Home > Pojok Celoteh > Ki Pesak Lepet Belum Gila

Ki Pesak Lepet Belum Gila

Ki Pesak Lepet belum benar-benar gila. Sedikit dari kami masih setia mengikuti pelajaran yang ia berikan. Bedanya kini, ia selalu memberikan kejutan-kejutan yang belum pernah kami terima sebelumnya. Proses transfer ilmu pun sekarang bisa dilakukan di mana saja. Di tengah hiruk pikuk pasar, di pinggir jalan tol, hingga di tengah deburan ombak. Di lain waktu malah di kesunyian lembah, gunung, bukit, ngarai hingga di liang lahat yang kami gali sendiri-sendiri.

Terkadang ilmu yang ia sampaikan tanpa melalui media suara. Kami hanya merebahkan badan semalam suntuk sambil hening di bawah langit malam. Memang gemintang itu sudah tidak segemerlap 26 tahun yang lalu ketika kami mulai belajar ilmu tajwid agar bisa membaca Al-Qur’an dengan benar. Namun kepulan asap tembakau lintingan itu tak pernah berubah, tetap tanpa jeda keluar dari mulutnya. Wanginya pun masih sama, tetap terasa membius hingga kami selalu penasaran ingin mencobanya, namun harus kami tahan. Begitu pula ketika mulai tercium bau tak sedap yang menusuk hidung, sedikitpun kami tak boleh bergeming, meskipun tahu persis jenis bau apa itu. Ia menyebutnya bab sabar tasawuf diam.

Terkadang ia sumbat telinga kami agar mampu mendengar senandung merdu Daud as. Sesekali ia tutup mata kami agar mampu menyaksikan kekayaan Sulaiman as dan melihat keperkasaan Musa as. Pernah ia tutup saluran akal kami agar sedikit tersibak kemisteriusan Khidir as. Pernah juga ia usap dada kami hingga merasakan kezuhudan Isa as. Tak jarang pula ia elus jiwa kami hingga merasakan percikan keparipurnaan Muhammad Saw.

Hanya satu hal yang membuat kebanyakan dari kami mengira kewarasannya sudah terganggu, yakni tatkala ia berceloteh: “Tak ada apapun kecuali Tuhan. Kita dan semua di sekeliling kita hanya pantulan bayangan cermin. Tidak benar-benar ada, hanya seolah-olah ada. Yang benar-benar ada hanya si empunya bayangan. Tutup mata zhahir, bukalah mata bathin. Rasakan Sang Wujud yang melambari setiap maujud, yang merupakan aneka pengejawantahan dalam tingkat kualitas yang berbeda-beda. Semuanya itu bergerak ke arah kesempurnaan. Dan bagi kita, tak ada yang lebih patut selain bertransformasi menaik ke arah kesempurnaan yang sejatinya tak berbatas itu.”

“Jadi tak usah jauh-jauh kau cari Tuhan, pada apapun kau bisa temukan Tuhan, terlebih di kedalaman jiwa kalian masing-masing.”

Mungkin ia gila dan tidak benar-benar ada. Tapi jiwa kami dibuatnya melambung ke awang-awang. []

Categories: Pojok Celoteh
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: