Home > Daily Life, Pojok Celoteh > Fitrah Mudik Para Biker

Fitrah Mudik Para Biker

Sekitar empat tahun yang lalu saya menyimpan pertanyaan: bagaimana para pengendara sepeda motor bisa senekad itu, mudik dengan mengangkut seluruh awak keluarga (termasuk balita) dan membawa barang bawaan seabrek sehingga harus memasang penopang tambahan di bagian belakang motor. Belum lagi atribut safety riding yang kurang memadai. Begitu banyak tantangan serius, misalnya kondisi alam yang tidak menguntungkan, kurangnya konsentrasi, dan yang paling berbahaya adalah ngantuk akibat kelelahan. Jelas ini beresiko tinggi. Konon, Jasa Raharja mencatat sebagian besar dari santunannya diberikan kepada korban kecelakaan sepeda motor.

Kalau sulit, untuk apa memaksakan diri mengambil resiko setinggi itu. Mestikah silaturahim dilakukan di saat lebaran saja? Bukankah kapan dan di mana saja orang bisa saling meminta dan memberi maaf? Tak adakah saat-saat lain yang lebih aman dan nyaman? Memangnya berdosa kalau lebaran tidak bisa mudik? Kira-kira itulah sederet pertanyaan agak sinis mampir di benak.

Mudik adalah fenomena sosial yang rutin terjadi setiap tahunnya. Bukan saja di Indonesia, di Amerika saja yang jauh lebih modern, fenomena mudik masih terjadi, terutama saat thanks-giving day. Mungkin ini terkait dengan dorongan alamiah manusia, di mana ada saatnya orang-orang ingin kembali dekat dengan keluarga terdekat mereka di kampung. Bukan saja untuk bermaaf-maafan, tetapi juga untuk melepas segenap kerinduan, setelah setahun penuh disibukkan oleh rutinitas terutama urusan dapur. Sehingga bagi para perantau, lebaran tanpa mudik adalah kosong hampa tak bermakna.

Cukup make sense. Tapi mengendarai sepeda motor sekeluarga? Waduh, nanti dulu…Saya berani, tapi sendiri saja tanpa keluarga.

Dan tanpa direncanakan sebelumnya, saat itu saya betul-betul mudik dengan sepeda motor. Tanpa persiapan yang serius. Dengan alasan yang (sebetulnya) dibuat-buat: Pertama, sekadar untuk membuktikan ‘ilmul yaqin’ saya, bahwa mudik memang dorongan alamiah fitrah manusia, meski harus bersusah payah menjalaninya. Kedua, demi ingin merasakan kesenangan seperti yang para pengguna sepeda motor rasakan saat mudik.

Ini terjadi saat Ramadhan 1428 H empat tahun lalu. Setelah beberapa hari sebelumnya istri dan anak-anak tiba di Bandung lebih dulu, saya menyusul sendiri tepat di malam lebaran.

Ini kali pertama saya menggunakan sepeda motor dalam jarak yang–bagi saya yang tidak terbiasa–sangat jauh: Jakarta-Bandung via Puncak. Dan seperti yang saya duga sebelumnya, jalanan macet berat terutama di jalur menuju Puncak. Tetapi gema takbir setia mengiringi perjalanan, baik dari masjid-masjid yang dilalui maupun yang berasal dari beduk keliling mobil bak terbuka atau truk-truk yang khusus disewa. Sesekali, tergetar juga dibuatnya.

Meski macet, suasana sungguh berbeda. Saya tidak bisa memperhatikan secara detil. Saya juga tidak tahu pasti apa yang orang-orang rasakan. Tapi saya rasakan, kebanyakan diantara para pemudik dengan aneka kendaraan yang mereka tumpangi itu, nampak seolah sedang mengejar sesuatu dengan optimisme tinggi. Apalagi dengan latar alunan takbir yang tak pernah terputus, suasananya memancarkan kegembiraan yang tidak ditemukan di hari-hari lain.

Saya tak punya kata-kata pas untuk menggambarkannya, ini belum pernah saya alami sebelumnya. Yang jelas pengalaman baru malam itu membuat saya merasa senang.

Demikianlah, berpuluh-puluh kilometer hingga lebih dari 100 km saya lalui, diselang dua kali beristirahat dengan melahap semangkuk sop kambing dan menyeruput kopi panas. Akhirnya, dalam keadaan limbung sampai juga di tempat tujuan setelah lewat tengah malam. Paginya, ketika orang suka cita shalat ‘ied di masjid atau lapangan, saya masih ambruk di kamar ditemani tapak-tapak merah di punggung bekas kerokan tadi malam.

Terus terang, saya kapok untuk mengulanginya. Alhamdulillah, tahun-tahun berikutnya saya diberi keluasan pilihan untuk mudik dengan cara yang lebih aman dan nyaman.

Tetapi mereka, para biker yang membawa satu keluarga dengan beban berlebih itu? Ya, mereka mau menempuh cara sesulit itu, tak lain karena mudik memang dorongan alamiah fitrah manusia yang tak bisa dibendung oleh aturan manusia manapun di muka bumi ini. Nampaknya, saya gagal menemukan jawaban lain. []

Categories: Daily Life, Pojok Celoteh
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: