Home > Pojok Celoteh > Celoteh Sebotol Minyak Wangi

Celoteh Sebotol Minyak Wangi

Tahun tujuh puluhan, duet Ahmad Bakr-Saddam Hussein mengambil kebijakan penting bagi rakyat Irak, namun dirasa pahit bagi pengelola Iraqi Petroleum Company (IPC), sebuah konsorsium yang terdiri dari lima oil company terbesar di dunia, yakni British Petroleum, Shell, Eso, Mobil, dan Française des Pétroles. Mereka harus menghadapi kenyataan diberlakukannya nasionalisasi perusahaan minyak di Irak. Dampaknya terasa langsung. Masyarakat Irak segera bisa menikmati keuntungan dari cadangan minyak yang melimpah itu. Kesejahteraan pun meningkat pesat di berbagai sektor, termasuk di bidang pendidikan yang akhirnya mengantarkan Saddam meraih penghargaan dari UNESCO. Bukti nyata untuk sebuah kredo yang pernah meluncur dari mulut sang tiran ini, yakni: minyak Arab untuk Arab.

Puluhan tahun kemudian, secara susul-menyusul para pemimpin di berbagai belahan dunia mulai menyadari dampak buruk hegemoni Amerika Serikat. Tiga wajah liberalisme yang dibiuskan, yakni liberalisme politik dengan demokrasi liberalnya, liberalisme ekonomi dengan kapitalismenya, serta liberalisme moral, kian hari kian dirasakan mudharatnya. Jangan dulu sebut Iran yang memang sejak revolusi 1979 sudah talak tiga dengan Amerika. Lihatlah beberapa negara Amerika Latin yang mulai membangkitkan sentimen anti globalisasi neo liberal dan anti dominasi Amerika Serikat. Di Kuba, ada “El Commandante” Fidel Castro. Di Venezuela, ada Hugo Chavez. Daniel Ortega di Nikaragua. Vasquez Rosas di Uruguay. Juga di beberapa negara lainnya, satu-persatu menunjukkan solidaritas dan semangat yang sama.

Di Bolivia, Presiden terpilih Evo Morales mengambil kebijakan yang tidak setengah hati. Dengan penuh kesungguhan ia angkat martabat rakyat Bolivia menuju wajah peradaban yang lebih baik. Pertama, ia turunkan separuh gajinya demi kepentingan rakyat miskin, yang kemudian diikuti oleh para menterinya. Kemudian hanya dalam waktu sembilan bulan ia berhasil membayar janjinya selama masa kampanye untuk me-nasionalisasi migas negara. Aturan main yang sebelumnya menguntungkan pihak asing kini diubahnya. 51% saham pemerintah yang pernah diprivatisasi di lima perusahaan migas pada tahun 1990 diambil kembali. Gabungan pajak dan royalti yang diserahkan perusahaan gas asing dinaikkan menjadi 82% setelah sebelumnya yang hanya 50% dan mula-mula hanya 30%. Sang pahlawan seolah berteriak lantang: migas Bolivia untuk rakyat Bolivia. Kalau Anda tidak suka, silakan pergi dari sini sebelum kutendang pantat kalian!

Di bumi pertiwi air liur kita boleh menetes-netes seraya membayangkan kekayaan negara yang ternyata masih melimpah ruah. Bergunung-gunung emas di Papua, kekayaan tambang di sana-sini, ladang minyak dan gas di mana-mana. Belum terhitung yang belum dieksplorasi. Itu punya siapa dan untuk siapa? Siapa berani meluncurkan kredo ala Sadam? Nasionalisasi ala Morales? Berani bayar darah?

Kita tak kuasa berbuat apa-apa selain memaki dan menyumpahi makhluk-makhluk yang telah menggiring bangsa ini menjadi kacung di rumah sendiri. Rumah di mana kita tak bisa lagi menyembunyikan lakon sebagai subordinat kepentingan kapitalis dunia. Rasanya kita ingin mencekik para pengendali kebijakan yang bermental inlander itu. Tapi seandainya kita yang tampil ke depan, boleh jadi kita juga bakal dicekik orang. Sebab kita semua baru sebatas punya kapasitas untuk bermimpi ini-itu. Bukan bermimpi untuk mencari pemimpin seperti seorang Ahmadinejad atau Evo Morales, tetapi bermimpi untuk meniduri artis A atau penyanyi B.

Siapa yang menangis melihat kenyataan ini? Tak ada yang perlu ditangisi. Kita semestinya berbangga hati. Lihatlah, bangsa kita terlalu tangguh untuk menyerah pada keadaan. Setelah derita dan nestapa yang tak kunjung reda, padahal berbagai pendekatan dan aneka metodologi sudah diterapkan, kini dicobalah sentuhan baru: saatnya membuka pintu lebar-lebar bagi yang cengangas-cengenges di infotaintment, bagi yang pintar akting, bagi yang rupawan-rupawati, serta bagi yang tak jelas sejarah pembentukan dirinya, untuk tampil ke muka. Cengkokan dangdut, nyanyian balada, lawakan, cengegesan, akting mempesona, goyang salsa yang aduhai, kegantengan dan kecantikan, pasti bikin kepala rakyat lebih fresh ketimbang dijejali aneka sihir panggung politik.

Ikon budaya mutakhir kita adalah budaya pop. Tak salah kiranya kalau yang kita tahu hanya sebatas yang ngepop-ngepop saja. Dan orang pintar tentu pintar menangkap peluang. Maka ditawarkanlah wajah-wajah familiar. Bagi orang kebanyakan, daripada memilih politikus Fulan yang doktor tapi tidak dikenal misalnya, mendingan pilih artis Polan yang jelas-jelas sering nongol di TV. Si Polan setidaknya pernah terbukti memberikan manfaat (minimal hiburan) ketimbang si Fulan. Masa bodoh gunung emas digerus orang, bahan tambang disikat orang, minyak dan gas disedot orang. Yang penting kita masih bisa melihat para pesohor berdendang, bergoyang, serta telanjang.

Demikianlah. Kita masih memilih dan memilih, sementara kita tidak pernah punya kesungguhan untuk tahu siapa yang dipilih serta untuk apa memilih.

Bukannya pesimis atau meremehkan mereka yang memang belum terbukti keremehannya, sebagaimana belum terbukti juga kehebatannya. Hanya saja membayangkan, ketika mereka ditanya ihwal kebijakan terkait urusan migas, masih dengan gaya pede-nya­­ mereka menjawab: “Alhamdulillah ya kita masih kaya, masih punya minyak yang bisa dijual. Tapi ngomong-ngomong, minyak wanginya itu merk apa ya? Boleh minta sebotol? Barangkali nanti gue bisa ikut mempromosikan ke sesama rekan selebritis…” []

Categories: Pojok Celoteh
  1. December 4, 2008 at 3:43 pm

    Jd kudu kumaha atuh

  2. abualitya
    December 15, 2008 at 2:00 am

    Ayam mati di lumbung padi. Gambaran yang tepat utk bangsa yang kaya tapi kekayaannya digasak, diserobot lalu dirampas orang asing. Itulah bangsa kita.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: