Home > Pojok Celoteh, Renungan > Bukan Salah Haji Syaichon

Bukan Salah Haji Syaichon

Dengan modal 30 ribu perak, kita bisa makan-minum di warteg sebanyak 3-4 kali. Di sebuah food court di mall, mungkin bisa sekali. Di restoran cepat saji, dengan menu standar masih bisa sekali. Tapi untuk makan steak di sebuah restoran mewah, kalau tidak diusir keluar, paling beruntung dapat tusuk giginya saja.

Dan di Pasuruan sana, uang sejumlah 30 ribu diburu sekian banyak dhuafa, sebab cukup untuk modal makan sekian hari. Bukan untuk satu perut saja, tapi untuk perut-perut sebuah keluarga yang tak pernah mengenal yang namanya food court, fast food, apalagi rib eye steak. Bisa kita bayangkan, menu seperti apa yang biasa mereka santap sehari-hari. Tak perlu memikirkan kandungan gizi, manusia-manusia akrab derita ini bahkan tak mempermasalahkan hari-hari manakala tak ada menu apapun yang tersaji.

Pagi itu, ba’da shubuh, batin hanya bisa menjerit menyaksikan pemandangan yang sungguh mengiris hati. Sedikitnya 21 orang tewas dalam tragedi mengenaskan itu. Event tahunan pembagian zakat oleh seorang dermawan Pasuruan itu memakan banyak korban akibat terdesak, terhimpit dan terinjak-injak di tengah membludaknya kaum dhuafa pengantri zakat. Peristiwa ini kemudian menjadi berita utama di banyak media, bahkan sampai bocor ke luar negeri. Sementara di hari-hari berbuka puasa Ramadhan ini, lidah yang tak paham arti bersyukur ini senantiasa mengunyah aneka makanan yang kadang terlalu diada-adakan dan berlebihan.

Seandainya Sang Maha Pemberi Peringatan berkenan memutar waktu. Dan seandainya Pak Haji Syaichon Fikri mau “berbagi pahala”, tentu 30 ribu masih bisa kubagikan untuk 10, 20, 30 orang…..hingga 100 orang lebih. 30 ribu sangat tak ada artinya dibanding melayangnya sebuah nyawa. 30 ribu sangat tak sepadan untuk tangisan pilu keluarga yang ditinggalkan. Dan bagi kita, menghitung-hitung pengeluaran untuk lebaran nanti sungguh tak pantas di tengah kejadian itu. Astaghfirullah….lagi-lagi hanya bisa membatin.

Tak usah dulu kita menyalahkan Haji Syaichon yang -menurut saya- berhati mulia itu. Tahan dulu untuk menyebutnya sebagai pameran kebajikan, sebab memang tak masalah sedekah “dipamerkan” (lihat QS. Al-Baqarah [2]: 271). Tak perlu menuding aparat keamanan yang gagal mencegah tragedi mengerikan itu (yang mungkin tak dipanggil oleh Pak Haji karena enggan mengalokasikan “zakat tambahan” untuk polisi). Jangan dulu menyalahkan pemerintah, yang alih-alih bisa menahan laju membludaknya kaum fuqara dan masakin, malah memainkan angka kemiskinan demi politik pencitraan. Jangan pula menyalahkan badan amil zakat, sebab di mata rakyat, jika sudah berhubungan dengan fulus, citra pemerintah sudah terlanjur minus. Kita yang terbiasa menyalahkan orang ini, jangan dulu menyalahkan siapa-siapa.

Mari berkaca dulu. Mari kita salahkan dulu diri sendiri. Bukankah Rasulullah Saw pernah bersabda: “Tidak termasuk beriman, jika perut dalam keadaan kenyang, sementara ada tetangganya yang kelaparan?” Bukankah kaum fuqara dan masakin di Pasuruan sana masih tetangga kita juga?

Kita khawatir, jangan-jangan ada kontribusi kita dalam peristiwa itu. Kontribusi akibat sikap diam kita yang dengan kesadaran penuh mengetahui ada di antara tetangga kita yang kelaparan. Kita bertanya-tanya, jangan-jangan kita belum termasuk orang yang beriman sebagaimana sabda Rasulullah di atas. Dan kita takut jangan-jangan kita tidak termasuk orang yang diseru untuk berpuasa sebagaimana firman Allah dalam QS. 2:183, yang menyeru berpuasa hanya bagi orang-orang beriman. Jika demikian, bisa jadi cita-cita menggapai fitrah nurani malah tertutup oleh gelapnya zhulmani, akibat sikap lalai kita.

Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa zakat maut tersebut terjadi akibat adanya perut-perut kenyang yang mengabaikan perut-perut lapar. Orang yang kelebihan harta lupa (atau sengaja lupa) dengan yang kekurangan.

Bagi Imam Ali bin Abi Thalib as, timbunan kekayaan terjadi karena adanya kezhaliman terhadap hak orang lain: “Aku tidak pernah melihat harta yang ditimbun tanpa ada kezaliman terhadap hak orang lain.”

Maka sebelum menyalahkan Haji Syaichon, renungkanlah firman Allah dalam surah al-A’raaf ayat 31, yang mengingatkan manusia untuk tidak berlebihan-lebihan: “…., makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. 7:31). []

Categories: Pojok Celoteh, Renungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: