Home > Opini, Renungan > Teror vs Teror

Teror vs Teror

Pelaku teror atas nama agama biasanya datang dari masyarakat yang tingkat ekonominya cukup memprihatinkan. Sesaknya dada akibat himpitan kebutuhan hidup turut memuluskan jalan untuk memilih pandangan hidup yang lebih transendental. Ketika tak ada lagi yang bisa diharapkan dari kehidupan duniawi ini, ketika derita semakin mengakrabi keseharian, dan ketika segala gairah materialisme di muka bumi hanya menjadi tontonan belaka tanpa pernah ada kesempatan untuk mencicipinya barang sedetik pun, maka kehidupan akhir yang abadi nan menjanjikan menjadi prioritas utama untuk segera diraih. Pertikaian picik tentang uang dan segala kesementaraan di dunia ini segera bernilai nista di mata mereka.

Dalam keadaan demikian, masuklah pemahaman agama ekstrim yang memberikan energi luar biasa besar. Doktrin-doktrinnya menjadi mudah diterima, sebab sejalan dengan kenyataan bahwa segala kesusahan hidup ini lahir akibat ulah manusia-manusia rakus yang bertindak semena-mena merampas hak orang lain. Kemudian darah mereka menjadi semakin menggelegak setelah diyakinkan dengan retorika teori konspirasi global tangan-tangan asing, yang melalui sihir pop culture-nya itu berhasil membuat penduduk negeri ini tenggelam dalam konsumerisme yang semakin mengkristal membentuk sebuah budaya.

Kemarahan semakin tak terbendung ketika menyaksikan kenyataan bahwa kemuliaan seseorang kini dihargai dari sebanyak apa hartanya dan setinggi apa kedudukannya. Maka meledakkan diri dengan sasaran korban yang di mata mereka jahil dan zalim itu, bernilai jauh lebih mulia. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Dalam waktu bersamaan, mereka juga menggoyang pemerintah yang di mata mereka ilegal dan jauh dari nilai-nilai Islami.

Awalnya dari ekonomi, lalu disusupi ideologi, kemudian dipicu oleh budaya. Di sini Huntington ada benarnya ketika mengatakan bahwa perpecahan yang luas antar manusia dan sumber utama konflik adalah budaya, yang selanjutnya melahirkan benturan peradaban. Hanya saja lingkupnya kita persempit lagi. Pinjam sudut pandang pelaku teror itu, pertarungan yang terjadi kini adalah antara peradaban Islami versus peradaban jahiliyah yang sudah melecehkan nilai-nilai Islam.

Namun untuk melacak akar permasalahan tidak cukup berhenti sampai situ. Menurut hemat saya, tetap saja masalah berawal dari bagaimana cara sekelompok orang memahami agama. Dan masalah mulai bermunculan ketika memahami agama melalui pendekatan teologis semata seraya menyingkirkan aspek esoteris (yang dikaji dalam ilmu tasawuf). Kalau tidak dibuang sama sekali, aspek esoteris ini hanya dianggap aksesoris belaka sebagai pelengkap wacana.

Pendekatan teologis lahir dari pergulatan pemikiran manusia yang banyak mengandung spekulasi dan berbagai kepentingan. Jika kita lihat sejarah, kelompok khawarij lahir sebagai respon atas pelaku dosa besar yang mereka kategorikan sendiri, yang selanjutnya menurut keyakinan mereka harus segera disingkirkan dari muka bumi. Sebagai antitesis, lahir kelompok Murji’ah yang memberi ruang terlalu longgar atas perbuatan dosa besar. Kemudian muncul lagi Mu’tazilah yang mengambil tempat di tengah-tengah dengan doktrin manzilah bainal manzilatain-nya itu. Lalu Asy’ariyah, Maturidiah, dan seterusnya hingga munculnya kelompok wahhabi dengan teologi terornya itu. Umpatan kafir, syirik, bid’ah dan khurafat, adalah contoh dari teror verbal yang biasa mereka lakukan yang sesungguhnya tidak kalah berbahayanya dari teror fisik. Ketika model Islamisme jenis itu bertransmisi ke Indonesia, tidak banyak orang yang menyadarinya. Kebanyakan menerimanya karena memang merasa “harus”, tanpa disertai kesadaran mengapa “perlu”.

Pada akhirnya, ketika esoterisme mulai ditinggalkan, agama hanya menyisakan pembahasan tentang shalat shubuh perlu pakai qunut atau tidak, bagaimana hukum makan kodok dan kepiting, apakah maulid itu sunnah atau bid’ah, apakah merokok itu haram atau makruh, atau apakah si polan itu ahli surga atau neraka. Tanpa disadari, cara ini “sukses” menyulap kemegahan diskursus agama menjadi sesuatu yang simplistis dan tidak menggugah selera. Akibatnya, banyak pemeluk agama (yang kini beramai-ramai ikut mengutuk terorisme) sulit menemukan nikmatnya mengkaji agama. Mereka lebih suka dengan jalan praktis, memilih pandangan dunia dengan menjalani rutininas: kerja keras, kumpulkan banyak uang, lalu nikmati hidup. Selama tidak ketinggalan salat, maka makan enak di restoran mewah, nonton konser musik kapan saja mau, dugem sana-sini tidaklah menjadi beban meskipun di sekitarnya jutaan perut lapar hanya bisa menelan ludah saja menyaksikan gaya hidup modern ini. Bagi para ahli derita, ini juga sebuah bentuk teror. Hanya saja mereka sudah terlalu bersenyawa dengan derita, sehingga efeknya luput dari perhatian. Namun bagi sebagian lainnya, teror harus dibayar teror, salah satunya adalah dengan cara meledakkan diri dengan sasaran para “teroris hedonisme” itu, yang notabene bagi mereka secara potensial boleh dibunuh. Sebab budaya masyarakat jahiliyah harus segera dienyahkan karena menjadi hambatan bagi kebahagiaan masyarakat Islam yang mereka cita-citakan.

Bukan bermaksud menyederhanakan atau mengabaikan kompleksitas persoalan, dengan mengatakan bahwa ini lahir dari pemahaman agama yang keliru apalagi sekadar eskapisme kesulitan hidup. Ada rentetan peristiwa yang merangkai hubungan sebab-akibat yang melibatkan banyak parameter. Boleh setuju atau tidak, ini juga spekulatif, bisa salah bisa juga benar. Jika teori ini salah, mari kita kutuk para teroris itu sampai mulut kita berbusa-busa. Tetapi jika teori ini benar, maka mereka juga bukannya tidak punya alasan untuk meledakkan budak-budak materialisme dan kacung-kacung hedonisme yang boleh jadi kita sendiri orangnya. []

Categories: Opini, Renungan
  1. Aveen
    August 17, 2009 at 5:39 am

    Saya tiba-tiba saja jadi merasa analogi anda benar. Bahwa memang -boleh jadi- kita sendiri adalah pelaku hedonisme yang telah diperbudak hal-hal materialistik, dan celakanya, kita sendirilah -jika tak bersikap introspektif dan defensif- yang nantinya menjadi sasaran empuk mereka berikutnya @_@

  2. August 18, 2009 at 9:49 am

    setiap aksi tidak mungkin tampa sebab, karena hakikat sebuah aksi juga merupakan reaksi. kausalitas yang coba dibangun oleh kang irfan ada benarnya, setiap orang yang melakukan sesuatu dipicu oleh suatu harapan besar. orang seperti ini adalah orang yang apik, karena dia punya cita dan harapan boleh jadi untuk dirinya atau untuk orang-orang yang dicintainya. seperti perjuangan Imam Husein, kalau dilihat secara logika maka perjuangannya di Karbala melahirkan nihilisme kecuali ada pertolongan Allah. toh Imam Husein tetap yakin harus ada perjuangan, setidaknya akan ada gelombang besar pengikut yang siap melawan tirani bani umayyah. di tengah suasana fatalisme, ditengah-tengah peradaban kapitalisme, liberalisme di anggap bagian “jahiliah”, Islam puritan menyeruak untuk memberitahukan kepada dunia kalau saya ada dan berharap akan ada gelombang besar pengikut mereka yang siap meledakkan benteng-benteng jahiliyah modern.

  3. fuad
    September 1, 2009 at 4:38 am

    imam husein berjuang dengan tujuan dan kesadaran yg jelas demi tegaknya agama Kakeknya saw,para teroris hanya bertujuan untuk dirinya tanpa menghiraukan korban dan hasilnya sudah jelas merugikan islam yg lebih besar.

  4. salman
    September 14, 2009 at 3:19 am

    Iya yah. Sepertinya ada ekstrimisme dalam Islam. Yang teologi kebablasan sampai lupa pada aspek esoteris, sehingga agama menjadi sekedar baju tanpa isi. Ujungnya timbul juga ekstrim pemegang kebenaran tertinggi dan yang lain kafir.

    Yang esoteris kebablasan sehingga menyepelekan teologi dan formalitas. Kayak makhluk tanpa wujud. Ujungnya menganggap dirinya sebagai penembus alam gaib dan peraih kebebaran mutlak. sehingga selain dirinya dianggap belum sempurna.

    Yang filosofis setelah berpesta ria dalam madu rasionalitas. Setelah menganggap dirinya sampai kepada sebuah kebenaran, dengan rasionalitas yang sama, merasionalkan kebenaran sendiri dan bahkan meuniversalkan kebenarannya sehingga di luar dirinya tidak rasional dan layak dicampakkan.

    Ah bingung atuh.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: