Home > Pojok Celoteh > Bukan Bangsa Kasihan

Bukan Bangsa Kasihan

Penyair Lebanon Kahlil Gibran (Khalil Jibran di lidah Arab), suatu ketika menulis sebuah syair yang berjudul Bangsa Kasihan:

Kasihan bangsa yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak ia panen, dan meminum anggur yang ia tidak memerasnya

Kasihan bangsa yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan, dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan, tidak sesumbar kecuali di reruntuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala, filosofnya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru

Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu dan orang kuatnya masih dalam gendongan

Kasihan bangsa yang terpecah-pecah, dan masing-masing pecahan menganggap dirinya sebagai bangsa.

Tunggu, jangan berprasangka dulu. Pak Gibran tidak sedang menyindir bangsa kita. Rentetan kalimat di atas sama sekali bukan ditujukan untuk kita.

Perjalanan sejarah bangsa ini cukup menunjukkan bahwa kita bangsa yang tangguh, yang tidak cengeng menghadapi keadaan. Kita bukan jenis bangsa yang membiarkan peristiwa kelaparan terdengar kuping tetangga. Memalukan jika harus umbar kemelaratan. Bukankah kita punya persediaan beras melimpah ruah? Bukankah kita gudangnya bahan pangan, papan, kekayaan laut, pendaman barang tambang, minyak dan gas bumi? Jangan sekali-kali merendahkan diri di hadapan orang. Rebutan uang zakat hingga desak-desakan antrian daging kurban itu hanya riak-riak kecil saja, jangan dibesar-besarkan. Nanti juga akan hilang dengan sendirinya, menguap di langit nusantara bersamaan dengan menguapnya nilai-nilai kemanusiaan di jiwa-jiwa kita. Pun ketika harus terjadi kematian tragis dari peristiwa tersebut, itu biasa. Bukankah kita semua juga sedang antri mati? Kemudian lihatlah, di negeri ini nyaris tak ada orang miskin. Coba sekali-kali berkunjung ke ibu kota. Di tengah lalu-lalangnya mobil-mobil mewah, gedung-gedung tinggi pencakar langit, mall-mall raksasa, ketawa-ketiwi orang-orang shopping, serta abgabg yang tenteng handphone yang harganya berkali-kali lipat dari gaji buruh pabrik, di mana Anda akan temukan celah kemiskinan dan penderitaan? Maka kecilnya angka kemiskinan yang diumumkan pemimpin kita sungguh realistis, sama sekali tidak ada hubungannya dengan politik pencitraan menjelang pemilu 2009.

Kita juga tidak pernah menjadikan orang dungu sebagai pahlawan. Orang dungu pasti tidak siap diminta jadi pahlawan. Sedangkan di sini, semua orang sangat siap jadi pahlawan, seraya berjanji akan membawa bangsa ini menuju gerbang keselamatan. Kita tinggal pilih yang mana saja, mau parpol apa, golongan apa, atau lulusan mana. Bahkan mau pilih kaum selebritis pun, mereka sangat siap untuk tampil sebagai pahlawan. Lihat saja, banyak urusan penting yang bukan main-main diserahkan kepada mereka. Tentu saja kita dan mereka tahu persis bahwa bangsa ini bukan bangsa main-main.

Kita juga bukannya bangsa yang tidak punya mimpi. Bukankah kita bisa bertahan karena mimpi dan harapan? Kita yang datang dari aneka ragam suku, agama, kultur, hingga latar belakang pendidikan, mimpinya sama: jadi orang kaya. Jangan tanya bagaimana caranya menjadi kaya. Apalagi jika yang ditanyakan adalah: setelah kaya kau mau apa?

Siapa bilang kita tidak pernah angkat suara? Segenap penjuru dunia pasang telinga mendengar suara kita. Bahkan begitu riuh rendahnya sehingga kita tak mampu mendengar suara sendiri.

Siapa bilang bangsa kita negarawannya serigala, filosofnya gentong nasi, senimannya tukang tambal dan tukang tiru? Negarawan kita bukan serigala, melainkan kucing-kucing jinak yang ramah, sehingga untuk Tuan Bush yang dibenci banyak orang saja perlu dibuatkan landasan helipad beserta hamparan karpet merah menyambut kedatangannya. Sebagai tetangga yang baik, tentu tidak cukup hanya mengirimi bergunung-gunung emas, berjuta-juta ton barang tambang, dan berjuta-juta barel minyak.

Filosof? Ada ratusan hingga ribuan di sini. Semuanya pintar-pintar. Semua bisa berbicara, semua bisa berwacana, semua boleh sumbang suara, semua mampu berfatwa. Semuanya ahli dalam bidang apapun, sampai-sampai kita kesulitan untuk menyerahkan suatu urusan pada ahlinya.

Seniman kita tukang tiru? Justru seniman kita tidak pernah meniru siapapun. Kita punya lukisan telanjang yang artisnya anak bangsa sendiri. Kita punya majalah telanjang yang foto modelnya produk dalam negeri. Kita punya film telanjang yang aktor dan aktrisnya orang kita sendiri. Kita punya produk orisinil yang bernama dangdut beserta goyangnya itu. Ngebor, dombret, patah-patah, ngecor, vibrator, kayang hingga oray ngaleor, semuanya ada di sini. Dengan pendaman kekayaan seperti itu, kita bisa berjoget dan bergoyang terus meskipun bom meledak di sana-sini. Kita masih boleh telanjang terus meski (yang katanya) ulama sudah siap dengan pentungan di tangan.

Bangsa kita pun tidak berpecah-belah, malah semakin solid dan bertambah anggotanya. Bukankah sebelumnya jumlah propinsi ada 27? Coba hitung lagi, kalau tidak salah sekarang ada 33. Betul ya?

Mas Jibran tidak sedang mengasihani bangsa kita. Apanya yang perlu dikasihani? Bangsa kita tidak pernah punya masalah. Masalah hanya ada pada orang yang merasa bermasalah dengan adanya masalah. Sekali lagi, ini bangsa bukan bangsa main-main, apalagi bangsa kasihan. []

Categories: Pojok Celoteh
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: