Home > Agama, Buku, Mysticism > The Garden of Truth: Jalan Spiritual Menuju Taman Kebenaran *)

The Garden of Truth: Jalan Spiritual Menuju Taman Kebenaran *)

Book Review
Oleh: Irfan Permana

—————————————————–
Judul Buku:  The Garden of Truth, Mereguk Sari Tasawuf
Judul Asli:  The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s  Mystical Tradition
Penulis: Seyyed Hossein Nasr
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Januari 2010
Tebal: 304 halaman
—————————————————–

Kita lahir, menjalani keriangan masa kanak-kanak, tumbuh kembang menjadi remaja, lalu di usia dewasa tanpa terasa terseret rutinitas di tengah kultur hedonisme beserta aneka problematikanya. Lantas, sebagian dari kita mulai resah dan bertanya: Apa sesungguhnya yang sedang kita cari? Siapakah kita? Dari mana kita berasal? Akan ke mana kita pergi?

Sederet pertanyaan tersebut merupakan pijakan awal yang bagus bagi mereka yang merasa teralienasi dan dahaga akan kebutuhan spiritual. Pertanyaan eksistensial yang mendasar seperti ini sering muncul terutama di tengah kegersangan spiritual manusia modern yang memang ingin menemukan makna hidup yang hakiki.

Seyyed Hossein Nasr, seorang juru bicara utama spiritualitas Islam dan juga pelaku jalan sufi, melalui buku terakhirnya ini membantu memberikan jawaban. Dengan mengikuti cara-cara yang ditampilkan otoritas lama, penulis mencoba menyajikan sebuah buku tasawuf yang ia sebut sebagai teks sufi dengan bahasa kontemporer (hal 9). Tentu saja bahasa kontemporer yang disesuaikan dengan wacana intelektual kekinian sangat dibutuhkan oleh para pencari yang hidup di tengah dunia modern ini. Meskipun tidak bersifat petunjuk praktis, namun melalui pembahasan yang kontemplatif buku ini mengajak kita untuk memasuki dan menikmati keindahan taman ilahiah: the garden of truth.

Tasawuf atau sufisme merupakan elemen esensial keberagamaan. Ia adalah sebuah jalan terang yang berujung pada taman kebenaran, sebuah tempat yang menyingkap tabir yang selama ini menyelubungi kesadaran manusia akan Realitas Ilahi.

Lalu apa yang dimaksud dengan ”the garden of truth” atau ”taman kebenaran” itu? Tasawuf mengajarkan bahwa tanda-tanda Tuhan terlihat di segala aspek kehidupan. Alam semesta mengandung simbol-simbol yang menyiratkan kedalaman makna. Karenanya, dalam tasawuf seringkali pesan-pesan disampaikan melalui bahasa simbol agar lebih menyentuh kesadaran manusia. Demikian pula taman dalam buku ini diambil dari simbolisme tradisional[i] Islam sebagaimana dapat ditemukan pula dalam Al-Qur’an. Ia merupakan cerminan surga di bumi yang semestinya diraih selagi masih hidup.

Lantas bagaimana caranya memasuki taman ini? Perjalanan batin yang diajarkan jalan sufi adalah mentransendensikan keberadaan manusia dan mengembalikan kesadaran akan keterpisahan dengan tempat asal. Inilah aspek spiritual yang banyak dilupakan orang. Banyak orang menjalani agama sebatas ritual semata tanpa menyentuh esensi. Mereka lupa dengan jantung keberagamaan yang hanya bisa ditembus melalui aspek esoterik agama, yakni jalan tasawuf, yang juga merupakan jalan yang diajarkan Nabi Muhammad Saw dan terus dilestarikan selama berabad-abad.

Melalui pendekatan itulah Nasr mencoba menjelaskan doktrin metafisika dan kosmologi yang terdapat dalam tradisi sufi. Mungkin terasa agak berat bagi pembaca awam, namun bagi mereka yang sebelumnya telah mengenal wacana ini, justru bisa memperoleh petunjuk komprehensif dengan bobot yang mendalam. Terlebih, buku ini merupakan hasil kajian ilmiah dan partisipasi aktif sang penulis dalam tasawuf selama lebih dari lima puluh tahun.

Buku ini terdiri dari empat bagian yang mengandung enam bab dan dua buah lampiran. Bab pertama berbicara tentang esensi tasawuf secara umum, diawali dengan sederet pertanyaan tentang arti menjadi manusia, siapa kita dan dan apa yang kita lakukan di sini, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Untuk menemukan jawaban tentang Diri yang sejati, seseorang harus mengawali perjalanannya dari aspek syarî’ah yang merupakan jalan wajib yang harus dilalui. Kemudian untuk sampai kepada haqîqah atau kebenaran, seseorang harus menempuh jalan spiritual yang disebut tharîqah. Dan tasawuf inilah yang merupakan jalan penghubung dari lingkaran luar syarî’ah menuju titik pusat haqîqah, yaitu suatu titik yang oleh para mistikus disebut sebagai penyatuan dengan Tuhan. Disinilah hakikat mengenal diri yang sekaligus mengenal Tuhan tercapai, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis: ”Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya”.

Bab dua mengawali bagian kedua buku ini dengan judul ”Kebenaran”, berisi pembahasan tentang pengetahuan yang mencerahkan yang bisa membebaskan manusia dari belenggu kebodohan. Bab tiga, ”Cinta dan Keindahan”, berisi elaborasi mendalam tentang kualitas-kualitas cinta dan keindahan dillihat dari aspek ”human” maupun ”divine”. Bab empat, ”Kebaikan dan Tindakan Manusia”, menekankan kepada ciri khas spiritualitas jalan sufi yang mengintegrasikan kehidupan kontemplatif dengan tindakan nyata, di mana manusia seharusnya menyesuaikan diri dengan kehendak dan norma-norma ilahi, sesuai dengan teladan yang dicontohkan Nabi. Bagian akhir dari bab ini fokus kepada pentingnya tiga modus doa yang terdapat dalam berbagai agama: doa individual (du’a), doa kanonik (shalat), dan doa dari hati (dzikr). Kemudian bab lima, bab terakhir dari bagian kedua ini, berbicara tentang bagaimana caranya mencapai taman kebenaran yang pada hakikatnya adalah jalan menuju yang Esa.

Bagian ketiga buku ini adalah tentang ”Jalan Menuju Pusat”, berisi penjelasan tentang doktrin batin tasawuf yang menekankan pentingnya pemahaman bahwa secara esoteris taman kebenaran itu sesungguhnya berada di sini dan sekarang. ”Meskipun untuk mencapainya terkait dengan masa depan eskatologis kita, ia dapat direalisasikan sekarang pada saat ini” (hal 180).

Terakhir, bagian ke empat, berisi dua buah lampiran, masing-masing mengenai ”Tradisi Sufi dan Tarekat Sufi” serta ”Tradisi Tasawuf dan Irfan Teoretis”. Bagian ini berisi ringkasan padat tentang asal usul dan sejarah tasawuf yang dapat ditelusuri dalam sebuah tradisi panjang yang pada akhirnya kembali ke asal-usul Islam itu sendiri.

Akhirnya, tujuan puncak perjalanan menuju taman kebenaran adalah untuk kembali ke asal-usul kesadaran, yakni Realitas Ilahi yang hakikatnya merupakan inti dari diri. Menemukan kembali kesadaran iniliah yang sesungguhnya menjadi raison d’être keberadaan manusia, yang sayangnya kebanyakan dari kita menderita ”amnesia”. Padahal para sufi, sebagaimana Nabi, berkali-kali mengingatkan kita.

Mari kita simak syair Rumi yang menuturkan keluhan sang seruling yang merindukan tempat asal:

“….Sejak aku berpisah dengan asal usulku, bambu yang rimbun, ratapku membuat lelaki dan wanita merintih.
Kukoyak dadaku, kucurahkan kepiluan berahi cinta akan kerinduan tempat asalku.
Siapa saja yang hidup jauh dari kampung halamannya akan merindukan saat-saat ketika ia akan kembali.
Nada-nada senduku senantiasa kunyanyikan dalam setiap kerumunan, bersama mereka yang bersukacita dan menangis.
Rahasia laguku tak terasing dari asal-usul ratapku. Namun, adakah telinga yang mendengar, adakah mata yang melihat?”

Tuhan titipkan seruling syahdu di lubuk terdalam jiwa-jiwa manusia. Namun, seberapa sadarkah kita untuk mendengar lengkingan pilu sang seruling yang ingin kembali ke tempat asal, sementara kita terlalu terlena sehingga tak pernah menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi?

Seperti Rumi, Seyyed Hossein Nasr melalui buku yang sangat berharga ini—melanjutkan tradisi yang ditempuh para sufi klasik—ingin kembali mengingatkan kita tentang asal-usul kesadaran. Dan nampaknya, sederet pertanyaan di awal tadi harus ditujukan kepada diri kita sendiri, sebab hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya secara pasti. Dan mematikan diri agar tersingkap hakikat Diri yang sejati merupakan satu-satunya cara, sebagaimana tersirat dalam sebuah hadis yang sering dikutip para sufi: muutu qabla anta muutu, matilah kau sebelum mati. [IP, 2011]

*) Terbit di jurnal ”Titik-Temu, Jurnal Dialog Peradaban”, Volume 3, Nomor 2, Januari-Juni 2011, sebuah jurnal yang diterbitkan oleh NCMS (Nurcholish Madjid Society).


[i] Pengertian Islam tradisional di sini adalah Islam original yang belum lepas dari unsur spiritualitas yang merupakan aspek batin keberagamaan.

Categories: Agama, Buku, Mysticism
  1. July 22, 2013 at 4:54 am

    You can certainly see your enthusiasm in the article you write.

    The arena hopes for more passionate writers such as
    you who are not afraid to say how they believe. Always follow
    your heart.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: