendramatisir, saya shock setelah membaca wawancaranya yang menghebohkan bersama Radio Netherland, Belanda. Wawancara tersebut boleh dikatakan sebagai pengantar atau penjelasan bagi buku terbarunya yang berjudul: The Expansion of the Prophetic Experience, yang rencananya akan diterbitkan awal tahun 2009.

Di tanah kelahirannya Iran, pemikiran teranyarnya itu mengundang kritik tajam dari berbagai kalangan. Konon, polemik antara DR. Abdulkarim Soroush dan Ayatullah Ja’far Subhani dari kalangan mullah, masih berlangsung hingga kini dan diturunkan di surat-surat kabar Iran.

Saya mencatat beberapa poin dari wawancara tersebut, yaitu sebagai berikut:

1). Semua pemahaman manusia tentang agama bersifat historis dan bisa salah.
Idenya ini mengkritik teokrasi di Iran. Jika semua pemahaman manusia tentang agama bisa keliru, tak seorang pun bisa mengklaim untuk menerapkan syariat atas nama Tuhan, termasuk para ulama Iran.

2). Wahyu dapat dipahami melalui metafora sebuah puisi.
Menurut Soroush, wahyu adalah ‘ilham’, seperti halnya yang dialami para penyair dan mistikus, walaupun para nabi berada dalam level yang lebih tinggi. Di sini Soroush gegabah menganalogikan Nabi dengan seorang penyair.

3). Sisi manusiawi Nabi ikut berperan dalam penciptaan wahyu.
Menurut Soroush, Nabi hanyalah instrumen, ia hanya menyampaikan belaka sebuah pesan yang diterimanya dari Jibril. Nabi juga berperan sebagai pencipta wahyu. Apa yang ia terima dari Tuhan adalah kandungan dari wahyu. Muatan wahyu ini bagaimanapun tak dapat diberikan kepada manusia begitu saja dalam bentuk hakikinya, sebab ia berada di luar pemahaman bahkan tak terjangkau kata-kata. Lebih lanjut, sisi kepribadiannya juga memainkan peranan penting dalam membentuk teks. Sisi kepribadian itu adalah sejarah dirinya, termasuk ayahnya, ibunya, masa kanak-kanaknya, bahkan suasana hatinya.

4). Tentang aspek esensial dan aksidental dari agama dan perlunya menerjemahkan substansi dari Alquran.
Soroush mengatakan bahwa ada bagian dari agama yang secara historis dan kultural tidak lagi relevan hari ini. Contoh kasus misalnya hukuman badan yang ditetapkan Alquran. Jika saja Nabi hidup dalam lingkungan budaya yang lain, hukuman tersebut mungkin saja tidak menjadi bagian dari pesan yang disampaikannya. Tugas Muslim hari ini adalah menerjemahkan substansi dari Alquran yang melintasi masa. Seperti halnya menerjemahkan peribahasa dari satu bahasa ke bahasa lainnya, tak bisa menerjemahkannya secara literal.

Hingga detik ini saya masih menimbang-nimbang beberapa pemikirannya dan ingin bertanya tentang satu hal, bahwa Nabi turut andil sebagai pembuat wahyu karena ada sisi keterbatasannya ketika menjangkau kata-kata Tuhan. So, what’s wrong with you DR. Soroush? []

 

Berikut saya terjemahkan sebagian isi wawancaranya yang merupakan pokok pikiran dalam buku terbarunya, The Expansion of the Prophetic Experience. Di bawahnya, saya cantumkan pula link website yang memuat kritikan terhadapnya, meskipun di beberapa bagian -menurut saya- terkesan terlalu emosional.

___________________________________

Perkataan Muhammad

Interview Abdulkarim Soroush, oleh Michel Hoebink dari Radio Netherland Belanda

…………………….

Argumentasi dasar Soroush sederhana: semua pemahaman manusia tentang agama bersifat historis dan bisa saja salah. Idenya ini meruntuhkan teokrasi di Iran, sebab jika semua pemahaman manusia tentang agama bisa keliru, tak seorang pun bisa mengklaim untuk menerapkan syariat atas nama Tuhan, termasuk para ulama Iran.

Dalam bukunya itu (The Expansion of the Prophetic Experience), Soroush menjelaskan bahwa pandangannya tersebut dalam derajat tertentu dapat diterapkan pada Alquran. Bersama pemikir lainnya seperti Nasr Hamid Abu Zayd dan Muhammad Arkoun, Soroush berada dalam jajaran kelompok kecil para pembaharu radikal yang mendukung pendekatan sejarah terhadap Alquran. Namun, ia selangkah lebih jauh dibanding para koleganya. Soroush mengklaim bahwa Alquran bukan hanya produk sejarah, tetapi juga merupakan buah pikiran Nabi Muhammad dengan segala keterbatasan manusiawinya. Ide ini, lanjut Soroush, bukanlah inovasi, sebab beberapa pemikir abad pertengahan telah mengisyaratkan hal tersebut.

Bagaimana kita dapat memahami sesuatu seperti ‘wahyu’ dalam dunia modern yang bebas dari ilusi ini?

Wahyu adalah ‘ilham’. Seperti halnya yang dialami para penyair dan mistikus, walaupun para nabi berada dalam level yang lebih tinggi. Di era modern ini kita dapat memahami wahyu melalui metafora sebuah puisi. Sebagaimana yang dikatakan seorang filsuf Muslim: wahyu adalah puisi yang tingkatannya lebih tinggi. Puisi merupakan makna-makna pengetahuan yang cara memperolehnya berbeda dari sains atau filsafat. Seorang penyair merasakan ia menerima informasi dari sumber eksternal; ia merasakan menerima sesuatu. Dan puisi, sebagaimana wahyu, merupakan talenta. Seorang penyair mampu membukakan cakrawala baru bagi manusia; ia mampu membuat orang memandang dunia dengan cara yang berbeda.

Alquran, dalam pandangan Anda, mesti dipahami sebagai produk dari masanya. Apakah hal ini berimplikasi juga bahwa seorang Nabi memainkan peranan aktif, bahkan sebagai konstituen, dalam proses pembentukan teks?

Berdasarkan catatan masa lalu, seorang Nabi hanyalah instrumen; ia hanya menyampaikan belaka sebuah pesan yang diterimanya dari Jibril. Menurut pendapat saya, bagaimanapun seorang Nabi memainkan peranan sangat penting dalam membentuk Alquran.

Metafora puisi membantu saya menjelaskan hal ini. Ibarat penyair, seorang Nabi merasakan dirinya dilingkupi oleh kekuatan luar. Namun kenyataannya -atau lebih tepat dalam waktu yang bersamaan­- Nabi sendiri adalah segalanya: pencipta sekaligus penghasil. Pertanyaan mengenai apakah ilham itu datangnya dari luar atau dalam sungguh tidak relevan, sebab dalam tataran wahyu tak ada bedanya antara luar dan dalam. Wahyu datang dari Diri sang Nabi. Diri setiap individu bersifat ilahiah, tetapi Nabi berbeda dalam hal ini. Ia mempunyai kesadaran penuh atas sifat ilahiahnya itu. Ia telah mengaktualisasikan potensinya. Dirinya telah menyatu dengan Tuhan. Jangan salah paham: penyatuan spiritual dengan Tuhan ini bukan berarti Nabi menjadi Tuhan. Penyatuan ini terbatas dalam ukuran tertentu, yakni ukuran manusia, bukan ukuran Tuhan. Penyair mistik Jalaluddin Rumi menggambarkan paradoks ini dengan kalimat: “Melalui penyatuan antara Nabi dan Tuhanlah samudera dituangkan ke dalam sebuah kendi”.

Dalam hal lain, Nabi juga berperan sebagai pencipta wahyu. Apa yang ia terima dari Tuhan adalah kandungan dari wahyu. Muatan wahyu ini bagaimanapun tak dapat diberikan kepada manusia begitu saja (dalam bentuk hakikinya –pent), sebab ia berada di luar pemahaman bahkan tak terjangkau kata-kata. Kandungan wahyu tersebut tak memiliki bentuk, dan tugas Nabi adalah menciptakan bentuk sehingga membuatnya dapat dipahami. Sebagaimana penyair, Nabi mentransmisikan ilham dalam bahasa yang ia pahami, dalam corak yang ia kuasai, serta dalam gambaran dan pengetahuan yang ia miliki.

Akan tetapi sisi kepribadiannya juga memainkan peranan penting dalam membentuk teks. Sejarah dirinya: ayahnya, ibunya, masa kanak-kanaknya, bahkan suasana hatinya. Jika Anda membaca Alquran, Anda akan merasakan Nabi kadang-kadang riang dan berbicara dengan gaya bahasa yang sangat fasih, sementara di lain waktu ia jemu dan nampak biasa saja dalam ekspresinya. Hal tersebut menorehkan kesan pada teks Alquran. Ini murni sisi manusiawi dari wahyu.

Jadi Alquran mempunyai sisi manusiawi. Tidakkah ini berarti bahwa Alquran bersifat bisa salah?

Dalam pandangan tradisional, wahyu tak mungkin salah. Namun belakangan ini banyak di antara para penafsir yang berpendapat bahwa wahyu tak mungkin salah hanya dalam masalah yang murni relijius, seperti atribut Tuhan, kehidupan setelah kematian, serta atura-aturan ibadah. Mereka beranggapan bahwa wahyu mungkin saja salah dalam persoalan yang berkaitan dengan dunia dan kehidupan sosial. Apa yang Alquran ceritakan tentang peristiwa sejarah, tradisi keberagamaan yang lain, dan semua jenis kegiatan duniawi tidaklah mesti benar. Para penafsir tersebut seringkali berargumen bahwa kesalahan dalam Alquran seperti ini tidak mencederai kenabian sebab Nabi turun ke level pengetahuan manusia saat itu dan berbicara dalam ‘bahasa zamannya’. Saya mempunyai pandangan berbeda. Saya tidak berpikir bahwa Nabi berbicara dalam bahasa di masanya sementara ia sendiri sebetulnya mengetahui lebih jauh. Sesungguhnya ia mempercayai apa yang dikatakannya. Itulah bahasa dan pengetahuan yang ia miliki dan saya tidak berpikir bahwa ia mengetahui lebih baik dibanding manusia lainnya tentang bumi, alam semesta dan genetika manusia (pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah tsb sama saja dengan manusia lainnya –pent). Ia tidak memperoleh pengetahuan yang kita miliki sekarang. Dan itu tidak mencederai kenabiannya sebab ia adalah nabi, bukan ilmuwan atau sejarawan.

Anda mengacu kepada filsuf dan mistikus abad pertengahan seperti Rumi. Dalam lingkup apa pandangan Anda tentang Alquran dapat Anda temukan sumbernya dalam tradisi Islam?

Banyak pandangan saya berakar dari pemikiran Islam abad pertengahan. Gagasan bahwa kenabian adalah sesuatu yang sangat umum yang dapat ditemukan dalam derajat berbeda pada semua orang adalah hal lumrah baik di dunia Syi’ah maupun mistisisme. Teolog besar Syi’ah Syaikh al-Mufid tidak menyebut para imam Syi’ah sebagai nabi, tetapi ia memberikan atribut kepada mereka sebagaimana semua kualitas yang diperoleh nabi. Pun para mistikus secara umum dipercaya memiliki pengalaman yang sama dengan para Nabi. Dan gagasan bahwa Alquran sebagai produk manusia yang berpotensi salah secara implisit dapat ditemukan dalam doktrin Mu’tazilah tentang penciptaan Alquran (Alquran adalah makhluk –pent). Pemikir abad pertengahan seringkali tidak mengutarakan gagasan-gagasan demikian itu secara gamblang dan sistematis, namun cenderung menyembunyikannya melalui catatan sepintas lalu atau lewat kiasan-kiasan. Mereka tidak ingin menciptakan kebingungan di tengah orang-orang yang tidak mampu mencerna pemikiran mereka. Rumi, misalnya, di beberapa tempat menyatakan bahwa Alquran adalah cermin dari pernyataan pikiran Nabi. Apa yang Rumi katakan secara tidak langsung adalah, bahwa kepribadian Nabi, perubahan suasana hatinya dan saat-saat ketika kuat dan lemah, terefleksikan dalam Alquran.

Apakah tradisi Syi’ah memberikan ruang kebebasan bagi Anda untuk mengembangkan pemikiran ihwal sisi kemanusiawian dari Alquran?

Kita tahu bahwa di Sunni, pemikiran para rasionalis Mu’tazilah kalah pamor dibanding Asy’ariyah beserta doktrinnya yang mengatakan bahwa Alquran adalah abadi dan bukan ciptaan (qadim –pent). Namun di Syi’ah, pemikiran Mu’tazilah tersebut tetap hidup dan berkembang di tengah tradisi filsafat yang kaya. Doktrin Mu’tazilah tentang penciptaan Alquran (Alquran adalah makhluk –pent) nyaris tak perlu diributkan lagi di tengah para teolog Syi’ah. Hari ini Anda saksikan para pembaharu Sunni mendekati posisi Syi’ah dan mulai mengadopsi doktrin mengenai penciptaan Alquran. Ulama Iran, betapapun, enggan menggunakan sumber-sumber filsafat dari tradisi Syi’ah untuk membuka cakrawala baru bagi pemahaman keberagamaan kita. Mereka menyandarkan kekuatan pada pemahaman konservatif agama dan takut kehilangan segalanya jika membuka diskusi untuk isu-isu seperti sifat-sifat alamiah kenabian.

Apa konsekuensi pandangan Anda bagi Muslim kontemporer dan terhadap cara mereka menggunakan Alquran sebagai pedoman moral?

Pandangan manusia tentang Alquran memungkinkannya untuk membedakan antara aspek esensial dan aksidental dari agama. Beberapa bagian dari agama secara historis dan kultural diturunkan dan tidak lagi relevan hari ini. Contoh kasus misalnya hukuman badan yang ditetapkan Alquran. Jika saja Nabi hidup dalam lingkungan budaya yang lain, hukuman tersebut mungkin saja tidak menjadi bagian dari pesan yang disampaikannya.

Tugas Muslim hari ini adalah menerjemahkan substansi dari Alquran yang melintasi masa. Seperti halnya menerjemahkan peribahasa dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Anda tak bisa menerjemahkannya secara literal. Anda akan mencari peribahasa lainnya yang mempunyai spirit sama, kandungan sama tetapi mungkin disampaikan dalam kalimat yang berbeda. Sesuatu yang bersifat historis, (dalam hal ini) pandangan manusia terhadap Alquran memberikan ruang kepada kita untuk melakukan hal ini. Jika Anda bersikeras pada gagasan bahwa Alquran adalah bukan ciptaan, dan merupakan kata-kata abadi Tuhan yang harus diterapkan secara literal, Anda akan terjebak dalam dilema yang tak terpecahkan.

__________________________

Sejak pemerintahan Ahmadinejad, semakin sulit bagi Abdulkarim Soroush untuk bekerja di Iran. Karena alasan itu, ia menerima undangan untuk mengajar di Universitas barat seperti Harvard dan Princenton di USA serta Wissenschaftskolleg di Berlin. Ia pernah menjadi dosen tamu di Free University, Amsterdam, dan di the Institute for the Study of Islam in the Modern World (ISIM) di Leiden, Belanda.

Diterjemahkan dari: http://www.drsoroush.com/English/Interviews/E-INT-The%20Word%20of%20Mohammad.html

Catatan:

Untuk membaca kritikan terhadap pemikiran Soroush tersebut, silakan kunjungi:

http://www.wisdoms4all.com/ind/?p=14

http://www.wisdoms4all.com/ind/?p=33

Categories: Agama
  1. August 20, 2008 at 2:48 am

    Pemikiran apapun bebas dan merdeka adalah sah bagi setiap manusia yang berakal. Tetapi pemikiran yang berdasarkan logika semata akan membawa suatu implikasi yang tidak seimbang dalam kenyataannya. Semua ada nilai dan hikmahya dari suatu perbedaan dalam dinamika kehidupan yang heterogen.

  2. August 26, 2008 at 5:00 pm

    Sdr Irfan,

    Saya kira ini bukan plintiran media Barat, tapi memang Sorroush ngomong pada sejawat saya Michel Hoebink begitu. Cuma saja, mungkin pertanyaan-pertanyaan Michel sangat terarah pada soal apakah Al Quran itu wahyu sepenuhnya atau tidak. Dan juga memfokuskan pada pemikiran-pemikiran “intelektual muslim” seperti Abu Zyed dan sebagainya.
    Yang jelas saya senang anda berkunjung ke situs bahasa Inggris Radio Nederland. Silakan juga kunjungi situs yang berbahasa Indonesia: http://www.ranesi.nl

    wassalam,

    Bari Muchtar
    http://www.ranesi.nl
    _______________________________
    IP:
    Salam kenal,
    Terima kasih Pak Bari…

  3. Belajar
    September 15, 2008 at 7:18 am

    Ah… kadang2 kita merasa lebih mengenal Al Quran tanpa pernah benar2 “berkenalan” dengannya. Kadang membacanya “sekedar” menghiasi rumah kita saja jarang, apalagi untuk sekedar membaca tafsirnya. Sejenak bisakah kita tadaburi Al tafsir AlQuran dalam surat Al A’la dan Al Ikhlas?
    Jangan sampai seperti kaum Yahudi & Nasrani yang telah “disinggung” dalam Q.S.Al Fatihah, yang setiap hari senantiasa kita paling tidak 17 kali (minimal) berdoa agar terhindar dari sifat2 dan menjauhi jalan mereka?
    Tentu di jaman Rasulullah SAW banyak orang yg otaknya jauh lebih cerdas jika sekedar mereka2 dg pikiran tentang “apa yg anda paparkan”, tetapi mereka tetap berlomba2 menjaga sholat jamaah di shaf paling pertama, berlomba2 dalam sedekah (bahkan dengan seluruh hartanya) tanpa mengharap imbalan, dan masih banyak amalan yg “nothing tulus” daripada kita yang selalu dihantui sifat enggan/keluh-kesah/malas dalam beribadah.
    Tidaklah seorang murid akan mampu menyerap 100% ilmu yg diberikan gurunya, apalagi manusia terhadap ilmu Allah…. (Quraish Shihab).
    Sungguh salah satu kecerdasan umat Islam adalah dia lebih memikirkan akhirat yang jauh lebih kekal daripada dunia yang hanya sesaat ini.
    Semoga Allah memberi petunjuk kepada orang2 yang mengagungkan “dzan”-nya.

  4. November 3, 2008 at 3:50 am

    Kang Irfan, Kumaha damang?

    Bagusu euy analisi Antum. Ahsantum.

    NYUHUNKAN IJIN ARTIKEL IEU DILINK KA BLOG ABDI.
    ____________________
    IP:
    Alhamdulillah kabar abdi sae Pak Sam. Lawas pisan teu patepang, kumaha kabar antum?
    Bade di-link mangga, hatur nuhun.

  5. November 10, 2008 at 10:48 am

    sebuah pemikiran yang sangat manusiawi😛

  6. January 2, 2009 at 11:54 pm

    Tambahan:
    Sampai saat ini saya tidak menemukan bukti bahwa wawancara tsb diplintir oleh media barat, sehingga paragraf berikut saya hilangkan:

    “Hingga detik ini, saya masih berharap bahwa isi wawancara tersebut adalah hasil plintiran media barat, seperti yang biasa mereka lakukan. Namun sejauh yang saya pantau, Soroush tidak/ belum memberi bantahan secara tegas. So, what’s wrong with you Mr. Soroush?”

  1. November 3, 2008 at 3:42 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: