Home > Pojok Celoteh > Tuhan, Wahhabisme, dan Hedonisme

Tuhan, Wahhabisme, dan Hedonisme

bom-kclKetika Saint Agustinus ditanya tentang apa yang dilakukan Tuhan sebelum alam semesta tercipta, jawabnya enteng: Tuhan sibuk bikin neraka untuk orang-orang yang bertanya seperti itu.

Saint Agustinus tidak sedang bercanda. Sebab bagi kebanyakan orang beragama, kata “iman” seringkali dijadikan tameng untuk menangkal pertanyaan-pertanyaan usil macam itu. Persis seperti ketika Wiro Sableng mengeluarkan kapak maut naga geni 212-nya. Secanggih apapun ilmu lawan-lawannya, akan segera terkapar dalam hitungan waktu kurang dari sepeminuman teh.

Kalau kita tanya apa maunya Tuhan kepada ustadz (yang mainstream) di sini, siap-siap saja kecewa dengan jawaban: “Jangan tanya-tanya tentang Tuhan, nanti iman kalian jadi goyah!” Atau: “Jangan bertanya sesuatu yang musykil untuk dijawab, setan bisa merasuki akal pikiranmu!” Kali ini setan yang lagi-lagi jadi kambing hitam.

Ilmu tentang Tuhan kini bukan sesuatu yang menarik lagi untuk dibahas. Tidak marketable. Tidak mengerti tentang Tuhan tidak akan hidup merugi, tapi gaptek mengoperasikan blackberry bisa tergolong minal khasirin.

Apa yang sesungguhnya terjadi? Siapa yang gagal menyajikan menu Tuhan sebagai sajian yang tidak lagi menggugah selera? Salah ulama? Sarjana? Cendekiawan? Ataukah perlu menuding sekelompok jumud wahhabi (beserta aneka derivasinya) yang telah sukses menyulap kemegahan diskursus agama menjadi sesuatu yang simplistis, rigid, dan seuprit? Padahal dahulu, gegap gempita peradaban Islam diwarnai proses dialektika sengit di antara para teolog dan filsuf. Tak luput para ‘arif urun rembuk.

Masih banyak yang kangen dengan suasana seperti itu. Tapi kini, semua seolah terkubur. Sulit rasanya menelusuri jejak peradaban yang membanggakan itu. Sekarang kebanggaan sebuah bangsa diukur dari sejauh mana ia bisa menawarkan aneka kelezatan duniawi. Para raksasa minyak di Timur Tengah yang notabene negara Islam berlomba membangun gedung pencakar langit, kalau perlu menembus langit ke tujuh. Tapi ketika tetangganya Palestina digempur Israel habis-habisan, ongkang-ongkang kaki saja. Yang tak kalah menyedihkan, aura spiritual tanah suci Mekkah dikotori gairah materialisme sehingga berbagai peninggalan suci sejarah Islam mesti diratakan dengan tanah. Inilah produk peradaban wahhabisme di satu sisi.

Sementara di sini, di negeri ini, hidup sepertinya cukup dengan bekerja, cari uang, lalu jadi kaya. Yang penting tidak ketinggalan shalat. Syukur-syukur bisa naik haji, supaya bisa menghanguskan segudang dosa yang telah dilakukan. Hidup kaya, mati masuk sorga. Mau?

Beberapa hari lalu, sekelompok jumud yang merasa mengerti tentang Tuhan kembali meledakkan hotel di Jakarta. Bagi mereka sah-sah saja. Sebab kelompok lain selain mereka adalah para ahli neraka yang harus direduksi dari muka bumi. Setelah itu, berbekal spekulasi yang lainnya saling tuding sana-sini. Sementara yang lainnya lagi, kecewa berat setelah mengetahui Manchester United, tim kesayangannya, gagal bermain. Padahal tiket pertandingan yang harganya hingga jutaan rupiah sudah di tangan. Sedikit pun tak ada beban meski tahu persis bahwa di atas tanah dan di bawah langit yang sama, berpuluh-puluh juta perut teriak minta diisi. Edan!

Dalam hitungan kurang dari 2 jam pertandingan, puluhan miliar mengalir ke kocek negara kaya yang sudah kokoh di puncak piramida ekonomi global. Mesin kapitalisme merangsang manusia bergaya hidup boros. Sementara itu, berpuluh-puluh juta perut lapar mulai merencanakan bermacam strategi agar perut mereka bisa terisi. Gaya hidup hedonis, karena keringnya spiritualitas, turut andil membuat posisi negara berkembang ini semakin ambruk.

Terlalu sederhana untuk menunjuk langsung hidung wahhabi sebagai biang keladi segala kesusahan ini. Parameter lain yang tidak ada kaitannya dengan agama mesti diperhitungkan juga, termasuk kelicikan tangan-tangan asing. Tapi paling tidak, tak diragukan lagi bahwa wahhabisme berkontribusi besar terhadap munculnya kekerasan atas nama agama. Wahhabisme juga menyajikan agama dalam paras yang suntuk untuk didekati.

Tadi sore, anak sulungku yang baru masuk SD bertanya, “Tuhan kan Maha Baik, lalu mengapa Tuhan menciptakan setan yang jahat?” Jawaban filosofis akan membuat anak usia 6 tahun ini bengong. Tetapi untuk menjawab dengan bahasa mudah bikin belepotan juga. Yang jelas, jawaban untuk pertanyaan itu bisa sama persis dengan jawaban untuk pertanyaan: mengapa Tuhan membiarkan teroris berkeliaran di muka bumi?

Hidup semakin susah. Belajar ilmu tentang Tuhan semakin (dibikin) rumit. Dan wahhabi takkan pernah berhenti usil merecoki. []

Categories: Pojok Celoteh
  1. Quito Riantori
    August 6, 2009 at 6:22 am

    Top!

  2. August 6, 2009 at 8:31 am

    Blog anda OK Banget!. Submit tulisan anda di Kombes.Com Bookmarking, Agar member kami vote tulisan anda. Silakan submit/publish disini : http://bookmarking.kombes.com Semoga bisa lebih mempopulerkan blog/tulisan anda!

    Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger memberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.

    Salam hormat
    http://kombes.Com

  3. February 8, 2010 at 9:05 am

    say no to wahabisme..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: