Home > Fantasi > Ksatria yang Terlupakan

Ksatria yang Terlupakan

Suatu hari dalam deretan tanggal Kresnapaksa, bulan Badra, tahun 1279 Caka. Dari lingkar kenangan Sunda-Galuh, menyusur ke arah timur meninggalkan batas Ci Pamali dan Ci Serayu, aku berada diantara iring-iringan yang mengantar seorang putri cantik yang hendak dipinang seorang raja.

Bulatan sang surya belumlah tepat di atas kepala. Namun fragmen kisah silam ini berlangsung begitu cepat, hingga kusadari bahwa rombongan ini -setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan- terjerat dalam jebakan skenario sang mahapatih yang intuisi politiknya tajam namun lemah dalam cita rasa cinta. Selanjutnya harus terjadi pertempuran dengan kekuatan tak berimbang demi mempertahankan harga diri dalam perspektifnya masing-masing. Padahal, jika nasab dari masing-masing raja sedikit saja ditarik ke atas, masih ada hubungan kekerabatan. Keduanya sama-sama keturunan Prabu Darmasiksa dari jalur isteri yang berbeda, terpaut tiga generasi. Dan sejatinya, pernikahan tersebut diniatkan untuk mengencangkan kembali tali silaturahmi yang dirasa sudah melonggar.

Kejadian berlangsung begitu cepat, memoriku tak sanggup menguaknya secara detil dan kronologis. Terasa singkat, hingga tetabuhan genderang perang tiba-tiba berhenti. Kulihat kini mayat-mayat bergelimpangan, korban kekuatan pasukan segelar sepapan Majapahit yang jumlahnya puluhan kali lipat.

Semestinya aroma khas tetumbuhan tropis yang mengelilingi Tegal Bubat di pagi menjelang siang ini terasa menyegarkan. Namun yang tercium hanya bau amis darah menusuk hidung. Tegal hijau yang ditumbuhi rumput nampak dipenuhi bercak-bercak merah. Inikah episode terakhir ambisi politik sang mahapatih dengan Sumpah Sakti Hamukti Palapanya itu?

Pasukan Galuh memang tidak mempersenjatai diri dengan memadai. Tak terbesit sebelumnya harus bertempur di medan laga menghadapi musuh yang jumlahnya jauh lebih besar. Apa guna membawa peralatan perang lengkap hanya untuk mengantar calon permaisuri yang akan dipersunting Prabu Rajasanagara Hayam Wuruk, pemimpin sebuah kerajaan yang namanya tidak saja dikenal di seantero dwipantara, tetapi juga hingga belahan bumi yang lain.

Di antara pasukan tak berhasil kutemukan pilar penting negeri Sunda, Prabu Bunisora Suradipati. Kalau Prabu Anom Wastukancana, tentu tidak ikut dalam rombongan karena masih terlalu belia. Dan kini benteng terakhir, Maharaja Linggabuana, sudah pula bersimbah darah. Takluk di bawah kekuatan sang mahapatih Gajah Mada, setelah sebelumnya bertarung hebat menguras seluruh kesaktian hingga mencapai jurus pamungkas.

Lelaki berbadan tegap itu kini mulai memejamkan mata, lalu menarik nafas dalam-dalam, kemudian dihembuskannya pelan-pelan. Kedua tangannya diangkat sejajar muka, pelan-pelan ia ayunkan dari kiri ke kanan, diputar dan diulangnya beberapa kali. Sejurus kemudian, suara gemuruh dari empat penjuru mata angin menghampirinya. Putaran udara itu berkumpul membentuk gumpalan hebat yang bagai gasing berputar cepat di bawah kendali kedua tangannya. Dan aku, lelaki yang tersisa satu-satunya, hanya berjarak sekira tiga tombak di depannya. Kutahu persis apa yang harus kulakukan, sehingga kuda-kudaku semakin kokoh menancap bumi.

Sejenak ku menoleh ke belakang. Nyaris saja paras elok calon prameswari itu membuyarkan konsentrasiku. Semilir angin yang menyibak tirai keindahan di balik sutera putihnya, seolah sengaja menggoda. Begitu melenakan. Pantas saja banyak lelaki tak kuasa memendam bara asmara.

Dyah Pitaloka Ratna Citraresmi berurai air mata, tangisan menghibanya tertelan gemuruh puting beliung buatan itu. Ia memberi isyarat, sebilah kujang berukuran panjang satu jengkal setengah hendak ia berikan. Namun dengan sebuah isyarat pula kutolak. Percuma rasanya gelar Ki Waspada Permana Tingal kusandang jika untuk melawan seorang anak manusia saja harus menggunakan senjata.

Tatapanku menembus tajam kedua matanya. Namun sebelum kuterjang dengan segenap kekuatan, aku sudah dihempaskan lebih dulu hingga terpental keras menghantam batang pohon besar yang lingkarannya berukuran dua dekapan orang dewasa.

Aduuh….ku merintih kesakitan. Tubuhku serasa remuk. Entah berapa tulang rusuk yang patah. Yang jelas, sedikitpun tak bisa kugerakkan tubuh ini kecuali menoleh ke arah sang jelita yang baru saja menancapkan sebilah kujang merobek dadanya sendiri. Oh, tidaaak…… Seandainya saja tadi kuambil senjata itu, tentu ia takkan labuh tumangan maéhan manéh…..Betapa menyesalnya diriku.

Kembali ku arahkan pandangan ke arah lelaki kekar yang kini tepat berdiri di atasku yang terbaring lemah tak berdaya. Tubuh besarnya menghalangi sinar sang surya yang sebelumnya menyilaukanku. Wajah dinginnya tak menyisakan iba. Kaki kanannya diangkat tinggi-tinggi, telapak kakinya nampak besar dan kokoh. Sebuah isyarat untuk menjejak tubuhku hingga amblas ditelan bumi. Aku pasrah. Kupejamkan mata sambil menahan nafas. Gdebukk…….aaaahh.

Hening sejenak.

Sebelum kesadaranku terkumpul penuh, kupicingkan mata. Segera kudapati bahwa aku sedang terbaring di bawah atap langit-langit yang setiap malam menaungiku. Hantaman kaki terakhir tadi rupanya berasal dari anak sulungku yang memang tidurnya tak pernah bisa diam. Bergerak ke sana kemari, guling kanan guling kiri.

Setelah kupindahkan ke kamar depan, kulanjutkan lagi tidurku. Dengan harapan semoga roda waktu melemparku ke penggalan sejarah nusantara yang lain. Mungkin ke masa ketika Hamzah Fansuri menorehkan pena sufistiknya. Atau ke masa tatkala kuresapi ujaran-ujaran mistis Siti Jenar dengan pemahamanku sendiri. Mungkin juga bisa kubuktikan bahwa kesaktian Sunan Kalijaga bukan sekadar mitos belaka. Atau ada gadis cantik lagi di rentang waktu yang lain?

Ah, bunga tidur. Tutup lawang sigotaka. Amit mundur. []

Bogor, 9 November 2008

Categories: Fantasi
  1. abadurangciamis
    November 10, 2008 at 12:33 am

    Aya bakat jadi dalang, he he! aya turunan Asep Sunandar nya?

  2. November 16, 2008 at 3:00 pm

    Babad Tanah leluhur dimulai🙂 (Hartina Sagala dibabad)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: