Home > Daily Life > Spiritualisasi Manajemen

Spiritualisasi Manajemen

Kalau ada yang mengatakan bahwa menunggu merupakan pekerjaan yang membosankan, maka itu tak perlu diperdebatkan lagi. Namun tetap saja dari sesuatu yang membosankan itu terkadang terselip ‘sesuatu’. Dalam sudut pandang spiritualitas, dibalik hal-hal yang partikular terdapat keterkaitan universal yang mengikat segala sesuatu.

Beberapa hari lalu, sepulang dari sebuah urusan saya putuskan untuk mampir di tempat cuci mobil. Mungkin karena bukan hari libur, tidak banyak pelanggan sore itu. Maka begitu masuk, tak perlu menunggu terlalu lama, mobil pun langsung mendapat giliran dicuci.

Kalau ada hape yang agak canggihan dikit, daripada melongo menghabiskan waktu mungkin lebih baik browsing atau buka-buka facebook. Sayang HP jadul ini sangat tidak nyaman untuk dipakai berinternet ria, terutama karena layarnya yang terlalu kecil. Maka melamun sambil mengamati keadaan sekitar menjadi opsi satu-satunya yang saya lakukan.

Ada kejadian yang sedikit menarik perhatian. Entah berapa orang yang mencuci mobil itu. Bagaikan semut mengerubungi gula, setelah beramai-ramai menyemprot, tanpa perlu dikomandoi lagi, setiap orang sepertinya sudah tahu tugasnya masing-masing. Mereka pun nampak bersemangat mengerjakannya, seolah ada sense of belonging dari diri masing-masing.

Seorang ambil bagian di sebelah kiri depan, menggosok kaca jendela, spion, sampai ke bagian bawah. Pekerjaan yang sama dilakukan oleh orang yang berada di kiri belakang, kanan depan, juga kanan belakang. Di bagian depan dan belakang mobil ada juga penggarapnya. Begitu pula ketika membersihkan bagian dalam, di setiap pintu mobil sudah siap orangnya. Waktu yang diperlukan untuk mencuci mobil pun jauh lebih cepat dari ukuran normal.

Entah efektif atau tidak cara seperti itu. Sebab terkadang suatu pekerjaan yang cukup dilakukan sedikit orang, ketika dilakukan olah banyak orang malah hasilnya kurang memuaskan. Tapi tentu saja ini menyenangkan bagi mereka yang hidupnya menghargai detik demi detik yang berlalu. Lalu, apakah ini lebih menguntungkan bagi si pemilik tempat pencucian? Belum tentu, sebab ia harus menggaji lebih banyak pegawai. Kalau mobil sedang padat dan mengantri, tentu cara ini efektif. Tetapi menjadi tidak perlu ketika pelanggan sedang sepi, sebagaimana yang terjadi sore itu.

Entahlah… untung-rugi biarlah jadi urusan si pemilik. Mungkin ia punya tujuan-tujuan lain. Namun satu hal yang bisa saya cerna adalah, bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan secara gotong royong, tidak boleh ada seorang pun yang merasa lebih penting dari yang lainnya. Meskipun ia seorang komandan atau pemimpin sekalipun. Sebab ketika ia kehilangan seluruh anak buahnya, maka kepemimpinannya menjadi tidak ada artinya. Demikian pula ketika sekelompok orang tidak memiliki pemimpin, apa yang mereka kerjakan bisa tak menentu arah.

Dalam manajemen modern, terjadi pergeseran paradigma bisnis. Jika sebelumnya prinsip yang diterima secara luas adalah business is business, maka kini para pelaku bisnis mulai melirik apa yang disebut sebagai etika bisnis. Manajemen otoriter diubah menjadi egaliter, dari hierarkis menjadi lebih menekankan kesetaraan. Belakangan, malah berkembang apa yang disebut spiritualisasi manajemen, yang memandang bahwa suatu perusahaan merupakan perwujudan kolektif spirit-spirit, yakni jumlah total ruh individu yang berkerja di dalamnya. Mereka diibaratkan seperti anggota tubuh, yang jika satu organ saja terganggu fungsinya, maka akan mengganggu fungsi tubuh secara keseluruhan. Jika gigi Anda sakit sedikit saja, secara otomatis konsentrasi Anda akan terganggu. Atau ketika Anda menggunting kuku terlalu dalam, lantas terasa senut-senut di jari, pekerjaan Anda pun sedikit banyak akan terganggu. Padahal gigi dan kuku hanyalah bagian kecil saja dari keseluruhan tubuh Anda.

Dalam suatu pekerjaan yang dilakukan gotong royong, seorang pemimpin yang dibekali spiritualitas memadai, akan memandang penting siapapun dan di bagian apapun anak buah—atau tepatnya partnernya—bekerja. Sayangnya manajemen model begini justru berkembang di negara-negara barat, tidak di sini.

Gay Hendricks dan Kate Ludeman, penulis The Corporate Mystic, menyebut para pemimpin dengan model kepemimpinan seperti itu sebagai Mistikus Korporat, yakni para visioner yang mudah bagi mereka untuk bergerak dari dunia spiritual ke dunia bisnis.

Setidaknya ada 12 ciri-ciri Mistikus Korporat yang disebutkan oleh kedua penulis tersebut. Namun bukan tempatnya di sini untuk membahasnya satu persatu, terlebih saya bukan ahlinya di bidang ini. Hanya saja, dari 12 karakteristik tersebut ada satu poin yang terkait erat dengan spiritualitas atau mistisisme dalam Islam: yakni Pengenalan Diri Sendiri. Mengenal diri sendiri berarti mengoptimalkan potensi jiwa, bukan sekedar mengoptimalkan isi dompet.

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu…” Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Tak sulit untuk melihat keterkaitan logis dari hadits yang sering dikutip para sufi tersebut. Jika seseorang mengenal Tuhannya, maka mudah baginya untuk berakhlaq seperti Tuhannya.

Para spiritualis korporat selalu berusaha mempelajari diri sendiri sekaligus juga membantu orang lain mempelajari dirinya masing-masing. Sikap selalu bertanya adalah suatu hal yang senantiasa mereka utamakan. Mereka membenci orang yang mengklaim dirinya selalu benar dan merasa dapat menjawab segala pertanyaan.

Inti dari semua itu, spiritualisme dijadikan landasan dalam kepemimpinan mereka.

Tentang spiritualisme, Stephen Covey mengatakan: “Spiritualisme bukanlah mainan, bukan bagian kecil dari hidup kita. Spiritualisme harus ditempatkan dalam batin kita, yang mempengaruhi setiap bagian kehidupan kita.”

Mungkin Anda merasa kurang pas dengan contoh para pencuci mobil yang saya kaitkan dengan spiritualisasi manajemen. Namun inspirasi bisa datang dari mana saja. Dan saya merasa terinspirasi dengan kejadian yang saya alami beberapa hari lalu sehingga merasa perlu untuk membuat sebuah catatan ringan.

Dan sebelum selesai meresapi kejadian tadi, beberapa meter dari gerbang tempat pencucian mobil tersebut, perlahan tapi pasti hujan rintik mulai turun. Tak berapa lama berselang rintik hujan pun segera bertransformasi menjadi tetesan deras. Duh, 17 ribu melayang…Alhamdulillah…..[]

Bacaan:

The Corporate Mystic, Sukses Berbisnis dengan Hati, Gay Hendricks dan Kate Ludeman, Penerbit Kaifa, 2003

Categories: Daily Life
  1. gayatri wedotami
    March 20, 2010 at 4:56 pm

    good story dude, btw tomorrow I don’t mind if you treat me bakso, not until 17.000 rupiahs-lah..hahahha

    • March 21, 2010 at 2:21 am

      Of course, Sis. Unfortunately, in the backyard of our campus there is only “warkop”. Should I treat you a cup of coffee and cigarette?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: