Home > Agama > Dan Pukullah Mereka?

Dan Pukullah Mereka?

CharmRose_kcl

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya[1], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisâ’ [4]: 34)

Terjemahan surat An-Nisâ’ ayat 34 di atas dikutip dari terjemahan Al-Qur’an versi Departemen Agama RI. Yang dicetak tebal, yakni ‘dan pukullah mereka’, merupakan terjemahan dari kata wadhribûhunna yang secara harfiah memang mengandung arti demikian.

Dalam catatan kakinya, terjemahan Al-Qur’an versi Departemen Agama RI memberi penjelasan berikut:

Maksudnya: untuk memberi pelajaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.[2]

Penjelasan di atas mencoba memberi tuntunan tentang tahapan yang harus dilakukan sebagai jalan keluar dari persoalan rumah tangga ketika seorang istri melakukan pembangkangan atau perbuatan yang melanggar agama. Urutannya adalah: memberi nasihat, pisah ranjang, dan memukul. Tiga hal ini merupakan tahapan yang tingkatannya semakin tinggi semakin keras. Jika tahap pertama dan kedua sudah tidak efektif lagi, maka ditempuhlah tahap ketiga, yakni memukul, di mana tafsir Depag memberikan syarat memukul yang tidak meninggalkan bekas.

Tahap pertama dan kedua nampaknya tidak perlu dipersoalkan lagi. Bagaimana dengan tahapan ketiga? Benarkah memukul istri (karena alasan nusyuz) diperbolehkan? Jika diperbolehkan, sejauh mana batas-batas yang diizinkan agama? Tidakkah ada cara lainnya selain memukul? Bukankah itu tidak selaras dengan ayat lain yang mengharuskan seorang suami memperlakukan istrinya secara patut?[3] Bukankah banyak hadits yang mengecam tindakan pemukulan terhadap wanita?[4]

Prof. DR. Quraish Shihab, dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa dharaba mempunyai banyak arti selain memukul.[5] Kata ini tidak selalu dipahami dalam arti menyakiti atau melakukan suatu tindakan keras dan kasar.[6] Dengan mengutip pendapat ulama terdahulu, di sini Quraish Shihab nampak tidak beranjak dari kata dharaba dalam pengertian ‘memukul’ yang memang paling sering digunakan, namun ia menegaskan untuk tidak memahami kata ‘memukul’ dalam arti ‘menyakiti’. Pemukulan yang diperintahkan di sini adalah yang tidak mencederai atau menyakitkan. Pada penjelasan selanjutnya, ia mengutip pula pendapat ulama—misalnya Ibnu Al-‘Arabi—yang menolak mengartikan ‘memukul’ secara literal.

Jika kita menerima bahwa dharaba diartikan sebagai ‘memukul’ tetapi dengan syarat yang tidak mencederai atau menyakitkan, maka kita masuk ke persoalan berikutnya: sejauh mana batas-batas yang tidak mencederai itu? Ditepukkah? Ditempeleng? Ditonjok yang tidak membekas? Ditampar yang tidak membekas?

Sulit mencari batasan yang jelas di sini. Sulit pula mencari tuntunan yang dijelaskan secara rinci oleh para ulama. Sebagai contoh, kita ambil pendapat Imam Syafi’i: “Seyogyanya pemukulan itu dilakukan dengan sapu tangan, dengan tangan dan jangan dengan cambuk atau tongkat”. Jelas, makna memukul menjadi naif di sini, apalagi dilakukan dengan sapu tangan. Memukul yang tidak menyakiti tidak akan memberikan dampak yang berarti. Malah tahapan ini jadi nampak lebih ringan dari tahapan sebelumnya, yakni pisah ranjang. Lalu bagaimana jika kata ‘memukul’ dimaknai sebagaimana umumnya? Masalah yang muncul akan lebih serius lagi. Simak misalnya pendapat seorang mufasir bernama Abu Hayyan al-Andalusi dalam tafsirnya Al-Bahr al-Muhith:

“(Dalam menghadapi isteri yang nusyuz) suami pertama kali menasehatinya dengan lembut, jika tidak efektif boleh dengan kata-kata yang kasar, dan (jika tidak efektif) membiarkannya sendirian tanpa digauli, kemudian (jika tidak juga efektif) memukulnya dengan ringan atau dengan cara lain yang membuatnya merasa tidak berharga, bisa juga dengan cambuk atau sejenisnya yang membuatnya jera akibat sakit, asal tidak mematahkan tulang dan berdarah. Dan jika cara-cara tersebut masih juga tidak efektif menghentikan ketidaktaatannya, maka suami boleh mengikat tangan isteri dan memaksanya berhubungan seksual, karena itu hak suami. (Abu Hayyan Al-Andalusi, Tafsir al Bahr al Muhith, Dar al Kutub al Ilmiyyah, Beirut, Juz III, hlm. 252).[7]

Pendapat Abu Hayyan di atas boleh jadi bukan saja membuat gerah kaum perempuan, tetapi juga menggelisahkan sebagian kaum laki-laki.

Sekaitan hal ini, Saleh Lapadi, dalam situs http://quran.al-shia.org, memberikan ulasan menarik:

Sebagai metode dalam memperbaiki dan mengubah seseorang, cara memukul bukanlah jalan keluar yang terbaik. Karena perilaku memukul bukan hanya tidak memberikan hasil yang diinginkan, bahkan sebaliknya, orang yang dipukul malah kemudian bisa bertambah sikap pembangkangannya. Mungkin untuk sementara waktu ia akan taat tapi kemudian malah melakukan yang lebih buruk.

Ada satu makna lain untuk kata dharaba seperti yang disebutkan dalam kamus Al-Munjid yang berarti berpisah. Dan satu makna lain yang lebih tepat untuk ayat ini adalah membiarkan dan tidak memperhatikan….

Bila makna ini yang kita ambil untuk memaknai ayat Al-Quran surat An-Nisâ’ di atas akan lebih sesuai dengan tahapan untuk memperbaiki istri. Setelah dinasihati maka yang perlu dilakukan adalah pisah ranjang untuk sementara waktu dan bila masih juga terjadi pembangkangan yang perlu dilakukan seorang suami adalah membiarkan dan tidak menyapa istrinya agar sadar bahwa apa yang dilakukannya sangat tidak disukai oleh suaminya. Di sini, pada langkah ketiga di mana suami mencoba untuk tidak melakukan hubungan dengan istrinya secara total, istri akan merasa bahwa ia sudah betul-betul tidak diperhatikan lagi sebagai salah satu anggota keluarga. Dengan ini diharapkan bahwa sang istri kembali sadar dengan tanggung jawabnya selaku istri.

……

Di sisi lain, bila dimaknai dengan memukul maka akan memberikan pembenaran kepada setiap suami untuk melakukan penganiayaan kepada istrinya dengan sedikit kesalahan yang diperbuat. Ditambahkan lagi kurangnya perlindungan terhadap hak-hak perempuan dan bila pemukulan dilakukan di dalam rumah membuat semakin sulit melakukan pembelaan terhadap hak-hak istri.[8]

Barangkali hadits berikut bisa dijadikan tuntunan tanpa harus memaknai dharaba (dalam konteks surat An-Nisâ’ ini) dalam pengertian memukul:

“Aku heran terhadap seorang yang memukul istrinya. Dialah yang semestinya lebih layak untuk dipukul. Jangan kalian memukul istri kalian dengan kayu karena akibatnya adalah kalian akan diqisas. Kalian dapat memutuskan untuk tidak memberikan istri kalian nafkah sehari-harinya. Perbuatan lebih bermanfaat bagi kalian di dunia dan di akhirat.” (Mirza An-Nuri, Mustadrak Al-Wasail, jilid 14, hal 250, cetakan Muassasah Alul Bayt. Al-Majlisi, Bihar Al-Anwar, jilid 103, hal 249, hadis ke 38, cetakan Teheran)[9]

*****

Berbicara tentang hak dan kewajiban perempuan, upaya untuk menempuh cara baca yang lebih ramah sudah banyak dilakukan oleh para kaum feminis, semisal Amina Wadud, Fatima Mernissi, Asma Barlas, serta banyak nama lainnya termasuk di Indonesia. Satu sisi yang patut dihargai adalah bahwa mereka telah berupaya menepis anggapan yang beredar di kalangan masyarakat Barat bahwa Islam adalah sebuah agama patriarki yang menganut model hubungan hierarkis dan ketidaksetaraan seksual serta mengharuskan penyerahan diri seorang perempuan terhadap laki-laki. Namun seringkali kebanyakan dari mereka seringkali memberikan pemaknaan yang terlalu longgar. Tidak ada salahnya mencoba melihatnya dalam konteks masyarakat modern. Namun yang disayangkan adalah, terkadang mereka melupakan kekayaan khazanah klasik Islam yang sesungguhnya masih bisa digali lebih jauh.

Penafsiran sebuah ayat Al-Qur’an perlu memperhatikan keselarasan antara satu ayat dengan ayat lainnya. Berbagai riwayat yang terpercaya juga perlu dijadikan rujukan. Sebab jika tidak, bisa mengarahkan kepada timbulnya pembenaran terhadap tuduhan adanya diskreditasi wanita dalam Islam, yang memang tidak bisa dipungkiri terjadi di tubuh Islam sendiri.

Memang ada sekelompok kaum muslim yang beranggapan bahwa perlakuan kasar (tindakan memukul istri yang salah) dibenarkan dalam Al-Qur’an, dengan mengutip surat an-Nisâ’ ayat 34 tersebut. Ini dapat dipahami karena mereka melakukan pendekatan pemahaman secara literal semata. Padahal sejarah menunjukkan bahwa pendekatan yang kaku dan literal menimbulkan banyak masalah, di antaranya timbulnya kesalahpahaman masyarakat Barat terhadap Islam dan Nabi kita Muhammad Saw.

Kita ingin dihargai orang tetapi kita sendiri terkadang gagal menunjukkan milik kita yang berharga itu. Tepat seperti apa yang dikatakan Laleh Bakhtiar, seorang muslimah Iran-Amerika yang juga memberikan pemaknaan lain untuk kata ‘memukul’ dalam Al-Qur’an terjemahannya:

“As Muslims we are supposed to follow the Prophet Muhammad’s example, and we know that the Prophet never hit anybody,” so how could the Qur’an be saying it is okay? ….. when the Prophet Muhammad was upset with any of his multiple wives, he withdrew from them for some weeks rather than beat them.

……….

“Why can the Danish feel they can make fun of him? Because we’re allowing behavior that is immoral and then expecting everyone to respect our Prophet. It doesn’t work that way. It has to start with us: we have to morally heal ourselves first.”[10]

Kekerasan terhadap perempuan bukan saja bertentangan dengan hak-hak asasi manusia, tetapi juga dengan ajaran Islam sendiri. Islam datang untuk membawa kemaslahatan umat termasuk perempuan, bukan mencontohkan kekerasan.

Islam mengingatkan para suami bahwa istri adalah amanah Allah, yang wajib diperlakukan dengan hormat dan penuh kasih sayang. “Orang beriman yang paling baik akhlaknya ialah yang paling sayang kepada istrinya”[11]; “Barangsiapa menikahi seorang wanita maka ia harus memuliakannya, sebab istri seseorang di antara kalian adalah sarana kebahagiaan kalian. Oleh karena itu, seseorang yang menikahi seorang wanita tidak boleh merusak dan merendahkannya (dengan mengabaikan hak-haknya yang mulia).” Demikian dua buah contoh hadits menyebutkan.[12]

Sesungguhnya Islam telah menjelaskan prosedur “educative action” yang semestinya dijalani suami ketika harus bertindak. Bila ini gagal, maka upaya yang maksimal adalah ‘wadhribûhunna’ yang maknanya silakan Anda pilih: ‘pukullah’ yang tidak membekas menurut terjemahan ‘mainstream’ termasuk versi Depag? Atau acuhkan dalam pengetian tidak diberi nafkah (atau kalau perlu sampai ke tingkat ancaman cerai alih-alih melakukan pemukulan)?

Al-Qur’an adalah suci dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Namun pemahaman (tafsir) terhadapnya masih menyisakan ruang untuk diperdebatkan (atau didamaikan). Persis seperti yang pernah didengungkan oleh seorang intelektual muslim asal Iran, Abdul Karim Soroush, tentang ide pemisahan antara agama (religion) dan pengetahuan agama (religious knowledge). Kebenaran agama tidak bisa diganggu gugat, akan tetapi pengetahuan akan agama adalah bentuk penafsiran seseorang terhadap agama tersebut, yang kebenarannya masih relatif dan bisa diperdebatkan. []

Bibliography:

Al-Qu’ran Al-Karim, Terjemahan Versi Departemen Agama RI, CV. Pustaka Mantiq bekerja sama dengan Yayasan Ambadar Jakarta, 1997.

Al-Qur’an Digital,  Tarjamah Lengkap Versi Departemen Agama RI, http://quran.kawanda.net

Al-Islam, Al-Qur’an Online, Kingdom of Saudi Arabia, http://quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=4&nAya=34&nSeg=1&l=eng&t=eng

Ayatullah Sayyid Kamal Faghih Imani, A Bundle of Flowers from the Garden of Traditions of The Prophet & Ahlul-Bayt (a.s), Isfahan: Amir-ul-Mu’mineen Ali (a.s) Library, Fifth Edition, 2001.

Lapadi, Saleh, Membongkar Pemaknaan Ayat Versi Depag: Mencari Tafsir Alternatif, http://quran.al-shia.org/id/lib/005/05.html

Rahima, Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan, Tafsir Edisi 20: Kekerasan Terhadap Perempuan, http://www.rahima.or.id

Rakhmat, Jalaluddin, Islam Alternatif, Bandung: Mizan, 2004.

Religion BookLine, Laleh Bakhtiar: An American Woman Translates the Qur’an, http://www.publishersweekly.com/article/CA6434571.html?nid=2287

Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati, 2009.

Catatan:


[1] Nusyuz adalah pembangkangan atau meninggalkan kewajiban bersuami isteri.

[2] Al-Qur’an, Terjemahan Versi Departemen Agama RI. Terjemahan yang mengandung makna sama ditemukan pada beberapa Qur’an versi digital, termasuk yang berbahasa asing.

[3] QS. An-Nisâ’: 19: “Dan bergaulah dengan mereka secara patut”

[4] Misalnya hadits berikut: “Tidakkah kalian malu memukul istri kalian, seperti memukul keledai?”; “Orang yang baik di antara kalian tidak akan memukul isteri”; “Orang-orang terhormat tidak memukul istrinya”; “Para suami yang berlaku kasar terhadap isteri bukan orang-orang yang baik di antara kalian”; “Aku membenci (tidak menyukai) laki-laki yang memukul hamba perempuannya ketika marah. Padahal, boleh jadi dia masih ingin menidurinya lagi hari itu.” Masih banyak hadits lainnya.

[5] Sejumlah makna dharaba yang terdapat dalam Al-Quran di antaranya: membuat perumpamaan [QS. 14:24], pergi [QS. 4:94], membuat [QS. 16:74], menutup [QS. 24:31], serta makna-makna lain yang terdapat dalam kamus bahasa Arab. Dalam bahasa Arab sehari-hari, pajak juga disebut dengan dharibah, yang diambil dari akar kata dharaba.

[6] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, hal. 519.

[7] Rahima, Tafsir Edisi 20: Kekerasan Terhadap Perempuan, http://www.rahima.or.id

[8] Saleh Lapadi, Membongkar Pemaknaan Ayat Versi Depag: Mencari Tafsir Alternatif, http://quran.al-shia.org/id/lib/005/05.html.

[9] Mengutip Saleh Lapadi, hadits ini menurut para ilmuwan hadis dan rijal dianggap dapat dipercaya (muwatssaq) bahkan oleh sebagian yang lain menyebutnya sahih. Dengan demikian hadis-hadis yang menyebutkan memukul perempuan dengan ungkapan ‘Al-Madhrab bis Siwak’ yang berarti memukul dengan kayu siwak menjadi lemah. Pertama dari sisi sanad karena hanya diriwayatkan oleh At-Thabarsi dalam bukunya Majma’ Al-Bayan. Dan yang kedua, dari sisi matan. Hal ini dikarenakan ulama ketika sampai pada hadis-hadis seperti ini kemudian memberikan penafsiran lain tidak seperti apa adanya.

[10] Religion BookLine, Laleh Bakhtiar: An American Woman Translates the Qur’an, http://www.publishersweekly.com/article/CA6434571.html?nid=2287

[11] Hadits riwayat At-Turmudzi dan An-Nasai

[12] Hadits dari Imam Muhammad al-Baqir, Biharul Anwar, jilid 103, hal.224, A Bundle of Flowers, hal. 172

Gambar:

The Rose Blessing, http://www.goddessartbycharmian.com/images/gallery/large/Charm%27s-Rose.jpg

Categories: Agama
  1. gayatri wedotami
    December 10, 2009 at 9:45 am

    “BAGUSSS!!! Terimakasih, Irfan!”

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: