Home > Pojok Celoteh, Renungan > Tafsir Beruang

Tafsir Beruang

Syahdan, dua orang pemburu beruang belum apa-apa sudah berdebat tentang hendak dipakai apa uang hasil penjualan beruang buruan mereka nantinya. Padahal, perburuan belum juga dimulai. Tetapi yang satu sudah berangan-angan ingin begini, yang satu lagi ingin begitu. Demikian seterusnya hingga mulut mereka tak pernah bisa berhenti bicara.

Rupanya tanpa disadari suara mereka berdua telah meredam langkah kaki sang beruang yang sedang menghampiri. Betapa terkejutnya mereka ketika tiba-tiba sang beruang mengaum garang tepat di hadapan. Spontan, salah seorang melompat memanjat pohon. Namun si beruang membiarkannya, padahal bukan hal yang sulit baginya untuk mengejar. Lebih malang, yang seorang lagi tak sempat berbuat apa-apa kecuali diam terpaku, dengan wajah pucat pasi dan tatapan tanpa daya. Tak diragukan, tingkat kepasrahan sudah berada di puncaknya. Namun apa yang terjadi kemudian, sang beruang malah berbisik: “Jangan jual kulit beruang sebelum kau menangkap beruangnya!” Setelah itu ia pergi meninggalkan mereka berdua yang masih terdiam mematung.

Cerita Jalaluddin Rumi di atas disampaikan ulang oleh Abdul Rahman Azzam dalam The Kingdom of Joy cukup panjang dan memikat. Sayang saya tak punya kemampuan menyampaikan seindah cerita aslinya, sehingga terpaksa saya mampatkan dalam dua paragraf pendek. Tentu saja dengan (mencari) alasan menghemat ruang dan waktu. Bukan apa-apa, selain itu, membaca atau mengomentari status facebook lebih mengasyikkan ketimbang membaca tulisan panjang.

Seperti biasa, cerita Rumi berisi muatan pesan yang bisa multitafsir dan mampu menggema di sepanjang zaman. Dan saya yakin, seandainya masih hidup, Kyai Rumi tidak akan marah jika seorang mufasir gadungan macam kita mencoba menafsirkannya suka-suka, lalu mem-publish-nya di facebook. Malah beliau akan ikut-ikutan bikin account facebook. Bedanya, ia tahu persis kapan harus ngomong dan kapan harus diam. Ia tidak akan seperti kita, di mana semua hal sekecil apapun mesti dilaporkan. Sampai ke jenis-jenis makanan yang mejejali perut kita hari ini, orang lain harus tahu. Tapi giliran kena bisul, panu, kadas atau kurap, tidak diumumkan.

Jangan salah sangka. Tafsir Beruang bukan sindiran terhadap watak manusia modern yang semakin hari semakin ‘caper’ saja. Mungkin ada bagusnya. Daripada terlalu banyak bicara, fungsi mulut bisa dialihkan ke jari-jari tangan, meskipun nyaris sepanjang siang dan malam sibuk bergerak sembari menunggu pancingan status dikomentari orang. Jangan anggap ini sindiran. Apalagi saya juga anggota tetap jama’ah fesbukiyyah.

Tafsir Beruang juga tidak berusaha menghubung-hubungkan dengan peristiwa yang baru (dan masih) saja terjadi, di mana orang-orang pintar bicara banyak hal, debat sana-sini, umbar janji ini-itu, sambil di belakang mencoba menyikut lawan-lawannya dengan cara yang bikin akal sehat tak mampu lagi menjangkaunya. Singkatnya, mereka menjual kulit beruang sebelum menangkap beruangnya.

Ada satu hal yang patut mendapat perhatian. Mulut yang terlalu banyak bicara bisa melemahkan fungsi telinga yang sedianya dipakai untuk mendengar suara yang datang dari luar. Tukang bicara seringkali tak percaya bahwa keheningan diperlukan agar mampu mendengar adanya bahaya. Kita juga bisa menyaksikan betapa banyak pemimpin yang terlalu banyak bicara sehingga tak mendengar lagi suara yang datang dari bawah. Tahu-tahu tanpa disadari sang beruang sudah berdiri di hadapan.

Kita memasuki zaman serba mungkin. Dan kini sang beruang bisa memanifestasikan dirinya dalam bentuk apapun. Yang paling mengerikan adalah ketika ia menjelma dalam wujud bencana yang datang seketika dan bertubi-tubi tanpa pernah kita belajar darinya. Padahal, boleh percaya atau tidak, persoalannya sepele saja: kebanyakan kita terlalu banyak omong tapi malas mendengar. Maka kini, dengarkan sekali lagi pepatah bijak mengingatkan: diam adalah emas, bicara adalah perak. Maksudnya, bicaralah yang perlu-perlu saja. Sebab ada kalanya bicara memang diperlukan. “Tidak baik berdiam diri tentang sesuatu yang diketahui, dan tidak baik bicara sesuatu yang tidak diketahui,” demikian petuah Sayyidina Ali. Akan tetapi ingat kata beliau lagi di lain tempat, “lidah orang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh ada di belakang lidahnya.” Maksudnya, seorang berakal takkan omong sesuatu tanpa dipikirkan masak-masak, sementara seorang bodoh akan dengan mudahnya memuntahkan segala sesuatu yang terlintas di benaknya.

Sebelum kebanyakan omong, saya hentikan saja sampai di sini, sebab baru saja Pak Rumi membisikkan sesuatu: “A mouth is not for talking. A mouth is for tasting The Sweetness.”

Jangan ada yang tersinggung. Tafsir Beruang ala irfaniyyah jangan terlalu masuk di hati. []

Categories: Pojok Celoteh, Renungan
  1. Leonardo
    July 16, 2009 at 3:43 am

    Nuhun ah..
    Sekarang mau ngupdate FB: “Versi 1.0 Tafsir Beruang” ;P

  2. Adhit
    July 17, 2009 at 1:03 am

    Nuhun Kang….

    Jadi isin ah upami bade ngapdet status di pesbuk…. heuheuheu….

  3. November 28, 2010 at 10:42 am

    bagus…bagus…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: