Home > Pojok Celoteh > Perut Kenyang, Otak Tumpul

Perut Kenyang, Otak Tumpul

Sekali-kali boleh dong Gan Oded nongkrong di mall sepulang kerja? Kalau sekadar traktir teman makan bakso malang di food court, sampai merangkak kekenyangan pun insya Allah masih mampu. Tetapi sohibnya yang bernama Sule ini, setelah menghabiskan semangkuk bakso yang isinya cuma lima buah (kecil-kecil pula), menolak untuk menambah. Padahal tawaran Gan Oded bukan basa-basi, sebab lima butir bakso malang mana cukup untuk mengganjal perut yang belum diisi lagi sejak tadi siang.

“Sudah cukup, kalau ditambah lagi rasanya malah jadi beda. Jadi nggak nikmat,” ujarnya.

“O gitu ya?” Timpal Gan Oded sambil setengah ragu antara nambah lagi atau tidak. Hanya saja sebotol teh dingin segera disedotnya habis hingga berakhir dengan bunyi dari dasar botol yang bisa bikin orang di sebelah melirik. Sementara gurihnya kuah bakso masih terasa di lidah.

Sebuah pertanyaan hinggap di benak Gan Oded: ini orang mau mempraktekkan sunnah Rasul yang berhenti makan sebelum kenyang, atau terlalu tenggang rasa dengan awak yang dikiranya masih kere? Tapi daripada suuzhan, lebih baik memilih dugaan yang pertama. Sebab dari aura yang ia rasakan, manusia di hadapannya itu adalah seorang yang hidupnya zuhud.

Orang zuhud (zahid) tidak pernah membiarkan perutnya terisi penuh hingga kekenyangan. Ini sejalan belaka dengan makna etimologis zuhud yang berasal dari akar kata za-ha-da, yang berarti menahan diri (dari sesuatu yang hukum asalnya mubah).

Para zahid senantiasa menahan diri dari sikap yang berlebih-lebihan. Bagi mereka, kecenderungan terlalu menikmati sesuatu yang bersifat keduniawian berpotensi menjerumuskannya kepada kecintaan dunia. Kalau sudah cinta dunia, tentu akhirat akan cemburu.

Dan sesungguhnya, perilaku Sule yang makan bakso tidak sampai kenyang itu merupakan gambaran lain dari perilaku zuhud, yang merupakan salah satu konsep kunci dalam tasawuf. Tetapi tentu saja bukan dalam skala zuhudnya sejenis sufi yang menjalani kehidupan asketik, yang konon katanya, ketika mereka ingin makan tempe segera pilih tahu, ketika merasa nikmat dengan tahu langsung diganti tempe. Zuhud dalam celotehan ini tidak seekstrim itu. Zuhud di sini cuma zuhudnya Sule.

Zuhud merupakan pola hidup yang diajarkan para Nabi. Suatu perilaku yang tidak berlebih-lebihan dalam segala hal, sekadarnya saja. Makan minumlah sekadar menghilangkan lapar dan dahaga. Tidurlah sekadar menghilangkan kantuk dan lelah. Raihlah kekayaan sekadar yang bisa Anda rengkuh. Bahkan cintai kekasih Anda sekadarnya saja, bencilah selingkuhannya sekadarnya juga. Sebab siapa tahu kelak seorang kekasih berubah menjadi musuh, dan selingkuhannya malah menjadi sahabat Anda.

Zuhud juga merupakan kearifan perennial yang dapat ditemukan dengan mudah dalam berbagai corak pandangan filsafat dan agama. Namun sayang, sangat sulit ditemukan dalam hiruk pikuk ranah politik.

Sekarang mari kita bermimpi, mumpung gratis. Seandainya para calon pengendali roda pemerintahan untuk pemilu mendatang mau sedikiiit saja mencoba hidup zuhud, mungkin perjalanan sejarah bangsa ini akan sedikit lain. Tidak perlulah zuhud yang “seekstrim” Ahmadinejad yang pastinya sulit ditiru. Juga belum maqam-nya untuk mengikuti jejak presiden Bolivia Evo Morales berikut para menterinya yang rela memangkas 50% gaji mereka demi kepentingan rakyat miskin. Tetapi mulailah belajar dari Sule yang tidak membiarkan perutnya kekenyangan. Sebab perut kenyang bisa bikin ngantuk dan malas. Dalam keadaan ngantuk otak jadi tumpul, sehingga tanpa hitung-hitungan yang rasional, nekat melakukan deal politik dengan si mpunya duit. Selanjutnya, duit yang tidak gratis itu dipakai untuk biaya cuap-cuap mengelabui rakyat. Pastinya itu duit tidak sedikit, dan nantinya harus balik modal. Lalu kita, lagi-lagi tidak mau belajar dari sejarah untuk merelakan diri ditipu dan ditipu lagi, sehingga dunia pertipuan pun semakin akrab dengan keseharian kita.

Ada 1001 macam argumen mengapa kita begitu gemar tipu-menipu. Tak perlulah disebutkan satu persatu. Yang jelas, dana kampanye tidak seperti semangkuk bakso malang dari Gan Oded yang—demi Allah—tidak ada pamrih.

Jam 21 lewat 30 menit. Sesampainya di rumah jadi urung untuk makan lagi. Bukan karena bakso tadi sudah cukup mengganjal perut. Bukan pula karena zuhud. Tapi kalau sudah bicara yang ada sangkut pautnya dengan politik dalam negeri, kok tiba-tiba selera makan hilang ya? []

Categories: Pojok Celoteh
  1. November 18, 2008 at 3:34 am

    Gaya hidup zuhud memang awalnya untuk mendidik diri kita agar tidak berlebihan dalam hal makan, minum, …dan juga seks. Sekiranya ada sekitar 200 juta orang Sule di Indonesia, yang zuhud terhadap dunia, mungkin carut marut politik Indonesia tidak seperti sekarang ini.
    Hal praktis yang bisa kita lakukan seperti makan ini kadang terlupakan (seperti saya). Kalau nasi setengah porsi sudah mengenyangkan, kenapa harus satu porsi? Jika seperempat nasi (itu pun kalo bisa nakarnya karena rasanya agak jarang tukang warung nanyain, ‘nasinya setengah apa seperempat pak?’. Jadi, kalo sudah tahu bahwa seperempat nasi bisa mengenyangkan, sebaiknya ambil sendiri (eh, naha bet ngabahas katuangan, lieur ah).
    Satu hal lagi, supaya kita bisa hidup zuhud sebaiknya kita sering baca politik, karena itu akan mengurangi selera makan. pada gilirannya, kita akan hidup zuhud? Leres teu, Kang Irfan?
    ____________

    Hehe…..leres Kang
    Tapi bisa juga napsu (dalam pengertian Sunda alias nasteung) tdk tersalurkan, larinya malah ke nafsu makan.

  2. nahawan
    November 18, 2008 at 7:58 am

    ternyata politik ada manfaatnya juga ya…bisa dijadikan riyadhoh untuk meraih makom zuhud seperti kang irfan ini. kalo mau ga selera makan, langsung nonton juru kampanye yang lagi ngegombal sambil ngiler ngiler nawarin janji kalau saya sudah jadi anggota legislatif….duh jadi ga selera makan juga

  3. Lovely_loeloe
    December 6, 2008 at 3:27 pm

    Zuhud, memang g semua orang bisa melakukan itu, suat hal yang cukup sulit, apalgi di kehidupan seperti sekrang ini.
    pak irfan, saya ingin bertanya. salah satu bentuk zuhud adalah makan sebelum kenyang, ya kan????? sperti yang dilakukan oleh sule, dan tidak berlebih-lebihan.itu bagus dan sunnah rosul. tapi aq pengen tanya.

    pak, jika seseorang makan, dan dia berhenti sebelum kenyang, namun, maksud dia berhenti agar dia bisa menikmati makanan atau jajanan lain, itu bukan zuhud bukan???? lalu bagaimana dengan orang yang makan sampai kenyang, karena mereka membutuhkan tenaga lebih untuk bekerja dan tak ada tempat untuk makanan lain, kuli misalkan???? jika dia tidak kenyang, maka dia akan kehilangan tenaganya, apa itu juga bisa dibilang zuhud???? karena semua yang ia hasilkan dia akan berikan untuk keluarganya??? boro2 jajan, makan pokok aja bagi mereka susah, makanya saat mereka makan, mereka makan dalam keadaan kenyang. kebetulan rumah aq dekat pasar dan aq pernah sesekali mengamati cara makan mereka.

    syukron, jazakalloh khoir
    ____________________
    Selama baik bagi dirinya dan tidak mengganggu/ merugikan orang lain, saya kira tidak apa-apa

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: