Home > Agama, Pojok Celoteh > Bukan Mengkultuskan

Bukan Mengkultuskan

Seorang kawan mengkritik saya yang terlalu sering mengutip ucapan Imam Ali dalam (hampir) setiap kesempatan diskusi di salah satu komunitas tempat saya bergaul. Baginya, mendengar sederet keutamaan-keutamaan seorang manusia agung bernama Ali bin Abi Thalib as sama dengan mengkultuskan. Menurutnya, yang mengkultuskan hanyalah orang-orang Syi’ah.

Namun bagi saya, tidak ada larangan dalam agama untuk mengkultuskan dalam pengertian memberitakan segala keutamaannya. Setelah Rasulullah, Imam Ali pantaslah diagungkan, karena memang demikian adanya. Jadi, mengkultuskan dalam pengertian di sini -sekali lagi, menurut saya- tidak ada masalah. Yang tidak boleh adalah menuhankan.

Saya maklumi ketidaktahuan kawan saya itu. Saya pahami kekagetannya mendengar berbagai keutamaan yang memang belum pernah ia dengar sebelumnya. Wajar kalau ia lebih sering mendengar nama Abu Hurairah sebagai periwayat hadits ketimbang Imam Ali.

Waktu itu saya hanya berkata ringan: saya lebih mengidolakan Imam Ali ketimbang Abu Hurairah, sehingga otomatis yang nempel di kepala ya hadits-hadits dari jalur Imam Ali. Selain itu, siapa bilang hadits Imam Ali sedikit? ‘Belum tahu’ bukan berarti bisa dibilang ‘sedikit’. Lagipula Imam Ali kan pintunya ilmu Rasulullah, barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmunya Rasulullah Saw, harus melalui pintunya. Demikian sebuah hadits masyhur menyebutkan.

Saya tidak sampai hati untuk berkata kasar bahwa barang siapa yang memasuki kota ilmu Rasulullah tidak melalui gerbangnya, melainkan melalui lubang-lubang lain, itu namanya maling. Tidaklah patut seorang pengunjung memasuki rumah tidak melewati pintu, melainkan melalui jendela atau lubang-lubang lain.

Saya juga belum memiliki keberanian unuk mengatakan di depan orang banyak bahwasanya terlampau banyak yang disita dari diri Imam Ali. Bukan saja isu sensitif mengenai jabatan kekhalifahan, tetapi juga termasuk jejak-jejak spiritualnya yang sengaja dihapuskan oleh para pembenci Ahlulbait di awal-awal sejarah Islam yang berdarah-darah. Begitu pun saya masih ciut untuk menyampaikan bahwa sesungguhnya gelar al-Shiddiq dan al-Faruq adalah milik Imam Ali. Saya juga belum merasa perlu untuk berbagi info bahwa seluruh tarekat yang pernah ada di muka bumi ini, hampir seluruhnya bermuara kepada Imam Ali. Tentu saja yang pseudo-sufism belum masuk dalam hitungan.

Sekarang saya ingin mengutip catatan dari beberapa orang yang -meminjam istilah kawan saya itu- telah mengkultuskan Imam Ali bin Abi Thalib as. Dan perlu dicatat, belum pernah terdengar mereka mendeklarasikan diri sebagai Syi’ah.

George Jordac

George Jordac adalah seorang Kristen Lebanon yang khusus menulis buku tentang Imam Ali: Imam Ali, The Voice of Human Justice. Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan harian Keyhan al-Arabi, ia tidak bisa menyembunyikan kekagumannya:

“…Saya ingin membuktikan kepada dunia melalui buku saya ini bahwa Imam Ali adalah manusia besar sepanjang zaman. Imam Ali bukan hanya anak zaman 1400 tahun yang lalu, tapi anak zaman sekarang dan anak masa depan. Pikiran-pikirannya, petuah-petuahnya, seakan-akan ia hidup di antara kita sekarang ini. Imam Ali bukan hanya milik satu bangsa atau satu agama. Bukan pula milik satu masa atau satu tempat, tapi milik semua bangsa dan semua agama. Milik semua masa dan tempat. Milik semua umat manusia. Semua karyanya, pemikirannya, dan kata-katanya adalah madrasah bagi seluruh generasi.” [1]

Syaikh Muhammad Abduh

Siapa tak kenal ulama besar Sunni satu ini. Siapapun yang mengaku gemar membaca buku-buku pemikiran dunia Islam, hampir dapat dipastikan pernah mendengar namanya.

Tentang Nahjul Balaghah, tokoh pembaharu terkemuka Mesir yang mensyarahi kitab ini berkata:

“Nahjul Balaghah (Alur Kefasihan) adalah judul buku yang berisi untaian ucapan Sayyidina wa Maulana Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib (karramallahu wajhah) yang telah dipilih dan dirangkum oleh Asy-Syarif Ar-Radhiy (rahimahullah). Barangkali tidak ada nama lebih tepat daripada itu mampu menunjuk kepada makna yang dikandungnya. Saya tak sanggup melukiskan buku ini lebih baik daripada nama yang disandangnya, ataupun menonjolkan keistimewaannya lebih daripada yang dilakukan sendiri oleh penghimpunnya.

Sekiranya bukan karena terdorong oleh kewajiban mengenang jasa atau pensyukuran kebaikan, niscaya saya takkan merasa perlu mengingatkan akan kandungan Nahjul Balaghah yang sarat dengan pelbagai seni kefasihan serta keindahan susunan kata-katanya. Apalagi tak satu pun tema penting telah ditinggalkannya, ataupun alur pemikiran sehat yang tak dilintasinya….”

“… Tidak seorang pun pakar bahasa Arab kecuali menyatakan bahwa ucapan-ucapan Imam Ali as adalah yang paling mulia, paling padat isinya dan paling meliputi makna-makna agung dalam kandungannya. Tentunya, setelah firman Allah Swt dan sabda Nabi-Nya….” [2]

M. Quraish Shihab

Subhanallah, Allah menganugerahkan seorang manusia brilian lahir di negeri ini. Ialah Ustadz Quraish Shihab, yang telah menulis sebuah buku yang menyejukkan hati, Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan, Mungkinkah? Tentang Ali, di bagian penutup bukunya ia mengambil sikap:

“Ada prinsip, bagi penulis, dalam konteks persatuan umat melalui pendekatan antar mazhab, yaitu mencintai dan mengikuti Rasul Saw dan keluarga beliau, Ahlulbait, yang dilukiskan oleh Nabi Saw sebagai tidak akan berpisah dengan al-Qur’an hingga akhir zaman, sehingga tidak akan tersesat siapapun yang berpegang teguh dengan keduanya. Dalam konteks cinta dan mengikuti itulah penulis menjadikan Imam Ali ra, setelah Rasul Saw, sebagai sosok yang harus dicintai dan diteladani.” [3]

Emha Ainun Nadjib

Kurang sopan rasanya mengaku-ngaku fans beratnya tetapi tidak pernah menukil tulisannya. Cak Nun, dalam buku kumpulan artikelnya, Kyai Bejo, Kyai Untung, Kyai Hoki, menuliskan guyon sarat makna yang terjadi antara mertua dan menantu itu:

“Di setiap majlis pengajian, biasanya Rasulullah menghindar untuk duduk di samping atau di sekitar para sahabat yang perokok. Rasulullah pasti tahu bahwa perokok pasif lebih rawan kesehatannya dibanding perokok aktif. Menantunya, Ali bin Abi Thalib, juga sangat toleran dan bersikap protektif terhadap mertuanya ini, dengan selalu “mencuri start” duduk disamping Rasulullah, agar para perokok tak mendekat. Sering akan terlalu kentara upaya proteksi Ali atas Rasulullah itu, sehingga Rasulullah -mungkin- merasa agak risih tak enak hati kepada yang lainnya.

Majlis malam itu dibikin meriah oleh seorang sahabat yang membawa buah korma dalam jumlah yang sangat banyak dibanding biasanya. Pelan-pelan tapi pasti, seluruh jamaah akhirnya melihat bahwa Rasulullah berperilaku agak aneh dengan korma itu.

Setiap kali Rasulullah makan korma, bijinya selalu diletakkan di depan Ali menantunya. Sampai akhirnya di depan Ali menghampar dan bertumpuklah biji-biji korma itu. Sementara di depan Rasulullah sendiri tak ada sebiji pun bijih korma. Dan tiba-tiba pula Rasulullah melakukan interupsi.

“Saudara-saudara semua, mohon waktu sejenak. Kita telah membicarakan berbagai masalah besar yang menyangkut kehidupan seluruh umat manusia di muka bumi. Hendaklah kita jangan lantas melupakan soal-soal yang tampaknya kecil dan sepele. Cobalah perhatikan, yang paling rakus di antara kita yang hadir malam ini adalah seseorang yang di depannya terdapat tumpukan biji korma..”

Semua sahabat tertawa dan menikmati humor Rasulullah. Tapi segera terdengar jawaban Ali: “Aku akui hal itu, tapi hendaklah kita mengembangkan pikiran kita ke ilmu yang lebih tinggi. Yang lebih rakus lagi adalah yang di depannya tidak satu biji korma pun karena sudah dimakan bersama daging korma.”

Tertawa membahana lagi. Kali ini Rasulullah tidak menjawab. Hanya setelah keriuhan mereda, Rasulullah berkata pelan-pelan: “Para sahabatku sekalian, aku yakin kalian cukup cerdas untuk mengamati bahwa yang aku lakukan ini tadi adalah memancing agar tampak pada kalian betapa pandai dan cerdasnya Ali. Oleh karena itu, barang siapa berniat mencari ilmu yang tinggi, hendaklah ia melalui pintunya. Dan Ali-lah babul ilmi, pintu ilmu.”

Terkagum-kagum para sahabat, ternyata di balik gurauan, Rasulullah sesungguhnya sedang menggiring jamaah menuju suatu pengetahuan baru yang sangat serius. Tetapi belum lama para sahabat termangu-mangu dengan kesadaran barunya, terdengar kata-kata Ali: “Apabila kalian berjalan melewati pintu ilmu, ke manakah kalian pergi dan apakah yang kalian masuki? Ialah madinatul ‘ilmi. Kota ilmu. Dan siapakah di antara hamba-hamba Allah yang layak mendapatkan anugerah dari-Nya untuk menjadi kota ilmu selain Rasulullah Saw?” [4]

Demikianlah. Kalau mereka saja “mengkultuskan”, masa saya tidak boleh? []

Catatan

[1] Petikan wawancara George Jordac dengan harian Keyhan al-Arabi, yang dikutip oleh Waris No. 7/Th-2, 1416 H. Saya mengutipnya dari back cover buku Suara Keadilan, Sosok Agung Ali bin Abi Thalib ra, George Jordac, Lentera, 2005.

[2] Mutiara Nahjul Balaghah, Wacana dan Surat-surat Imam Ali ra, Mizan, 2001.

[3] M. Quraish Shihab, Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Lentera Hati, 2007.

[4] Emha Ainun Nadjib, Kyai Bejo, Kyai Untung, Kyai Hoki, di bagian artikel Podium Husni, hal. 48-49, Penerbit Kompas.

Categories: Agama, Pojok Celoteh
  1. abahabad
    December 2, 2008 at 6:45 am

    Hatur nuhun Jang. Nikmat pisan maca tulisan anjeun…

  2. January 10, 2011 at 7:54 pm

    yang jelas umat islam itu jangan hanya menggunakan ayat2 al quram dan hadist utk
    berdebat yg cenderung utk berselisih dan lupa akan persaudaraan antar umat islam. memang benar sih
    bertambah pakar bertambah pula pendapat
    tapi tergantung qt mengambil hikmahnya

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: