Home > Renungan > Gaza Lagi, Darah Lagi

Gaza Lagi, Darah Lagi

 “Jika kaum Muslim bersatu dan masing-masing dari mereka mengguyurkan seember air pada Israel, maka Israel akan tersapu, namun masih saja mereka tak berdaya di hadapannya.
(Imam Khomeini)

Masya Allah….Di penghujung 2008 ini, tanah Gaza masih terus dibasahi darah. Dan akan terus berlumuran darah selama bermacam-macam kelompok dari kaum muslimin di segenap penjuru dunia mensikapi Gaza hanya sebagai ajang untuk adu wacana, pandangan politik, tema kajian, materi pembahasan, bahan berita atau sekadar tontonan di ruang berhembuskan AC sejuk sambil ditemani seruputan kopi panas. Lebih celaka lagi, tak sedikit (yang mengaku) muslim tidak mau tahu bahwa di muka bumi ini ada tempat yang bernama Gaza. Ada bangsa yang bernama Palestina.

Gaza menelanjangi bangsa Arab khususnya, kaum muslimin dunia umumnya. Kebungkaman negara-negara muslim merupakan kehinaan yang akan menjadi catatan buram sejarah peradaban, manakala ratusan ribu anak Palestina di Jalur Gaza mengalami derita kelaparan akibat berlanjutnya blokade rezim zionis Israel. Dan setelah itu, (sampai tulisan ini dibuat) Gaza digempur habis-habisan tanpa mampu melakukan perlawanan yang berarti. Gaza berjuang sendirian manakala perut sedang lapar. Sungguh lebih pantas disebut pembantaian besar-besaran ketimbang dinamakan perang. Inilah holocaust yang sesungguhnya.

Arab membisu menyaksikan kepongahan Israel. Arab masih bergelimang kemewahan di tengah Gaza yang meradang. Para pemimpinnya menutup mata di tengah Gaza yang meratapi kucuran darah. Dan kita apalagi tak bisa apa-apa, masih cengengesan di tengah Gaza yang merana. Masih berpesta pora menyongsong hitungan tahun yang semakin tua. Sepertinya sindiran yang pernah dilontarkan pemimpin Hizbullah, Hasan Nasrallah, bukan hanya ditujukan kepada para pemimpin Arab saja, tetapi juga untuk kita semua: jadilah lelaki barang sehari saja. Dan bagi mereka yang hobinya masih berkutat di lingkaran sentimen Sunni-Syi’ah, silakan kafir-mengkafirkan sesuka mulutmu, tapi lawanlah Amerika dan Israel meski hanya sebatas mulutmu.

Tahu apa kita tentang Gaza? Tahu apa kita tentang tragedi kemanusiaan di sana? Yang kita pikirkan tentang Gaza hanyalah Gaza yang kita persepsikan, bukan yang sesungguhnya. Sebab di balik ketakutan anak-anak dan para wanita, seiring bergulirnya waktu, yang terjadi sesungguhnya adalah mereka sudah lebur di dalam ketakutan itu sendiri. Sehingga lambat laun kosa kata ‘takut’ hilang ditelan desing peluru, lantaran lawan kata dari ‘takut’ sudah bersenyawa larut dalam aliran darah di tubuh-tubuh mereka. Mereka hidup dan dibesarkan dalam mental jihad yang pastinya bikin ngeri pasukan Israel yang bertempur demi materi belaka.

Makhluk-makhluk macam apa gerangan yang tak punya nurani meluluh-lantakkan nilai-nilai kemanusiaan? Jiwa-jiwa iblis macam apa yang sanggup lakukan itu?

Kita membayangkan, betapa beratnya menanggung nestapa ketika anggota keluarga tiba-tiba berkurang dalam waktu sekejap saja. Betapa teririsnya hati ketika anak-anak kecil berlumuran darah padahal tadi pagi masih dalam gendongan. Betapa getirnya perasaan ketika malam hari bernaung di dalam rumah, esoknya sudah rata dengan tanah. Betapa sesaknya dada ketika melihat tangan-tangan kecil melempar batu ke arah tank-tank yang datang menghadang.

Tetapi tidak, yang mereka rasakan tidak demikian seperti yang kita pikirkan. Mereka sudah berjodoh dengan akhirat sehingga perpisahan dengan dunia yang kian bobrok ini merupakan jalan terbaik. Iman yang tertancap kokoh di lubuk jiwa membawa mereka kepada pemahaman dalam memilih mati. Dan mati syahid bukanlah sembarang mati, melainkan bernilai tiada tara di sisi Allah. Maka lihatlah, dengan logika langit mereka sebentar lagi siap mengguncang Gaza di sana, membikin kuburan masal bagi para zionis terkutuk itu.

Sementara kita di sini, diberi opsi oleh Tuhan: mau bangun atau melanjutkan tidur?

Beban di Sana, Ujian di Sini

Seberapa tega kita berucap syukur hidup di negeri gemah ripah loh jinawi ini, sementara saudara kita di sana sedemikian menderita? Bukankah sesama orang beriman diibaratkan anggota tubuh, jika yang satu terluka maka yang lainnya ikut merasakan sakit? Sesungguhnya beban berat di sana adalah ujian di sini. Lalu mengapa harus Gaza yang menderita? Mengapa bukan Amerika atau Zionis Israel? Mengapa bukan Mesir atau Arab Saudi? Padahal mudah saja bagi Tuhan untuk mengazab para neo firaun itu.

Jawabannya, karena Gaza-lah yang paling siap dengan ujian. Sementara firaun-firaun itu, sengaja dibiarkan oleh Tuhan berlama-lama tenggelam dalam kebengisan, agar kelak puas juga berlama-lama di dasar neraka. Lantas posisi kita? Kepada kita-apalagi kepada bangsa Arab yang tetangga dekat-Tuhan seolah berkata: “Hey, Aku mau tahu apa yang bisa kau perbuat dengan penderitaan saudaramu itu!”

Ya Allah….Bukan kapasitas saya untuk menggurui tentang apa yang bisa kita perbuat di sini. Bahkan saya sendiri hanya bisa tercekat ketika sampai paragraf terakhir ini. Kita bukan Iran atau Hizbullah yang gigih memperjuangkan aspirasi bangsa Palestina. Yang tidak sekadar berdemonstrasi di depan kedutaan negara-negara Arab (atas “kontribusi” mereka), tetapi juga melakukan tindak nyata yang bukan sekadar basa-basi. Kita mungkin belum sampai ke situ. Tapi keyakinan ini berkata bahwa setiap tetes kepedulian kita dalam bentuk apapun itu, serta setiap untaian kata dalam doa-doa kita demi keselamatan dan kemenangan rakyat Gaza, pasti dibayar tunai oleh Allah. Namun jika kaum muslimin di seluruh penjuru dunia kembali menarik selimut untuk melanjutkan tidur lelapnya, maka Gaza akan tetap meradang lagi, dan darah terus berceceran lagi, naudzubillah…. []

Categories: Renungan
  1. qsin
    January 14, 2009 at 1:16 pm

    Iya fan miris hati ini liat kenyataan bahwa kita hanya bisa baca atau nonton teror zionis ini terhadap muslim gaza palestina, perasaan yang sama saat tentara amerika menyapu bersih negara irak dulu, dengan alasan irak mempunyai senjata pemusnah masal,suatu kebohongan besar yang tak pernah terbukti hingga saat ini.. kenapa hal yang sama bisa berulang untuk kedua kalinya? ketika israel mengatasnamakan roket2 pemusnahnya sebagai alasan membela diri dari hamas yang nyata2 tidak punya kekuatan apa2 untuk membalas, dan dunia tetap saja membisu.. apakah dunia masih punya hati nurani?

    Tepat menurutmu fan, padahal semua itu adalah ujian untuk kita disini, ketika jiwa-jiwa syahid syahidah di gaza melayang ke syurga Allah, kita disini terpenjara dalam dunia yang penuh ujian, tak tau nasib kita esok atau lusa, pantaskah kita menuju syurganya? apa yang telah kita korbankan untuk menandingi perjuangan hidup muslim gaza yang telah mengalami teror zionis sepanjang hidupnya hingga syahid memanggilnya…
    Apa yang telah kita perbuat? mungkin hanya main-main belaka..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: