Home > Opini > Seperti Fouda

Seperti Fouda

Gara-gara sebuah tulisan yang melawan supremasi mapan sebuah pemikiran politik Islam, nyawa seorang pemikir dan komentator sosial asal Mesir bernama Farag Fouda (1945-1992) melayang.

Kejadian ini berlangsung beberapa bulan setelah terjadi polemik tajam antara Fouda dan sekelompok ulama yang merasa terusik dengan ‘gagasan liar’-nya itu. Karena tulisannya dianggap berbahaya dan meresahkan, maka dikeluarkanlah fatwa murtad bagi seorang pengguncang kemapanan bernama Farag Fouda. Tak ayal, darahnya pun halal untuk ditumpahkan. Beberapa hari berselang, dua penyerang bertopeng dari kelompok radikal menembaknya hingga tewas. “Ya, kami membunuhnya setelah keluar fatwa,” aku mereka.

Apa yang sesungguhnya ditulis sang raja satir Fouda adalah bukan sesuatu yang baru. Semuanya berlandaskan fakta sejarah, bahkan terdapat dalam sumber-sumber primer sejarah Islam. Tetapi sayangnya tidak banyak diketahui kalangan awam, sehingga ketika fakta itu diungkap, banyak orang terguncang dibuatnya karena berbeda dengan apa yang lazim mereka pahami. Sedangkan bagi kebanyakan ulama di negaranya, apa yang disodorkan Fouda adalah sesuatu yang ingin mereka hindari, sebab mengganggu keselarasan ideologis.

Ia tak segan membongkar kezaliman sebagian besar penguasa Bani Umayyah dan Abbasiyyah yang selama ini jarang diungkap. Yang umum terdengar adalah sesuatu yang ideal dan romantik. Tetapi bagi Fouda, mengubur jejak-jejak memalukan itu merupakan sebuah bentuk ketidakjujuran ilmiah, yang justru menyebabkan kegagalan memetik hikmah dari sejarah. Mengutip apa yang pernah disampaikan Nurcholish Madjid, bahwa sejarah adalah sejarah, ia tidak sakral. Human history is nothing sacred about it. Perbuatan kotor yang dilakukan pelaku sejarah Islam sama sekali tidak mengganggu kesucian Islam itu sendiri.

Memang di beberapa tempat, tulisan tersebut nampak berlebihan dan terkesan mencari-cari cela saja. Namun saya pahami itu sebagai tumpahan kekecewaannya melihat kemandegan dan stagnasi berpikir di kalangan umat Islam. Yang salah satu diantaranya adalah akibat terlena oleh sesuatu yang telah dianggap mapan sehingga malas untuk melakukan penelaahan lebih lanjut.

Di sini Fouda mencoba menawarkan kacamata lain dalam memahami sejarah, khususnya sejarah kepemimpinan dan kekuasaan di tubuh Islam. Ia mencoba memaparkan realitas pahit secara obyektif agar bisa mengambil hikmah darinya, demi melanjutkan putaran roda sejarah secara lebih jernih. Singkat kata, Fouda mencoba mengatakan bahwa hitam adalah hitam, putih adalah putih, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Ia mengajak untuk mengakui sebuah realitas, walau terasa pahit. Ia tidak menghina Islam.

Kisah Fouda di atas hanyalah sebuah contoh betapa mengguncang sebuah kemapanan yang terlanjur dianggap suatu kebenaran mengandung resiko sangat tinggi, termasuk tertumpahnya darah.

Sekarang mari kita tengok yang terjadi di negeri kita sendiri, dengan skala dan ranah yang berbeda tentunya.

Lihatlah garong, preman berdasi, serta aparat berwajah seribu bisa dengan apik bekerja sama, bahkan sangat rapi sehingga kebejatan yang mereka lakukan akan nampak sebagai sebuah kebenaran yang mesti dijunjung tinggi. Mekanismenya sengaja dipersiapkan secara matang jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga lambat laun pada akhirnya memaksa kita melihatnya sebagai sebuah kemapanan sejarah yang harus disepakati bersama, meskipun nilai-nilai keadilan dan nurani mesti disingkirkan. Agar nampak lebih kokoh lagi, ajaklah Tuhan dalam konspirasi itu. Jadikan Ia tameng dalam sumpah-sumpah yang begitu meyakinkan sehingga bisa mengelabui siapa saja. Jangan lupa teteskan sedikit air mata untuk mengundang rasa iba. Sebuah konspirasi dahsyat yang bahkan kita sendiri ragu untuk mengatakan bahwa iblis sekalipun akan sanggup melakukannya.

Namun sialnya, para konspirator itu lupa bahwa di negeri ini masih tersisa hidung-hidung tajam yang selalu mengendus karena tidak begitu saja percaya dengan sesuatu yang sepintas nampak beres-beres saja. Karena memang di negeri ini, bentuk supremasi kemapanan apapun layak dicurigai. Kemutlakan apapun pantas untuk diselidiki.

Saat shalat Jumat kemarin, ada satu hal yang unik. Saya katakan unik sebab tidak seperti biasanya, di mana saat bulan Muharram tiba khatib-khatib Jumat biasanya bercerita tentang peristiwa-peristiwa luar biasa yang pernah terjadi pada tanggal 10 Muharram yang disebut juga sebagai hari Asyura itu. Misalnya saja Allah menciptakan Nabi Adam dan Hawa pada hari Asyura, Nabi Ibrahim lahir dan diselamatkan dari api pada hari Asyura, Allah mengampuni dosa Nabi Daud di hari Asyura, serta banyak peristiwa lainnya. Tapi anehnya, tak pernah terdengar sekalipun mereka bercerita tentang peristiwa maha penting yang terjadi pada tanggal itu, yakni peristiwa pembantaian keluarga Nabi di padang Karbala dengan kekejian yang tiada tandingannya di sepanjang sejarah peradaban manusia.

Namun Jumat siang itu sedikit berbeda, sang khatib sedikit menyinggung peristiwa pembantaian tragis itu. Manusia suci bernama Husain bin Ali, yang tak lain adalah cucu Nabi yang beliau sebut sebagai penghulu pemuda surga, beserta sejumlah keluarga dan pengikutnya mengorbankan darah mereka dalam rangka mempertahankan kebenaran serta memerangi kebatilan. Tubuh mereka dicacah, kepala-kepala dipenggal untuk kemudian diarak sejauh ratusan kilometer. Wanita dan anak-anak yang tersisa dihinakan sedemikian rupa. Sekejap mata saja ajaran mulia yang dibawa Rasulullah Saw dilupakan begitu saja oleh sekelompok orang yang mengaku pengikutnya demi sebuah ambisi duniawi: harta dan kekuasaan.

Lalu apa urgensi mengingat-ingat peristiwa itu? Sejuta hikmah terkandung dari peristiwa penting yang tak boleh dilupakan itu. Telah ditulis ribuan halaman yang memaparkannya secara panjang lebar. Yang jelas, peristiwa itu memberikan contoh betapa segelintir orang yang dipimpin pejuang keadilan bernama Husain bin Ali telah berhasil menggagalkan ambisi duniawi seorang penguasa dari Bani Umayah bernama Yazid bin Muawiyah, yang dengan sejuta konspirasi busuknya—yang juga telah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya oleh ayahnya—hendak memberangus nilai-nilai Islam. Secara hakiki, pasukan Al-Husain sukses dalam perjuangannya meski harus mengorbankan dirinya beserta hampir seluruh keluarga dan pendukungnya.

“Maut dan derita Husein adalah sumber tenaga sejarah. Kematian Husein bukan balak atau tragedi, melainkan kebanggaan yang melahirkan kesadaran baru mengenai ideologi ‘jihad’ dan ‘syahid’,” demikian menurut Emha Ainun Nadjib dalam sebuah tulisannya. Maka menentang segala bentuk kezaliman, lalu berlaku adil dengan menempatkan segala sesuatu sesuai porsi dan tempatnya yang pas, adalah sebentuk jihad.

Terlalu jauh bagi bangsa ini untuk meneladani Al-Husain dalam perjuangannya membela yang haq. Dalam kondisi sekarang ini, jaraknya ibarat bumi ke langit. Menggapai maqam Dzuljanah, kuda tunggangan Al-Husain, mungkin sudah bagus. Tetapi paling tidak, sebagai permulaan yang baik cukuplah seperti Fouda yang dengan berani mengungkap sesuatu yang tidak beres, meski itu harus mengorbankan darah. Dan ini sudah dilakukan dengan baik oleh Bibit dan Chandra, yang sedikit beruntung nasibnya tidak seburuk Fouda.

Kita hidup di negeri yang memiliki segudang orang-orang seperti Fouda. Namun hidup di lingkaran kebrengsekan serta di puncak kelinglungan ini, segudang Fouda belumlah cukup, perlu lebih banyak lagi suara-suara yang meski parau namun sudi untuk terus meneriakkan keadilan di tengah negeri yang seolah tak punya pemimpin ini. [IP, 2009]

Categories: Opini
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: