Home > Daily Life, Opini > Empati di Sebuah Metromini

Empati di Sebuah Metromini

“Silakan Mas, duduk!”

Sebelum menjawab, sejenak saya amati lelaki belia berseragam SMA itu. Wajahnya sebersih pakaiannya. Tawarannya juga setulus senyumannya.

“Oh, tidak Dik, saya belum terlalu tua, masih kuat berdiri, terima kasih ya…” Jawab saya sedikit bercanda.

Ia pun mengangguk, tersenyum, lalu kembali menempati kursinya. Kini ia duduk dengan perasaan kurang nyaman, karena dipikirnya seharusnya ia memberikan kursi tersebut untuk seorang yang usianya lebih tua yang kini sedang berdiri di sampingnya itu.

Saya tidak mau mendramatisir. Namun tentunya ini kejadian langka, apalagi di sebuah kota besar bernama Jakarta. Di sebuah metromini seorang lelaki muda menawarkan kursinya untuk seorang laki-laki yang tidak ia kenal sebelumnya. Entah apa yang ada di benaknya. Saya ini laki-laki yang kuat berdiri sekadar beberapa waktu saja di metromini. Apakah karena saya lebih tua sehingga ia merasa berkewajiban menghormati? Atau mungkin ia menangkap gurat-gurat kelelahan di wajah saya pada suatu sore di bulan puasa itu? Jika saya ada di posisi dia, mungkin yang saya lakukan adalah tidur atau cuek saja, toh laki-laki yang berdiri di samping ini masih terlihat bugar. Kalau nampak kelelahan ya wajar saja, karena seharian tadi telah melakukan aktivitas. Entahlah… pastilah anak muda itu dididik di lingkungan yang masih menghargai nilai-nilai, bahkan mungkin masih menggenggam sebuah pandangan dunia immaterial yang pada kebanyakan orang semakin terkikis saja. Pada dirinya sedang tumbuh sebuah nilai sangat berharga dalam kemanusiaan, yakni kemampuan mempersepsi dan mengenali perasaan orang lain yang terangkum dalam sebuah kata: empati.

Anda bisa saksikan, bagaimana tergerusnya barang langka bernama empati ini di tengah masyarakat kita. Seberapa bosan Anda tonton para pejabat dan pemegang kekuasaan yang putus urat malunya, sehingga enak saja makan harta yang bukan haknya dalam tingkat ketamakan yang tiada tara? Sanggupkah Anda menghitung lalu lalangnya kendaraan mewah di ibukota ini sementara di sudut lainnya seorang lelaki tua beserta anak-anaknya hidup dalam gerobak? Berapa kali Anda dengar, ratusan ribu hingga jutaan rupiah dihabiskan seorang yang kelebihan duit hanya untuk sekali makan malam di sebuah restoran, tetapi tak sedikitpun berdesir ketika mendengar banyak keluarga melarat bercucuran peluh hanya untuk mendapatkan 10 ribu rupiah per hari?

Sekali lagi, bukan mendramatisir. Ini potret sosial yang juga bisa dengan mudah Anda tangkap.

Pandangan dunia materialisme telah menimbun dalam-dalam sederet pertanyaan eksistensial: Siapa kita? Dari mana kita berasal? Untuk apa di sini? Hendak ke mana setelah mati? Malangnya, ketidakmengertian—atau tepatnya kepura-puraan tidak mengerti—ini bukan saja menimpa mereka yang memang hidup jauh dari bimbingan agama, tetapi juga pada orang-orang yang merasa cukup dengan pemahaman agamanya.

Jani-janji kesenangan materi lebih memikat ketimbang janji-janji surgawi. Di sisi lain, agama gagal disajikan sebagai menu ilahiah yang memikat selera. Sehingga banyak orang telah merasa cukup dengan melakukan kewajiban ritual. Wajar kiranya jika tak terpikir sedikit pun untuk menelisik lebih jauh persoalan-persoalan filosofis dalam agama. Sebab agama yang dipahami kebanyakan orang, kini hanya menyisakan doktrin-doktrin yang sialnya menyertakan juga muatan kecurigaan terhadap alternatif pemikiran lain. Keberagamaan model ini pada akhirnya melahirkan kemandegan dalam berpikir maupun mengasah jiwa. Empati pun semakin terbuai dalam dekapan ego.

Terus terang, mengherankan menyaksikan orang-orang “saleh” merasa sangat penting dengan urusan celana cingkrang, janggut lebat, dan jidat hitam, seraya getol membetulkan ibadah-ibadah orang lain yang tidak sesuai dengan pandangannya. Tetapi dalam waktu yang sama mengabaikan aspek sosial yang sesungguhnya menjadi syarat diterimanya ketaatan ritualnya itu. Tidak ada aspek ritual-transendental yang lepas dari orientasi sosial. Banyak hadits yang menjelaskan perkara ini secara eksplisit.

Empati, mungkin belum benar-benar hilang. Hanya saja kesadaran akan hal itu sedang tertidur pulas di kedalaman jiwa kita, tetapi mungkin tidak pada diri anak muda di metromini itu. []

Categories: Daily Life, Opini
  1. March 2, 2010 at 2:21 am

    ringan…namun sarat makna

  2. March 14, 2010 at 3:52 pm

    mari rebut kembali ruang kesantunan berintikan empati itu, dimulai dari keluarga kita…

    • March 14, 2010 at 4:11 pm

      Betul…kita mulai dari diri dan keluarga kita. Trims kawan.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: